Ustadz Abdus Salam bin M Sultan Presiden Muhammadiyah Singapura dalam Kenangan


Tuhan kita satu yaitu Allah kata ustadz Salam , saat di Batam awal 2012 yang lalu mengislamkan suku laut yang ada di kepulauan riau Indonesia

Ustadz Abdus Salam bin Mohamed Sultan, lahir 66 tahun yang lalu di Singapura.  “Saat itu Singapura belum merdeka lagi”. ujar pak Yusuf teman sepermainan ustadz Salam demikian beliau  akrab di panggil.  Ustadz Salam pernah menjadi Presiden Muhammadiyah Singapura. Di Singapura panggilan untuk Ketua atau Pimpinan adalah Presiden. Di akhir hayatnya ustadz Salam menjabat sebagai naib (wakil ) Presiden, sementara Presiden di jabat oleh Shaik Husein.

Selepas mengantar jenazah ustadz Salam di pemakaman umum yang cukup jauh dari kampung Kembangan tempat kelahiran ustadz Salam. Di pojok jalan Selamat, ada kantin yang menjual makanan, sembari  menunggu makanan yang kami pesan selesai dimasak, pak Yusuf bercerita lagi.

“Ditanah lapang itu dulu tempat kami nonton layar tancap, Kembangan ini dulu hampir semuanya orang melayu, ” ujar pak Yusuf lagi. Berbatasan dengan lapangan itu terlihat berdiri sebuah bangunan tertulis Comunity Center Kembangan.

“Kami satu sekolah, jadi saya tahu persis siapa ustadz Salam” kata pak Yusuf lagi. Masih cerita pak Yusuf , yang sejak dari pagi hingga menjelang pukul 4 petang itu belum ada makanan yang masuk kedalam perutnya.

Dulu, Ustadz Salam pernah melompat dari beranda rumahnya sembari berteriak katanya hendak pergi ke Surga. Tentu semua orang seisi rumah terkaget kaget. “Ustadz Salam terus berlari menuju  masjid  Mydin itu” ujar pak Yusuf menunjukkan masjid Mydin yang tak jauh dari tempat kami duduk.

“Rupanya setelah itu dia minta  belajar  ke Gontor” jelas pak Yusuf lagi sembari tersenyum.

Pak Yusuf teman ustadz Salam ini, sekarang lebih lama tinggal di Batam daripada di Singapura.  Itulah sebabnya sejak subuh setelah mendapat sms kalau ustadz Salam meninggal dunia, dia langsung bekejar ke Termina Ferry Batam Center. Aku sudah menunggu di terminal ferry, mengharapkan dapat berangkat dengan Ferry pertama bersama-sama.

Islam Serantau

Akhir 2011 yang lalu, kami dengan ustadz Salam dan ustadz Abdul Wahab dari Malaysia  menjadi tamu undangan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), mereka membahas pertemuan Islam Serantau.

Sebagai salah seorang Ulama terkemuka di Singapura, sejak muda lagi ustadz Salam sudah berkiprah di dunia Islam seperti  mewakili negaranya menjadi utusan di konvrensi pemuda Islam se-dunia.  “Kami pemuda kampung Kembangan ini sangat bangga dengan ustadz Salam” kata pak Yusuf bernostalgia. Karibnya sejak kecil itu diterima semua lapisan masyarakat. “Susah nak di cari gantinya,  Bukan Muhammadiyah saja yang kehilangan tokoh Ulama, tetapi Singapura, nyaris tak ada penggantinya.”  lanjut pak Yusuf lagi.

Selama di Jakarta tak henti hentinya tamu ustadz Salam yang datang. Subuh lagi sudah ada yang menjemput, entah kemana saja beliau dibawa. Ada yang membawanya meninjau pondok pesanteren yang sedang dibina nun jauh di pelosok Jawa Barat sana.   Banyak sekali sahabat beliau sewaktu belajar di  Gontor. Jadi teringat buku 5 Menara karang A Fuadi, yang bercerita tentang Gontor.

Murid beliau pun cukup banyak di Singapura.  Jumat malam itu tanggal 6 april 2012 sekitar pukul 23 ustadz Salam baru selesai memberikan kuliah kepada murid-muridnya. Seorang muridnya mengingatkan kepadanya, karena melihat ustadz,  sewaktu selesai memarkirkan mobil (orang Singapura menyebut mobil adalah kereta) nya, agak sempoyongan dan terlihat pucat. Maklum parkir kereta (mobil) di tempatnya mengajar itu ditingkat 6. Jadi naik keatas berputar putar.

Selesai mengajar ustadz Salam mengendari keretanya sendiri, turun dari lantai 6 tempat parkir masuk ke jalan raya, lampu hijau sudah menyala tetapi kereta ustadz Salam belum bergerak lagi. Ternyata beliau terkena serangan Jantung, Ustadz dibawa dengan ambulan ke hospital, saat  di dalam ambulan beliau masih dapat menjawab salam dari murid murid nya, syahadat terahhir dari bibirnya  yang diingatkan oleh murid-muridnya mengantarkan ustadz Salam keharibaan Ilahi.    Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Presiden Muhammadiyahy Singapura

kantor pusat dakwah muhammaadiyah singapura, sesaat sebelum pelepasan jenazah, yang disemayamkan disitu

kantor pusat dakwah muhammaadiyah singapura, sesaat sebelum pelepasan jenazah, yang disemayamkan disitu

Ustadz Salam yang pernah menjabat sebagai Presiden Muhammadiyah Singapura itu, adalah generasi kedua sejak berdirinya Muhammadiyah di Singapura.  Organisasi yang didirikan oleh KH A Dahlan di Jogjakarta ini, sejak tahun 1957 telah ada di Singapura.   “Bapak Saya almarhun yang ikut mendirikan Muhammadiyah di Singapura, dulu tempatnya bukan di Jalan Selamat itu” kata pak Yusuf. “Agaknya Haji Karim orang yang masih hidup, hingga kini masih selalu datang setiap jumat dengan bertongkat” lanjut pak Yusuf lagi dan diamini oleh chik Gazali Sekretaris Muhammadiyah Singapura.

Ustadz Salam acap ke Batam, hanya beberapa menit dari Singapura dengan Ferry. Hubungan Muhammadiyah Batam dengan Singapura cukut erat. Yang dibincang dan di bahas bukan melulu urusan organisasi. Belakangan ini ustadz Salam pun sering ke Batam, terkadang untuk ke Jawa beliau via bandara Hang Nadim Batam. Isterinya asal  Surabaya, dikaruniai anak 4 (empat) orang Salman bin Salam putra yang pertama,  sudah menikah mempunyai 2 (orang) putra,  Ia mengikut jejak sang ayah menjadi ustadz dan beristerikan orang Indonesia pula. Putra kedua meninggal di Madina saat menimba ilmu disana. Yang ke-tiga bernama Bilal bin Salam.

Salman bin Salam putra tertua ustadz Salam , selesai pemakaman di Singapura

Salman bin Salam putra tertua ustadz Salam , selesai pemakaman di Singapura

Salman lah yang menjadi imam shalat jenazah pertama yang diadakan, ruang aula pusat Muhammadiyah Singapura itu penuh sesak, selesai shalat jenazah  terdengar isak tangis Salman, meskipun hanya isak, membuat ruangan aula itu menjadi hening sejenak, tak terasa airmataku pun mengalir.

Teringat kebaikan dan begitu sabarnya ustadz Salam mendengar penjelasan kami saat mampir ke Singapura kepusat Muhammadiyah,  beberapa tahun lalu, sekembali dari Bangkok menyampaikan salam karib beliau di Islamic Center Bangkok, dan menceritakan kondisi umat Islam di tiga negara bagian Thailand Selatan.   Saat itu terjadi pembunuhan di masjid Krisik Patani oleh tentara yang sekarang berkuasa. Ustadz Salam bersahabat erat dengan DR Ismail Lutfi rektor universitas Islam Yala di Patani.

Dalam kesempatan lain ustadz Salam ikut dengan kami tidur di pulau – pulau terpencil, bercampur baur dengan masyarakat suku laut yang belum mengenal Islam. Dengan sabar dan telaten beliau menjelaskan tentang Islam kepada masyarakat suku laut itu. Tidur beralaskan tikar dan makan seadanya, membuat perasaanku tak mementu, tetapi   saat kulihat beliau tertidur mendengkur dengan pulasnya mungkin karena kecapean , barulah agak tenang perasaanku. Sungguh saat itu aku takut sekali melihat kondisi ustadz Salam, saat di pulau yang jauh dari jangkauan transportasi itu bila Dia tertimpa sakit?.

Karena beberapa hari sebelumnya ustadz Salam tidak jadi melanjutkan perjalanan ke Savanakhit Laos, hanya sampai di perbatasan Thailand saja , beliau harus kembali ke Singapura, karena kurang sehat badan. “Memang belakangan ini kondisinya agak menurun apalagi sejak putera keduanya meninggal dunia akibat kecelakan di Madina itu” jelas pak Yusuf menjelaskan. Tetapi cepat cepat pak Yusuf meralat ” Tapi yang jelas kami sudah tua, sudah 66 tahun” kata pak Yusuf lagi dan menjelaskan Senin besok pak Yusuf akan General chek di hospital di Singapura. Jadi petang selepas  berbual, berbincang – bincang di kampung Kembangan yang sudah tak terlihat lagi ciri khas kampung melayunya itu. Tak ada beranda rumah panggung tempat melompat sebagaimana yang dilakukan oleh ustadz Salam muda dulu.

Diantar pak Yusuf  berjalan kaki  ke station MRT Kembangan, melewati jalan Selamat, jalan Senang dan jalan Aman. Hanya nama itu saja lagi yang menandakan kalau daerah itu dulu dihuni oleh orang-orang melayu.  Dari Kembangan turun di Outrm Park berganti kereta melanjutkan ke Harbour front, terminal ferry ke Batam, aku pulang seorang diri. Akh banyak sekali kenangan bersama ustadz Salam yang tak dapat kutuliskan disini.

Sampai di Batam sms masuk ke HP ku, tertulis  “Saya dan Keluarga ikut berbela sungkawa dengan iringan do’a InsayAllah Almarhum Husnul Khotima, diampuni segala dosanya, dimudahkan urusannya, dilapangkan kuburnya dan diterima disisi-Nya didalam  Syurga Fi Jannatin Na’im. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menerima ujian ini, Amin ya Mujibasailin (Mohon disampaikan salam maaf Saya kepada keluarga Almarhun)” .Dari Haji Didi Suryadi sahabat sesama belajar satu bangku di Gontor. H Didi Suriyadi adalah salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia  (MUI) Batam.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Innalillahi wa Innalillahi rojiun..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: