ISLAM DI CINA


Catatan Perjalanan dari Cina: Imbalo Iman Sakti

Assalamualaikum ucapku, kepada kakek yang hampir berusia 80 tahun ini, jauh dari tempat tinggalnya sengaja datang mendengarkan petuah dan khotbah jumat di Masjid.
10345042_843645205649552_1636978708_n
Tongkat ditangan, tas kecil seukuran 25 x 25 cm sebelah kiri isinya payung lipat, tas terbuat dari kain agak tebal dipakai untuk tempat duduk sebagai alas, dia berjalan perlahan ke ruang belakang masjid menuju tempat wuduk lelaki.

Cuaca saat itu cukup dingin, di Kunming ibukota provinsi Yunnan Cina, sekitar 11 derajat celsius, hujan sesekali turun gerimis. Wuduk, menggunakan air hangat di dalam ceret satu literan yang disediakan oleh pengurus masjid.

Di beberapa masjid air hangat ini tersedia langsung dari kran. Acap teman muslim Cina yang sama wuduk dengan kita menjelaskan cara memakai air hangat ini, mungkin karena kedua sisinya bertuliskan aksara Cina. Meskipun tak mengerti apa perkataan yang diucapkannya, te tapi dengan bahasa tubuh fahamlah kita.

Alhamdulillah tak begitu sulit berkomunikasi dengan Kakek Ibrahim ini, karena ada teman Cina yang dapat berbahasa melayu bersama kami, Ismail yang sedang menyelesaikan Phd nya di Universitas Islam Malayisa, di dapuk jadi juru bahasa.

Sang Kakek ini terus bercerita dalam bahasanya yang sedikitpun tak ku mengerti, “jangan , jangan ” kira kira begitu lah agak katanya, saat kuminta photo berdua, Orang di Cina terutama yang memakai jenggut seperti kakek ini tidak mau di photo, photo itu bisa membaha yakan dirinya, karena bila diberikan kepada pemerintah komunis Cina, sipemberi mendapat uang sampai 8000 yuan, dan si punya jenggot entah bagaimana nasibnya, sebenarnya hal ini terutama di daerah provinsi Xinjiang yang mayoritas Islam suku Uyghur, “diatas 45 tahun sebenarnya boleh pakai jenggot” ujar teman kami dari suku Uyghur……
“jadi di Cina Islam dilarang piara jenggot sebelum usia 45 tahun”.

Muslim Cina Entik Uyghur
Sepertiga Muslim Cina berada di provinsi Xinjiang. Provinsi ini adalah daerah otonomi yang berba tasan dengan daerah Otono mi Tibet di sebelah selatan dan Provinsi Qinghai serta Gansu di Tenggara.

Penduduk Asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uyghur, sekitar 45.21 persen dan suku Kazakh 6, 74 persen.

Kakek Ibrahim berasal dari suku Hui, di Xinjiang selain Uyghur juga terdapat suku Han yang merupakan suku mayoritas di Cina.
Sebelum terbentuk Republik Rakyat Cina tahun 1949, entis Uyghur ini adalah mayoritas di Xinjiang, provinsi ini ibukotanya adalah Urumqi.

Kini mereka menjadi minoritas, suku Han yang semula hanya berkisar 6 persen, menjadi mayoritas menjadi leboih 6o persen.
Pemerintah Cina benar benar memberi tekanan yang berat terhadap suku Uyghur ini terutama dalam Agama dan budaya apalagi terhadap bidang ekonomi.

Itulah mengapa Uyghur hingga kini lebih memilih merdeka memisahkan diri dari pemerintah pusat atau bergabung dengan Karjiskistan yang berbatasan langsung dengan Rusia ke timbang terus dalam cengkeraman Cina.

Kondominium puluhan tingkat ribuan jumlahnya dibangun oleh pemerintah Cina, nyaris penghuninya adalah pekerja dari suku Han yang non Muslim. Bentrok antara dua suku ini sering terjadi.

Negeri jalur sutera, terkenal ribuan tahun lalu yang kaya mineral ini terus di kuras, tak terhitung banyak dan panjangnya setiap hari rangkaian kereta api mengangkut batu bara dari perut bumi Urumqi, jutaan kincir angin pembangkit listrik berdiri kokoh di gurun yang dulu tandus itu, demikian pula solar cell tak terhitung jumlahnya sepanjang jalan sejauh 3000 kilometer antara Chengdu dan Urumqi yang kami lalui, terus mengarah ke matahari memanfaatkan panasnya.

Pompa angguk memompa minyak tak henti henti menggangguk terus mengalirkan minyak. Demikian pula dam bendungan air dan kincir airnya memutar turbin, dan terus mengalir kan air ke tali air ribuan kilometer panjangnya jauh mata memandang ladang gandum, padi terbentang.
Bagaimana mungkin Cina mau melepaskan negeri yang banyak dilalui para kafilah berdagang sutera ini dan pernah dilalui oleh sahabat Rasulullah SAW Saad bin Aby Waqas ber dakwah menyebarkan Islam.

Etnis Uyghur adalah masyarakat yang sederhana, jujur dan menghormati tamu, hal ini sangat kami rasakan, tahu kalau kami datang dari negeri muslim, bagaimana ramahnya Al Murad menjamu kami makan, membawa kami seharian dengan kenderaannya sendiri mengunjungi perkam pungan suku Uyghur nun jauh ratusan kilometer jauhnya sampai ke Turban, Karez.

Meskipun kini pemerintah Cina mulai melunak, dengan diinstruksikan para pejabat pemerintah Cina untuk mempelajari bahasa Uyghur dan teradisi Islam lainnya.

Tetapi anehnya pemerintah Cina malah melarang pria dibawah usia 45 thn memelihara jenggot. (imbalo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: