Suku Asli Batam


Pak Manan di depan gubuk nya

Pak Manan di depan gubuk nya

Kalau di Kalimantan (Borneo) atau di Sumatera (Andalas) ada suku Asli yang tak terjamah pembangunan, kita masih maklum, karena begitu besar dan luasnya kedua pulau itu. Tetapi ini di Batam,  bukan pula di pulau pulau kecil disekitaran nya yang memang banyak bertebaran, seperti di Teluk Paku misalnya,  kampung Teluk Paku ini  masuk kelurahan Pulau Buluh Kecamatan Bulan Lintang. Disitu,  bermukim suku Laut, yang  terkadang mereka di sebut  orang sampan. Dulunya mereka memang nomaden. Kalau tak terjamah tak heran lah, orang bisa bilang mereka kan  nomaden .

Mushalla di Tanjung Gundap

Hari itu Kamis (21/10), adalah  Umar  yang memberitahukan kami kalau ada orang suku Asli di Batam. Umar adalah penduduk kampung Tanjung Gundap Tembesi Batam, pria 37 tahun ini sedang mengerjakan mushalla yang kami buat untuk suku Laut di kampung Gundap Dapur Arang.

Di Tanjung Gundap, di pinggir pantainya itu bermukim suku laut, disitu ada Dapur Arang, dari puluhan kepala keluarga suku laut yang tinggal disitu, hanya tiga keluarga saja yang ber-agama Islam, selain nya sudah menjadi Nasrani. Suku Laut Tanjung Gundap disamping sebagai Nelayan mereka juga mencari kayu bakau (mangrove) untuk di jadikan arang kayu.

“Bukan lah pak suku laut, malah mereka disebut suku darat, suku asli Batam” tegas Umar agar lebih  menyakinkan kalau yang dimaksud itu suku asli yang memang sudah lama sekali bermukim.

Jadilah kami janjian,  keesokan harinya akan mengunjungi kampung tempat tinggal suku asli yang disebutkan oleh Umar tadi. Rencana kesana sebenarnya hendak melihat lokasi tempat untuk mendirikan  mushalla,  sebagaimana mushalla di Tanjung Gundap, karena menurut Umar,  belum ada  mushalla  diperkampungan suku asli Batam itu.

“Boleh lah pak disana dibangun satu buah mushall macam yang di Gundap ini”  kata Umar lagi.

Jumat pagi (22/10) Dari Bengkong sekitar pukul 8  dengan Toyota Rush,  berlima,  kami menuju Tanjung Gundap, hendak menjemput Umar terlebih dahulu karena dia sebagai guiede nya,  saat itu hujan turun dengan lebatnya, di tingkah dengan kabut kiriman dari Daratan Riau, jadi perlu ekstra hati- hati berkendaraan di jalanan yang sama sekali belum beraspal,  apalagi menanjak dan menuruni bebukitan hampir sepanjang 5 kilo meter  menuju ke tempat Umar.

Pak Manan dengan kedua putranya yang masih bertahan hidup di kampung itu

Pak Manan dengan kedua putranya yang masih bertahan hidup di kampung itu

Keluar dari Desa Tanjung Gundap setelah Umar duduk manis, hujan masih turun dengan lebatnya, sampai menjelang  desa Pulau Nipah,  Jembatan 2,  hujan agak mulai mereda sedikit, baru lah selepas Pulau Setokok Jembatan 4 hujan berhenti.

Pulau Rempang kami lalui,  ternyata Umar tak tahu persis dimana lokasi perkampungan orang Asli dimaksud. Harus bertanya dulu ke pak RT di Cate Rempang , pak RT ini masih saudara Umar. Karena memang kami pun berencana hendak ke Pulau Kalo, Pulau Kalo ini sekitar 4 mil dari pinggir kelurahan Cate Rempang.

Karena hari sudah menjelang tengah hari, kami putuskan untuk ke perkampungan suku asli selepas Shalat Jumat. Jadilah hari itu kami Jumatan di Masjid Cate Rempang .  Selepas shalat Jumat dipandu naik speda motor oleh dua orang pemuda kampung Cate, kami berangkat ke perkampungan suku asli Batam.

Tok Batin Cate Rempang

Sedikit tentang Cate,  Cate adalah salah satu kampung tua Batam, disitu dulu ada tok Batin (lurah) yang sangat peduli dengan pendidikan, salah seorang putra dari tok Batin itu kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Drs H Muslim Bidin Mpd.  namanya.

Konon kabarnya keluarga  tok Batin inilah yang mengislamkan orang orang suku asli tadi,  jauh sebelum ada jembatan barelang yang menghubungkan 7 pulau menjadi satu. Jadi waktu itu hubungan ke pulau pulau dimaksud melalui laut. Dan sebelumnya pun Cate dibawah pemerintahan Tanjung Pinang.

Disepanjang jalan yg kami lalui Umar pun bercerita kalau dulu sebelum ada akses jalan seperti ini  kehidupan ekonomi antara orang kampung Cate dengan suku hutan atau asli tadi dengan sistem barter. “Mereka meletakkan barang barang yang akan ditukar di pinggir jalan setapak yang sering dilalui” jelas Umar .

Kampung Cate terletak di pinggir pantai, setelah ada akses jalan trans Barelang, tambah mudah akses kesana. Masuk ke kampung Cate jalanan tanah berboksit  sekitar 7 kilometer, hanya mendekati kampung Cate sekitar 2 kilometer jalan yang beraspal, aspal ini dibangun saat Nyat Kadir menjadi walikota Batam.

Jalan Bumi Melayu

Untuk ke perkampungan atau  tempat tinggal suku asli, kita harus keluar kembali dari kampung Cate ke jalan trans Barelang tadi.

rumah Pak Manan

rumah Pak Manan

Sampai ke jalan besar trans Barelang, masih sekitar 2 kilo meter lagi arah ke Pulau Galang ada jalan kecil belok ke kiri, dipinggir jalan ada plang jalan  masih baru terlihat tertulis Jalan Bumi Melayu berwarna hijau,   jalan ini dapat dilalui kenderaan roda empat, kiri kanan jalan itu hutannya sudah ditebangi dan dibuat kebun. Kalau lah hari hujan jalanan itu tak dapat dilalui kenderaan kecil, karena terlihat lubang lubang bekas roda  kenderaan  dan hamparan kayu yang banyak bertebaran di sepanjang jalan,  agaknya kayu dan balok itu dibuat sebagai pengganjal roda kenderaan.

Kami terus masuk ke dalam hutan mengikuti speda motor yang memandu kami, tetapi ada sebuah jembatan kayu melintasi sungai kecil yang memaksa Toyota Rush kami tak dapat melanjutkan perjalanan. Terpaksalah teman teman yang lain menunggu di situ dipangkal jembatan dan aku di bonceng bertiga speda motor melanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan sekitar 3 kilometer lagi.

Kami terus melaju dijalanan yang berbukit tanah jalanan nya tergerus oleh erosi hujan, masih dengan pola yang sama hutan disitu telah hampir semua dirambah orang dari Batam.

Dari jauh terlihat seorang lelaki tua  memikul batang pokok ubi kayu, mendengar suara speda motor kami,  ianya menepi. Kepadanya lah kami tanyakan dimana letak perkampungan suku asli.  Agak parau suaranya terdengar sembari  menunjukkan kalau jalan ke perkampungan yang kami maksud sudah terlampaui, ternyata bapak tadi juga termasuk orang suku asli. Tak sampai hati melihat nya berlama-lama berdiri memikul ikatan batang pokok ubi kayu hampir sepanjang 3 meter . Kami pun berputar arah menuju jalanan setapak yang ditunjukkan oleh bapak tua tadi.

Rumah Takong , bantuan dari Pemko Batam

Rumah Takong , bantuan dari Pemko Batam

Tak jauh dari simpang itu terlihat sebuah bangunan dari kayu berkolong tetapi  sebagian tak berdinding  dan tak berpenghuni, agak ke kanan sebuah pondok usang pintunya tertutup, disamping nya ada bangunan rumah  permanen agaknya type 36 ber cat kuning. Dua ekor anjing menyalak menyambut kami, pintu rumah bercat kuning itu terbuka seorang perempuan muda sedang menggendong anak nya keluar.

Perempuan itu mengangguk,  setelah kami tanyakan benarkan ini perkampungan suku asli. Tak berapa lama seorang lelaki muda tak berbaju pun keluar dari rumah itu. Salam kami dijawabnya.  Lelaki muda itu bernama Takong, dan perempuan tadi adalah isterinya.

Anak Cucu dan Cicit Pak Manan

Dari jauh datang lagi seorang lelaki tua membawa sebilah parang, tersenyum kepada kami, Lelaki ini bernama pak Bujang , rumahnya agak jauh dari rumah bercat kuning tadi, sekitar 30  meter tetapi masih jelas kelihatan terbuat dari kayu sepertinya baru diperbaiki bagian depannya.  Takong adalah menantu pak Bujang.

Di depan rumah Takong ada gubuk reot berdinding triplek dan sebagian lembaran daun nipah yang dianyam ukuran 3 kali 3 meter pintu masuk nya haruslah kita merunduk baru bisa masuk.  Dari pintu itu keluar seorang  lelaki tua, kelihatan sudah sepuh dan bungkuk, dia terseok seok berjalan menghampiri  kami sembari berusaha mengkancingkan bajunya, ternyata kancing bajunya tak ada lagi bagian atasnya.  Ada gondok benjolan sebesar telur ayam di lehernya, semakin jelas terlihat saat dia berbicara.

Pak Manan nama orang tua tadi, adalah ayah kepada pak Bujang,  rupanya pak Manan baru selesai mebersihkan kotoran isterinya yang sudah bertahun tahun tak bisa lagi membersihkan diri nya sendiri , karena lumpuh dimakan usia tua. Jadi isteri pak Manan terbaring lemah di dalam pondok reot tadi. Ya….. buang air besar dan kecil pun disitu.

isteri pak Manan berusaha keluar menampak kan diri tetapi kaki nya tak dapat di gerakkan nya lagi

isteri pak Manan berusaha keluar ke depan pintu untuk menampak kan diri tetapi kaki nya tak dapat di gerakkan nya lagi

Kami menghampir ingin melihat kondisi isteri pak Manan, tapi tak terlihat langsung tak ada penerangan  karena memang tak ada jendela di pondok kecil itu, pintu tempat keluar pak Manan lah satu satu nya yang terbuka . Di depan pintu itu sebuah bangku yang berfungsi juga sebagai tangga untuk masuk . Disamping nya ada tong plastik bekas cat berisi air yang digunakan untuk istinjak isteri pak Manan.  Bau pesing dan bau kotoran manusia menyerbak disekitaran pondok itu, bagi kita yang sering mengurus orang lumpuh hal – hal seperti itu sudah jamak dirasakan. Mendengar kami mendekat ke pondooknya,   isteri pak Manan berusaha juga hendak keluar, terlihat kaki nya terjulur, hanya kaki nya saja, dia pun tak kuasa lagi bergerak.

Pak Manan pun mempunyai seorang perempuan bernama Yang Adek, dia lah satu satunya perempuan anak pak Manan, mak Yang Adek adalah ibu dari Takong, bapak Takong pula bernama Ko Ko , sejak lagi Takong kecil ayah nya sudah meninggal, ibu Takong mak Yang Adek menikah lagi, Ia di karunia  3 orang anak , tak satu pun  adik beradik Takong lain ayah yang bersekolah. “Dulu saya sempat sekolah di Cate” kata Takong. Takong tak tamat SD.  Takong masih punya makcik yang tinggal di kampung Cate adik ayahnya almarhum namanya mak Yang Mah.  Seorang anak lelaki pak Manan bernama Opo belum menikah lagi, pak nga Opo ini adik pak Bujang.

Adik adik Takong lah sekarang ini belajar mengaji dengan seorang Ustadz yang datang ke kampung itu se jumat sekali. Ustadz Samsul namanya, telah tiga tahun belakangan ini  ianya pulang pergi setiap jumat petang datang ke kampung itu.  Bangunan berdinding separuh tadi dulunya di gunakan untuk tempat mengaji, karena lantai nya agak lapuk sudah tak dipergunakaan lagi. Takut jatuh.

Sambil bercerita dengan Takong cucu pak Manan ini, anak kecil seusia 2 tahun berlari menghampiri seseorang, ternyata pak Lamat. Terlihat akrab dia dengan pak Lamat, meskipun bukan atok kandung nya, nampaknya pak Lamat sayang kepadanya. Anak kecil itu adalah cicit pak Manan.

Pak Lamat orang tua yang kami temui di jalan tadi datang menghampiri kami, senyum nya masih tetap mengembang, matanya terlihat basah agak berair,  pak Lamat adalah anak tertua dari pak Manan, ia  tinggal bersama isterinya, rumahnya  tak jauh dari bangunan yang dindingnya separuh tadi, dari tempat kami berdiri tak terlihat karena  terhalang oleh kebun ubi kayu. Pak Lamat pria 60 tahunan ini selama menikah tak dikaruniai seorang anak pun. Isterinya hanya dirumah saja karena matanya sejak beberapa tahun yang lalu menjadi buta tak dapat melihat lagi, mungkin kena katarak.

“Tolong pak kalau ada yang bisa bantu untuk mengobati istri saya ” pinta pak Lamat masih dengan senyum khas nya.

Pak Lamat pun minta kalau bisa di berikan beras dan juga gula serta kopi. Menurut pak Lamat hasil ubi yang di tanamnya hanya untuk di makan sendiri. “Tanah kami tak luas hanya sekitar 3 hektar saja, ya memang itu sejak dulu” kata pak Lamat

Rumah pak Bujang

Rumah pak Bujang

Pak Bujang pula punya tiga orang anak, seorang anak perempuannya  telah menikah dan mengikuti suaminya ” Tinggal di bawah tower dua telkom itu” ujar Takong menjelaskan kalau ada dua buah tower telpon selular di pinggir jalan masuk ke kampung Sadap, kampung tempat tinggal suku asli Batam. .

Rencana Bangun Mushalla di Kampung Sadap

Rencana lokasi mushalla

Rencana lokasi mushalla

Jadi di kampung Sadap orang asli Batam hanya tinggal anak beranak pak Manan, menurut Pak Manan yang sudah bercicit itu sudah tak larat lagi nak pergi ke kampung Cate untuk menunaikan shalat Jumat, seperti Jumat tanggal 21 Oktober yang lalu.

Rencana kami hendak membangun mushalla di kampung pak Manan itu disambutnya dengan antusias,   lokasinya tak jauh dari  bangunan yang dinding nya separuh tadi.

“iya kita bangun di dekat  tapak bangunan yang dah rosak tu” kata pak Manan.

Itulah sedikit gambaran tentang suku asli Batam dan tak tahulah apakah bisa disebut kebun ubi dan beberapa pondok itu disebut perkampungan.

Masih banyak yang akan kami perbincangkan dengan pak Manan beserta keluarganya, kami pun berjanji akan datang lagi kesitu Insya Allah sekalian merealisasikan pendirian mushalla di sana. Insya Allah.

8 Tanggapan

  1. masih ada kelanjutannya ini, pak???

    Suka

  2. Sangat bertolak belakang ya dengan yg kita denger bahwa di batam itu makmur

    Suka

  3. Assalamualaikum wr. wbr.

    Salam kenal Pak Imbalo, senang sekali bisa membaca tulisan2 bapak yang sangat bernas dan membuka mata saya terhadap kondisi masyarakat suku laut di Batam.

    Secara tidak sengaja saya bisa menemukan blog bapak ini karena kebetulan saya sedang ada pekerjaan untuk melakukan identifikasi pembangunan rumah swadaya di kawasan perbatasan, pesisir dan pulau2 kecil yg ditugaskan oleh Kementrian Perumahan Rakyat. Lokasi yang ditentukan ada 4, diantaranya adalah prov.Kep.Riau.yang mewakili daerah pulau-pulau kecil. Untuk pekerjaan ini saya sdh survey di bln Agustus lalu ke Tanjung Pinang. Sayangnya lokasi yg direkomendasikan oleh pjbt di Bappeda Prov.hanya di Tanjung Pinang. Saya baru tahu sekilas ada kebijakan penanganan rumah swadaya oleh Pemkot Batam utk suku laut stlah saya pelajari data2 sekunder berupa materi presentasi rapat koordinasi kab/kota se Kep.Riau. Oleh krn itu saya kemudian search di internet mengenai suku laut, dan mendapatkan alamat blog bapak.

    Bila bapak berkenan dan memiliki data atau akses ke pihak-pihak terkait yang telah menangani dan terlibat dalam program bantuan bagi pembangunan rumah secara swadaya (baru maupun rehab) untuk suku laut di Batam, bolehlah saya bisa mendapatkan data maupun informasinya. Tujuan dari kegiatan pekerjaan saya ini adalah memunculkan gambaran kondisi perumahan/permukiman yg krng layak dan memetakan pembangunan rumah swadaya dengan bantuan pemerintah pusat/daerah di kawasan pulau2 kecil yg telah berjalan, untuk kemudian menjadi rekomendasi masukan bagi Kementrian Perumahan Rakyat untuk perbaikan dan kebijakan dan program selanjutnya.

    Mohon maaf sebelumnya bila dirasa merepotkan. Besar harapan saya utk dapat berteman dan bekerja sama dengan bapak selanjutnya.

    Wassalamualaikum wr.wbr.

    Syaifudin Ishar (sishariza@yahoo.com)

    Suka

    • ass wr wb .

      Terima kasih atas apresiasinya.
      Terus terang saya pun tak punya akses ke pihak pihak terkait seperti pemko/pemkab…….. hanya saja agaknya mungkin mereka juga sama dengan pak Syaifudin Ishar membaca tulisan saya di blog. Dan memang terkadang tulisan tulisan yang saya buat, saya posting ke dinding FB teman-teman dari pemko / pemkab, maupun provinsi. Terkadang saya tulis di Buletin Jumat yang diedarkan setiap jumat ke puluhan masjid yang ada di Batam.

      Saya pun senang seperti sudah dibangun / di rehab nya beberapa rumah untuk suku asli batam di kampung Sungai Sadap Rempang. Seperti di Pulau Gara misalnya, disana pun mereka memerlukan ruang sekolah untuk belajar. baca Syarat -Syarat Lain Menjadi Calon Gubernur Kepulauan Riau. https://imbalo.wordpress.com/2010/01/31/syarat-syarat-lain-menjadi-calon-gubernur-kepulauan-riau/.

      Masih banyak sekali yang butuh perhatian, apalagi untuk tempat tinggal suku laut, kepulaua riau yang disebut pulau segantang lada ini, banyak yang berpenghuni terkadang 5 kepala keluarga saja. Wah saya pun senang sekali kalau dari Pemerintah Pusat turun tangan langsung melalui Kementrian Perumahan Rakyat. Rumah – rumah mereka kalaupun itu layak disebut rumah sangat memprihatinkan, saya siap untuk mengantar kan ke lokasi lokasi yang dimaksud,

      Meskipun mereka (orang suku laut) itu sangat membutuhkan, tetapi saya juga tidak mau nantinya dianggap teman teman yang di pulau itu mengekspoiltasi atau mencari keuntungan dari mereka. Dalam hal ini mereka sangat sensitif.

      Saya sengan berteman dengan pak Syaifudin , mudah mudahan kita bisa jumpa di Batam.
      Salam

      Suka

  4. sebahagian jejak ini pernah aku lalui…. batam itu sbnrnya patut dijadikan contoh prkembangan indstrinya

    Suka

  5. […] lagi yang seperti pak Kosot dan mak Lilin, Suku Asli Batam yang berganti aqidah, karena kebijakan Desa menjadi […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: