Mushala Kecil di Air Lingka Galang


Mushala ini belum selesai lagi, tetapi petang kemarin ahad (6/3) kami shalat ashar berjamaah disitu. Dengan menggelar selembar triplek 4 mm sebagai alas shalat  untuk 5 orang makmun dan selembar sajadah untuk imam, sajadah itu dibawa dari rumah Awing .

Awing tergopoh gopoh membawa sajadah dari rumahnya, rumah Awing tak terlalu jauh dari tapak bangunan mushala yang sedang dibangun itu. “Shalat di rumah saya saja lah pak” pinta Aming sesaat  suara azan menandakan masuk shalat ashar terdengar  sayup sayup sampai dari masjid yang ada di Kampung Air Lingka.  Kami putuskan untuk shalat di mushala yang belum berlantai apalagi beratap itu, hanya dinding separuh pasangan batako yang baru terpasang.

Meskipun kini namanya sudah berganti dengan Samsuddin, tetapi kerabat dan orang kampung Air Lingka Tanjung itu tetap memanggil nya Awing. Hampir semua penduduk kampung Air Lingka Tanjung itu adalah kerabat Awing,  sebahagian  sudah menganut agama non Islam, sebagian lagi budha, sementara Awing  dan beberapa keluarga nya beragama Islam.

Faktor itu pula lah yang menghambat pendirian mushala di kampung itu, karena pemilikan lokasi tanah disitu masih satu kerabat dan belum di bagi lagi.  Kerabat yang berlainan keyakinan, harus lah mendapat persetujuan terlebih dahulu. Alhamdulillah meskipun agak tersorok ke bibir pantai dapat juga sepertapakan tanah untuk membangunnya.

Jadi yang bertanggung jawab masalah pembangunan mushala diserahkan kepada Awing, Awing yang muallaf ini sangat senang sekali dengan adanya mushala di kampungnya itu.   “Kami sudah ada pak RT baru” kata Awing menjelaskan, rupanya selama ini  penduduk kampung yang mayoritas di huni oleh suku laut itu RT nya bergabung dengan RT kampung lain.

“Insyaallah dalam bulan ini sudah selesaai lah pak” kata Awing, maksudnya mushala itu selesai di bangun.  “Kalau sudah selesai mushala ini ada keluarga yang mau masuk Islam” lanjut Awing lagi.

Kampung Suku Laut

Air Lingka ini terletak di  kelurahan Galang Baru kecamatan Galang, setelah jembatan 6 atau Jembatan Raja Kecik, berbelok ke kiri  sekitar 2 kilometer terlihat perkampungan nelayan. Tempat tinggal Awing namanya Air Lingka Tanjung, kalau hendak shalat dan anak – anak belajar mengaji harus ke Kampung Air Lingka. Terkadang bila air pasang naik, jalan setapak ke Kampung Air Lingka itu tak dapat di lalui, terpaksalah memutar jalan dari atas.

Ahad kemarin saat kami mengunjungi kampung itu, banyak terlihat kenderaan roda empat berjejer di pinggir pantai, rupanya perairan Air Lingka Tanjung ini menjadi tujuan  para pemacing dari Batam.  Saat musim ikan dingkis pun perairan di Air Lingka ini menghasilkan ikan beratus ratus kilo.  Ikan yang memang ada di musim hari raya imlek ini harganya bisa mencapai puluhan ribu rupiah sekilonya, apalagi yang sedang bertelur, tetapi setelah imlek  harga jual nya jatuh merosot hanya 4 ribu rupiah saja sekilonya.

Kuburan 3 agama

Kami beranjak pulang karena hari pun menjelang petang. Belum ada jalan menuju tapak berdirinya mushala  yang sedang dibangun itu, kalau hendak berjalan menyusuri pantai, lumayan terasa jauh. Terpaksalah kami merentas perdu resam, memotong jalan dan harus ekstra hati hati, kalau tidak terkena duri resam.

Awing menuntun kami di depan sembari menyibak nyibak duri resam untuk memudahkan kami berjalan. Di depan menjelang jalan aspal tempat kenderaan kami di parkir ada  pekuburan.  Menurut Awing pekuburan itu tanahnya adalah milik keluarga.

Dekat kubur kubur itu tak ada lagi pohon resam. Sebuah kubur kami lalui, nisan kubur itu terbuat  dari pasangan batu setengah melingkar bercat putih terlihat masih baru. Tahulah kalau itu adalah kuburan orang Cina, apalagi ada aksara Cinanya dan bekas lidi-lidi  dupa ada disitu.

Persis disamping kubur Cina tadi ada sebuah kubur Kristen, ini terlihat dari salib yang ada di atasnya, diatas kuburan itu ada atapnya dari seng di tongkat empat tiang.   Tak jauh dari situ pula ada kubur muslim terlihat dari bentuk kubur dan batu nisan nya.

Yang menjadi pertanyaan dalam hatiku, ketiga kubur yang berdekat dekatan itu letak nya sejajar. Kubur Cina memanjang dari Timur ke Barat, demikian pula kubur Kristen dan kubur Islam.  Rasa-rasanya tadi saat kami shalat ashar dan letak mushala pun dari Timur ke Barat.  Seharusnya kubur Islam paling tidak memanjang dari Selatan ke Utara.

Bukan itu saja kubur yang ada disitu…karena kampung itu termasuk kampung tua tak jelas juga mengapa dan berapa kubur yang seperti itu. Tetapi saat kami tanya ustadz Bachtiar LC , menurut beliau  sememang nya begitu tetapi itu bukanlah rukun,   “Sebagaimana letak saat kita mensholatkan mayit, begitu jugalah posisi letak kuburnya. ”

Mungkin ketidak tahuan mereka , mudah mudahan kubur yang akan datang tidak lagi seperti itu.

Iklan

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: