Kaya dan Miskin


tak apa lah banyak pertanyaan, tetapi mendapatkan fasilitas berbintan, daripada .....

tak apa lah banyak pertanyaan, tetapi mendapatkan fasilitas berbintang, daripada .....

“Kalau kita kaya, nanti banyak pertanyan di akhirat, dari mana asal harta kita, kemana saja dipergunakan, kalau miskin tak ada pertanyaan itu. Betul itu Ayah.” Tanya Azhari padaku tengah hari kemarin saat berada di Terminal Ferry Batam Center. Azhari yang satu ini acap memanggilku Ayah.

Saat itu kami sedang duduk di kedai kopi miliknya menunggu teman yang akan berangkat ke Singapura. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Karena aku bukan lah ahli agama yang dapat menjelaskan hal itu kepadanya. Melihat aku hanya tersenyum kecut, Azhari menimpali lagi sembari mencontohkan, bagaimana ribetnya urusan harta ini. “Contoh, kalau kita mau ke Singapura , bawa tas satu dengan membawa tas lima, mana yang lebih dulu selesai pemeriksan di imigrasi, maupun di bea cukai di Harbour front sana”. Kata Azhari ditujukan kepada temannya yang sedang duduk di depannya. Teman Azhari yang sedang duduk bersama kami itu menjawab ,”tentulah yang membawa tas satu.” Begitulah contoh yang diberikan teman Azhari menganalogkan banyak harta – kaya- dengan sedikit harta alias miskin tadi. “Bagaimana Ayah “ Tanya Azhari lagi mendesakku menanggapi pertanyannya itu.

Hal ini, memang sering kita dengar. Sebagai orang awam , analog yang diberikan teman Azhari tadi masuk di akal. Apalagi konon ada dasar hukum nya, soal harta yang di dapat di dunia ini, pertangungjawabannya di akhirat kelak. Mata Azhari masih tertuju kepadaku menunggu jawaban. Apa yang hendak kukatakan kepadanya, aku yakin sebenarnya dia pun telah tahu apa jawabannya. Sebagaimana sering di dengar nya ceramah para ustadz.

Tetapi karena Azhari mencontohkan membawa tas ke Singapura, dan adanya pemeriksaan yang cepat dan lama, karena tas, jumlahnya beda. Lalu kujawab saja. “Bagaimana misalnya, teman mu yang mau ke Singapura tadi, membawa harta satu tas, katakanlah nilainya 100 juta rupiah. Kemudian teman yang satu lagi bawa tas lima buah, yang isinya, masing-masing, berisi harta senilai 100 juta rupiah, sama dengan nilai hartanya dengan teman yang satu tadi. Kemudian membawa senilai 100 juta dollar Singapura, Ringgit Malaysia 100 juta, dollar Amerika 100 juta dan uero 100 juta. Bagaimana pula pendapat mu soal fasilitas dan kenyamanan hidup yang di dapat di Kota Singapura setelah selesai pemeriksaan di imigrasi dan bea cukai” ujar ku kepada Azhari.

Azhari terlihat terkesima, dia tak menduga aku mencotohkan seperti itu, kembali ke tas .  Agaknya Azhari mengerti maksudku. Tak apalah, lama sedikit pemeriksaan, tetapi manfaat setelah itu bisa tinggal lama dengan fasilitas hotel berbintang. Bukankah Surga juga “bertingkat-tingkat” sebagaimana yang kita fahami. Bagaimana kita hendak pergi menunaikan Haji bila tak punya harta. Begitu juga berwakaf, berzakat dan bersedeqah. Yang penting harta itu memang kita dapat dari yang halal dan kita gunakan kejalan yang di ridhoi Allah SWT.

“Kita anggap saja pemeriksaan itu seperti di padang mashar, dari alam dunia ke alam akhirat, kita sebagai muslim harus kaya” kata Azhari kepadaku bersemangat. Aku tersenyum melihat Azhari yang bertekad besok akan memberitahukan kepada teman nya yang takut kaya, karena alasan banyak pertanyaan di akhirat tentang asal usul harta yang didapatkannya selama di dunia. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: