Masjid Kecil di An Giang Vietnam


Tok Imam Soles, bersama kedua putra dan dua orang cucu lelakinya, penerus generasi Champa di Vietnam

Tok Imam Soles, bersama kedua putra dan dua orang cucu lelakinya, penerus generasi Champa di Vietnam

Hari ke empat perjalan bersama Yayasan Amal Malaysia menelusuri komunitas Muslim di Vietnam terutama di Saigon (Ho Chi Min). Meskipun bukan sebagai ibukota Vietnam , Kota Ho Chi Min yang terletak di Selatan Vietnam ini adalah kota yang terbesar dan yang paling banyak penduduknya dari pada Ha Noi sebagai ibukota negara komunis itu.
Petang itu Ahad (9/9), kami keluar dari kota Chau Doc, dua jembatan penyeberangan menggunakan ferry kami lalui kemudian sebuah lagi jembatan yang cukup panjang yang membelah anak sungai Mekong itupun kami lewati. Barulah rombongan kami memasuki Thanh pho (kota) Long Xuyen. Kota Long Xuyen ini berada di provinsi An Giang.

Dua tiga kali pula kenderaan yang kami tumpangi berputar-putar mencari alamat dimana masjid Salamat yang kami cari itu berada. Ternyata, Masjid Salamat atau surau Salamat ini terletak diantara dua bangunan ruko 4 lantai yang ramai, hanya lokasi masjid itu saja yang ada tanah kosong di depannya. Tetapi persis jalan masuk di tanah kosong  ke masjid itu dipenuhi dagangan orang berjualan buah-buahan. Bangunan masjid itu tidak mencerminkan masjid pada umumnya. Masjid yang hanya berukuran 3 x 4 meter ini memang benar-benar  terletak di tengah tengah jantung kota Thin (Provinsi) An Giang Vietnam itu. Yang menjadi imam dan Hakem di masjid dan komunitas Islam yang hanya 5 keluarga itu adalah Hakem Chau Mach ( dipanggil Muhammad Soles) .

Masjid itu terlihat kumuh,  terhimpit dan terjepit ditengah gedung  megah dan riuhnya pembangunan kota.  Luas tanah tapak surau sekitar 12 x 20 meter , membuat lokasi surau itu menjadi inceran investor . Itu juga membuat pemikiran tersendiri bagi tok Imam Soles. Tetapi sejak setahun yang lalu tok Imam Soles telah mendapatkan semacam sertifikat tanah kepemilikan dari pemerintah Vietnam, sertifikat itu  ditunjukkan oleh tok Imam yang dapat juga sedikit berbahasa melayu Champa ini kepada kami.

Masjid Salamat di Nguyen Trai , Phuong (distric) My Long, Thanh pho (Town) Long Xuyen, Thinh (provinsi) An Giang Vietnam

Masjid Salamat di Nguyen Trai , Phuong (distric) My Long, Thanh pho (Town) Long Xuyen, Thinh (provinsi) An Giang Vietnam

Dinding surau Salamat tersebut terbuat dari papan dan potongan – potongan triplek yang sudah lapuk dan tidak bercat. Ada lembaran seng selebar 60 cm, tinggi 2 meter,
ujungnya berbentuk kubah di cat hijau, dibedirikan diatas bumbung bangunan itu, potongan seng (kaleng)  itulah yang menandakan bahwa bangunan itu masjid . Sebagian atap bangunan surau itu dilapisi dengan terpal dan plastik, karena atapnya sudah bocor disana sini.  Iba hati melihatnya.

Senang sekali rasanya menemukan ada masjid di Provinsi An Giang ini, An Giang salah satu provinsi terbesar setelah Ho Chi Min, dan hanya itulah masjid yang ada di kota yang berpenduduk jutaan orang ini. Bagaimana tidak senang, perut bakalan terisi dengan makanan segar dan halal. Meskipun sebelumnya rombogan kami sudah sepakat makan malam dengan roti dan apa adanya.

Menunggu hidangan selesai di masak, tok Imam atau tok Hakim yang ramah ini terus tertawa, senang sekali hatinya dengan kedatangan kami. Cerita lancar mengalir melalui dua orang penterjemah kami, Hasan dan Sani. Di kota Long Xuyen hanya keluarga tok Imam Soles itu sajalah yang muslim. Ada 3 petak rumah disekitar masjid Selamat. Semuanya masih kerabat tok Imam Soles.

Baju rompi peninggalan leluhur keluarga Champa

Baju rompi peninggalan leluhur keluarga Champa

Yang menarik, Tok Imam yang masih keturunan kesekian dari panglima Kerajaan Islam Champa ini masih menyimpan satu bukti yang diwariskan turun temurun, bahwa mereka adalah keturunan bangsawan Champa.Warisan itu berupa baju rompi yang sudah sangat lusu, ada beberapa koyakan disebelahnya menunjukkan kain itu sudah sangat tua dan mulai lapuk. Hampir semua bagian depan dan belakang baju rompi itu bertuliskan huruf arab yang berisikan sislisah (tarombo).

Tok Hakim Soles, tetap menjaga warisan itu, dan tetap menjaga keberadaan masjid kecil yang jendelanya pun hanya berjarak 30 cm dari lantai, terpaksa lantai masjid di
tinggikan,  karena kalau tidak ditimbun dan ditinggikan akan tergenang air, jalan raya sudah jauh lebih tinggi dari lantai bangunan masjid, air kotor dari saluran parit  baik dari jalanan maupun roku sekitarnya akan menggenangi masjid.

Menurut tok Imam Soles sewaktu dia kecil dulu dan ayahnya masih hidup, Surau itu berpanggung. Sebagaimana layaknya surau di kampung-kampung melayu. Pesan datuk dan bapaknya kepada tok Imam Soles untuk terus menganut Islam dan terus menjaga warisan surau kecil itu, kini diteruskannya kepada dua orang anak lelakinya. Seorang anak lelakinya sudah menikah dan telah mempunyai anak pula.

Tetapi Tok Hakim Soles yang selalu senyum dan tertawa lebar itu, agak terkesima sedikit. Fasalnya saat kutanya soal pembelajaran Islam di komunitas itu. Aku mendengar saat tok Imam melaksanakan shalat magrib. Bang Zul dari Amal Malaysia yang kuberitahu soal lafaz bacaan ayat2 maupun Fatihah tok Imam yang agak janggal sedikit dari biasanya. Aku tak tahu apa yang ada dalam fikiran bang Zul mendengar pengakuan tok Hakim , darimana tok Hakim itu belajar bacaan shalat dan lainnya. Kami pun sepakat berbagi tugas, bang Zul kusarankan masuk kedalam rumah membimbing tok Hakim meluruskan bacaan shalatnya, sementara semua anak dan menantu tok Hakim berkumpul di dalam surau ,belajar huruf hijaiyah bersamaku.

Banyak yang kami bincangkan dalam pertemuan itu, bagaimana Tok Hakim dan keluarganya belajar Islam dari kaset. Menurut tok Hakim Soles ini beberapa waktu yang lalu ada juga orang datang mengajarkan mengaji kepada keluarga tok Hakim, tetapi tak lama bertahan disitu. Kini anak tok Hakim Soles ini belajar Islam melalui internet, seorang putranya yang baru tamat dari High School, dapat menggunakan internet.

Muslim nama putra tok Imam itu, saat kuajak untuk sekolah ke Batam, belajar Islam dan bahasa Arab matanya berbinar binar. Hasan (Thap Dai Truong Tho)  yang dulu pernah belajar di Mahad di Batam , menyemangati dalam bahasa Vietnam yang tak kumengerti . Tetapi aku faham apa yang dikatakan Hasan, karena hal itu selalu diulang – ulangnya. “ Ibu dan Bapaku, serta keluargaku masih belum dapat shalat dan belum mengenal Islam sebagaimana Islam yang sebenarnya, karena mereka masih Bani” .

Islam Bani adalah Islam yang banyak pengikutnya di Selatan Vietnam terutama di provinsi dimana Hasan tinggal, mereka tidak sembahyang, tidak puasa, semua urusan tentang ibadah diserahkan kepada Tok Hakim dan tok Imam mereka . Bahkan berkahtan (sunat) pun mereka tidak laksanakan. Hasan pun selalu mengulang – ulang perkataan yang sama, bagaimana dia dulu belajar membaca quran, shalat di Batam dan Jakarta. Kini Hasan dapat lancar berbahasa Indonesia dan sedikit Arabia, berkat belajar di Mahad.

Menjelang tengah malam kami tinggalkan masjid Salamat dengan penuh keharuan dan kenangan, keluarga tok Imam Soles mengantarkan kami sampai ke bus yang telah menunggu kami , pelukan persahabatan membuat terharu , Insyaallah bertemu lagi.

Dan ada lembaran kartu nama yang menempel di tanganku yang isinya antara lain : DONGA BANK SWIT CODE : EACBVNVX BO : 0107 584 710 ATAS NAMA CHAU MACH , Tok Imam ini tidak pernah ingin menyampaikan keluhan kondisi surau peninggalan leluhurnya sejak ratusan tahun yang lalu itu. Pantang baginya, tetapi kali ini luluh juga hatinya memberikan akun bank Donga itu kepada kami.
Mudah mudahan urusan imigrasi Muslim lekas selesai , dan segera dapat berangkat belajar Islam yang benar. Mudah mudahan juga ada insan yang tergerak hatinya membantu membangun ulang masjid yang tak layak disebut masjid itu.

Amin ya Allah ya Robbal alamin…..

Satu Tanggapan

  1. […] Aki ini baru tahu kalau dari tempat kapalnya bersandar, ada sebuah masjid melalui blog pribadiku https://imbalo.wordpress.com/2012/10/02/masjid-kecil-di-an-giang-vietnam/ Jutaan penduduk kota itu, tak sampai sepuluh keluarga orang muslimnya, dan hanya Masjid Salamad […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: