Mushala Kecil di Kampung Tua Setengar


Adalah pak Pinci dari kampung Tia Wangkang yang memberitahukan kepada kami bahwa ada kampung yang nama nya Setengar. Dan di Setengar itu ada tinggal kerabat pak Pinci masih dari Suku Laut yang muslim, namanya pak Abu. Hanya pak Abu keluarga muslim yang masih bertahan di kampung itu. Seorang putri pak Abu menikah dengan Sunoto asal Rembang Jawa Tengah dan tinggal di kampung itu juga tetapi agak ke darat, tidak di pinggir pantai, seorang lagi putri pak Abu menikah dengan orang Air Raja.

Keluarga pak Abu mewakafkan sebidang tanah untuk didirikan mushala, persis diatas bukit yang berada di tanjung kampung itu kini berdiri mushala kecil. Sunoto dan 2 orang temannya yang menjadi tukang nya. Bukan main senang nya hati Sunoto dengan keberadaan mushala itu. Karena sudah ratusan tahun keberadaan kampung tua Setengar, baru lah kini ada mushala di situ.

mushala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

ala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

“Datanglah pak kalau bisa, besok kami akan menaikkan kubah” pinta Sunoto kepadaku melalui HP nya. “Kami pun mengundang juga yang non muslim, karena memang masih saudara” tambah Sunoto lagi.   Terenyuh hatiku mendengar nya karena saat itu aku tak bisa memenuhi undangan mas Sunoto begitu aku memanggilnya,  karena  pada saat yang sama aku ada urusan dengan  Polsek Bengkong. Mudah mudahan mas Sunoto dapat memaaklumiku.

Selama ini bila ke Setengar aku selalu melalui kampung Tia Wangkang diantar oleh pak Pinci dengan speed boat. Membelah Selat antara Pulau Batam dengan Pulau Tonton lalu persis dibawah jembatan I Barelang (Raja Haji Fisabillah), terasa tinggi sekali jembatan ini saat kita dibawahnya, kagum kepada pembuaat nya. Terus speed boat melaju  menuju arah ke Tanjung Piayu Laut, terlihat kecil pula jembatan II (Nara Singa) dari jauh, berkelok ke kiri memasuki selat yang berputar putar arusnya disitulah terletak kampung Tua Setengar.

Dan memanglah secara administrasi kampung Tua yang hanya dihuni beberapa kepala keluarga ini RT nya di jabat oleh pak Anton orang kampung Tia Wangkang. Kampung Tia Wangkang pula  masuk keluarahan Tembesi kecamatan Sagulung. “Itu sudah sejak dahulu pak” jelas Sunoto.

Sekali pernah kucoba jalan melalui darat, karena menurut informasi dari Sunoto untuk ke kampung tua itu bisa melalui darat. Berdua dengan Aries Kurniawan kami jelajahi jalan-jalan tak beraspal mulai dari Kantor Kelurahan Pancur Tanjung Piayu.

Sepanjang hutan yang kami lalui ternyata adalah hutan tempat latihan Militer Tuah Sakti. Puluhan kilometer tanah berbauksit dan berlubang lubang terkadang becek dan harus extra hati hati. Di kiri kanan jalan itu banyak  kebun sayur, ada yang sedang panen semangka. Dan juga puluhan kandang ayam (peternakan) yang menyebarkan aroma  spesial.

RUSH  kami terhenti di puncak bukit terjal, tak dapat melanjutkan perjalanan lagi karena memang tak ada fasilitas jalan untuk roda empat.  Kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Menyusuri pinggiran hutan mangrove naik turun beberapa gundukan bukit yang cukup menguras tenaga. Kami memotong jalan agar lebih dekat  di pandu oleh Sunoto.

“Kalau jalan dari sana , lebih jauh lagi pak” kata Sunoto sembari menunjukkan bangunan tugu tanda bahwa kampung Setengar adalah kampung tua. Bangunan tugu tanda kampung tua itu adalah proyek pemko Batam sedang dibangun oleh beberapa orang pekerja.

Jarang berjalan jauh nafas ngos-ngosan juga, sampai di pinggir pantai, sebuah sampan kecil yang hanya dapat dimuat empat orang  menunggu kami. Dengan sampan itulah kami berkayuh  menuju ujung tanjung tempat mushala itu berdiri.

Sebenarnya merentas hutan perdu untuk mencapai lokasi mushala yang saat itu sedang dibangun, dapat juga di lalui dengan jalan setapak, tidak harus bersampan.  Tetapi sebelum kelokasi ada puluhan kuburan terdapat disitu. Mungkin Sunoto segan membawa kami melalui kuburan itu.

Tetapi pada kesempatan lain nya saat aku mengunjungi kampung Setengar sengaja kulalui kuburan di Kampung itu. terlihat beberapa puluh batu nisan tua yang menandakan kalau itu adalah kuburan muslim.

“Itulah pak kalau mushala ini sudah siap, diharapkan orang kampung kembali ke mari” harap Sunoto.  Di samping mushala itu pun kini  sedang kami bangun sebuah rumah kecil untuk Dai yang nantinya akan tinggal disana.

“Dan kami pun mengharapkan disini ada RT sendiri. Warga tidak harus ke Tia Wangkang lagi”. Harap Sunoto

Kalau kita simak secara kedekataan kampung Setengar sebaiknya memang masuk kedalam wilayah Kelurahan Pancur. “Hal ini sudah pernah kami sampaikan kepada pak Rinaldy” kata Sunoto lagi.   Pak Rinaldy yang dimaksud Sunoto itu adalah pak Lurah Pancur.

Sunoto bercerita terus tak terasa kami sudah sampai di rumah pak Daniel, Pak Daniel ini adalah Orang Tua pak Pinci tetapi berlainan agama, usia nya sekitar 70 an tahun, pak Pinci beragama Islam.  Untuk menaiki speed boat harus melalui rumah pak Daniel karena air sudah surut.

Anjing penjaga kerambah toke dari Batam menyalak beramai-ramai melihat kami melalui kerambah kerambah apung yang banyak terpasang di alur laut Selat Setengar itu. Kerambah itu harus di lalui karena persis di depan rumah pak Daniel.

Sambil melambaikan tangan. Aku berharap mudah-mudahan harapan Sunoto terkabul.

2 Tanggapan

  1. amin… mudah-mudahan mushala itu menjadi rumah yang indah untuk warga pulau

    salam pak imbalo
    (nama saya terinspirasi dari salah satu pulau yang dihubungkan dengan jembatan panjang dari batam)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: