Islam di Vietnam


Phan Rang

Phan Rang (baca Phang Rang) adalah salah satu provinsi di Vietnam  Selatan, jika dilihat dari peta, kota ini terletak di pinggir laut, berbatasan langsung dengan Laut China Selatan.  Di Phan Rang ada sebuah kampung,  kampung Van Lam ( baca Ban Lam) namanya.

Dari  Ho Chi Min City (Saigon) ke Phan Rang sekitar 6 – 7 jam dengan  bus umum.  Van Lam masuk wilayah  distrik Ninh Thuan (Nin Tun).  Di kampung itu terdapat sebuah masjid An Nikmah namanya.

Menjelang magrib, aku  tiba di Bandar Udara Internasional Tan Son Nha Saigon, dengan penerbangan murah Air Asia dari Kuala Lumpur. Lama penerbangan dari Kuala Lumpur – Saigon  ditempuh sekitar 2 jam.   Dari Bandara Saigon ke pusat kota, kalau naik taxi hanya beberapa menit saja, ongkosnya pun tak begitu mahal.  Untuk kedatangan yang kali ini aku dijemput oleh Ahmad dengan speda motor.

Ahmad tahu kalau malam itu juga aku akan langsung berangkat ke Phang Rang. “Sebaiknya kita beli tiket dulu” saran Ahmad kepadaku. Aku mengangguk, dari Bandara kami langsung menuju tempat penjualan tiket bus yang hendak ke Phang Rang.  Alhamdulillah, untunglah masih ada tersisa satu sit lagi untuk keberangkatan bus terkahir malam itu.

Kampung Van Lam

Ahmad masih kerabat pemilik Restoran Samsudin, tak banyak restoran yang menjual makanan halal di Saigon. Sembari menunggu pesanan makanan dihidang, aku shalat jamak di lantai tiga Restoran itu. Pemilik Restoran Samsudin dan sebahagian pelayannya dapat berbahasa melayu, acap ke Saigon dan makan disitu, membuat kami saling mengenal. Bahkan salah seorang menantu pemilik Restoran itu pernah datang ke Batam Indonesia ke rumah kami. Basiron namanya, sedang menyelesaaikan Phd nya di Universitas Islam Antara Bangsa  Kuala Lumpur Malaysia.

Berangkat setelah Isya dari Saigon, menjelang subuh,  Rabu (2/12)  tiba di kampung Van Lam.  Bus yang ku tumpangi berhenti tidak jauh dari sebuah pompa Bensin.  Modalku kalau lagi bepergian ketempat yang belum pernah kukunjungi, mengatasi kesulitan dari segi bahasa selalu kuminta dituliskan bahasa setempat didalam henpon. Dan inilah bunyi tulisan yang kutunjukkan kepada supir bus yang membawaku ke Phang Rang.    ” Cho ong nguoi Indonesia xuong Ga Hoa Trinh gan cay xang phu quynh

SMS yang kuterima itu dari orang yang bernama Sani, Sani pula adalah teman sekampung Basiron, kebetulan sedang berada di Phang Rang, dia seorang guru bahasa Inggris di Saigon. Kemudian sms masuk lagi ke henponku, dari Sani,  yang berbunyi   “ini tampat turun pagi bus driver insaalah jumpa pukun 2“. Maksudnya, beritahu kesupir bus sms ini, diperkirakaan pukul 2 pagi kami akan bertemu.

Kampung Ban Lam ini terletak empat kilometer menjelang pusat kota Phan Rang, jadilah aku turun di pinggir jalan di depan Pompa Bensin tadi, tidak harus masuk kedalam kota Phang Rang. Tak berapa lama Sani datang dengan speda motornya dan membawa ku ke masjid An Nikmah.

Orang Champa

Sani atau nama lengkapnya Muhammad Sani bin Said, boleh dikata adalah penduduk asli Ban Lam, lahir di Ban Lam, besar di Ban Lam dan kuliah di Malaysia, tak banyak pemuda Muslim seusianya yang dapat menyelesaikan kuliahnya di luar negeri memakai pasport Vietnam apalagi untuk belajar Islam.

Sani kuliah jurusan umum, tidak seperti Basiron.  Basiron keluar negeri terpaksa dengan paspor Kamboja, karena mendapat bea siswa dari Kerajaan Arab Saudi.  Basiron fasih berbahasa Arab, Francis, Inggris , Melayu apalagi Vietnam dan Kamboja, tetapi kalau Ia pulang ke Vietnam menemui  orang tuanya, Ia masuk sebagai warga negara asing (Kamboja).

Banyak pemuda Vietnam yang seperti Basiron ini, agak susah pulang kampung untuk mengembangkan ilmu agama dikampung halamannya. Tetapi belakangan ini, negeri Komunis ini mulai terbuka dengan agama. Kegiatan Islam tidak lagi semuanya dikendalikan dari Kamboja.

Sambil berjalan menuju masjid An Nikmah Sani  bercerita :  “Kami ini orang Champa, saya orang Champa pak” kata  Sani.  Sani pun menjelaskan hanya sedikit orang muslim yang tinggal di kampung itu, Ia pun tak tahu jumlah pastinya, terkadang Ia menyebut 52 orang terkadang 20an, mungkin agaknya 20 kepala keluarga.

Sesampai di masjid An Nikmah, hari menjelang subuh,  didalam masjid, ada dua orang tua,  yang seorang bernama Said, pak Said adalah orang tua kandung Sani, Ianya Imam masjid An Nikmah dan seorang lagi bernama Yahya baru memeluk Islam. Yahya disebut suku Bani.

Pagi itu kami berempat menjadi jamaah di masjid yang cukup besar itu, “Masjid ini dibangun oleh seorang donatur dari Afrika” ujar Sani.  Saat itu Sani  sedang belajar di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia,  dia berkenalan dengan seseorang yang mengenalkannya kepada donatur tersebut dan berangkatlah mereka ke Ban Lam Phang Rang. Idul Adha 1430 H Jumat (27/12) yang baru lepas masjid tersebut  diresmikan.

“Dikampung ini ada 3 masjid.” Jelas Sani lagi.  “Nanti kita ke kampung yang satu lagi” kata Sani, sembari mengajak ke bangunan masjid lama, persis disamping kiri  yang rencananya akan dibuat madrasah. Kamipun berbincang bincang diberanda masjid lama itu, sambil menikmati seduhan teh yang dibuat pak Yahya.  “Belum pernah ada orang Indon datang ke sini, orang Malaysia ada datang tapi mereka hanya sampai di Chou Dok saja.” jelas Sani lagi.

Suku Champa Bani

Dia sangat terkesan sekali atas kedatanganku. Sani pun menjelaskan bahwa tak susah baginya memahami bahasa Indonesia karena hitungan satu sampai sepuluh hampir sama belaka. Untuk menyebut mata dalam bahasa Indonesia misalnya dalam bahasa Champa disebut ta , begitu pun sebutan hidung,  bahasa Champa dong saja.

Selepas minum teh yang di sajikan oleh pak Yahya tadi, kami berjalan melihat  rumah-rumah orang muslim suku Champa yang berada disekitaran masjid. “Disini ada tiga suku yang mengaku Islam, tetapi pengamalan agamanya agak berasingan ” ujar Sani.

“Satunya disebut suku Champa Bani,  mereka mengaku Islam tetapi tak shalat 5 kali, yang shalat hanya Imamnya saja, mereka pun punya masjid sendiri, mereka puasa hanya tiga hari saja” jelas Sani lagi. Pak Yahya tadi,  adalah dari Islam suku Champa Bani.  “Satunya lagi suku Champa Balamon, yang ini pula sembahyang nya seperti Hindu.” kata Sani lagi.

Dijamu sarapan pagi di rumah Sani, yang tak seberapa jauh dari Masjid An Nikmah, perjalanan kami lanjutkan ke rumah Tok Hakim, Tok Hakim sebutan kepada tetua suku Champa Bani.  Tok Hakim adalah orang yang paling dihormati dari suku Campa Bani, kebetulan adalah paman Sani adik kandung dari pak Said sendiri. Suku Champa Bani ini pula punya Kitab Quran sendiri. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: