Abu Bakar, Muallaf Dari Pulau Sembukit


Tuhan kita satu , tidak beranak dan tidak diperanakan.

Tuhan kita satu , tidak beranak dan tidak diperanakan.

Namanya Abu Bakar, tinggal nya di Pulau Sembukit. Pulau Sembukit berjarak hanya beberapa meter dari Dapur Tiga Pulau  Galang. Tetapi untuk mencapai pulau itu kita harus menyeberang menggunakan sampan. Tak banyak penduduk di kampung itu. Terlihat beberapa rumah panggung diatas air, tak terawat, pintu dan jendelanya  tertutup, karena  di tinggalkan penghuninya.

Akhir Februari 2011 lalu, kami mengunjungi pulau itu.  Adalah Haji Sulaiman asal Pulau Panjang yang memberitahukan kepada kami tentang keberadaan kampung Sembukit itu. Dan tujuan kami kesana melihat lokasi,  kemungkinan untuk mendirikan mushala.  Karena menurut Haji Sulaiman ada keluarga muslim suku laut yang tinggal disana.

Kami tidak melalui Pulau Galang, tetapi  dari Tia Wangkang Jembatan Satu,  kami naik speed boat ke Pulau Panjang terlebih dahulu  menjemput Haji Sulaiman, maklum , dia kan penunjuk jalan. Ombak cukup besar apalagi seputaran Tanjung Kelingking di Jembatan Empat.

Sampai di Pulau Panjang, semua pakaian kami basah kuyup di guyur ombak, dari Pulau Panjang kami lanjutkan perjalanan menuju pulau Sembukit lewat dibawah Jembatan Lima, terus arah ke Timur,  speed boat kami menyusuri selat-selat Tanjung Banun di Pulau Rempang , Dapur Tiga di Pulau Galang, sampailah kami ke kampung Sembukit.

Perjalanan menyusuri selat – selat tadi antara pulau Rempang dan Pulau Galang, ombak tak terlalu besar, sehingga baju kami yang tadinya basa, kini kering di badan. Tetapi bibir masih terasa asin dan mata masih terasa perih oleh air laut.

Sampai di pelantar kampung Sembukit, kami disambut oleh Ahmad, hampir semua penduduk kampung itu mengenal Haji Sulaiman, kiranya Haji Sulaiman ini adalah mantan kepala desa, jadi tahu betul beliau ceruk beruk perkampungan yang ada di sekitaran Pulau Rempang dan Pulau Galang .

Ahmad yang menyambut kami tadi adalah orang Cina,  yang kini telah beragama Islam, rumah nya di ujung tanjung di kampung Sembukit itu. Dari pelantar,  menuju rumah Ahmad di tengah jalan, kami berpapasan dengan seseorang yang di kenalkan oleh Ahmad sebagai adiknya.   Adik nya Ahmad itulah yang bernama Abu Bakar. ” Abu Bakar ini agamanya bukan Islam pak ” jelas Ahmad kepada ku. “Tak apalah”  kataku karena terlanjur mengucapkan salam kepada Abu Bakar.

“Siapa pula yang sangka dia bukan Islam  namanya Abu Bakar kulitnya sawo matang, tak sikit pun mirip  Cina” kataku berkelakar.   Akhirnya kami tak jadi kerumah Ahmad , malah singgah di salah satu rumah yang tak berpenghuni tadi. Karena menurut Ahmad rumah itu adalah rumah kerabatnya,  yang hendak di jual karena penghuni nya sudah tak ada lagi.

Kami duduk di beranda rumah panggung yang cukup besar tadi, seorang anak bergayut gayut di pundak  Abu Bakar , sembari senyum Abu Bakar pun bercerita kalau nama Abu Bakar itu adalah namanya sejak lahir lagi, “Tak tahulah pak, ngape orang tua saya memberi nama seperti itu , padahal kami orang Cina” jelas Abu Bakar dengan logat melayunya.

Aku tersenyum, kujelaskan kepada Abu Bakar bahwa namanya itu adalah nama salah seorang sahabat Nabi SAW yang paling di sayang . Bahkan Abu Bakar adalah Khalifah pertama yang juga mertua Nabi SAW.

Abu Bakar melihat wajah ku seakan ada yang merunsingkan hatinya. Di Beranda rumah panggung itu,  dia berterus terang telah hidup bersama dengan seorang wanita muslim sekitar 9 tahun yang lalu dan kini telah di karuniai 3 orang anak. Malangnya perkawinan mereka tak direstui oleh orang tua pihak perempuan, mereka tetap hidup bersama agaknya tanpa ikatan perkawinan.

Karena untuk keperluan administrasi sekolah anak-anak mereka yang kini sudah memasuki usia sekolah, jadilah kini agamanya yang dianut si isteri,  ikut agama sang suami bukan muslim, yang bernama Abu Bakar tadi.

Haji Sulaiman terbengong – bengong mendengar penuturan Abu Bakar, apatah lagi dia kenal betul siapa orang tua dari perempuan isteri Abu Bakar itu, ” Satu kampung dengan saya di Pulau Karas” kata Haji Sulaiman.

Abu Bakar Mengucapkan Syahadat

Tiada Tuhan Selain Allah, Dan Muhammad itu Rasul Allah

Tiada Tuhan Selain Allah, Dan Muhammad itu Rasul Allah

Kujelaskan sedikit  kepadanya tentang Islam, Islam terdiri dari lima perkara. Pertama mengucap duakalimat syahadat. Yang artinya Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah. Ternyata Abu Bakar lancar membaca syahadat. Sambil tersenyum, terlihat depan gigi Abu Bakar yang sudah ompong dia berkata ” Sebenarnya sejak dulu lagi saya nak masuk Islam pak,  tetapi tak ada orang yang hendak membimbing” .

Tak lah terlalu sulit bagi Abu Bakar mengangguk mengiyakan ajakanku untuk melafazkan syahadat di petang hari itu. Jadilah di beranda rumah panggung, diatas laut yang menghadap Tanjung Banun,  disaksikan oleh Ahmad abang kandung Abu Bakar,  yang telah lebih dahulu memeluk Islam dan Haji Sulaiman mantan kepala desa yang masih energik itu, serta  beberapa orang rombongan yang lain yang ikut dalam perjalanan kami, semua terharu menyaksikan Abu Bakar mengikrarkan syahadat dengan lancarnya.

“Insyaallah  besok saya akan ke Karas”  ujar Haji Sulaiman. “Saya akan jumpai orang tua tu” tambahnya lagi. Karena menurut pengakuan isteri Abu Bakar, dia masih tetap dalam ke-Islamannya, meskipun di dalam Kartu Keluarga mereka tercantum agama non Islam.

Dengan perasan lega, kami tinggalkan pulau Sembukit, karena air pun mulai surut. Pulang  ke Batam, kami tak lagi melalui bawah Jembatan Lima tetapi berbelok jauh ke Utara , nun disana  terlihat Jembatan Satu Barelang, hari beranjak petang indah sekali terlihat matahari mulai terbenam terlihat dari bawah Jembatan itu, kami lalu di bawah Jembatan yang membuat kagum ini, beberapa pasang tangan melambai kami dari atas Jembatan.

Meskipun pinggang terasa macam nak patah, tetapi hari itu, hati ini terasa ber-bunga2.  Kami pun menunggu Abu Bakar datang ke Batam,  untuk menyelesaikan administrasi di Kantor Departemen Agama dan yang tak kalah pentingnya lagi adalah ke Klinik untuk “menyelesaikan”  Abu Bakar sebagai lelaki.

Itulah sekilas pintas tentang Abu Bakar dari Pulau Sembukit.

2 Tanggapan

  1. wah boleh juga pak haji ni sekarang ….
    smoga amal baik dibalas oleh ALLAH SWT ..
    Amin ….. dan sampaikan salam ku unt kel …

    Suka

  2. salam kembali

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: