Suku Laut di Thailand disebut Chaulie


SURAT UNDANGAN

TEMPAT 2 MUKIM RAWAI

DAERAH MERANG WILAYAH PHUKET

KEPADA MEREKA YANG BERKENAN

MAJLIS PERTEMUAN ORANG-ORANG LAUT (KAUM CHAULIE)

Bahawa kami jawatan  kuasa perantuan ORANG–ORANG LAUT (KAUM CHAULIE) hak Rawai dengan ini mengundang MUHAMMADIYAH INTERNASIONAL dan rakan–rakan dari MALAYSIA dan INDONESIA untuk hadir bersama memeriahkan MAJLIS PERTEMUAN ORANG-ORANG LAUT THAILAND pada 24 & 25 SEPTEMBER 2011 .

Kehadiran pihak Tuan/Puan adalah amat diharapkan. Kerjasama dari pihak Tuan/Puan kami dahului dengan ucapan ribuan terima kasih.

AJK PERSATUAN ORANG-ORANG LAUT (KAUM CHAULIE)

WAN PIT CHAI BIN SAM NIANG LAM .

Baliho pertemuan majlis orang-orang Chaulie di pantai Rawai Phuket Thailand. Kami utusan dari Muhammadiyah Internasional

Baliho pertemuan majlis orang-orang Chaulie di pantai Rawai Phuket Thailand. Kami utusan dari Muhammadiyah Internasional

Pantai Rawai Phuket Thailand

Hat Rawai berarti Pantai Rawai, pantai ini terletak paling selatan dari Pulau Phuket.  Dari Bandara Internasional Phuket  yang terletak di utara ke Rawai ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dengan taxi, tarifnya 750 bath, 1 bath sekitar rp.300,-

Di pantai Rawai ini bermukim ribuan orang suku laut , orang disana menyebut mereka Chaulie.  Mereka bermukim di sepanjang pantai Rawai.  Dipantai itulah tahun ini (2011) diadakan pesta tahunan atau majlis pertemuan seluruh orang-orang Chaulie yang bermukim di sepanjang pantai Andaman sea maupun yang berada di pulau-pulau sekitar Phuket seperti Pulau Lepak (asal kata dari Lipan). Diperkirakan orang Chaulie yang berada disana sekitar 20.000  orang.

Hampir 40 % penduduk Phuket beragama Islam, tetapi di Rawai di pemukiman orang Chaulie hanya 3 keluarga saja yang beragama Islam. Salah seorang  bernama A Noi. Pak A Noi ini dapat berbahasa melayu. Yang seorang lagi bernama pak Su demikian dipanggil, pak Su ini adalah Penghulu di kampung Rawai itu. baca  Melayu, Masihkah Identik Dengan Islam ?

Mereka berdua lah yang mengundang kami, untuk datang menghadiri majlis itu, kami kenal baik dengan mereka karena telah beberapa kali datang ke perkampungan itu. Bahkan kalau kesana kami tidur dirumah mereka.

Pantai Rawai adalah salah satu pantai tujuan wisata dan terindah di Phuket, meskipun wisatawan tidak sebanyak ke Patong atau Kemala, pantai yang pernah di porakporandakan Tsunami itu. Kini pantai Rawai sudah semakin sempit dengan bangunan bungalow, hotel dan resort  maupun toko penjual cendera mata bertebaran di sepanjang pantai.

Bahkan lokasi pertemuan tahunan yang dihadiri ribuan orang Chaulie dari berbagai tempat itu, kini adalah tapak sebuah resot yang akan di bangun. Lahan untuk bercengkerama dan berehat sejenak di bibir pantai melepas lelah setelah penat ke laut nyaris tak ada. Konon pula untuk membuat rumah. Itulah nasib orang – orang Chaulie disana.

Sebenarnya boleh dikata orang pertama yang mendiami dan menemukan pulau Phuket adalah nenek moyang orang Chaulie, tetapi ironisnya tak sehelai surat pun yang menyatakan ada sebidang tanah di daratan itu milik mereka.

Itulah hal yang paling krusial diperbincangkan wakil Pemerintah dari Bangkok  yang datang menghadiri majlis orang-orang Chaulie selama dua hari itu.

Antara Suku Laut di Indonesia dengan Chaulie di Thailand

Saat  diberikan waktu oleh panitia kepada kami untuk berbicara, sebagai  satu satunya orang Indonesia yang datang hadir di dalam majlis itu . Meskipun sebelumnya surat undangan ini telah kami sampaikan dan teruskan kepada Konsulat Jenderal Indonesia di Songkla Thailand yaitu Bapak Heru Wicaksono, melalui email.

Dalam kesempatan itu kami utarakan bahwa nasib suku laut di Indonesia khususnya Batam tidak jauh berbeda dengan orang-orang Chaulie di Phuket Thailand. Dan kebetulan, kami  memanglah sering mengunjungi pemukiman suku laut yang berada diseputar  kepulauan Batam .

Nelayan yang suka berpindah pindah (Nomaden) , karena memang tuntutan alam, sesuai dengan musim harus berpindah. Kedarat hanya untuk mengambil air dan menjual hasil tangkapan laut misalnya. Bahkan nasib orang-orang Chaulie di Phuket masih lebih baik, lautnya masih menghasilkan ikan yang melimpah, tidak tercemar sebagaimana laut di Batam.

Suku Laut di Batam sebagian telah beralih profesi menjadi “penyelam” besi tua atau bekas, karena hampir sebagian besar pantai di Batam menjadi tempat galangan kapal, maupun kawasan industri.  Mungkin sedikit ada perhatian pemerintah membuatkan pemukiman seperti di Pulau Gara.

Agaknya mereka belasan para NGO dan wakil pemerintah Thailand serta tokoh  masyarakat dan perwakilan parlemen yang hadir di majlis itu terkesima mendengar penjelasan kami.

Beberapa peserta dari Universitas Chulalongkorn Bangkok, yang sedang mengadakan penelitian tentang orang-orang Chaulie  ini yang hadir juga disitu, berjanji akan datang ke Batam untuk melihat kehidupan nelayan suku laut yang berada di perairan Batam khususnya.

Mungkin ada keterkaitan mereka, antara suku laut dengan orang Chaulie karena kalau dilihat budaya yang di tampilkan saat pehelatan di majlis itu hampir sama. Seperti tari – tarian maupun nyanyian. Ada silat, ronggeng  bahkan rafal mantera jampi-jampi mirip belaka.

Pii Nong Khan………. memang kita bersaudara.

3 Tanggapan

  1. Wah… sy berfikir kalau seluruh perjalanan ini di tulis dalam buku selain di Blog sangat menarik!

    Suka

    • Makasih ya……….. rencana sih begitu tapi aku tak sepandai bang Samsul ………….buat buku…..

      Ada niat buat tulisan (buku) tentang melayu nusantara…….Indonesia, malaysia, singapura, thailand, vietnam, laos, kamboja, di myanmar (burma) pun banyak orang melayu dan mereka boleh bercakap melayu , begitu juga dengan di brunei dan timor leste … dan sebagian di philpina………. lagi cari sponsor … heheheheheh kali kali kak ria bersedia..????

      Suka

  2. As-Salam,

    Bagaimana caranya saya untuk mendapat kontak dari Suku Laut Chaulie. Saya adalah peneliti dari USM, Penang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: