Tidak Mudah Mendapatkan Visa Masuk Meliput ke Arakan Myanmar



Otoritas Burma telah menolak untuk memberikan visa kepada seorang advokat Hak Asasi Manusia asal Pakistan Ansar Burney dan seorang rekannya, yang ingin datang ke Burma untuk misi pencarian fakta terkait kekejaman yang dilakukan terhadap  MUSLIM ROHINGYA DI MYANMAR  di negara bagian Arakan, Burma.

Duta besar Burma di London memberitahu Burney, yang memimpin Ansar Burney Trust International, sebuah organisasi HAM di London bahwa mereka (otoritas Burma) tidak mengizinkan setiap wartawan dan para aktivis HAM untuk datang ke Burma untuk misi pencarian fakta.  Para Biksu di Myanmar Membenci Muslim Rohingya

“Duta besar telah memberitahu saya bahwa mereka tidak mengizinkan para wartawan dan aktivis HAM di negaranya. Tindakan ini membuktikan bahwa Burma memiliki sesuatu untuk disembunyikan dari dunia,” ujar Burney, dilansir Mizzima.

Mantan Menteri Federal untuk Hak Asasi Mania dan sekretaris Pakistan Press Club (UK) pada hari Kamis (19/7/2012) mengajukan visa untuk mengunjungi Burma. Pada hari Selasa dia diberitahu visa tidak dapat diberikan.

Burney, yang juga seorang mantan anggota Dewan HAM PBB, mengatakan ingin pergi ke Arakan untuk memastikan apakah benar adanya berita tentang pembunuhan, penangkapan, dan kekejaman lainnya yang dilakukan oleh pasukan keamanan Burma atau etnis Buddhis Rakhine.

Memang, banyak orang yang kurang yakin atas pemberitaan penindasan otoritas Burma dan masyarakat Buddhis Rakhine terhadap Muslim Rohingya di Arakan, sebab media-media internasional terkemuka tidak memberitakan fakta secara rinci tentang apa yang terjadi di Arakan. Selama ini, para jurnalis, terutama jurnalis Muslim, banyak mengambil fakta yang dipaparkan oleh media pro-Rohingya dan media lokal yang dikelola langsung oleh Muslim Rohingya. baca  Cara Muslim Rohingya mengabarkan berita

Data yang didapat oleh media lokal dan media Islam biasanya didapat dari laporan langsung dari Muslim Rohingya yang masih dapat menggunakan alat komunikasi, atau dari para kerabat korban yang masih dapat menghubungi keluarganya di Arakan. Selain itu, beberapa jurnalis Muslim lokal telah berhasil meliput langsung bagaimana situasi di Arakan, meskipun gerak mereka sangat terbatas.

Penolakan visa Burney dengan alasan bahwa tidak diizinkan para wartawan untuk meliput ke Burma adalah hal yang aneh, karena telah ada beberapa media mainstream yang pernah meliput langsung ke Arakan.

Cara Muslim Rohingya mengabarkan berita


Muslim Rohingya Myanmar Burma

Muslim Rohingya Myanmar Burma


Berita tentang tragedi berdarah di Arakan yang valid berasal dari informasi langsung Muslim Rohingya, karena itu berita yang diterima media biasanya berupa informasi pendek dari beberapa kejadian yang berbeda.

Dalam sebuah video yang dipublikasikan di Youtube beberapa waktu lalu, direkam oleh warga lokal, memperlihatkan situasi sebuah desa Rohingya yang telah dibakar habis. Beberapa Muslim terlihat mencatat kesaksian warga dan mendata terkait apa saja yang rusak, bagaimana kejadiannnya, berapa jumlah korban. Kemudian data tersebut akan disebarkan melalui media-media pro-Rohingya untuk mengabarkan kepada dunia tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Para Biksu di Myanmar Membenci Muslim Rohingya


Biksu-biksu di Myanmar yang memiliki peranan penting dalam proses demokratisasi, justru tidak ikut melindungi warga Muslim Rohingya. Mereka menggelar aksi dengan membagikan pamflet anti-Rohingya ke warga.

Para pemuka agama itu dikabarkan memblokir bantuan kemanusiaan yang diberikan aktivis untuk warga Rohingya. Salah satu pamflet yang dibagikan bertulisan “rencana untuk membasmi etnis lain.”

“Belakangan ini, biksu-biksu memainkan peranan untuk menolak bantuan asing yang ditujukan kepada warga Muslim. Mereka mendukung kebijakan Pemerintah Myanmar,” ujar salah seorang anggota LSM Chris Lewa, seperti dikutip Independent, Rabu (25/7).

“Seorang anggota relawan di Sittwe mengatakan kepada saya bahwa biksu-biksu itu berada di dekat kamp Rohingya dan melakukan pemeriksaan. Mereka mengusir seluruh orang yang hendak memberikan bantuan ke warga Rohingya,” tambahnya.

dikutip dari eramuslim.com

dikutip dari eramuslim.com


Assosiasi Biksu Muda Sittwe dan Mrauk juga melontarkan pernyataan, mendesak warga setempat agar tidak berkomunikasi dengan warga Rohingya. Sementara itu para pimpinan fraksi politik di Myanmar berupaya untuk mengusir 800 ribu warga minoritas itu dari Myanmar.

Sejauh ini, aktivis HAM yang berbasis di London, Inggris juga aktif mengkritisi tokoh pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi. Mereka mengutarakan kekecewaannya karena Suu Kyi dinilai gagal menyikapi masalah ini.

Rohingya sudah tinggal di Myanmar sejak beberapa abad yang silam, namun pada 1982 Jendral Ne Win melucuti kewarganegaraan mereka. Warga Rohingya pun lari ke Bangladesh dan hidup di kamp-kamp pengungsian.

Media-media asing juga dilarang masuk ke wilayah Arakan, di mana banyak warga Rohingya bermukim. Pada pekan lalu, 10 relawan juga ditangkap tanpa alasan, ketika memasuki wilayah itu.(

Jeritan Muslim Rohingya Myanmar : “Tolong Selamatkan Kami”


MUSLIM ROHINGYA DI MYANMAR


Selamatkan Muslim Rohingya Burma

Selamatkan Muslim Rohingya Burma


Perbincangan dengan KBRI Myanmar di Yangon .

Tengah hari senin (23/07) sekitar pukul 14.33 wibb, melalui telpon sambungan internasional :

Rencana jika diizinkan Allah SWT bulan Haji tahun 1433 H mendatang , kami merencanakan ibadah qurban di Rakhine, satu negara bagian Myanmar. Nyaris berita kezaliman terhadap muslim Rohingya tak terekspos ke luar. Untuk persiapan pelaksanaan Qurban tersebaut kucoba menghubungi Kedutaan Besar RI di Yangon. Di Nomor 01017 951 254 465 .

Suara seorang perempuan menyambut teleponku.
“Iya , sambungkan saja kebagian konsuler visa servise ” jawabku kepada resevsionis KBRI Myanmar di Yangon yang tak dapat berbahasa Indonesia itu. Terdengar suara seorang perempuan dalam bahasa Indonesia, “Iya dengan Rika disini, hem… baru lima bulan bertugas di KBRI Yangon” jawab bu Rika dari seberang sana menjawab pertanyaanku. selanjutnya bu Rika menjelaskan : “belum , belum pernah ke Rakhine, sulit mau kesana, harus memenuhi beberapa syarat yang terlebih dahulu diajukan oleh Kemlu. Kalau sampai Yangon saja tak jadi masaalah.
Itupun kami mohon dengan sangat – sangat applay visa dulu di Keduataan Myanmar di Jakarta.” pintanya ber wanti – wanti

Sebenarnya Aku beberapa kali masuk ke wilayah Myanmar. Dari pengalaman lewat laut, yang berbatasan dengan Thailand, sebenarnya tidak lah mudah bagi pemegang pasport hijau seperti saya ini yang warga negara Indonesia, agak berbeda perlakuan mereka terhadap warga negara Thailand terutama yang ber agama Budha. Apalagi urusannya yang menyangkut sosial keagamaan. Kalau urusan Bisnis tak jadi masaalah.

Disamping harus mengeluarkan beberapa puluh dollar US untuk biaya masuk, pasport kita pun ditahan oleh pihak imigrasi, kita hanya diberikan secarik kertas yang dicap dan distempel oleh imigrasi border setempat. Kertas selembar itulah pengganti pasport yang nantinya akan kita kembalikan saat hendak pulang.

Pernah juga kami diizinkan menetap selama 5 hari, dengan catatan tidak boleh pergi jauh ke luar kota lebih dari 5 kilometer. Dan harus tidur di Hotel, berani jauh lebih dari batas yang ditentukan, resiko tanggung sendiri. Hal itu tertuang dalam surat pernyataan yang harus kami tanda tangani.

Myanmar atau lebih dikenal dengan Burma ini adalah salah satu Negara di Asean yang tidak mengakui bahwa Muslim Rohingya adalah warga negaranya sendiri walaupun mereka sudah bergenerasi – generasi tinggal di bumi Rakhine itu … bahkan Perdana Menterinya sendiri mengatakan akan mengusir Muslim Rohingya dari bumi Myanmar yang mayoritas Budha itu. Sunggu sangat Zalim mereka para Budha itu menindas Muslim Rohingya

Banyak kisah sedih yang mereka alami, apalagi disaat bulan ramadhan seperti sekarang ini. Rumah dibakar. Perampasan harta benda. Tak tahu mana tentara dan mana yang menyaru jadi tentara.

” Siapa yang sudah datang ke Rakhine bu” tanyaku lagi
“Ada, baru baru ini, kalau tak salah Sekjen Amal Zakat” lanjut bu Rika Staf KBRI Yangon itu. “Datang dengan VOA (Visa On Arraival-red)…. “ya kami harus ke Bandara mengurusnya” ujarnya lagi. Karena pihak imigrasi Bandara Yangon, kecuali tiga hal tak mengizinkan WNI masuk kesana. “Mereka tidak ke Rakhine hanya sampai di Yangon saja” jelas bu Rika lagi dengan ramah.

“Ini masalah sensitive pak” kata bu Rika. ” Kalau mau ada donasi , sudah ditentukan no rekening yang menerimanya, itu yang saya baca di koran Lokal” kata bu Rika Lagi. Menjawab pertanyaanku tentang bantuan yang mungkin akan diserahkan ke korban keganasan kaum Bhuda Myanmar terhadap Muslim Rohingya di Rakhine.

Lebih 30 menit kami berbicara, dan terakhir : “hem hem iya saya sedang berpuasa” jelas bu Rika , cuma pak Duta Besar, Sebastianus Sumarsono tidak puasa.” jawab bu Rika terdengar tawa kecilnya melalui sambungan telpon siang hari itu.

Ya Insyaallah kami akan kesana.

Seandainya saya bukan seorang Muslim, saya akan menjadi warga negara Myanmar



Saya lahir di negara bagian Arakan, Myanmar. Orangtua saya juga lahir di sana. Nenek moyang saya juga. Ada banyak kelompok etnis di Myanmar. Mereka semua non-Muslim. Mayoritas adalah Buddha, dan beberapa dari mereka adalah Kristen. Namun mereka semua diakui sebagai warga negara Myanmar.

Orang-orang Kristen ini juga menghadapi berbagai macam rasisme di Myanmar seperti yang kalian semua ketahui, tetapi kurang dari Muslim Rohingya di negara bagian Arakan (kebanyakan rasisme menimpa Muslim Rohingya – red) . Karena mereka bukan orang-orang Buddha. Ada banyak orang China di Myanmar yang bermigrasi dari China, saat ini mereka adalah warga negara Myanmar. Ada banyak orang-orang Bangladesh etnis Rakhine, terutama, di negara bagian Arakan yang telah mendapatkan kebangsaan Myanmar. Ada banyak orang-orang Hindu yang bermigrasi dari India dan Nepal. Mereka semua telah diberikan status kebangsaan karena mereka bukan Muslim.

Ada bukti-bukti sejarah bahwa di sana ada orang-orang China dan Hindu di Myanmar. Sekarang, darimana mereka datang dengan kewarganegaraan Myanmar? Seperti yang saya katakan sebelumnya, ada ribuan orang Bangladesh etnis Rakhine di negara bagian Arakan yang bermigrasi dari Bangladesh yang sekarang dengan kewarganegaraan Myanmar. Berdasarkan beberapa orang rasis, Rohingya adalah dari Bangladesh karena bahasa mereka mirip dengan bahasa Bangladesh. Saya ingin bertanya kepada orang-orang rasis itu, begini: ‘Apa perbedaan bahasa Rakhine dan bahasa Burma? Bukankah itu sama? bahasa Rakhine adalah bahasa yang 80 persen-nya mirip dengan bahasa Burma. Apakah ini berarti bahwa orang-orang Rakhine adalah keturunan orang Burma atau orang Burma datang dari Rakhine? Sejumlah orang-orang rasis mengatakan bahwa agama orang Rohingya (Islam) dan kebudayaannya tidak seperti kita (warga Burma), bagaimana bisa mereka diberikan kewarganegaraan? Ini adalah alasan yang sangat logis. Seperti yang kita ketahui semua, ada umat Islam di setiap negara di dunia dengan berbeda-beda bangsa dan budaya. Dan ada juga non-Muslim di negara-negara Muslim. Contohnya saja, ada orang Buddha Rakhine di Bangladesh dengan kebangsaan Bangladesh.

Apakah agama dan budaya mereka sama? Dapatkan sebuah bahasa menjadi faktor penilaian dalam apakah sebuah komunitas adalah sebuah warga di sebuah negara atau bukan? Berdasarkan sejumlah orang-orang rasis, kaum Muslimin di Arakan tidak bisa menjadi kebangsaan Myanmar hanya karena mereka tidak dapat berbicara bahasa Burma. Orang salah jika berkata demikian, karena kaum Muslimin yang berpendidikan di Arakan dapat berbicara bahasa Burma dengan fasih. Lebih dari 90 persen orang Rakhine di Arakan tidak dapat berbicara bahasa Burma dengan fasih, malahan mereka berbicara dalam bahasa Rakhine. Di samping itu, sejumlah orang-orang Kachins, Chins, Mons, dan Shans dan lain-lain tidak dapat berbahasa Burma. Bukankah mereka warga negara Myanmar? Faktanya (faktor bahasa – red) , tidak dapat dijadikan faktor penilaian dalam menetapkan kebangsaan orang-orang di Myanmar.

Sejauh yang saya perhatikan, banyak Muslim di Arakan tidak bisa berbicara dalam bahasa Burma karena orang-orang itu sebagaian besar terkunci (diblokir) di utara negara bagian Arakan dan tidak ada kedekatan dan hubungan dekat antara orang Burma dan orang-orang tersebut (Muslim Rohingya). Banyak dari mereka tidak dapat menemukan seorang warga Burma untuk diajak biacara dalam bahasa Burma. Jadi, bagaimana mereka dapat berbahasa Burma? Kita harus berpikir logis daripada dengan dasar sewenang-wenang. Tetapi mereka (orang Muslim) yang memiliki hubungan dekat dengan warga lokal Rakhine, dapat berbicara dalam bahasa Rakhine dengan fasih. Hal yang lebih buruk adalah bahwa, bahkan banyak siswa sekolah tinggi di Maung Daw dan Buthidaung tidak dapat berbicara bahasa Burma dengan fasih karena mereka di sekolah mereka, diajari dalam bahasa lokal berdialek Rakhine bahkan meskipun buku-bukunya berbahasa Burma.

Lebih dari itu, di India, etnis Talim, Telugu dan lain-lain bahkan tidak tahu bahasa resmi Hindi, apalagi berbicara dengannya. Bukankah mereka warga negara India? Di China, bahasa resminya adalah Mandarin dan ada jutaan orang yang tidak dapat berbicara dalam bahasa itu. Bunaknkah mereka warga China? Di Tahailand, orang-orang yang tinggal di bagian selatan tidak dapat berbicara bahasa Thailand dengan benar. Bukankah mereka dianggap sebagai warga negara Thailand? Di Bangladesh, ada jutaan orang yang tidak dapat berbicara bahasa Shudda Basha. Bukankah mereka warga negara Bangladesh? Ini adalah beberapa contoh. Orang-orang yang berpikiran terbuka, logis dan cinta-damai akan memahami ini.

Di sini, saya ingin bertanya kepada orang-orang yang mengkritik Muslim Rohingya karena tidak dapat berbicara bahasa Burma secara fasih bahwa ‘bagaimana mereka dapat berbicara secara fasih dalam keadaan yang mana mereka lahir di negara bagian Arakan, dan mereka diisolasi di sebuah kandang seperti burung?.’ Jadi, untuk memenuhi syarat sebagai kelompok etnis, mereka tidak seharusnya selalu dapat berbicara bahasa yang dominan di masyarakat mayoritas.

Jadi, saya pikir satu-satunya “kesalahan” saya adalah bahwa Saya Seorang Muslim!

Aung Min, Muslim Arakan

Diterjemahkan dari AMEF

Jeritan Muslim Rohingya : “Mereka Akan Membunuh Kami Semua, Tolong Bantu Kami”


Mohammad Sultan Ahmad : Azab kini menimpah terhadap umat Muslim minoritas di Wilayah Arakan, Burma.
Besok akan dimulai Makan Sahur, dimanakah Pendirian UN-OIC-LIGA ARAB-ASEAN dan BAGIAN-2 antara bangsa..?
Adakah kamu setuju jika mereka dibiarkan kelaparan ? Adakah kamu boleh diam diri jika mereka tiada tempat tinggal? Saat ini sedang musin Hujan disana. Adakah kamu bisa melahap makanan dengan kenyang, sementara kanak-2 saudara kita kelaparan di Arakan sana…??? Anda pasti akan mempertanggungjawabkannya nanti dihadapan Allah SWT baik didunia dan Juga di Akhirat (Hari Qiamah).

KELUAR DARI MULUT BUAYA MASUK MULUT HARIMAU.

Itulah agaknya kini dirasakan oleh sebahagian muslim Rohingya. Sungguh malang nasib mereka, di Negaranya Myanmar mereka tidak diakui sebagai warga negara Burma, meskipun sudah bergenerasi generasi tinggal di Burma. Mereka di usir, dan terpaksa berangkat ke Banglades, ironis nya negara delta itu yang memang berbatasan langsung dengan Myanmar tak menerima mereka, karena pemerintah Banglades beranggapan itu urusan dalam negeri Myanmar.

Apa yang boleh kita buat……??????

Muslim Harus Diusir dari Myanmar


Mengapa umat Islam yang lain pada diam semua?

Mengapa umat Islam yang lain pada diam semua?

YANGOON – Presiden Myanmar Thein Sein mengatakan, Muslim Rohingya harus diusir dari Myanmar. Ia juga mengatakan, sebaiknya Muslim Rohingya dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola PBB.

Mantan Jenderal Junta tersebut mengatakan pada Kamis (12/7) kemarin, bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi konflik Muslim dan Buddha di Myanmar adalah dengan mengirim Muslim Rohingya ke luar Myanmar. Ia meminta Muslim Rohingya dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).

“Kami akan mengusir mereka jika ada negara ketiga yang mau menerima mereka. Ini adalah solusi terbaik untuk masalah ini,” ujar Sein.

Badan pengungsi PBB merasa dilecehkan dengan ide tersebut. PBB mengatakan, puluhan tahun diskriminasi telah membuat Muslim Rohingya tidak memiliki negara. Myanmar telah membatasi pergerakan mereka, dan memotong hak atas tanah, pendidikan, dan pelayanan publik mereka.

Selama dua tahun terakhir, gelombang Muslim etnis ini telah berusaha melarikan diri dengan perahu. Mereka rak tahan menghadapi penindasan sistematis oleh pemerintah Myanmar.

Pemerintah Myanmar menolak mengakui keberadaan mereka di Myanmar. Mereka mengatakan penduduk Rohingya bukan asli Myanmar. Pemerintah juga mengklasifikasikan Muslim Rohingya sebagai migran ilegal. Meskipun mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi.

%d blogger menyukai ini: