Balada Anak Pulau : Nelayan di Angin Utara


naik bot mengantar ustadz.....

naik bot mengantar ustadz.....

Selat Desa

“Sekarang ni pun  dah tak ada lagi persedian” kata Nadi kepada kami saat berkunjung ke Selat Desa. Selat Desa adalah sebuah perkampungan Nelayan yang tak jauh dari Pulau Batam. Ombak di perairan Selat Desa, Pulau Kubung, Pulau Todak , Pulau Seribu  dan pulau pulau sekitarannya cukup besar, mencapai   3 meter.

Tak banyak Nelayan Suku laut yang tinggal di Selat Desa hanya beberapa keluarga saja, salah seorang nya adalah Nadi, Nadi adalah menantu Mak Dayang. Di Selat Desa kami bangun sebuah mushala kecil,  mushala itu  terletak persis di pinggir pantai, di mushala itu lah kami berbincang sembari terlihat air laut mulai pasang naik.

“Kalau sudah seperti sekarang ini (angin utara) susah nak melaut” timpal Nadi lagi.   Tak tahu apa yang akan di kerjakan, kemarin petang (25/01) dua orang wanita anak beranak meninggal dunia akibat amukan ombak. Sudahlah ombak besar di timpali pula gelombang dari ferry Tanjung Pinang – Batam yang melintas  di perairan itu.

Di mushala itu kini bermukim ustadz Hadi dari Medan, jadi salah satu tujuan kami datang ke Selat Desa itu adalah mengantar ustadz Hadi, ustadz Hadi akan mengajar agama Islam kepada Suku Laut Muslim disitu.

Kami tinggalkan ustadz Hadi dan Nadi karena hari sudah mulai petang, dengan bot pancung pak Awang Belanda mesinnya  Yahama 40 PK  kami tempuh ombak yang cukup tinggi.

Mendekati perairan pulau Kubung terlihat Pulau Todak , terbayang bagaimana Una (55) dan Mina (19) meregang nyawa di hantam ombak  tinggi dan hujan deras. Dan terbayang pula bagaimana perjuangan  anak perempuannya yang seorang lagi tetap mempertahan kan jasad ibu dan adik nya agar tidak hanyut dan tenggelam ke dalam laut. Hemmmm. aku menarik napas panjang, “mereka masih saudara kami” kata Poni dari Pulau Air Mas.

Pulau Lingka

Di Pulau Lingka Sagulung Batam,  ada ustadz Masri asal Nias Gunung Sitoli kini bermukim. Ustadz Masri ini pun adalah Dai yang di tempatkan oleh AMCF.  Di Pulau Lingka yang terletak bagian Barat Batam ini tak banyak keluarga Suku Laut yang muslim, disana  hanya ada sekitar 5 keluarga saja.  Di Pulau Lingka kami bangun sebuah mushala kecil seperti di  Selat Desa Ngenang. Di seberang pulau Lingka terdapat pulau Bertam, terdapat sebuah masjid di pulau Bertam, penduduknya terdiri dari Suku Laut , lebih 50 % beragama Islam.

Tak jauh dari mushala yang kami namakan mushala TAQWA itu  ada sebuah  gubuk kecil ukuran 3 x 4 meter , disitulah ustadz Masri tinggal. Persis di depan Pulau Lingka terletak Pulau Gara, di Pulau Gara pula  seluruh Suku Laut yang menetap disana adalah muslim.

Kehidupan nelayan disitu pun tak jauh berbeda dengan di Selat Desa, malah boleh dikatakan lebih parah lagi. Akibat ratusan galangan kapal yang memanjang sepanjang garis pantai  Pulau Batam dan Pulau Pulau disekitarnya, air laut tak memungkin lagi menjadi tempat ikan berkembang biak. Kapal ribuan ton dibina,  berlabuh dan diperbaiki tak terhitung berapa banyak jumlahnya.

Kalau dulu pemuda nelayan disitu menyelam menangkap ketam dan unduk unduk (kuda laut), kini mereka beralih profesi menjadi penyelam besi bekas potongan pembuatan kapal. Celakanya besi scrap itu ternyata menjadi masaalah. Terkadang mereka berhadapan dengan moncong senjata dari aparat yang menjaga area.

Kemarin pula  saat kami mengantar  ustadz Masri, 4 orang pemuda Pulau Gara tertuduh mengambil potongan  besi yang sudah “tercampak”  ke dalam laut. Kini mereka di dalam “pengawasan” kepolisian.

pelantar pulau kubung depan, di depan terlihat pulau todak.....

pelantar pulau kubung , di depan terlihat pulau todak...

Pulau Teluk Nipah

Paulau Teluk Nipah terletak sekitar 4 mil dari Kampung Baru Pulau Galang Baru, untuk mencapai Pulau Galang Baru harus melalui jembatan 6 (enam) terlebih dahulu, tak jauh dari Pulau Teluk Nipah itu terletak Pulau Nanga, Pulau Sembur dan arah ke Timur adalah Pulau Karas.

Di Pulau Teluk Nipah ini pun banyak orang  Suku Laut bermukim, sekitar 20 tahunan yang lalu mereka di mukimkan disitu, saat itu penguasa Batam adalah alm. Mayjen Soedarsono. Dari puluhan kepala keluarga yang tinggal disitu  hanya sekitar 7 kepala keluarga saja yang beragama Islam.

Di pulau itu kini ada ustadz Dari, ustadz asal Medan ini sementara tinggal bersama pak Abdullah, pak Abdullah pria tua usianya sekitar 70 tahun asal Flores yang sudah berpuluh tahun menetap disana , matanya telah buta tak dapat melihat lagi, berjalan pun Ia dituntun.  Pak Abdullah ini lah yang mewakafkan sebidang  tanahnya untuk kami bangun sebuah mushala kecil.

Kini anak anak Suku Laut yang muslim telah dapat belajar mengaji dengan ustadz  Hadi, mereka tidak lagi harus pergi ke pulau Nanga berciau. Kalau hari hujan dan gelombang seperti saat ini, jangan kan menyeberang laut, nak berangkat ke mushala di dekat rumah saja  berat rasanya.

Sejak sepekan ini hujan turun tiada henti, hampir seluruh wilayah Batam hujan turun terus menerus. “jadi pak RT dari Melagan tak dapat datang” kata ustadz Dari via ponselnya. Pak RT Pulau Melagan ini adalah yang membangun mushala dan rumah untuk ustazd Dari. Pulau Melagan pula terletak antara Pulau Karas dengan Pulau Teluk Nipah.

Pulau Boyan

Memang dalam  pekan terakhir ini kami rada sibuk, maklum kami kedatangan tamu, yaitu ustadz kiriman AMCF dari Jakarta. yang akan di tempat kan di pulau pulau terpencil di kepulauan Riau.   Ada yang akan ke Natuna, Lingga, Tanjung Balai Karimun dan di kepulauan Batam sendiri.

Salah satunya adalah ustadz Tasman. Ustadz yang masih belum berkeluarga ini di tempatkan di Pulau Boyan. Pulau Boyan tak berapa jauh dari Senggulung atau Pulau Buluh. Di Pulau Boyan itu kami dirikan juga sebuah mushala, sama bentuk dan ukurannya dengan yang di Pulau Lingka.

Di Pulau Boyan ada Pak Panjang, pak Panjang ini adalah orang Suku Laut lelaki yang paling tua agaknya.  Dia lah yang menganjurkan kan kepada kami untuk mendirikan mushala disitu.

Tidak semua suku laut di Pulau Boyan yang kecil itu beragama Islam. Ada keluarga yang ibunya Islam tetapi anak anaknya sudah menganut agama lain. Mereka semua adalah masih kerabat pak Panjang, orang pulau itu memanggil pak Panjang  atok.

Pak Panjang telinga nya rada pekak, maklum sudah tua, itulah sebabnya dia mengharapkan ada sound system atau load speaker terpasang di mushala, agar laungan azan terdengar. Memang belum ada pengeras suara di mushala – mushala yang kami dirikan.

Ustadz Tasman sementara ini tinggal  di rumah  pak RT. Kemarin ada sumbangan beberapa helai sajadah dari pak Yahya untuk mushala di Pulau Boyan ini. Pak Yahya adalah orang Dinas Pendidikan Kota Batam.

Di Pulau Pulau sekitaran Batam ada 19 buah mushala yang sudah selesai dan sedang dibangun, sebagian besar mushala itu sangat membutuhkan sajadah.   Maklum lah karena keberadaan mushala itu memang di tempat minoritas muslim terutama suku laut yang memang sangat membutuhkan bantuan.

Kemarin kami juga mendapat bantuan beberapa buah tangki air kapasitas 1.000 ton yang terbuat dari fiber glass dari seorang anggota KPU Batam,  tangki-tangki air tersebut telah kami distribusikan ke mushala yang membutuhkan.

Siapa lagi agaknya menyusul ya..?????

3 Tanggapan

  1. Yth. Pak Imbalo, kalau boleh tau pulau apa saja disekitaran Batam yang banyak terdapat batu-batuan untuk fondasi bangunan. Terima kasih.

    Suka

  2. semua pulau itu kayak nya terdiri dari batu batuan….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: