Jesus V.Del Rosario Foundation Building Manila


Kali ini Buletin Jumat (BJ) mengunjungi Filipina, kota Manila. Bersama dengan tiga orang teman dari Kedah Malaysia, kami bertemu di Singapura

Dari Changi Air Port Singapura, berangkat Sabtu (28/04) pukul 00.55. Tiba di Bandara Nino Aquino International Airport (NAIA), Jam telah menunjukkan pukul 04.10 dini hari waktu Filipina.

Tidak ada selisih waktu antara Singapura dengan Manila. Semen tara waktu antara Malaysia dengan Manila pun juga sama. Tetapi de ngan Batam Indonesia, meskipun bertetangga, tiga Negara itu lebih awal satu jam waktunya dari pada Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB).
Karena hendak mengejar shalat subuh di Hotel, kami bersegera ke luar dari terminal. Ternyata meski pun waktu dikedua Negara itu sama, waktu untuk shalat tidaklah sama. Contoh, waktu shalat Subuh di Manila, sekitar pukul 04.15, sementara Kedah dan daerah lain di Semenanjung Malaysia, pada umumnya, waktu shalat subuh berkisar antara pukul 05.30.

Fasilitas Umum Bandara
Jadi sewaktu berada diruang ke datangan tadi, sebenarnya telah masuk waktu shalat subuh. Terlan jur sudah keluar dari ruang terminal kedatangan, sementara teman yang akan menjemput belum juga datang, fajar mulai menyingsing.
Mushala ada diruang kedata ngan tadi. Untuk masuk kesana, harus jalan berputar lumayan jauh jaraknya. Dan kami, tidak bisa shalat bersama, harus ada yang menjaga beg pakaian, tak mungkin dibawa kedalam lagi.

Mushala di Bandara NAIA hanyalah ruang kecil, ukuran 2 x 3 meter, terletak dilantai dua, diu jung lorong dekat toilet. Seperti nya ruang gudang arsip yang dimanfaatkan dan disekat untuk ruang shalat.

Di mushala kecil itu, ada bebe rapa orang petugas berseragam bi ru sedang shalat, dan ada juga yang telah selesai, berada diluar, sedang memasang sepatu. Ternya ta ada juga petugas yang bekerja di Bandara itu yang beragama Islam.

Sama dengan ruang shalat di Terminal Dua, Bandara Changi Singapura. Di Bandara NAIA Manila ini pun ruang shalat dengan ruang meditasi terletak berdampingan. Ruang shalat di Changi cukup bersih dan punya tempat wuduk sendiri, dan sepertinya memang disiapkan untuk ruang shalat.
Di NAIA Manila, ruang medi tasinya lebih luas dari di Changi. Diruang meditasi itu terlihat patung bunda Maria, sebesar manusia, berdiri diujung ruangan, beberapa bangku panjang berjejer dua, dan sebuah podium, terletak berdampingan dengan patung tadi. Ruang meditasi, semacam ruang untuk berdoa.

Building Conference Center Manila
Di Manila, kami menginap di Jesus V. Del Rosario Foundation Building, yang terletak di Trasierra Sts. Legaspi Village, Makati City 1260 Philippines. Bangunan tempat conference center, Asian Institute Of Management (AIM). Bangunan AIM yang terletak di tengah jantung kota Manila ini, cukup luas. Hampir seluruh Negara Asia punya nama ruang tersendiri.

Poto-poto peserta dan tamu kehormatan terpajang rapi di dinding, termasuk peserta dan tamu dari Timur Tengah –terlihat dari pakaian mereka- yang pernah mengunjungi gedung AIM itu. Tiga teman BJ, adalah Dosen di Universitas Utara Malaysia (UUM) Kedah, mereka menjadi pembicara di AIM Manila.

Di bangunan yang bernama Jesus ini pun menyediakan ruang meditasi, lebih banyak bangku panjang tersedia dibandingkan ruang meditasi di Bandara NAIA. Ruang meditasi ini terletak persis di depan kolam renang lantai satu dan terawat rapi. Mungkin karena banyak peserta konperensi dari Negara Asia yang beragama Islam, pengelola gedung AIM pun menyediakan ruangan untuk shalat, terletak diruang bawah tanah. Jalan ke tempat ruangan shalat itu, melalui koridor yang mengeluarkan bau busuk parit dan juga bau kecoa.

Makanan Halal
Sewa kamar standar di AIM sekitar 6000 peso, 1 peso sebesar Rp. 250,- Ada beberapa restoran di gedung itu. Siang itu kami dijamu makan. Lihat menu maka nan nyaris semua ber-babi. Mere ka tahu kalau kami beragama Islam. Terbiasa agaknya menerima tamu seperti kami, sang pelayan restoran dengan cekatan menye diakan makanan yang tidak mengandung babinya.

Tak lama makanan telah ter hidang, ada kuah sup bersantan, capcai rencah daging ayam, poto ngan ikan berbumbu dipang gang, tumis jamur dengan lada hitam. Tak henti-hentinya sang pelayan menjelaskan bahwa makanan yang dihidangkannya halal.
“Kalau ini terpaksa nak kena makan” ucap teman yang dari Malaysia dengan berat hati.

Halal, bukanlah karena masa kan itu tidak dicampur dengan daging babi saja, tetapi perala tan untuk memasaknya, bumbu yang dipakai. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: