Yayasan Amal Malaysia : Berkunjung ke Batam


Amal Foundation Of Malaysia, Cawangan Kedah berkunjung ke Batam

Amal Foundation Of Malaysia, Cawangan Pulau Pinang berkunjung ke Batam

” Dari Yayasan Amal Malaysia, atau Amal Foundation of Malaysia disingkat jadi Amal Malaysia” ujar dokter Muhyidin mengenalkan diri saat kami bertemu di Rawai Phuket Thailand akhir September 2011 lalu.  Kami bertemu (di Phuket) , dalam rangka pertemuan tahunan orang-orang Suku Laut di Thailand disebut Chaulie.

Dokter muda yang energik ini pun menjelaskan bahwa :  “Amal Malaysia adalah satu pertubuhan kebajikan yang tidak berteraskan keuntungan. Berdaftar dibawah akta Pertubuhan Malaysia. Kerja-kerja amal yang paling utama adalah membantu masyarakat dalam segala apa bencana yang menimpa mereka.

Bersama  ustadz Abdul Wahab dari Muhammadiyah Internasional kami mengundang mereka datang ke Batam Indonesia.

Berkeinginan sekali kelihatan dokter ini datang ke Batam, dia pun bercerita kalau sudah ke Banda Aceh saat Tsunami melanda bumi serambi Mekkah itu, ke Padang saat gempa, ke Jogjakarta saat gunung merapi meletus juga sudah dikunjunginya, tentu dalam rangka kemanusian yang melanda daerah itu. “Kami baru pulang dari Somalia” ujar nya lagi. Banyak lagi negeri yang sudah di lawat oleh Amal Malaysia ini, seperti ke Palestina, Sudan.

Berkunjung ke Batam

Perairan Pulau Semakaau kecamatan Belakang Padang, termasuk salah satu pulau terluar di Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Singapura. Disini tinggal sekeluarga pak Pon yang matanya buta tak dapat disembuhkan lagi meskipun dengan operasi katarak

Menuju ke Pulau Semakau kecamatan Belakang Padang, termasuk salah satu pulau terluar di Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Singapura. Disini tinggal sekeluarga pak Pon yang matanya buta tak dapat disembuhkan lagi meskipun dengan operasi katarak

Sebelas orang rombongan mereka datang ke Batam sejak 21 hingga 24 Oktober 2011 , tiga orang dari Muhammadiyah Internasional  Malaysia dan delapan orang dari Amal Malaysia.

Wah……..tidak disangka kedatangan mereka begitu cepat.  Banyak tempat kami kunjungi selama empat hari itu. Dimulai  dari  Shalat Jumat (21/10) di Masjid Raya Batam Center.  Selepas  shalat  di Masjid kebanggan masyarakat Batam ini,  kami bertemu dengan pengurus Lembaga Amil Zakat (LAZ)  Sdr.  Syarifuddin dan Pengurus  Masjid Raya Batam H. Imam Bahcroni, Imam Bachroni adalah juga  pengurus Muhammadiyah Batam  Dari LAZ Masjid Raya,  Alhamdulillah kami dipinjami sebuah Ambulance.

Tengah hari jumat  itupun kami bertemu dengan Drs Nur Arifin, staff Dinas Sosial Batam, maklum kegiatan yang akan kami lakukan berkaitan dengan sosial , sembari makan tengah hari sedikit wejangan dari Nur Arifin tentang kondisi sosial di Batam khususnya masyarakat hinterland kami dapatkan.

Dalam kesempatan itu pun kami memberitahukan kepala Dinas Kesehatan Kota Batam,  Drg  Chandra Rizal, soal kegiatan yang akan kami lakukan,  begitu juga pada malam hari nya kami pun berbincang bincang dengan dr. Rio Tasti dari kesehatan Angkatan Laut Batam.

perkampungan suku laut dia Air Lingka

perkampungan suku laut dia Air Lingka

Keesokan hari nya (22/10) kami mengunjungi kampung Air Lingka kelurahan Galang Baru, di kampung yang dihuni oleh suku laut ini  ada sebuah Mushala Kecil di Air Lingka Galang.  Tak lama berada disitu berbincang dengan Aweng seorang mualaf yang juga pengurus mushala Taqwa  , pompong yang akan membawa kami ke pulau Teluk Nipah telah menunggu di pelantar. “Sebentar lagi agaknya  hujan pak” ujar pak Amat pulau Teluk Nipah sembari tersenyum nongol di depan pintu mushala, maksudnya agar kami cepat berangkat.

” Empat puluh tujuh menit ” ujar pak Fauzie memberitahukan kepadaku bahwa lama waktu perjalan dengan pompong 15 pk itu, dari kampung Air Lingka ke Kampung Teluk Nipah.

Sebelum nya kami sudah pesan kepada ustadz Handadari, Dai dari Asian Muslim Charity Foundation (AMCF) yang bertugas disana,  bahwa kami akan makan dan shalat di mushala Teluk Nipah. Selepas shalat jamak takdim (zuhur dan ashar)  asam pedas ikan belanak, dan tumis sotong telah terhidang. Wai bukan main nikmatnya masakan laut segar ini.

Dari kampung Teluk Nipah kami kembali ke kampung Air Lingka, perjalanan kami lanjutkan menuju  Mushala Kecil di Kampung  Kalok Ujung  Rempang

Tetapi kenderaan darat hanya sampai di kampung Rempang Cate, untuk ke kampung Kalok Ujung,  kami harus naik pompong lagi, pompong yang kami naiki cukup besar .  Pak Amin bersama kami, pak Amin ini adalah pengurus mushala tetapi beliau masih beragama Budha. Puluhan kelapa muda telah tersedia, bukan main segar nya  terasa di tenggorokan.

kelapa muda untuk tamu ........

kelapa muda untuk tamu ........

Dari kampung Kalok Ujung yang masuk kelurahan Subang Emas ini pun kami mendapat sekeranjang gong-gong sejenis siput laut, salah satu jenis seafood yang menjadi santapan pilihan penggemar masakan laut. Adalah Ali yang memberikannya kepada kami.  Ali, masih kerabat pak Amin,  tetapi Ali, pria sekitar 30 tahunan ini  sudah menjadi muallaf. Bukan main gembira nya dia melihat kedatangan kami apalagi ada tetamu dari Malaysia bersama.

Terlihat Mushala nya pun sudah bagus ada tempat wuduk, padahal sejak kampung ini berdiri entah sudah berapa generasi mereka berdiam disitu, jauh sebelum Indonesia merdeka lagi,   barulah kini berdiri mushala, diberanda mushalla itu lah kami menyantap kelapa muda. (bersambung Yayasan Amal Malaysia : Dari Surau ke Surau)……..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: