Saudara Baru Dari Selat Desa


Mendengarkan Tausiyah dari Ustadz Salam dan Ustadz Wahab "Tuhan kita satu", tidak beranak dan tidak diperanakkan"

Mendengarkan Tausiyah dari Ustadz Salam dan Ustadz Wahab "Tuhan kita satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan"

Pagi itu hari kamis (26/5) Johannes Jupen mengucapkan dua kalimat syahadat. Jupen, demikian pria 40 tahunan ini biasa di panggil. Jupen adalah Ketua RT di kampung Selat Desa. Selat Desa adalah nama sebuah kampung Nelayan dalam kelurahan Ngenang Kecamatan Nongsa. Tak Jauh dari Pulau Batam, naik pompong  hanya sekitar 20 menit dari pelabuhan Telaga Punggur.

Penduduk di kampung itu  hanya sekitar 20 an  kepala keluarga (KK).  Dan yang beragama Islam 8 (delapan) KK saja, dari delapan keluarga tadi,  satu keluarga , suaminya beragama Islam sementara sang isteri beragama Katolik.

kampung nelayan selat desa, nyaris tak terjamah pembangunan batam yang begitu gemerlap

kampung nelayan selat desa, nyaris tak terjamah pembangunan batam yang begitu gemerlap

Beberapa bulan yang lalu di kampung Selat Desa itu kami dirikan sebuah mushala kecil. Di mushala kecil itulah Jupen mengucapkan dua kalimat syahadat, dibimbing oleh Ustadz Wahab dari Kulim Kedah Malaysia dan disaksikan oleh Ustadz Salam dari Singapura dan beberapa teman lain yang ikut dalam rombongan kami, jamaah Muhammadiyah Internasional, yang memang sengaja bermalam di kampung itu.

Rasa haru dan iba bercampur aduk, mendengar kisah Jupen putra melayu suku laut ini. Dia fasih mengucapkan salam disetiap pertemuan, baik  di Kecamatan maupun pertemuan lainnya, maklum lah dia kan seorang RT, jadi acaplah memenuhi undangan. Ada rasa galau dihati saat menyebut melayu, bukankah melayu identik dengan Islam.

Sambil tersenyum Jupen menjawab pertanyaanku “Muhammad Arifin” itulah namaku sekarang.  “Jupen itu asal kata dari Arifin” katanya. Panggilan dirinya sejak kecil lagi, pemberian orang tuanya, logat melayu tempatan panggilan Arifin itu menjadi Pen.  Sejak di baptis sekitar 20 tahunan  yang lalu menjadi Katolik, nama panggilan itu di tambah menjadi Johannes  Jupen.

Jupen mempunyai 5 orang putera “Semua lelaki yang paling tua sudah menikah” katanya “Saye dah punya cucu, ini cucu saye” tambah Jupen lagi, sembari membelai kepala seorang anak kecil yang mengelendot terus disampingnya.

Jupen pun akan berbicara tentang ke – Islamannya kepada isteri dan anak-anaknya. “Biarlah saya dahulu” kata Jupen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: