Bulang Lintang, Pulau Bersejarah yang Terlupakan.



Pulau Bulang pernah memainkan peranan penting dalam peristiwa sejarah di kawasan Selat Melaka. Ia jadi pusat pertahanan Kerajaan Melayu dari serangan Portugis. Kini, Bulang terabaikan, satu per satu instansi pemerintah angkat kaki dari pulau itu.

Pelabuhan Bulang Lintang tak begitu ramai, Kamis (20/12) siang. Hanya ada dua kapal motor bersandar di sana. Satu kapal siap mengantar sejumlah warga ke Batam. Satu kapal lagi mengangkut semen dan bahan bangunan.
542015_532189270133729_72298048_n
Siang itu, warga Bulang Lintang bergotong royong membangun masjid. Mereka bergantian memindahkan semen dan besi dari kapal ke atas ponton pelabuhan dan mengangkutnya dengan sepeda motor ke lokasi pembangunan masjid yang berjarak 200 meter dari pelabuhan.

Gotong royong siang itu merupakan satu-satunya aktivitas warga Bulang Lintang. Biasanya, mereka beristirahat di siang hari. Baru sehabis salat Isya mereka melaut hingga dini hari.

Penduduk Bulang Lintang sekitar 400 kepala keluarga. Sebagian besar nelayan. Mereka tinggal di tepi laut, di rumah-rumah panggung berpancang kayu. Akses jalan yang membelah perkampungan berupa jalan semen selebar 2 meter. Banyak sisa-sisa pembangunan di kampung itu. Bulang Lintang pernah jadi ibu kota kecamatan. Namun, sejak beberapa tahun lalu Kantor Camat Bulang berupa bangunan dua lantai ditinggal. Kantor camat pindah ke Pulau Buluh.
206499_532189576800365_1427244422_n
“Sebentar lagi Puskesmas juga akan ikut pindah ke Pulau Buluh,” kata Raja Hilmi, Ketua RW I Bulang Lintang.

Pulau Buluh berjarak 20 menit perjalanan laut dari Bulang Lintang. Jika Puskesmas ikut pindah, suasana Bulang Lintang akan lebih sepi lagi. Sebelumnya, Kantor Urusan Agama (KUA) Bulang juga sudah pindah ke Pulau Buluh bersamaan dengan pindahnya kantor camat.
148948_532189593467030_1960805901_n
Bulang Lintang bukan pulau sembarangan. Pulau ini sarat sejarah. Menteri Pariwisata dan Kebudayaan I Gede Ardika, pernah menyambangi pulau ini. Puluhan tahun sebelumnya, pasukan TNI AD dan marinir juga pernah mendiami pulau ini saat Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia, sekitar tahun 1963.
564588_532189446800378_1488114146_n
Ratusan tahun sebelumnya, jauh sebelum Batam dikenal, Bulang Lintang juga sudah tercatat dalam sejarah Melayu Riau-Lingga-Johor. Di sana, ada situs sejarah Melayu. Ada makam Bendahara Temenggung Abdul Jamal bersama istrinya Raja Maimunah.

Pemko Batam memasukkan makam Temenggung Abdul Jamal dalam peta pariwisata religius Kota Batam. Begitu juga Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, menjual pulau ini sebagai salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi.

 Yayasan Amal Malaysia datang berkunjung

Yayasan Amal Malaysia datang berkunjung


Namun, kondisi situs sejarah tersebut tak dikelola dengan baik. Penunjuk jalan menuju area makam hanyalah berupa plang bertuliskan nama jalan Temenggung Abdul Jamal. Kita harus bertanya ke penduduk sekitar untuk mengetahui letak makam sang Bendahara. Lokasinya sekitar 100 meter dari pelabuhan.

Memasuki area pemakaman Temenggung Abdul Jamal kita akan langsung berhadapan dengan gapura khas Melayu. Gapura itu bercat kuning dengan tulisan Obyek Wisata Religius Makam Bulang Lintang berwarna hijau. Begitu kaki melangkah, dedaunan kering sudah langsung menyambut. Daun-daun itu mengotori jalan, terlihat jarang dibersihkan. Pohon-pohon seperti cempedak, akasia, rambe, dan lainnya menaungi area pemakaman.

Makam Temenggung Abdul Jamal berada di dalam komplek pemakaman seluas 12×15 meter. Pagar asli makam tersebut berupa batu kapur dibiarkan tetap berdiri. Di luarnya, Pemko Batam memugarnya dengan membangun tembok setinggi 1,5 meter. Tembok tersebut juga dicat kuning. Sebagian sudah berlumut. Warna kuningnya kusam, tak lagi bercahaya.

Jasad Makam Temenggung Abdul Jamal dibaringkan tepat di tengah-tengah komplek pemakaman. Makam sang bendahara dinaungi rumah kecil. Nisannya berupa batu berbentuk tiang bulat. Nisan itu dilapisi kain kuning. Ada sejumlah tasbih membelit nisannya. Di sebelah kirinya, istrinya, Raja Maimunah dimakamkan. Di sekelilingnya, banyak makam berukuran sedang. Ada juga belasan makam berukuran kecil, seperti makam bayi-bayi.

Selain makam Temenggung Abdul Jamal dan istrinya tak ada keterangan apapun tentang makam-makam yang lain. Kamarul Zaman, anak pasangan Mustafa dan Raja Halidah, pemegang pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal, menduga makam-makam di sekeliling Abdul Jamal adalah makam para pembantu bangsawan tersebut. “Mungkin semacam hulubalangnya,” katanya.

Di luar komplek makam Temenggung, ada sebuah museum kecil bernama Museum Mini Cik Puan Bulang. Museum itu dibangun bersamaan dengan pemugaran komplek makam Tumenggung di zaman Wali Kota Batam Nyat Kadir, sekitar sepuluh tahun lalu. Ukurannya 8×8 meter. Isinya kosong. Tak ada barang atau dokumen apapun yang disimpan di museum tersebut.

Awalnya, museum tersebut akan diisi peninggalan Temenggung Abdul Jamal berupa dua keris berlekuk tiga, tongkat raja, pedang, dua tombak berbalut bulu kuda, dan separuh potongan kelapa laut. Separuh potongan kelapa laut itu konon adalah tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal. Namun, benda pusaka itu tak pernah menghuni museum karena pemegang pusaka yakni keluarga Raja Halidah dan Mustafa tak mengizinkannya.

“Takut hilang,” kata Mustafa, Kamis siang itu.

Dulu, kata Mustafa, banyak orang datang ke rumahnya ingin melihat benda-benda pusaka itu. Sebagian bermaksud hendak mengambil harta karun yang terkubur di area makam Temenggung Abdul Jamal. “Banyak yang sudah mencoba ambil harta karun, tapi tak ada yang bisa,” ujarnya. Itu sebabnya, katanya, ia tak meletakkan benda-benda peninggalan Temenggung Abdul Jamal di museum itu.

Mustafa mengaku benda pusaka itu milik keluarga istrinya. Ia bercerita, suatu hari mertuanya Raja Umar kedatangan tamu dari Pulau Penyengat. Namanya Mukhsin Khalidi, penilik dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Kepri.

Kepada mertuanya, kata Mustafa, Khalidi menanyakan apakah mertuanya memegang benda-benda pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal? “Mertua saya tak langsung jawab. Mertua saya balik nanya, benda apa,” kata Mustafa.

Barulah setelah Khalidi menjelaskan soal keris dan pedang, Raja Umar membenarkan, dialah yang memegang benda-benda itu. “Sejak saat itulah benda pusaka ini ada di keluarga kami,” tuturnya.

Meski pemegang benda pusaka, Mustafa tak bisa memastikan, apakah keluarga istrinya termasuk keturunan Temenggung Abdul Jamal. Tak ada catatan tertulis soal silsilah keturunan Temenggung Abdul Jamal di keluarga mereka. Yang Mustafa tahu, mertuanya bernama Raja Umar bin Raja Yahya. “Di atas Raja Yahya, mertua saya tak ada cerita lagi,” tukasnya.

Mustafa sendiri adalah perantauan dari Adonara, Nusa Tenggara Timur. Ia datang ke Bulang Lintang sekitar tahun 1962. Belum banyak penduduk di sana, hanya ada tiga kepala keluarga. Setahun kemudian, Bulang Lintang menjadi basis tentara saat Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia. “Banyak tentara yang berjaga-jaga di sini. Mereka bikin tenda di dekat makam Tumenggung Abdul Jamal,” ucapnya.

Di masa-masa konfrontasi itulah, kata Mustafa, ia menikah dengan Raja Halidah, anak Raja Umar. Dari pernikahan itu, ia dikarunia tujuh anak. Kamarul Zaman, yang hari itu, mengantar Batam Pos ke situs-situs sejarah Temenggung Abdul Jamal, adalah anak Mustafa-Halidah, yang kini menjadi pegawai di kantor Lurah Bulang Lintang.

Banyak turis Malaysia maupun rombongan ibu-ibu majelis taklim yang berkunjung ke makam tersebut. Sebagian, setelah berziarah ke makam, melihat-lihat pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal. Konon, tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal memiliki khasiat menyembuhkan batuk dan flu. Mustafa mengaku sudah membuktikan kesaktian tempat membasuh kaki itu. Semua anaknya, katanya, jika batuk cukup ia beri air yang sebelumnya diendapkan dulu di dalam tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal itu.

“Orang Malaysia yang datang juga banyak yang minta minum air dari tempat membasuh kaki ini,” kata Mustafa.

Keluarga Mustafa ikut memegang kunci makam Temenggung Abdul Jamal. Namun, mereka bukan penjaga makam. Penjaganya adalah Mathaha atau biasa dipanggil Wak Taha oleh warga sekitar. Wak Taha mengaku sudah berumur 80 tahun. Rambutnya memutih. Kulitnya legam terbakar matahari. Giginya sudah banyak yang tanggal. Cara berjalannya agak membungkuk.

Wak Taha mengaku diminta Wali Kota Batam Nyat Kadir menjaga makam saat pertama kali area pemakaman itu dipugar Pemko Batam. Sampai sekarang ia menjaga makam tersebut. Setiap bulan, katanya, ia mendapatkan gaji Rp500 ribu dari Camat Bulang. Namun, karena usianya yang sudah tua, Wak Taha tak lagi rajin membersihkan area pemakaman. Daun-daun kering di sana dibiarkannya.

Meski begitu, Wak Taha masih rajin membaca tahlil di makam Temenggung Abdul Jamal, saban malam Jumat. Ia mengaku sering didatangi sosok Temenggung Abdul Jamal. Saat pertama kali menjaga, katanya, Temenggung Abdul Jamal hadir di depannya. Saat itu, ia sedang membaca tahlil. Temenggung tiba-tiba datang, memegang tangannya, dan meminta dia menjaga kebersihan makam tersebut.

Temenggung Abdul Jamal, kata Wak Taha, datang dengan menggunakan baju Melayu warna kuning. Ia bertanjak dan mengenakan selendang yang juga berwarna kuning. “Jenggotnya panjang, sudah beruban. Dia datang hanya sekilas. Setelah minta saya bersihkan makamnya, ia menghilang,” kata Wak Taha.

Aswandi Syahri, Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Provinsi Kepulauan Riau, mengatakan berdasarkan penelitiannya, saat ini tak ada lagi keturunan Temenggung Abdul Jamal di Bulang Lintang. Pasalnya, Bulang Lintang yang pernah ditinggali keluarga Temenggung Abdul Jamal sejak tahun 1722, sudah ditinggalkan keluarga tersebut tahun 1824.

“Keturunan Temenggung Abdul Jamal yakni Temenggung Abdulrahman pindah ke Singapura pada tahun 1811. Keluarga itu pindah bertahap dan tahun 1824 itu sudah tak ada lagi keluarganya yang mendiami Bulang Lintang,” katanya, Sabtu (22/12).

Temenggung Abdul Rahman membuka kawasan pemerintahan Temenggung Johor di kuala Sungai Singapura. Saat ini, kata Aswandi, keturunan Temenggung Abdul Jamal menjadi Sultan Johor. “Kalau silsilahnya, Sultan Johor yang sekarang Sultan Ibrahim Ismail inilah keturunan Temenggung Abdul Jamal,” tutur Aswandi.

Aswandi pernah menulis buku Pulau Bulang dan Sejarah Temenggung Riau-Lingga-Johor dan Pahang Yang Terlupakan (1722-1824). Menurut dia, sejumlah bahan sumber Melayu dan Eropa mencatat bahwa Pulau Bulang pernah memainkan peranan yang cukup penting dalam peristiwa sejarah di kawasan Selat Melaka. Dalam Sejarah Melayu Sulalatus Salatin umpamanya, nama Pulau Bulang paling tidak telah dicatat dalam kaitannya serangan-serangan Portugis terhadap pusat pertahanan Sultan Mahmud Syah, Sultan Melaka yang menyingkir ke Pulau Bintan.

Kawasan perkampungan orang-orang Melayu di Pulau Bulang pernah dibakar habis oleh sayap armada laut Portugis di bawah komando Don Sancho Enriquez yang berkekuatan 25 buah perahu, galley, dan fusta, sebelum menyerang pusat pertahanan Sultan Mahmud Syah, yang dikenal dengan nama Kopak dan Kota Kara di Pulau Bintan pada pada tahun 1526.

Sebuah laporan Portugis juga mencatat bahwa kawasan sekitar Pulau Bulang telah terkenal sebagai pelabuhan dagang sejak tiga puluh lima tahun sebelum Laksamana Tun Abdul Abdul Jamil dari Johor (Lama) diutus membuka sebuah negeri baru di Pulau Bintan yang kemudian dikenal sebagai “bandar dagang” bernama Riau pada tahun 1673.

Resende, orang Portugis yang menulis laporan itu mencatat terdapat pelabuhan dagang yang penting berhampiran dengan Selat Singapura yang disebutnya dengan nama Bulla atau Bulang dekat Pulau Batam.

Menurut Resende, pelabuhan ini padat dengan penduduk Melayu dan seringkali dibanjiri oleh sejumlah pedagang dari seluruh rumpun masyarakat dari wilayah Selatan pelabuhan itu.

Dua ratus tahun kemudian, perairan di sekitar Teluk Bulang juga tampil memainkan peranan yang sama, seperti pada zaman Resende melaporkan situasi pulau ini pada tahun 1638. Pada tahun 1843, seorang pengamat Eropa lainnya bernama Horsburg melaporkan, “Teluk Boolang, di Pulau Battam, atau Pulo Battam, terletak kira-kira 13 atau 14 miles sebelah tenggara Singapura, menyediakan tempat berlabuh yang aman, dan sering dikunjungi kapal-kapal Amerika; di sini mereka memperoleh barang muatan, dan berdagang dengan Singapura, dalam rangka menghindari biaya tambahan bila langsung pergi ke Singapura, karena Teluk Bulang berada di luar batas wilayah kekuasaan Inggris”.

Pada masa pemerintah Sultan Riau yang pertama, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1722-1760), Pulau Bulang tampaknya juga menjadi “benteng alamiah” yang melindungi Riau dan sekaligus tempat “perlindungan” menjelang menyingkir ke kawasan tertentu bila terjadi krisis politik di Riau.

Sekitar tahun 1724, umpamanya, Sultan Sulaiman pernah berada di Pulau Bulang sebelum menyingkir ke Kampar ketika terjadi perselisihan dengan pembesar-pembesar Bugis di Riau. Menurut sejarawan Eliza Netscher, salah satu sebabnya adalah karena terdapat sebuah benteng tangguh bernama Kota Karang di pulau ini. (abdul hamid) (82)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: