Bangsamoro di Filipina


SONY DSC
Catatan Perjalanan

Imbalo Iman Sakti – Filipina –

Selepas Ashar, kami meninggalkan Camp Army MNLF Laguitan. Masih dengan boat farm yang sama tetapi tidak turun di Lebak sebagaimana perginya.

Menuju suatu tempat kediaman adik Datu Randy bernama Datu Bobby di Lepang. Datu Bobby seorang Senator di daerah itu. Daerah tempat Datu Bobby, banyak penduduknya berternak kambing dan Lembu.

Insyaallah rekan dari Malaysia akan buat Qurban Hari Raya Haji mendatang. Harga Kambing layak potong, di Cotabatu jauh lebih murah dibanding di Chiang Rai Thailand Utara. Apalagi dibanding kan dengan Batam, Harga satu ekor kambing sekitar enamratus sampai tujuh ratus limapuluh ribu rupiah.

Dari Lepang kediaman Datu Bobby, kami naik kenderaan roda empat yang tadi pagi membawa kami. Banyak tempat yang kami kunjungi sepanjang jalan pulang ke Cotabatu, terus dibawa berkeli ling kedaerah daerah yang sedang dibangun dan telah selesai diba ngun oleh pemerintah Otonomi Islam Mindanao. Seperti Dermaga pelabuhan Lepang misalnya, yang menghubungkan Lepang – Cota batu dengan Ferry. Sehingga ada alternatif jalan lain.
SONY DSC

Tiba di Hotel hari menunjukkan pukul 10 malam. Di Restoran telah menunggu Hadja Bainon G.. Karon, beliau adalah Regional Vice Governor Aotonomous Region In Muslim Mindanao. Banyak tetamu lain hadir dijamuan makan malam itu. Beliau yang masih kakak dari Datu Randy menyerahkan sertifikat penghargaan kepada kami.

Madam Bainon demikian para te tamu memanggilnya, terus bercerita bagaimana memajukan potensi umat Islam di Mindanao, Cotabatu khususnya. melalui pemberdayaan zakat dan terutama Wakaf. Dua hari berturut turut sebelumnya, di Hotel Estosan Garden hampir seluruh lembaga-lembaga Islam dan pengu rus organisasi Islam yang ada di Cotabatu mengikuti Seminar tentang Wakaf tadi.

Saya seorang dari Batam Indonesia, menyampaikan kepada mereka tentang adanya bea siswa berasrama, kepada pelajar di Min danao khususnya dan Filipina umumnya yang ingin belajar Bahasa Arab dan Study Islam selama dua tahun di Mahad Said bin Zaid Batam.
SONY DSC
Ada kesan khusus terlihat di wajah mereka, bicara soal Indonesia. Nyaris tak satupun dari mereka dapat berbahasa Indonesia, “Kalau di Davao ada yang pandai” timpal Asheem Gaoupal, Asheem inilah yang membawa kami dari Manila ke Cotabatu. Asheem masih kerabat Madam Bainon. Bekerja di Asian Institut of Management (AIM) di Manila. Dan seperti nya juga mengurusi kepen tingan Pemerintah Otonomi Mindanao wilayah Coatabatu.

Besok masih ada perjalanan lagi, sebelum pulang ke Manila pukul 12.45, kami akan mengun jungi masjid terbesar dan terindah yang ada di Cotabatu, bahkan mungkin sekarang ini di Filipina. Masjid yang di bangun oleh Kesultanan Brunei ini baru saja selesai, orang menamakan nya masjid putih. Dan menjadi Land Mark Cotabatu City. Puluhan kilometer sewaktu memasuki Cotabatu dari Davao masjid ini terlihat dengan indah nya. terletak persis di muara teluk Moro.

Bangsamoro demikian mereka suka disebut. Yang perlu diingat Bangsamoro identik dengan Islam. Bangsa ini masih belum kompak lagi, Lima provinsi dalam otonomi Islam Mindanao (ARMM) Lanao, Basilan, Magu indanao, Sulu, Tawi-Tawi, masih menyisakan kesepakatan yang belum sepakat.
Insyaallah mereka akan sepakat di dalam Masjid (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: