Hewan Qurban untuk Ibadah Haji


Cost of the coupon in Saudi Ryals

Cost of the coupon in Saudi Ryals

Alhamdulillah tahun 1429 Hijriyah yang lalu bertepatan dengan tahun 2008 Masehi bersama isteri aku pergi Haji.

Haji Tamatuk, berangkat kloter pertama dan gelombang pertama dari embarkasi Batam sebanyak 450 orang, semua menuju Madina. Sejak lagi di asrama haji saat hendak berangkat kami sudah di wanti wanti soal hewan Dam. Yaitu tadi karena sebagian besar jamaah haji Indonesia melaksanakan haji Tamatuk.

Ketua rombongan sudah membisikkan kalau harga hewan Dam atau pun Qurban sekitar 300 riyal per ekor nya. Sampai saja di Hotel di Madina, sudah banyak orang orang mukimin disana menawarkan hewan Dam tadi. Bahkan ada yang berani menawarkan harga dibawah 300 riyal.

Sebagai Jamaah yang baru sekali melaksanakan Haji, tak lah begitu mengerti permainan calo calo hewan Dam dan juga Qurban ini. Jadi sama seperti dengan teman teman yang lain satu kloter aku juga ikut menyetorkan uang sebesar 600 riyal yang terdiri dari 2 ekor hewan (kambing) satu ekor untuk Dam karena haji Tamatuk dan satu ekornya untuk Qurban.

Keesokan harinya  di lobi hotel maupun sambil makan serapan pagi di restoran yang tak jauh dari masjid Nabawi ada saja orang  menawarkan hewan untuk di jadikan Hadyah ini. Hal ini membuat kita agak terganggu sedikit, apalagi ada yang mulai curiga kepada ketua rombongan, bayangkan 30 sampai 50 riyal per ekor selisih nya kalikan sekian ekor sudah berapa?.

Ketua Rombongan pun menjelaskan bahwa nanti di Makkah kita akan dibawa ke tempat pemotongan, jadi tidak usah khawatir lah kalau bohong bohongan, yang ini di jamin. Karena konon kabar nya banyak jamaah haji yang tertipu soal ini.

Hewan di Potong sebelum hari Tasyrik

Setelah selesai Arbain di Madina, jemaah berangkat ke Mekah. Sebagaimana janji semula, rombongan yang telah menyetor kan uang melalui Ketua Rombongan (karena kita juga di ingatkan kan harus taat kepada ketua rombongan)  untuk hewan Hadyah tadi dibawa ke tempat pemotongan hewan agak keluar kota Mekah, disitu, tak begitu ramai mungkin karena belum semua jamaah datang ke tanah Haram ini. Tetapi memang yang banyak terlihat di tempat piaran sementara itu dan pemotongan hewan ini adalah jamaah dari Indonesia.

Ada beberapa orang Jamaah terutama lelaki yang masuk ke tempat penyembelihan melihat hewan  yang akan di potong, dan setelah keluar, terlihat ada yang baju nya terkena percikan dara.  Sebagian jamaah lainnya duduk duduk tak jauh dari pintu masuk sembari berselindung dari panas matahari yang mulai menyengat,  menutup hidung karena memang di sekitar tempat pemotongan itu bau anyir dan amis darah.

Beberapa hewan kebanyakan unta yang di giring masuk ke tempat pemotongan tadi. Jagal yang hilir mudik dengan kulit gelap terkadang tak berbaju  meninting parang panjang mengkilat. Jamaah pun berbisik bisik , karena sebagian dari unta unta yang di giring itu tubuh nya kecil.

Mobil pick up hilir mudik membawa daging yang telah di potong. Sebagian Jamaah pun ada yang meminta di bawakan hati unta. Karena ada pesan dari kerabat di Kampung (Indonesia)

Begitulah caranya memotong hewan di Mekah dan penyembelihan ini dilaksanakan jauh hari sebelum hari Tasyik yang empat hari itu. Ternyata hal ini pun berlaku juga kepada rombongan haji Indonesia Gelombang kedua (langsung dari Indonesia ke Mekah) .  Mengapa hewan Dam dan Qurban di potong belasahan hari sebelum hari Tasyrik, konon katanya untuk menghindari keramaian lagian orang Indonesia kebanyakan ingin menyaksikan hewan Hadyah itu di sembelih.

Bank Rajhi

Ada selisih pendapat tentang hal pemotongan hewan ini, apakah di potong di Mekah atau di Mina. Ulama setempat menjelaskan pada saat ada pengajian dan pertanyaan selepas shalat fardhu di masjid yang banyak disekitar pemondokanMekah,  hewan itu seharusnya di potong selepas shalat ied dan selama hari Tasyrik. Bukan sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan jamaah asal Indonesia katanya.

“Ini sedikit penjelasan tentang itu”

Penyembelihan hewan qurban dalam rangka ibadah haji dilakukan adakalanya sebagai Dam dan bukan sebagai Dam. Membayar Dam penyembelihannya wajib dilaksanakan di Mina, tanggal 10 Zulhijjah, sedangkan menyembelih hewan qurban (bukan Dam) bisa dilaksanakan di mana saja, mulai usai shalat Ied sampai akhir hari Tasyriq. Membayar uang qurban melalui Bank yang biasa dilakukan jamaah haji Indonesia, hanya merupakan jalan pintas agar jamaah haji tidak direpotkan de­ngan mencari/menyembelih hewan qurban. Tentang kesahannya qurban lewat Bank, insya Allah terjamin.

Selanjutnya bahwa menyembelih hewan qurban (Dam) menurut tuntunan Nabi saw dilaksanakan di Mina, sebagaimana hadis riwayat Muslim dari Jabir, sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَحَرْتُ هَاهُنَا وَمِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ فَانْحَرُوا فِي رِحَالِكُمْ [رواه مسلم عن جابر]

Artinya: “Nabi bersabda: Saya menyembelih hewan ternak di sini (Mina). Mina seluruhnya adalah tempat menyembelih ternak. Maka sembelihlah di rumah kamu masing-masing (Mina).”

Sedangkan berqurban (udhiyah) itu hukumnya sunat dan diutamakan penyembelihannya di tempat shalat masing-masing, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi saw riwayat al-Bukhari dari Ibnu Umar:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِاْلمُصَلَّى [رواه البخاري عن ابن عمر]

Artinya: “Nabi saw menyembelih dan berkurban di tempat shalat.”

Haji hanya sekali seumur hidup dengan biaya begitu besar,  Aku pun berunding dengan isteri menyikapi hal itu, dan segera menyetor uang ke Bank Rajhi sebesar 395 riyal perorang untuk satu ekor hewan kambing dengan perincian 321 riyal untuk hewan nya dan transportasai dan distribusi sebesar 74 riyal. Aku di berikan kupon tanda penyetoran dan kupon itu juga berlaku sebagai bukti pengambilan sebagian daging nantinya di Mina.

Ada beberapa teman yang juga ikut menyetor ke Bank kembali, dan setoran yang telah terlanjur di serahkan ke Ketua Rombongan tak apalah pikirku. Insya Allah living cost yang di berikan kepada kita cukup untuk itu.

Jauh sekali beda suasana tempat pemotongan hewan yang pertama itu tadi  dengan yang ada di Mina, rumah pemotongan tak jauh dari tempat kemah para jamaah haji, bersih dan teratur dan tentunya dilengkapi dengan pendingin , namun aku tak jadi mengambil daging jatahku karena sayang ditukarkan kuponnya, sebagai bukti dan kenang kenangan  untuk aku menuliskan kisah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: