Sinterklas Muslim di Bumi Melayu


1488099_765910243423049_200734800_nRibuan pengunjung hilir mudik memasuki lobi Hotel Planet Holiday Batam, malam itu sedang berlangsung acara peluncuran Tiga Buku Karya Agung Raja Ali Haji.

Pada keesokan harinyapun berlangsung acara seminar ditempat yang sama, pembicara, pemakalah dan para Guru Besar, membahas kebesaran dan kejayaan pengarang Gurindam Duabelas itu, antara kerangka dan isi dikupas tuntas. Sastra melayu identik dengan Islam dan tentunya tidak terlepas dari Quran dan Hadist.

Para pengunjung, peserta dan tamu undangan yang memasuki hotel tersebut disuguhi pemandangan suasana natal, ada pohon cemara, dibubuhi kapas warna putih, agar terlihat  seakan berselaput salju. Dan para pekerja disitu memakai atribut sinterklas. Ironisnya baik tamu undangan dan pekerja yang berada di hotel itu, nyaris seluruhnya beragama Islam.

Disatu tempat lain,  Agu Dian Sofiyani, seorang ibu rumah tangga merasa resah, “Belumlah Natal tiba, pernak pernik dan atributnya sudah menghiasi tempat perbelanjaan yang saya kunjungi, para kasir sudah dilengka pi dengan topi santa clause. Lagu-lagu natal diperdengarkan”.

Hal pernak pernik dan atribut natal ini, membuat berang seniman Batam.Tarmizi, seniman dari sanggar Rumah Hitamini  bersama tamunya dari Tahiland yang juga seorang seniman, sedang chek in di Hotel Harmoni One dilayani recepsionis muslim yang memakai atribut sinterklas.1499471_765910066756400_1985563184_n

Bukan main meradang pria yang selalu berbaju hitam ini, karena marah dan mengomel di depan resepsionis yang tak dapat menjawab keberatan Tarmizi. Staff front office dan kepala security hotel tersebut pun tak dapat memutuskan.

Pemberian ucapan selamat Natal pun sudah mulai ramai diperbincang kan di televisi, ada sebagian kaum muslimin yang menganggap pembe rian ucapan Natal sebagai sebuah hal yang sah-sah saja namun ada juga yang kontra terkait hal ini.

Sepanduk “kampanye” ucapan selamat natal dan tahun baru para calon legislatfp pun bertebaran disepanjang jalan, di depan nama caleg itu tercantum Haji dan Hajjah. Sepertinya mereka yakin betul dengan membuat ucapan seperti itu pemilih non muslim akan memilihnya dan berapah sih jumlah mereka?

Ouw bukan, ini bentuk toleransi saja, sesama warga negara, “lagian kenapa tahun tahun lalu tidak ada teguran atau apapun tentang atribut ini”?. tanya Yudi kepala security Hotel Harmoni One yang di temui Buletin Jumat bersama Tarmizi.  Yudi pun mengharapkan sebagai pelaksana semua kebijakan dari owner atau atasannya, hendaknya pihak terkait seperti Pemko atau MUI memberikan surat kepada mereka, jadi ada acuan dan pegangan.

Bagus itu saran dari Yudi, seperti Pemerintah Provinsi Aceh melarang semua kegiatan yang berbau Natal. Kecuali kepada umat kistiani saja. Ketua MUI KH Usman Ahmad mengatakan, hal ini sudah berulang kali dibahas, baik dari pihak PHRI, Penge lola Mall, bersama Muspida setempat.

Nah kembali ke Kenduri Melayu 2013, bersempena dengan ulang tahun Kota Batam ini, bagaimana untuk tahun hadapan tidak lagi diadakan di Hotel yang tidak mengindahkan perasaan orang Islam itu, hal itu BJ sampaikan kepada Tarmizi yang juga juru bicara FPI, sebagai salah seorang seniman yang tersangkut paut dengan kegiatan Kenduri Melayu itu.

Atau paling tidak para seniman itu bersikap seperti Ketua MUI Batam yang menolak hadir pada acara peng-anugrahan, karena menurut beliau acara tersebut tidak Islami. Untuk itu Kita kembalikan saja kepada pejabat yang paling berwenang di bumi segantang lada dan bandar dunia Madani ini. (imbalo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: