Mass Rapid Transit (MRT)


hari dah beranjak petang , tiba di NE 1 Harbour Front, mereka belum shalat Juhur dan Ashar lagi, tak ada lansung fasilitas tempat shalat disitu

hari dah beranjak petang , tiba di NE 1 Harbour Front, mereka belum shalat Juhur dan Ashar lagi, tak ada langsung fasilitas tempat shalat disitu.

Sabtu pagi (8/4) lalu dari Batam Center,  naik  ferry Batam Fast,  sampai di Harbour Front Singapura, hari sudah pukul 10 waktu setempat.  Bukan main berjubelnya orang, antrian di imigrasi. Panas lagi,  ruang kedatangan itu sedang direnovasi.

Dua orang perempuan usia 30-an melirikku, disampingnya seorang pria sedang menggendong bayinya yang terus menangis. Dua baris didepan seorang nenek terseok – seok ikut antrian, agaknya usia sang nenek sekitar  70-an.

Jubelan manusia terus bertambah, kalau tadi ferry yang membawaku datang dari Batam Center, mungkin yang ini dari Sekupang. Dan antrian yang didepan rombongan kami tadi agaknya dari Harbour Bay Batam.

Begitulah, kalau tak salah ada 6 (enam) titik penyeberangan ferry dari Batam ke Singapura. Ribuan orang setiap harinya numpek blek di Harbour Front itu. Begitupun sebaliknya, ribuan orang pula yang datang ke Batam baik dari Singapura, maupun dari Malaysia. Terutama di akhir pekan.

Bayi dan Warga Tua

Anak bayi itu terus menangis, sang nenek terus antri dengan sabarnya, didepan konter hanya ada 4 petugas imigrasi, sedikitpun tak tampak senyumnya. Bagaimana mau senyum, agaknya sakin sibuknya. Mengajukan pertanyaan yang sama, “pernah ditolak masuk Singapura, berapa lama, mau apa”, kemudian melirik memastikan gambar yang ada di pasport, sama belaka, tak  ada tampang yang berbeda dan yang dicekal, maklum banyak teroris berkeliaran, terkadang meminta kartu tanda penduduk bagi yang agak dicurigai, hampir 2 – 3 menit prosesi itu, apalagi scaner nya macet. Itu yang tidak ada masalah bung, lain lagi kalau saspek, teruklah, tunggu masuk opis.

Jadi harap maklum ribuan orang yang ditolak masuk ke Singapura selama tahun 2011. Termasuklah anggota Dewan yang terhormat. Bahkan Watimpres pun pernah di tolak. Bukan main Singapura memperlakukan warga Indonesia sedemikian rupa. Mau protes??

Terlihat seorang lelaki orang melayu, dari 4 orang petugas  imigrasi yang bertugas saat itu. Tak lama kemudian datang dua orang lagi. Tetapi tak juga mempercepat lajunya antrian.  Sementara persis sebelum garis kuning tanda berhenti antri, seorang petugas berbaju gelap mengatur dan menyuruh orang-orang yang antri ke tempat petugas imigrasi yang sudah kosong.  “Cepat, Cepat ” katanya sembari menunjuk ke tempat kounter yang sudah kosong.

Dari Batam, aku bersama pak Yusuf warga Singapura, hampir sejam lamanya dia menungguku di luar, sebenarnya tadi aku bisa bersama pak Yusuf masuk jalur Singaporean. Pak Yusuf mengajakku, “kalau bersama saya, pak Imbalo boleh jalur Singporean” katanya .  Tetapi Ferry Batam Fast yang kutumpangi terlambat sampai, padahal Penguin yang membawa pak Yusuf selisih 20 menit berangkat lebih lama dari Batam Fast, bisa lebih dulu sampai. Akh besok – besok naik Penguin saja lah pikirku.

Sambil terus berjalan perlahan merapat ke depan antrian,  tiba-tiba pagar pembatas antrian kami (jalur orang asing) dibuka oleh seorang petugas, dilihat dari tampangnya warga keturunan India. Ditangannya tergenggam Handy Talky (HT) , tak henti-hentinya dia berbicara melalui HT itu, sambil berjlan hilir mudik.

Rupanya dia memerintahkan agar antrian yang penuh sesak itu berpindah ke sebelah, ketempat antrian warga khusus Singapura.
Agaknya apa yang dikatakannya orang-orang yang didekatnya tak mengerti. Kelihatan dia agak kesal dan dengan kasar ditariknya tangan orang di dekatnya itu dan ditolaknya untuk segera ke antrian khusus Singaporean, karena memang di jalur itu terlihat lengang.  Demikianlah tertibnya orang-orang Indonesia yang ke datang ke Singapura, padahal mereka tamu lho, tidak semua pencari kerja yang datang itu,

Dibeberapa Negara Asia lainnya, bahkan di Bandara Changi, ada jalur khusus untuk warga tua, kalau pun tidak khusus, mereka diutamakan terlebih dahulu untuk masuk , tidak antri berlama-lama seperti di Harbour Front itu. Bahkan di MRT ada bangku khusus untuk orang tua, wanita hamil dan bayi.

Bayi dalam gendongan bapaknya tadi terus menangis tak henti-hentinya. Sengaja agak kukeraskan  suaraku berbicara kepada wanita yang berdiri disebelahku, tentang perlakuan khusus. Mungkin terdengar petugas imigrasi orang melayu tadi, kulihat tangannya melambai ke bapak yang sedang mengendong anak yang sedang nangis itu. Bersama isterinya, mereka lalui orang-orang didepannya,  langsung menuju ke konter pemeriksaan.

Tetapi sang nenek tak sempat mendapat fasilitas, karena memang sudah dalam barisan terdepan. Tak apa ya nek……

Petang Hari.

Menjelang magrib aku tiba kembali di Harbour Front, selepas menghadiri pemakaman  Ustadz Abdus Salam bin M Sultan Mantan Presiden Muhammadiyah Singapura. Dari Kembangan naik MRT turun di Outram Park,  di Outram Park ganti kereta ke NE 1.  Melihat aku sudah tua agaknya, apalagi berkupiah, tak pernah aku berdiri selama di dalam MRT, ada saja yang memberikan tempat duduknya kepadaku. Ternyata orang tua dihormati di dalam MRT.

Sembari menunggu antri masuk ke ruang keberangkatan ferry di Harbour Front yang tak selesai – selesai di renovasi itu, terlihat olehku kedua wanita yang tadi pagi antri bersamaku di ruang kedatangan. Mereka tersenyum kepadaku, sembari bertanya, dimana tempat shalat. Rupanya sejak juhur mereka belum shalat – shalat lagi.  Padahal hari sudah menjelang petang.  Shalat juhur belum, mau shalat ashar tadi maksudnya di Harbour Front, sudah muter kamana-mana katanya tak ada tempat shalat.

“Padahal tadi niatnya mau jamak takhir aja pak” . ujar kedua perempuan itu memelas.

Didepan kami seorang petugas perempuan berbaju batik lengan pendek warna kuning bunga-bunga -kelihatan semua petugas di pelabuhan ferry itu berbaju warna dan motif yang sama- juga  memegang HT sibuk hilir mudik memanggilin orang – orang yang sudah waktunya masuk ke ruang pemeriksaan pasport.

Kutanyakan ke petugas perempuan yang kebetulan orang melayu itu, dimana tempat shalat. “Tak ada disini” jawabnya agak terkesima. Saat kutanya dimana dia shalat, petugas perempuan orang melayu tadi meleos pergi.  “Sudah dengar.” jelasku lagi kepada kedua perempuan asal Jakarta yang hanya jalan-jalan sebentar ke Singapura, pergi pagi pulang petang, sementara datang ke Batam, mereka hendak menghadiri pernikahan kerabatnya.

Ribuan pengunjung ke Singapura, sebahagian besar muslim, bisa dilihat dari pakaian yang dipakainya, seingatku sejak puluhan tahun yang lalu  tak ada fasilitas mushala di Harbour Front Singapura yang cukup luas dan besar itu.

“Kalau mau shalat ya bentang aja kertas di pojok sana” ujarku kepada kedua orang perempuan tadi. ” Saya pun demikian”. tambahku  menjelaskan bila saat masuk waktu shalat . “Ambil wuduk pakai air mineral saja, masuk toilet” tambahku lagi.

“Sungguh kalau tak perlu sangat males nak ke Singapura ini, dulu saya sering shalat dibawah tangga pusat perbelanjaan.” ujarku lagi. Syukurlah barang – barang di Singapura lebih mahal dari Jakarta bahkan Batam. Jadi mengurangi accopancy datang ke negeri yang dulu pusat penjualan barang – barang elektronik itu.

Kedua perempuan itu tadi beranjak dari tempat duduknya, bukan untuk shalat tetapi masuk ke ruang tunggu karena sudah harus naik ke ferry, hari sudah gelap magrib pun sudah tiba.

Sambil bergumam dia pamitan kepadaku, “Mudah-mudahan Allah mengetahui niatku tadi mau shalat koq, setibanya disini (Harbour Front)”.

Kubalas dengan senyum gumamannya, wallahu’alam apakah Allah memaafkannya karena sudah meninggalkan shalat Juhur dan Ashar. “Sampaikan ke teman-teman yang mau datang ke Singapura, tentang keadaan negara sekuler tetangga kita ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: