Azan Pertama di Desa Tiang Wang Kang Batam


Berbuka di terangi lampu patromax di Mushalla Tiang Wang Kang

Berbuka di terangi lampu patromax di Mushalla Tiang Wang Kang

Entah berasal dari mana perkataan  Tia Wang Kang, tetapi yang jelas Tia Wang Kang adalah nama satu perkampungan nelayan di kecamatan Sagulung Pulau Batam. Tak banyak penduduknya,  hanya sekitar 40 kepala keluarga (KK). Disitu terdapat sebuah restoran sea food yang di kelola oleh warga keturunan. Restoran itu memanjang dan menjorok ke laut.  Tia Wang Kang, terkadang terdengar orang menyebutnya  Tiang Wang Kang, agaknya mungkin dari bahasa Cina. Dan memang lah disitu banyak Toke Cina.

Lokasi tepatnya adalah sebelum Jembatan satu, Jembatan Haji Fisabillah itu ada simpang jalan ke kanan, masuk sekitar 3 kilometer ke dalam jalan beraspal rapi. Dan sekitar limaratus meter setelah itu, ada jalan tanah berbouksit, sampailah di kampung Tiang Wang Kang.

Apa ya agaknya yang istimewa dengan Tiang Wang Kang perkampungan nelayan ini?.  Tak  ada yang istimewa,  seperti perkampungan nelayan jamaknya di Batam saat ini, mereka pun terimbas dengan pembangunan Batam terutama industri perkapalan nya, yang sangat berdampak negatip terhadap kehidupan biota lautnya. Kini di depan alur laut Tiang Wang Kang dan Tanjung Gundap sedang hilir mudik tongkang mengangkut pasir, konon kabarnya pasir laut yang di keruk itu adalah proyek pemerintah membuat dam Sagulung, jadi  tak heran lah kalau air laut dan trumbu karang rusak di daerah itu.

Kehidupan masyarakatnya terutama keagamaan meskipun Batam daerah melayu,  dari 40 KK yang ada disana,  hanya 4 keluarga yang beragama Islam. Itupun dua KK adalah pendatang. “Yang lain sudah masuk agama Kristen” ujar isteri Pinci, perempuan paro baya yang tak jauh rumah nya dari restoran sea food itu. “Dulu orang kampung sini  mengadu dan minta diajari tentang Agama Islam, karena tak ada yang mau datang kemari” jelasnya lagi. Dan perkampungan yang paling dekat dengan Tiang Wang Kang adalah Pulau Panjang. Pada saat itu dari dan ke Tiang Wang Kang hanya ada transport laut.

Tak lama selepas terbuka nya akses jalan darat dari Batam kebeberapa pulau disekitarnya, seperti Pulau Nipah, Pulau Setokok, Pulau Rempang , Pulau Galang, Pulau Galang Baru yang menghubungkan tujuh buah pulau dengan enam jembatan, terbuka pula lah akses jalan ke perkampungan nelayan Tiang Wang Kang.  Dan orang kampung yang minta diajari Islam tadi,  diajari dan di ajak pula oleh orang yang bukan beragam Islam, sejak itu pula mereka pun mencantumkan di Kartu Tanda Penduduk ((KTP) nya agama Kristen. Karena identitas sebagai Agama yang dianut harus lah dicantumkan di KTP.

Shalat Magrib dan berbuka bersama di Mushalla Muhammad Pinci

Mushalla Muhammad Pinci Tiang Wang Kang, belum begaitu selesai, tetapi sudah digunakan untuk shalat

Mushalla Muhammad Pinci Tiang Wang Kang Batam, belum begitu selesai, tetapi sudah digunakan untuk shalat

Batam, Rempang, Galang yang populer dengan Barelang, disekitaran pulau pulau itu banyak terdapat Suku Laut, Suku Laut ini dulu nomaden, berpindah pindah dan hidup di dalam sampan, sehingga ada yang menyebut mereka orang sampan.  Dan di klaim tak beragama, meskipun kalau di telusuri asal muasal mereka adalah  berasal dari Negeri Johor,  saat  Negeri itu di Perintah Raja Johor, yaitu Sultan Mahmud yang terkenal itu, terjadi perang saudara, sebagaimana kita ketahui Sultan Mahmud Mangkat di Julang dan Sultan ini tidak mempunyai Juirat (keturunan), dan Suku Laut adalah kelompok penyokong atau berpihak kepada yang kalah.  Jadi bukanlah mereka tak beragama, tetapi tak belajar agama Islam. Bagaimana nak belajar agama kalau hidup di atas sampan dan takut diserang pula oleh musuh. Jadi sejak nenek moyang mereka, orang sampan atau suku laut itu telah beragama dan agama mereka Islam.

Banyak data dan fakta yang mendukung ini. Nanti kita bahas dalam lain tulisan. Kembali ke Tiang Wang Kang. Satu Keluarga yang masih tetap bertahan dalam Islam adalah Pinci, Pinci pun dulunya bukan Islam, sejak menikah dengan isterinya yang masih berdarah Cina Muslim ini, namanya berubah Muhammad Pinci.

Isteri Pinci banyak bercerita tentang suka dukanya sebagai minoritas di mayoritas khususnya di Desa Tiang Wang Kang, padahal  Islam mayoritas di Indonesia.”Anak-anak jauh belajar agama  ke Pulau Panjang”. keluhnya, tak ada langsung sarana ibadah di tempat kami, manalah kami mampu nak membuat mushalla.

Tetapi dia merasa terhibur jua terkadang bila ada tamu restoran yang hendak sembahyang .  “Kalau ada tamu – tamu restoran yang nak shalat, mereka mestilah ke rumah kami”. ujar isteri Pinci.

Petang itu Ahad (4/9) kami berbuka bersama di Tiang Wang Kang.  Sekalian Shalat magrib pertama di Mushalla yang belum begitu rampung, tetapi sudah dapat di tempati, karena lantainya sudah terpasang keramik putih, sudah terpasang plafond dari triplek, sebagian dindingnya pun sudah di cat putih. Mushalla ukuran 5 x 5 meter itu adalah sumbangan dari Yayasan Muslim Asia, bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam dan Yayasan Hang Tuah Batam.

Dan Azan petang itu adalah Azan pertama berkumandang di perkampungan Tiang Wang Kang.  Muhammad Pinci, terlihat terharu, teropoh gopoh dia membentangkan satu lembar karpet ukuran 2 x 3 meter, yang dibawa dari rumahnya untuk dipakai para jamaah lelaki. Jamaah perempuan pula tak ada alasnya. Dan tak ada juga  sajadah untuk Imam, hanya selembar sapu tangan yang di letakkan di tempat sujud. Begitulah suasana shalat magrib berjamaah pertama di Mushalla itu.

Lampu Patromax (minyak tanah), menggantung di paku  dikosen pintu yang belum berdaun menerangi kami berbuka puasa, ada sekitar 30 orang termasuk anak-anak sebahagian masyarakat dari Pulau Panjang yang masih termasuk kerabat dan keluarga Muhammad Pinci ikut meramaikan ifthar kami. Ifthar ini atas inisiatif ustadz Subur asal Surabaya. Kami bawa tambahan sepuluh bungkus nasi yang kami beli dari kedai Ito, berikut kurma sumbangan dari AMCF. Ustadz Subur lah yang menjadi Imam shalat magrib pertama di Mushalla yang kami beri nama Mushalla Muhammad Pinci ini.

Mushalla yang berdiri persis disamping Gereja ini belum lagi memiliki tempat wuduk, apalagi kamar mandi. Ini adalah Mushalla kedua yang kami shalati pertama kali setelah Mushalla Taman Dayang di Selat Desa Ngenang di dalam bulan Puasa Ramadhan 1431 H .

Kalau di Mushalla Taman Dayang kami berwuduk dengan air laut, di Tiang Wang Kang, sebelum berangkat ke Mushalla kami berwuduk terlebih dahulu di sumur yang cukup rapi berdinding dan beratap, sumur ini terletak agak ke pinggir pantai persis di depan Gereja. Sementara Mushalla Muhammad Pinci yang kami beri nama seperti itu, lokasi nya agak keatas, karena memang disitulah ada lokasi tanah milik Muhammad Pinci yang di wakafkan nya untuk pertapakan Mushalla.

Mudah mudahan dari Mushalla kecil mungil ini akan tersiar Islam, “Puluhan tahun saya menetap disini, inilah baru pertama kali terdengar Azan” kata Muhammad Pinci terharu. “Dan kalau ada tamu – tamu restoran datang nak shalat, ada lah tempat yang kami tunjuk” kata isteri Pinci pula menimpali. Dan anak-anak kami pun dapat belajar Al-Quran dan Agama tambahnya lagi. InsyaAllah.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Terharu membacanya…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: