Islam di Yunnan Kunming Cina


Catatan Perjalanan ke Cina

Imam masjid Kunming

bersama Imam masjid Kunming

Buletin Jumat berkesempatan mengunjungi Cina, lawatan, kami mulai dari Kunming ibukota provinsi Yunnan. Hampir empat jam perjalanan dengan pesawat Air Asia, dari Kuala Lumpur Malaysia, tiba di lapangan terbang antara bangsa Kunming, hari menjelang petang, meskipun tidak ada perbedaan waktu antara Kuala Lumpur dengan Kunming, tetapi waktu shalat berbeda.

Dengan taksi menuju pusat kota, tarifnya 100 yuan, 1 yuan sekitar 1.900 rupiah. Bandara Yunnan ini terlihat lengang, masih gersang dari pepohonan, karena sedang dalam tahaf pembangunan. Sepanjang perjalanan ke pusat kota, terlihat pembangunan kondominium dan pabrik tempat industri disana sini.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 tetapi matahari masih bersinar terang, udara terasa dingin sekitar 12 derajat selsius.
Kedatangan kami di Kunming (Cina) sedang libur, hari buruh, hotel penuh, 01 Mei benar benar dinikmati pekerja di negeri tirai bambu tersebut.

Hidung terasa sesak dan kering, cuaca dingin dan bau menyengat khas kota Kunming, awalnya kami tak itu bau apa, ternyata bau tahu busuk dari parit pembuangan, persis di dekat pembuangan limbah ada kamar hotel dekat masjid seharga 240 yuan semalam, dengan dua tempat tidur.

Di Kunming, warga negara asing harus tidur di hotel, sebenarnya ada penginapan murah di sekitar masjid. Tapi pemerintah komunis itu tak membenarkannya.

Karena tak tahan bau yang menyengat entah bau apa, seperti aroma bawang dan busuknya hembusan angin dari parit tertutup pembuangan limbah dari pabrik tahu, malam itu kami menginap di We Long Hotel. Tarif paling murah 450 yuan, satu malam.

Masjid di Kunming

Ada enam masjid, terletak di pusat kota Kunming, satu masjid provinsi yang kami kunjungi, ribuan jumlah jamaahnya pada shalat jumat. Di ruang utamanya dapat memuat sekitar 700 orang jamaah, masjid tanpa kubah ini, adalah masjid paling tua di Kunming. Masjid ini terletak persis di depan jaringan Mall terkenal di Cina yaitu Wang fun jing.

Jamaah shalat jumat penuh sampai ke halaman masjid, diperkirakan ratusan ribu umat islam di Kunming , sebagian besar dari suku Han

Jamaah shalat jumat penuh sampai ke halaman masjid, diperkirakan ratusan ribu umat islam di Kunming , sebagian besar dari suku Han

Diseputaran masjid ini banyak dijual makanan halal. Tidak waktu shalat jumat saja apalagi waktu shalat jumat, jauh waktu sebelum shalat tiba jamaah sudah berdatangan. Kebanyakan warga tua. Masing masing dengan tongkatnya. Mereka duduk berdua dua , duduk di bangku – bangku yang disediakan di halaman masjid, di bawah pohon-pohon pelindung.

Akrab terdengar perbincangan mereka kelihatannya, sebagian jamaah itu datang sengaja untuk shalat jumat, jauh dari kampung kampung kiloanmeter jaraknya dari masjid. Hujan yang turun tiba tiba selama pergantian musim nyaris semua membawa payung, dan bungkusan persegi empat, rupanya bungkusan itu untuk tempat alas duduk, dan sehelai handuk kecil.

Cuaca dingin, sesekali hujan turun, wuduk memakai air panas yang disediakan masjid, handuk kecil tadi digunakan untuk melap bekas wuduk terutama bagian kaki. Setelah dilap langsung memakai kaos kaki.

Kamar kecil untuk tempat buang air besar dan kecil ada yang terpisah, bila tidak biasa istinjak dengan kertas, kita terpaksa harus membawa gayung (ceret) yang ada tersedia disitu yang berisi air panas. Semua jamaah di Kunming shalat pakai kaos kaki, mungkin karena dingin udaranya.

Hari kedua kami menginap di hotel peris bersebelahan dengan masjid, tarifnya lebih murah satu malam 180 yuan. Subuh itu kami datang awal untuk shalat, ada rombongan dari Jakarta ikut turnamen golf disana, sebagian mereka ikut shalat di subuh yang dingin itu. Kebetulan kami satu hotel saat di We Long hotel, ada Ade Chandra mantan pemain Bulu Tangkis.

Di Kunming, sama dengan di Thailand Utara, bacaan basmalah pada Alfatiha tidak di zaharkan, begitu juga sebutan Amin, tidak terdengar, kalau di Indonesia dam Malaysia, sebutan Amin setelah Fatiha terdengar kuat dan panjang.

Bentangan sajadah pun sebagian besar masjid di Cina letaknya tidak memanjang ke depan tetapi kesamping, sajadah hanya untuk tempat duduk dan berdiri, sementara untuk sujud, kening menepel di papan di lantai tidak beralas.

Saat azan dikumandangkan, jamaah yang duduk langsung semuanya berdiri. Hal ini bukan untuk shalat subuh saja, setiap shalat fardu lain pun begitu. Bacaan Fatihah dan ayat yang dibaca intonasinya terdengar agak lain dari biasa yang kita dengar di Tanah air. Muazzin pula mengumandangkan azan di luar bangunan masjid, tidak menggunakan pengeras suara.

Jamaah wanita shalat di bangunan tersendiri, sementara tak terlihat anak-anak maupun remaja.
Esok kami ke Cheng Du……..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: