Info Halal : Selanjutnya Terserah Anda


Makanan halal menjadi tidak halal, ada beberapa faktor penyebabnya. Seperti masakan laut (seafood) misalnya, makanan yang sangat banyak penggemarnya ini, menjadi tidak halal apabila bumbu masak nya terbuat dari yang tidak halal.

Hampir semua masakan laut menggunakan saus, tidak afdol masakan itu tanpa saus. Apa lacur kalau saus digunakan dari barang yang tidak mempunyai sertifikat Halal?.
Seperti penuturan Herman (65) : “Kalau kami ganti sausnya dengan yang lain, langganan kami sudah terbiasa dengan saus yang itu” Ujar Herman pengelola Restoran Dju Dju Baru, sembari mengangkat sebuah botol tanpa label, berisi cairan bening dan kental.
Restoran Dju Dju Baru berada di seputaran Nagoya, Buletin Jumat (BJ) berkunjung ke Restoran itu kemarin, selasa (26/02). Adalah Ibu Yanti dari Telaga Punggur bertanya kepa da BJ tentang ke-halalan masa kan di Restoran itu.
“Restoran ini sudah 18 tahun, sejak kami dibelakang Hotel Harmoni” ujar Herman. “Tidak ada masaalah, tanpa sertifikat halal, langganan kami tetap ramai” Tambahnya lagi.
“Kalau ada sertifikat Halal, nanti kami tak boleh jual Beer, tak boleh ini tak boleh itu, banyak aturan” Jelasnya lagi. Herman pun menjelaskan kalau Restorannya tidak menjual Daging Babi. “Yang Jual Babi di Restoran Dju Dju satu lagi.” Ujar Herman.
Tidak berapa jauh dari Restoran Dju Dju Baru, persis disamping Hotel Dju Dju ada sebuah Restoran bernama Dju Dju, tanpa kata Baru, pengelola nya masih kerabat Herman.

Haram bukan karena unsur babi saja

Jadi, menurut sebagian orang, Halal itu cukup tidak ada babi. Sebagaimana pernyataan Herman. Menurut Herman tetamunya yang dari luar negeri selalu minta Beer, itulah sebab nya Restoran menyediakan minuman beralkohol itu.
Kalau tetamu dari dalam, jarang yang minta Beer. “Banyak juga tamu dari orang pemerintahan.” Ujar Herman lagi sambil terse nyum. Bahkan mantan orang nomor satu di Kepri ini pun acap makan di Restoran itu.
Semua mereka Muslim. “Kalau mereka datang lantai dua itu penuh, muat 50 orang” ujar Herman , matanya menga rah ke lantai dua Restoran itu.

Tidak Melanggar UU Perlindungan Konsumen

Kita tidak bisa memaksa Herman harus mengurus serti fikat Halal untuk Restorannya, tanpa itu pun pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Herman pun tak henti-henti nya menerima pembayaran uang dari pembeli selama kami berbincang.
“Sabar ya pak, Sabar ya pak, jangan tulis seperti itu. Nanti terdengar kasar, agak lembut sedikit.” ujar Herman kepada BJ. Sesaat BJ hendak meninggalkan Restoran itu.
Apa yang dikatakan Herman adalah benar, disisi Undang Un dang Perlindungan Konsumen, karena Restoran Dju Dju Baru tidak melanggar Undang-Undang. Herman tidak menyata kan Halal Restorannya :”Terse rah mau makan disini atau tidak, karena saya akan tetap menjual Beer dan menggunakan saus dan bumbu yang sama”.
Jadi terpulanglah kepada kita sebagai Muslim, peminat makanan laut yang masih peduli dengan halal dan haram. Kami anjurkan belilah dan konsumsilah makanan di tempat yang sudah berser tifikat Halal.

Info Halal Disekitar Kita : Resto Kediri Batam


Terhitung awal Januari 2013, Sertifikatnya tidak berlaku lagi.    (poto:viky)

Terhitung awal Januari 2013, Sertifikatnya tidak berlaku lagi. (poto:viky)


Dalam situs resmi LP POM MUI Kepri, Resto Kediri, yang terletak di Batam Center, dekat Masjid Raya Batam ini, tidak lagi memperpanjang Sertifikat Halalnya.

“Kami tidak lagi bertanggung jawab atas kehalalan Resto Kediri” Ujar Tengku Azhari Abbas. Menurut Ketua MUI Kepri ini, pernah saat sidak, ditemukan daging yang tidak mempunyai sertifikat halal.

Salah satu restoran di termina ferry Batam Center yang  memiliki sertifikat halal (poto:imbalo)

Salah satu restoran di termina ferry Batam Center yang
memiliki sertifikat halal (poto:imbalo)


Banyak masayarakat bertanya-tanya,seperti ibu Yanti dari Telaga Punggur misalnya. Kepala Sekolah Islam berbasis pesanteren ini sering mengajak tamunya makan disitu. “Saya sering mengajak tamu saya makan disitu, dan juga makan di Dju Dju serta di Yong Kee” ujar Ibu paro baya ini dalam kesempatan bertemu di masjid Jabal Arafah saat acara Maulid nabi pekan lalu.

Pekan lalu, Buletin Jumat (BJ) berkesampatan mengunjungi Restoran yang juga dijadikan tempat Ibadah jamaah GEMINDO itu. Terlihat tanda halal yang tidak standar masih tercantum di papan nama Resto, yang terdiri dari tiga lantai itu. Dan tercantum juga tahun mendapatkan sertifikat Halal, yaitu sejak tahun 2003, ditu tup dengan lakban.

Kasir yang kami temui tidak dapat menjelaskan mengapa mereka tidak memperpanjang sertifikat Halalnya. “Bukan wewenang saya, saya hanya pekerja” ujar kasir Resto itu sembari memberi nomor telepon yang harus dihubungi.

Restoran ini belum mendapat sertifikat Halal, karena bumbu masaknya, diragukan kehalalannya. (poto:viky)

Restoran ini belum mendapat sertifikat Halal, karena bumbu masaknya, diragukan kehalalannya. (poto:viky)


Cukup lama juga Resto itu beroperasi, “Dulu lumayan ramai pengunjungnya, belakangan ini terasa berat untuk biaya operasi” Ujar M Munip, Munip katanya mewakili perusahaan, saat menghubungi BJ.

Munip pun menjelaskan sepinya pengunjung Resto itu, sangat berpengaruh dengan akses jalan.
“Kami bukan tidak mau memperpanjang sertifikat halal, tetapi sedang konsentrasi dan fokus mengurus kepindahan Resto ke Winsor, sebelah Lachosta. Tulis M Munip lagi dalam sms kepada BJ. “Tiga bulan lagi selesai” tambahnya.

Sementara Restoran Yong Kee, belum mendapatkan Halal, karena bumbu masaknya ada yang tidak halal. Informasi ini kami dapatkan dari LPPOM MUI juga, dan Rdiwan bekas koki yang sudah lima tahun bekerja di Restoran makanan laut itu juga membenarkan.

Di terminal Ferry Pelabuhan Batam Center, kamai sarankan makan minumlah di tempat yang ada logo halalnya. Logo Halal yang dikeluarkan oleh LP POM MUI itu jelas terpampang di sebelah Depan. Kalau belum dan tidak ada logo Halalnya hindari lah.

Halal dan Haram Diseputar Kita


Makanan mengandung babi ini, bebas bercamour baur dengan makanan lainnya yang halal

Makanan mengandung babi ini, bebas bercamour baur dengan makanan lainnya yang halal

Bercampurnya Makanan Halal dan Haram, membuat makanan yang tadinya halal menjadi haram.
Inilah yang terjadi di Super Market Top 100 Penuin Batam baru-baru ini. Terlihat sang pengelola sedang memperhatikan Buletin Jumat yang diterbitkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam.
Makanan mengandung Babi ini, disimpan di dalam frizer yang sama dengan makanan yang berlogo Halal. Itu adalah perbuatan yang terlarang .SONY DSC
Kepada konsumen Muslim, diminta dan diharapkan agar berhati hati belanja di Super Market seperti ini . Sudah waktunya kita peduli dan telitilah sebelum membeli.
Hal seperti ini pun pernah terjadi di beberapa Super Market yang ada di Batam.

dscf4212Seperti di Carrefour, tempohari misalnya, tempat penjualan daging babi, daging sapi dan daging ayam bersebelahan saja, sementara petugas /penjualnya memakai alat potong yang sama. Tetapi syukur pengelolanya segera merespon dan tidak menjual daging babi lagi.
Temuan lain yang pernah kami alami adalah disebuah Super Market yang cukup ramai pembelinya, berada didaerah Jodoh, waktu itu daging babi disitu masih di jual bebas, bersebelahan persis tempat jual daging babi itu dengan tempat penjualan makanan yang sudah dimasak.. Geli dan jijik rasanya setelah melihat pembeli memegang daging babi dan memegang makanan yang sudah dimasak itu.
Apatah lagi troli dan keranjang untuk itu menjadi satu .

UU NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
PERBUATAN YANG DILARANG
BAGI PELAKU USAHA
Pasal 8 item h.

Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa
yang :tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan
“halal” yang dicantumkan dalam label

Restoran Grand Duck Nagoya Hill Batam


Sertifikat halal pemotongan bebek, dipajang tinggi, tidak terlihat konsumen apa isi tulisannya. Pajangan minuman beralkohol berbagai merk, bumbu masak, sulit bagi Restoran ini mendapatkan sertifikat halal. (photo istimewa)

Sertifikat halal pemotongan bebek, dipajang tinggi, tidak terlihat konsumen apa isi tulisannya. Pajangan minuman beralkohol berbagai merk, bumbu masak, sulit bagi Restoran ini mendapatkan sertifikat halal. (photo istimewa)


Ternyata Restoran Grand Duck yang berada di Mall Nagoya Hill Batam itu belum bersetifikat Halal.
Adalah petugas LP Pom MUI yang memberitahukan kepada Buletin Jumat, bahwa sertifikat Halal yang tercantum di Restoran Grand Duck Nagoya Hill itu, bukan LP POM MUI Batam yang mengeluarkannya.
600725_596916783655730_679272612_n
Dan celakanya pula, sertifikat yang terpajang didalam Restoran itu, bukan sertifikat Halal untuk Restoran, demikian penjelasan Menejer Restoran yang sudah menjual menu Bebek itu hampir 6 tahun. Banyak konsumen yang tak tahu kalau Restoran itu menjual makanan yang tidak Halal, karena di dalam Res toran ada tergantung dan terpampang sertifikat Halal yang terbingkai bagus. Dipajang di tiang agak tinggi dekat dengan kasir.

Jadi agak susah memang memperhatikan apa saja yang tertulis di sertifikat itu, hanya tulisan Halal terlihat agak jelas. Namun setelah ditanyakan dan diteliti, sertifikat yang selama ini tergantung itu hanya menyatakan, bahwa Bebek yang dimasak di Restoran itu di potong secara halal, tetapi dipotong bukan di Batam. “Semua dikirim dari luar” ujar penanggung jawab Restoran menjelaskan.

Ironisnya lagi Sertifikat halal potocopian yg sudah lusuh itu, sudah habis masa berlakunya hampir 3 tahun yang lalu.
Mencantumkan halal tidak berproduksi secara halal, hukuman nya pidana 2 tahun penjara, tidak itu saja boleh didenda 5 miliar rupiah, demikian bunyi Undang-Undang Perlindungan Konsumen no. 8 tahun 1999.
223402_596915916989150_148759940_n
Menejer Restoran yang kami temui adalah seorang Muslim, sejak lagi Restoran itu dibuka Dia sudah mulai bekerja disitu. Kami beritahukan kepada sang Menejer, bahwa ada sanksi hukum terhadap perlakuan Restoran yang dikelolanya itu.

Mungkin sang pengelola tidak tahu bahwa ada sanki hukum sebagaimana bunyi UU Perlindungan Konsumen tersebut diatas. Tetapi Sang Menejer itu tahu betul, apa saja campuran bumbu masak untuk menu yang sangat banyak penggemarnya itu.

Katakanlah Bebek yang dikirim dari luar daerah itu dipotong secara halal, tetapi menjadi tidak halal, karena bumbu untuk memasaknya dicampur dengan bahan yang tidak halal.

“Dua Tahun yang lalu mereka mengajukan sertifikasi halal” ujar Khairuddin Nasution Kepada Buletin Jumat. “Tetapi semua bumbu masak yang kami rekomendasikan untuk diganti karena mengandung bahan yang tidak halal, tidak mereka setujui” Ujar Sekretaris LP POM MUI Kepri ini.
“Informasi kami dapati dari sang juru masak , bahan – bahan apa saja yang dicampur untuk memasak Menu Bebek itu” jelas Khoiruddin lagi.

Saat kami mengunjungi Restoran dipetang hari itu, hampir semua meja terisi penuh, terlihat pasangan suami isteri (berjilbab), katanya dari Tanjung Pinang, sengaja datang untuk menikmati Menu Bebek yang cukup lezat itu, kelihatan agak terperangah dan terkejut, saat kami temui dan bertanya.

Selanjutnya agar tidak konsumen terkecoh, dengan adanya tulisan halal didalam Restoran itu, kami minta kepada Menejer, segera mencopot sertifikat pemotongan bebek yang sudah kadaluarsa itu. Apalagi sertifat itu pun bukan sertifikat Halal untuk Restoran. Kalaupun ada sertifikat yang sebenarnya, seharusnya di pajang ditempat yang gampang terbaca.

Bagi Konsumen Muslim kami anjurkan Telitilah Sebelum Mengkonsumsi, adalah hak kita sebagai konsumen bertanya apakah makanan yang disajikan itu halal atau tidak, dan seharusnya dibuktikan dengan sertifikat halal yang dikeluarkan oleh lembaga resmi.

Masjid Cheng Ho Surabaya : Tiru Arsitektur Masjid Niu Jie Beijing


Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Tiba  dilokasi masjid Muhammad Cheng Ho, seorang satpam menyambut kami. Dari pintu gerbang masuk , tak terlihat kalau ada masjid. Terhalang bagian belakang areal bangunan serba guna komplek Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI) Jawa Timur .

Memasuki halaman parkir yang juga berfungsi sebagai lapangan oleh raga, barulah terlihat bangunan yang menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma) . Itulah masjid Cheng Ho, masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid.

Arsitektur Masjid Cheng Ho meniru Masjid Niu Jie (Ox Street) di Beijing sana yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal, Jawa. Arsiteknya pula adalah Ir. Abdul Aziz dari Bojonegoro.

Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.Selain Surabaya di Palembang juga telah ada masjid serupa dengan nama Masjid Cheng Ho Palembang atau Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.

Bersama Ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid Cheng Ho Surabaya

Bersama Ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid Cheng Ho Surabaya

Masjid ini terletak di jalan Gading Surabaya , saat kami datang, shalat juhur sedang berlangsung, Buletin Jumat (BJ) bergegas mengambil wuduk, namun sayang tak sempat mengikuti shalat berjamaah.

Masjid Cheng Ho ini selesai dibangun dan diresmikan 13 Oktober 2002,” Diberikan nama seperti itu merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Ho, Laksamana asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, juga menyebarkan agama Islam”. Jelas ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid yang sudah delapan tahun menjadi imam tetap di masjid itu.

Tak ada daun pintu di masjid, secara keseluruhan Masjid Muhammad Cheng Hoo berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama 11 x 9 meter. Pada sisi utara dan selatan bangunan utama terdapat bangunan pendukung yang lebih rendah daripada bangunan utama. Ukuran 11 meter pada bangunan utama masjid diambil dari ukuran panjang/lebar Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Sedangkan ukuran 9 meter inspirasinya didapat dari sejarah Walisongo yang melaksanakan syi’ar Islam di tanah Jawa. Masjid Muhammad Cheng Hoo mampu menampung hingga 200 orang jamaah.
Imam masjid yang juga punya nama Indonesia , H. Ahmad Hariyono ini menjelaskan, soal penyebutan china yang sangat menyakitkan hati, diawal kemerdekaan RI. Hingga ke hari ini masih terngiang ngiang dan sejarah pahit bagi mereka.  “Sebut dan panggil saja Tiong Hoa “ jelas ustad yang fasih berbahasaa Arab ini.

Gedung PITI Jawa Timur

Gedung PITI Jawa Timur

Saat BJ mengenalkan diri dan menyebut nama Indonesia, Imbalo Iman Sakti,  dan punya nama Tiong Hoa juga, yaitu “Tan Ko Cu”.  Ustadz Ahmad Wong,  demikian beliau sering disapa tersenyum lucu.  Tetapi, setelah dijelaskan bahwa Tan bukan lah she (marga) hanya asal kata dari ATAN, itu  adalah panggilan untuk lelaki suku melayu, tempatku bermastautin di Batam sekarang, dan KO CU pula kebalikan dari asal kata UC OK, nama panggilan anak lelaki di Tapanuli, tempat kelahiranku dulu. Ustadz yang sedang menunggu bea siswa untuk melanjutkan Phd nya ini, malah tambah tertawa. Dan aku yakin,  beliu tahu betul dengan Ucok AKA penyanyi legendaris asal Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo dibangun atas gagasan HMY. Bambang Sujanto dan teman-teman PITI. Fasilitas yang ada di dalam kompleks Masjid Muhammad Cheng Hoo itu antara lain: kantor, sekolah TK, lapangan olah raga yang juga berfunsi sebagai lapangan parkir , kelas kursus bahasa mandarin dan kantin.
Fasilitas tersebut disediakan demi kenyamanan beribadah dan untuk mempererat tali silaturahmi sesama umat. Selain itu banyak juga kegiatan sosial yang diselenggarakan PITI mengambil tempat di kompleks masjid ini, beberapa diantaranya: distribusi sembako murah, donor darah, serta pengobatan akupunktur.

Ustadz Ahmad Wong, bergegas masuk ke ruang sebelah tempat Imam , beberapa buku diberikannya kepada BJ. Sayang kami tak dapat bertemu dengan Haji Bambang Sujanto pendiri dan penggagas berdirinya masjid yang banyak dikunjungi orang baik dalam dan luar negeri ini . “Beliau selalu berpergian keluar daerah maupun keluar negeri” ujar Imam Ahmad Wong yang juga dosen tetap disalah satu universitas terkenal di Surabaya.
Kami tinggalkan komplek masjid yang diilhami Perpaduan Gaya Tiongkok dan Arab yang memang menjadi ciri khas masjid itu.

Ilal Liqo ustadz Wong, semoga cepat dapat bea siswa.

Shalat Tapi Nampak Aurat


563616_563054493708626_1473750461_n
Saat shalat di sebuah masjid di bilangan Nagoya Batam, persis di depan Buletin Jumat (BJ) ada seorang pemuda sedang shalat sunat . Pemuda yang cukup besar perawakannya itu memakai celana panjang dan kaos. Sayangnya saat pemuda itu rukuk, kaos yang dipakainya menyingkap keatas dan celananya pula tertarik kebawah. Terlihat lah belahan punggungnya dari belakang. Singkapan itu menjadi lebih melebar nyaris belahan pantatnya terlihat, saat waktu sujud.

Pakaian seperti itu (celana dan kaos) acap dan banyak dipakai pada saat shalat oleh kaum lelaki, tak kira remaja, pemuda bahkan orang tua sekalipun. Bahkan pakaian semacam itu banyak juga dipakai pada saat shalat Jumat.

Celana dengan pinggang model dibawah pusat dan kaos yang menyingkap pada saat rukuk apatah lagi saat sujud , menjadi trend dipakai saat kini.
Selesai shalat, pemuda itu BJ hampiri , dan memberitahukan bahwa kaos yang dikenakannya tadi tersingkap dan nyaris belahan punggung nya yang masih batas aurat terlihat.

Beberapa temannya ikut nimbrung, ternyata mereka tergabung di dalam Pemuda Remaja Masjd Jabal Arafah, yang memang sengaja datang shalat di masjid itu. Diskusi makin lancar membahas masaalah aurat. Kegiatan diskusi kelompok pemuda remaja masjid semacam ini, sudah jarang dilaksanakan.

BKPRMI

Tidak semua masjid di Batam mempunya kelompok Pemuda Remaja Masjid . Di Indonesia, organisasi pemuda remaja masjid seperti BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda remaja Masjid Indonesia), semasa dibentuk dahulu tahun 1977, peranan BKPRMI ini , cukup berperan di kanca Nasional. Masih ingat salah seorang ketuanya yang hingga kini berkiprah di kanca Nasional adalah Idrus Marham.

Remaja masjid adalah perkumpulan pemuda masjid yang melakukan aktivitas sosial dan ibadah di lingkungan suatu masjid. Dan perlu diingat bahwa penting pembagian tugas dan wewenang dalam remaja masjid termasuk dalam golongan organisasi yang menggunakan konsep Islam dengan menerapkan asas musyawarah, mufakat, dan amal jama’i (gotong royong) dalam segenap aktivitasnya.

JPRMI (Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia), tahun berdiri 2003). Dan perbedaan antara Pemuda dan Remaja adalah terletak faktor usia seperti kalau Pemuda berusia antara 25 – 40 tahun, dan dituntut telah Mampu menjadi Imam dan Khatib Salat Jama’ah, serta memiliki kemampuan manajerial secara fiqud Dakwah Islamiyah.

Sementara bila Remaja, berusia antara 15 – 25 tahun, dan hanya mampu menjadi Muadzin dan pembaca Acara Hari Besar Islam serta hanya mampu membantu manajerial Dakwah dalam upaya memakmurkan Masjid.
Kegiatan Pemuda dan Remaja Masjid

Banyak kegiatan yang dapat dilakukan para pemuda dan remaja yang bergabung dalam Jaringan dan Badan Kontak ini. Kegiatan Olah Raga misalnya. Apatah lagi bagi masjid yang mempunyai halaman luas. Banyak pula kita lihat dan temui masjid-masjid besar di Batam tidak mempunyai kegiatan Pemuda dan Remaja. Entah apa masaalahnya.

Peranan Dewan Masjid sebagai induk organisasi yang membawahi BKPRMI, nyaris tak terdengar suaranya lagi. Contoh pemuda yang memakai celana dan kaos saat shalat sebagaimana tulisan diatas tadi, ternyata adalah seorang ketua remaja masjid. Diskusi singkat tentang menutup aurat, sangat terkesan baginya dan teman – temannya.

Diskusi singkat bisa dilaksanakan bakda shalat yang tidak memakan waktu lama, bila para pemuda dan remaja telah mempunyai wadah dan kegiatan yang terencana.

Wahai para pengurus masjid, mari kita rangkul mereka, ajak mereka untuk memakmurkan masjid.

Jabal Arafah : Masjid Kebanggaan Warga Batam



Jabal Arafah adalah nama sebuah masjid di Batam. Masjid ini belum selesai dibangun “Ruangan yang sekarang dipakai untuk shalat itu, nantinya digunakan untuk ruang pertemuan semacam aula” ujar Fuardi Djarius. Mantan Kepala Dinas Kesehatam Kota Batam ini, menjelaskan kepada Buletin Jumat (BJ) biaya yang dikeluarkan sudah mencapai 10 miliar rupiah lebih. “Sekarang pembangunan difokuskan membuat menara dulu, agar kelihatan ikonya” tambah Fuardi lagi. Kalau dilihat sepintas dan tidak membaca tulisan, bangunan baru itu memang belum mencerminkan bentuk sebuah masjid.

Bangunannya bertingkat-tingkat, mengikuti struktur tanah, dari mulai tempat parkir, ruangan kantor masjid dan keatas tempat wuduk, setingkat lagi bangunan aula yang sekarang dibuat untuk tempat shalat. Tersedia juga mini market, menjual aneka ragam makanan ringan, tentu minuman juga tersedia. “Sementara ini hanya dihari Jumat ada jual nasi dan kari kambing” lanjut Fuardi lagi. Rencana kantin masjid itu belum selesai lagi.

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah


Disitulah Fuardi menghabiskan waktunya mulai masuk waktu shalat Juhur hingga selesai shalat asyar. Fuardi tidak sendiri, teman sejawat sesama pensiunan acap datang berjamaah dan bercengkerama. layaknya masjid ini semacam taman orang tua, dan tempat bertemu lansia . Mereka berbincang dibawah tenda yang disediakan oleh pengelola masjid.
mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga

mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga


Masjid Jabal Arafah, terletak persis di samping timur Mall Nagoya Hill, bisa jadi Mall ter-besar dan ter-ramai di Batam ini, membuat orang jadi ramai pula berkunjung ke masjid. “Yang jelas kami sekeluarga memang sengaja datang kesini” ujar Hanafi, bersama isteri dan ketiga anaknya, dihari hari libur dan senggang, meraka menyempatkan datang. Banyak keluarga muda seperti Hanafi datang mengunjungi masjid Jabal Arafah ini.

Lumayan menguras tenaga dari jalan raya naik ke bukit, dengan berjalan kaki. Tetapi tidak bagi ke-enam anak lelaki usia sekolah dasar (SD), tengah hari itu, mereka memang sudah berencana selepas sekolah hendak shalat di masjid yang ambalnya tebal, enak sujudnya kata mereka. Masih terlihat segar, apalagi selepas wuduk, mereka berlari dan bercanda, masuk ke ruang shalat.

"Maha Suci Engkau Ya Allah" jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka.."Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya....

“Maha Suci Engkau Ya Allah” jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka..”Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya….


Halaman masjid ini dilengkapi taman yang sedap dipandang mata, ada kolam ikan dengan air mancurnya. ” Kami diantar travel kemari” ujar Tati ketua rombongan studi banding dari Pemkab Bekasi, mereka menyempatkan berpoto disela-sela pohon kurma yang sengaja ditanam, dan tertata rapi.

Petang itu pula Novi pekerja dari Muka Kuning, sengaja datang bersama sang kekasih. Lepas magrib, melepaskan lelah, duduk di bangku yang memang tersedia di taman, pemandangan indah dari ketinggian bukit masjid Jabal Arafah, membuat mereka sering datang ke masjid itu.

Ustadz Amiruddin Dahad , sering menjelaskan dalam kesempatan ceramah diberbagai tempat tentang konsep pengelolaan masjid. Masjid Jabal Arafah ini acap pula sebagai contoh beliau. Imam yang fasih bacaannya, dan hafis pula. Sound System yang tidak menggangu telinga. Bukan karena tempat yang stategis saja.

Hal itu dibenarkan oleh DR Amirsyah Tambunan, wasekjen MUI Pusat, saat datang ke Batam dalam rangka Rakorda MUI I se-Sumatera, isteri wasekjen ini terkagum kagum dengan kebersihan dan design tempat wuduk dan kamar mandinya “Bak hotel berbintang saja” ujarnya.

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid


Masjid Jabal Arafah, bukan pengganti masjid Arafah yang ada di pintu Selataan Mall Nagoya Hill, masjid Arafah yang berada di lantai tiga pertokoan yang berhampiran dengan Hotel Nagoya Plaza, tetap digunakan.

Meskipun baru ruang aula saja yang selesai dan sudah digunakan utuk shalat, masjid Jabal Arafah ini ramai dikunjungi, tak kira anak-anak, remaja, keluarga. Rombongan tamu yang berkunjung ke Batam pun tak lepas datang mengunjungi masjid ini. Dari Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand misalnya, tamu yang datang selalu kami bawa ke masjid itu.

“Pemandangannya bagus, bersih” ujar ustadz Zenal Satiawan , menirukan ucapan tamunya dari Singapura yang dibawanya, saat shalat ke masjid itu. “Sebagai warga Batam kita jadi bangga dan tidak malu” ujar ustadz itu lagi.

Masjid yang punya panorama indah ini memang perlu diacungi jempol kepada penggagas dan pengelolanya. Masjid ini bisa dijadikan contoh bagaimana layaknya mengelola manajemen masjid. Semoga rezeki tetap tercurah kepada penyandang dana pembangunan masjid itu.

Sholat di Masjid Pengungsi Rohingya


bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar

bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar


Rak Nong adalah salah satu provinsi di Thailand yang berbatasan langsung dengan Kok Song Myanmar. Kedua wilayah ini dipisah oleh Laut Andaman. Dari Bangkok ke Rak Nong di tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan Bus. September 2012 yang lalu saya berkesempatan kembali mengunjungi Rak Nong.

Di Provinsi yang dikelilingi dengan perbukitan hijau ini banyak dijumpai warga Myanmar keturunan Rohingya. Tidak diketahui jumlah pasti. “Bisa ribuan banyaknya “ Ujar pak Sobirin sambil menyetir kenderaannya . Pak Sobirin adalah penduduk Rak Nong , pria paro baya ini, senang sekali dengan kedatanganku dan menginap pula di rumahnya. Pak Sobirin dapat berbahasa melayu dengan lancar. Bahasa Myanmar pun dikuasainya dengan fasih. “Sayapun pandai bahasa Bangladeh” ujarnya lagi.

Tengah hari itu Jumat (14/9), aku dibawa oleh pak Sobirin ke suatu masjid yang khusus jamaahnya warga Rohingya. Masjid yang terletak dipinggiran kota ini bentuknya memanjang, karena memang bekas ruko, dan benar dipenuhi jamaah, hampir semua warga Rohingya. Tetapi kalau ditanya , mereka tak menjawab betulkah mereka warga Myanmar.

Dari jamaah yang hadir nyaris kami berdua saja yang lain warna kulitnya. Pada saat masuk kedalam masjid , kulihat khatib sudah memberikan khotbahnya , aku bergegas shalat dua rakaat dan duduk dengan tertib di barisan kedua . Tetapi anehnya pak Sobirin menggamitku dan mengajakku pindah duduk, agak ke ujung barisaan.

Aku mengikutinya, karena enggak enak hati sebagai tamunya. Sama seperti saat di mobil sewaktu menuju masjid, pak Sobirin pun terus bercerita. Padahalkan khatib sedang khotbah pikirku dalam hati, mengapalah pak Sobirin ini terus bercerita. Memang terus terang sedikitpun aku tak tahu apa yang diutarakan khatib didepan mimbar itu.

Hampir 30 menit khotbah itu berlangsung. Setelah itu kulihat hampir semua jaamaah shalat dua rakat. Dan sang khatib tadi turun , kulihat juga melaksankan shalat , tak lama kemudian azan dikumandangkan , dan seorang khatib yang lain naik keatas mimbar.

Khatib yang baru ini khotbah bercampur bahasa arab sebagaimana layaknya khotbah di tempat kita (Indonesia) tetap dua khotbah berhenti sejenak dan hanya beberapa menit saja sudah selesai , dan dilanjutkan dengan shalat dua rakaat. Selesai lah sudah pelaksanaan shalat jumat hari itu.

Setelah itu barulah kutahu ternyata khotbah yang pertama dengan khatib yang lain tadi yang kukira adalah khotbah jumat bukanlah khotbah , itu hanyalah semacam ceramah sebelum khotbah. Menurut Ustadz Zenal Satiawan Lc , tuntunan shalat Jumat itu , ya seperti itu , lamanya bacaan khotbah, tidak lebih lama waktunya dari pada shalat itu sendiri.

Hem panteslah pak Sobirin tadi masih terus bercerita dengan ku . Dia tahu bahwa itu bukan khotbah , hanya ceramah biasa.
Jadi sangat beda sekali misalnya dengan di beberapa masjid di Batam. Jumat yang lalu khatib khotbah lebih 30 menit, sementara shalatnya tak sampai 5 menit. Banyak masjid di Malaysia pun berbuat hal yang sama dengan di Indonesia, khotbah berlama-lama dan shalatnya sendiri hanya sebentar.

Rencana Khitan di Phan Rang Vietnam


masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi

masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi


Bersama Yayasan Amal Malaysia di Saigon

Rasa tak muat lagi perut hendak menyantap hidangan pagi dirumah Tok Hakim Ysa. Menu yang telah tersedia tak jauh beda dengan di rumah Hasan, ada roti, telur ceplok, sayuran berbagai macam dan yang lain adalah bubur dari gandum, dan sup.

Tak satupun kawan yang hendak makan, kami minta selepas shalat Jumat saja makan kembali. Ibu Basirun yang memasak semua masakan itu dapat memahaminya. Untuk menghilangkan rasa kecewanya berdua orang satu piring bubur itu kami makan juga.

Tok Hakim Ysa menyarankan kepada kami pakai mini bus saja, kapasitas 12 tempat duduk, hari itu Jumat (7/9) masih sekitar pukul 11 waktu setempat, disepakati harga sewa 4.5 juta Dong hingga ke hari senin (10/9) sampai pukul 8 malam berakhir dibandara Ho Chi Min, rombongan diantar pulang.

Betul saran Tok Ysa, dengan mini bus ini kami lebih mudah mengunjungi berbagai tempat, di kampong Ban Lam ada dua masjid selain masjid Islam Bani. Keluhan yang sama kami dengarkan dari penduduk sekitar masjid itu. Perlunya tenaga pendidik untuk agama Islam disana.

Tidak terasa singkat sekali rasanya waktu, waktu shalat hamper tiba. Kami segera bergegas ke Masjid yang satu lagi masjid dekat rumah Tok Hakim. Persis di depan Masjid rumah Tok Hakim Ysa berdiri sebuah masjid Islam Bani, masjid aitu cukup besar, tidak terlihat aktifitas orang melaksanakan shalat jumat disana.

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa


Selepas makan di rumah Tok Hakim Ysa, kami pamitan, Sani, telah menunggu kami untuk bertemu Tok Hakim Islam Bani. Namun sebelum ke rumah Tok Hakim Bani kami mampir dulu kesebuah masjid yang juga berdampingan dengan masjid Bani. Dua tahun lalu saya pernah ke masjid ini, sehingga ada beberapa jamaah yang masih ingat kepadaku.

Banyak cerita tentang Islam Bani meluncur lancer dari bibir Tok Hakim Bani, Hasan dan Sani yang menjadi penterjemah. Koleksi Alquran terbitan Iran ada disana, begitu juga kitab panduan tulisan tangan diperlihatkan oleh Tok Hakim.

Rumah Tok Hakim Bani tak seberapa jauh dari masjid Bani, berjalan kaki kami kesana, menurut Tok Hakim Bani ini, jamaah Bani tidak shalat dan tidak puasa diwakilkan kepada Imam, ada 20 Imam sebagai perwalian seluruh umat Islam Bani di daerah Phan Rang itu. Para Imam ini pun tak perlu shalat sebagaimana layaknya umat Islam lima kali sehari semalam. Hanya sesekali saja. Begitu juga dengan puasa ramadhan, cukup sekali saja. Tok Hakim adalah yang mengetuai seluruh Imam Bani, termasuk menikah kan pasangan umat Bani.

Tok Hakim ini sepanjang umurnya tetap bebaju putih dengan desain khusus, lengan panjang seperti jubah. Dan menurut Tok Hakim ini, diseluruh kain jubah itulah amalan dan syariat umat Bani melakat. Dan beliau yang mempertanggungjawabkannya kelak dihadapan Allah SWT.

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran


Ada selempang kain berwarna-warni melilit di leher Tok Hakim Bani yang katanya pernah Umrah ke Makkah itu, dan konon katanya lagi Tok Hakim inilah satu satunya Tok Hakim yang pernah menginjak Makkah. Selempang berwarna warni itu menandakan surga , sementara ada pula seperti 3 buah kantong bertali menjuntai dari depan ke belakang di pundak Tok Hakim. Kantong macam uncang itu berwarna warni juga, ada manik manik melekat menhiasi pinggirannya, ketiga uncang itu mengandung pengertian yang berbeda, yaitu tentang alam, alam sebelum lahir , alam dunia dan alam akhirat.

Tok Hakim yang satu ini baru diangkat menjadi Tok Hakim Baru, Tok Hakim yang lama adalah masih pakcik Sani. Kondisi ruang tamu Tak Hakim lama dengan yang baru mirip, di sudut raung ada bale bale dari kayu tanpa alas, papan bale bale ini mengkilap. Biasanya Tok Hakim duduk menerima tamu disitu terkadang menjuntai kaki. Tetapi mungkin karena rombongan kami banyak kami duduk dengan menggelar tikar di lantai.

Hari beranjak petang saat kami meninggalkan rumah Tok Hakim, ada satu lagi masjid yang hendak kami kunjungi. Masjid ini masih baru , terletak persis di pinggir jalan raya kampong Ban Lam Phan Rang. Masjid ini dibangun oleh orang Dubai. Berpagar rapi lengkap dengan sanitasi yang memadai, dua tahun yang lalu saat aku mengunjungi Phan Rang , masjid ini baru selesai diresmikan .

Masjid itu hanya kami lalui saja, karena hendak mencari makanan, untuk makan malam. Tidak ada restoran atau kedai makanan di kampong itu, di Bandar Phan Rang pun belum pasti ada yang halal. Sani lah yang mengajak kami makan malam dirumah kerabatnya.

Rumah itu cukup besar berlantai dua, halamannya cukup luas , dari jalan raya sekitar 3 kilometer, jalanan ke rumah itu kiri kanannya sawah, tidak beraspal. Pemilik rumah itu seorang perempuan tua, anak perempuannya menikah dengan orang Islam dan bekerja di Luar Negeri. Agaknya yang membangunkan rumah itu adalah anak menantunya tadi. Dan sang Ibu tua itu, baru sekitar setahun mengucapkan syahadat, mengikuti agama putrinya.

Senang sekali ibu tua itu menerima kami, kami disuguhi satu jenis makanan seperti kulit lumpia kering tetapi ditaburi dengan sejenis wijen yang di sangria dengan minyak , dengan lembaran itu dimasukkan berbagai jenis sayuran , ikan , daging ataupun telur dadar digulung dan dicelupkan ke dalam bumbu sebelum di makan.

Seorang lagi putri ibu itu menikah, dan masuk Islam, sekitar dua tahun yang lalu. Namun hingga kini belum lagi di khitan. Dan masih seorang lagi kerabat sang ibu yang bersama kami makan malam itu juga telah masuk Islam umurnya sekitar 40an tahun dan juga berlum ber khitan.

Hal seperti kedua lelaki tadi banyak terdapat di Phan Rang, belum lagi mereka yang dari Islam Bani, nyaris semua tidak di khitan, termasuk Tok Imam. Itulah salah satu misi kunjungan kami bersama Yayasan Amal Malaysia (Amal Kedah) ke sana.

Insyaallah bulan juni 2013 saat libur anak sekolah Amal Kedah akan mengadakan sunat massal disana. (bersambung)

Islam di Vietnam


Phan Rang

Phan Rang (baca Phang Rang) adalah salah satu provinsi di Vietnam  Selatan, jika dilihat dari peta, kota ini terletak di pinggir laut, berbatasan langsung dengan Laut China Selatan.  Di Phan Rang ada sebuah kampung,  kampung Van Lam ( baca Ban Lam) namanya.

Dari  Ho Chi Min City (Saigon) ke Phan Rang sekitar 6 – 7 jam dengan  bus umum.  Van Lam masuk wilayah  distrik Ninh Thuan (Nin Tun).  Di kampung itu terdapat sebuah masjid An Nikmah namanya.

Menjelang magrib, aku  tiba di Bandar Udara Internasional Tan Son Nha Saigon, dengan penerbangan murah Air Asia dari Kuala Lumpur. Lama penerbangan dari Kuala Lumpur – Saigon  ditempuh sekitar 2 jam.   Dari Bandara Saigon ke pusat kota, kalau naik taxi hanya beberapa menit saja, ongkosnya pun tak begitu mahal.  Untuk kedatangan yang kali ini aku dijemput oleh Ahmad dengan speda motor.

Ahmad tahu kalau malam itu juga aku akan langsung berangkat ke Phang Rang. “Sebaiknya kita beli tiket dulu” saran Ahmad kepadaku. Aku mengangguk, dari Bandara kami langsung menuju tempat penjualan tiket bus yang hendak ke Phang Rang.  Alhamdulillah, untunglah masih ada tersisa satu sit lagi untuk keberangkatan bus terkahir malam itu.

Kampung Van Lam

Ahmad masih kerabat pemilik Restoran Samsudin, tak banyak restoran yang menjual makanan halal di Saigon. Sembari menunggu pesanan makanan dihidang, aku shalat jamak di lantai tiga Restoran itu. Pemilik Restoran Samsudin dan sebahagian pelayannya dapat berbahasa melayu, acap ke Saigon dan makan disitu, membuat kami saling mengenal. Bahkan salah seorang menantu pemilik Restoran itu pernah datang ke Batam Indonesia ke rumah kami. Basiron namanya, sedang menyelesaaikan Phd nya di Universitas Islam Antara Bangsa  Kuala Lumpur Malaysia.

Berangkat setelah Isya dari Saigon, menjelang subuh,  Rabu (2/12)  tiba di kampung Van Lam.  Bus yang ku tumpangi berhenti tidak jauh dari sebuah pompa Bensin.  Modalku kalau lagi bepergian ketempat yang belum pernah kukunjungi, mengatasi kesulitan dari segi bahasa selalu kuminta dituliskan bahasa setempat didalam henpon. Dan inilah bunyi tulisan yang kutunjukkan kepada supir bus yang membawaku ke Phang Rang.    ” Cho ong nguoi Indonesia xuong Ga Hoa Trinh gan cay xang phu quynh

SMS yang kuterima itu dari orang yang bernama Sani, Sani pula adalah teman sekampung Basiron, kebetulan sedang berada di Phang Rang, dia seorang guru bahasa Inggris di Saigon. Kemudian sms masuk lagi ke henponku, dari Sani,  yang berbunyi   “ini tampat turun pagi bus driver insaalah jumpa pukun 2“. Maksudnya, beritahu kesupir bus sms ini, diperkirakaan pukul 2 pagi kami akan bertemu.

Kampung Ban Lam ini terletak empat kilometer menjelang pusat kota Phan Rang, jadilah aku turun di pinggir jalan di depan Pompa Bensin tadi, tidak harus masuk kedalam kota Phang Rang. Tak berapa lama Sani datang dengan speda motornya dan membawa ku ke masjid An Nikmah.

Orang Champa

Sani atau nama lengkapnya Muhammad Sani bin Said, boleh dikata adalah penduduk asli Ban Lam, lahir di Ban Lam, besar di Ban Lam dan kuliah di Malaysia, tak banyak pemuda Muslim seusianya yang dapat menyelesaikan kuliahnya di luar negeri memakai pasport Vietnam apalagi untuk belajar Islam.

Sani kuliah jurusan umum, tidak seperti Basiron.  Basiron keluar negeri terpaksa dengan paspor Kamboja, karena mendapat bea siswa dari Kerajaan Arab Saudi.  Basiron fasih berbahasa Arab, Francis, Inggris , Melayu apalagi Vietnam dan Kamboja, tetapi kalau Ia pulang ke Vietnam menemui  orang tuanya, Ia masuk sebagai warga negara asing (Kamboja).

Banyak pemuda Vietnam yang seperti Basiron ini, agak susah pulang kampung untuk mengembangkan ilmu agama dikampung halamannya. Tetapi belakangan ini, negeri Komunis ini mulai terbuka dengan agama. Kegiatan Islam tidak lagi semuanya dikendalikan dari Kamboja.

Sambil berjalan menuju masjid An Nikmah Sani  bercerita :  “Kami ini orang Champa, saya orang Champa pak” kata  Sani.  Sani pun menjelaskan hanya sedikit orang muslim yang tinggal di kampung itu, Ia pun tak tahu jumlah pastinya, terkadang Ia menyebut 52 orang terkadang 20an, mungkin agaknya 20 kepala keluarga.

Sesampai di masjid An Nikmah, hari menjelang subuh,  didalam masjid, ada dua orang tua,  yang seorang bernama Said, pak Said adalah orang tua kandung Sani, Ianya Imam masjid An Nikmah dan seorang lagi bernama Yahya baru memeluk Islam. Yahya disebut suku Bani.

Pagi itu kami berempat menjadi jamaah di masjid yang cukup besar itu, “Masjid ini dibangun oleh seorang donatur dari Afrika” ujar Sani.  Saat itu Sani  sedang belajar di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia,  dia berkenalan dengan seseorang yang mengenalkannya kepada donatur tersebut dan berangkatlah mereka ke Ban Lam Phang Rang. Idul Adha 1430 H Jumat (27/12) yang baru lepas masjid tersebut  diresmikan.

“Dikampung ini ada 3 masjid.” Jelas Sani lagi.  “Nanti kita ke kampung yang satu lagi” kata Sani, sembari mengajak ke bangunan masjid lama, persis disamping kiri  yang rencananya akan dibuat madrasah. Kamipun berbincang bincang diberanda masjid lama itu, sambil menikmati seduhan teh yang dibuat pak Yahya.  “Belum pernah ada orang Indon datang ke sini, orang Malaysia ada datang tapi mereka hanya sampai di Chou Dok saja.” jelas Sani lagi.

Suku Champa Bani

Dia sangat terkesan sekali atas kedatanganku. Sani pun menjelaskan bahwa tak susah baginya memahami bahasa Indonesia karena hitungan satu sampai sepuluh hampir sama belaka. Untuk menyebut mata dalam bahasa Indonesia misalnya dalam bahasa Champa disebut ta , begitu pun sebutan hidung,  bahasa Champa dong saja.

Selepas minum teh yang di sajikan oleh pak Yahya tadi, kami berjalan melihat  rumah-rumah orang muslim suku Champa yang berada disekitaran masjid. “Disini ada tiga suku yang mengaku Islam, tetapi pengamalan agamanya agak berasingan ” ujar Sani.

“Satunya disebut suku Champa Bani,  mereka mengaku Islam tetapi tak shalat 5 kali, yang shalat hanya Imamnya saja, mereka pun punya masjid sendiri, mereka puasa hanya tiga hari saja” jelas Sani lagi. Pak Yahya tadi,  adalah dari Islam suku Champa Bani.  “Satunya lagi suku Champa Balamon, yang ini pula sembahyang nya seperti Hindu.” kata Sani lagi.

Dijamu sarapan pagi di rumah Sani, yang tak seberapa jauh dari Masjid An Nikmah, perjalanan kami lanjutkan ke rumah Tok Hakim, Tok Hakim sebutan kepada tetua suku Champa Bani.  Tok Hakim adalah orang yang paling dihormati dari suku Campa Bani, kebetulan adalah paman Sani adik kandung dari pak Said sendiri. Suku Champa Bani ini pula punya Kitab Quran sendiri. (bersambung)

%d blogger menyukai ini: