Gunung Sinabung Yang Pernah Kudaki Itu Kini Meletus


Pramuka Saka Bayangkara

Gunung Sinabung Kabanjahe Sumatera Utara, Desa Guruh Kinayan sebelah kiri mulai pendakian dan Desa Lau Kawar tempat Finis kaki gunung sebelah kanan.

Gunung Sinabung Kabanjahe Sumatera Utara, Desa Guruh Kinayan sebelah kiri mulai pendakian dan Desa Lau Kawar tempat Finis kaki gunung sebelah kanan.

Iya Gunung yang sekarang mengeluarkan lava panas nya itu pernah ku daki, itu terjadi pada awal tahun 70 an . Aku adalah salah seorang anggota Pramuka Gugus Depan Medan 3- 6 , yang tergabung dalam Saka Bayangkara di  Komdak II Sumatera Utara, Dulu namanya Komdak  (Komando Daerah Kepolisian) , ya kalau sekarang ini setingkat POLDA. Di awal tahun 70 itu Komdak II beralamat di Jalan H Zainul Arifin, atau orang Medan menyebut nya Kampung Keling.

Tidak seperti sekarang ini satu Gugus Depan (Gudep) Pramuka hanya terkonsentrasi di satu sekolah sekolah saja.  Kami di Gudep Medan 3-6 anggotanya terdiri dari berbagai sekolah, dan penegak nya  bergabung di Saka Bayangkara.

Banyak hal yang yang dapat di buat dengan bergabung di dalam Saka, karena kami di Bayangkara sering dan acap dilibatkan dalam kegiatan Kepolisian seperti KAMTIBMAS misalnya.  Yang sering sekali adalah membantu pak Polisi menjaga kelancaran lalu lintas.

Hiking Ke Kabanjahe

Kami juga tergabung dalam group Hiking Daerah Sumatera Utara, dan itu adalah kegiatan Hiking yang ke dua se-Sumut,  senang sekali rasanya Saka kami pun ikut dalam kegiatan Hiking yang akan di adakan di Kabanjahe. Kabanjahe adalah kota kecil di Tanah Karo, dari Medan dengan 2 bus yang di fasilitasi oleh KOMDAK, rombongan saat itu tidak langsung ke Kabanjahe, tetapi kami satu malam kemping di  Sibolangit. Besoknya di lanjutkan ke Kabanjahe.

Sebelum Kabanjahe ada satu kota di Sumatera Utara (Tanah Karo) yang cukup terkenal dengan Pariwisatanya yaitu Brastagi. Banyak Turis datang kesana, disitu pun ada satu Gunung, Gunung Sibayak namanya, tetapi tidak setinggi Gunung Sinabung di Kabanjahe.

Gunung Sibayak pun tetap mengeluarkan asap belerang, asap ini terlihat dari jauh. Sekarang Pertamina sedang memanfaatkan panas bumi dari situ (geothermal). Udara di Brastagi cukup dingin , tetapi lebih dingin lagi udara di Kabanjahe. Tak tahu saat itu berapa derajat suhunya, hanya saja dapat dirasa dan dilihat dari saat kita bernafas, uap yang keluar dari mulut berwarna seperti awan.

Dan bisa juga di lihat hampir semua hidung anak anak disana yang kami lihat pucuk hidungnya memerah dan terkelupas, mungkin ini akibat uap belerang dan udara dingin disana. Terkadang sesekali tercium seperti bau kentut, rupanya itu bau belerang.

Berjalan di daerah pertanian baik di Brastagi maupun di Kabanjahe, hamparan kebun kol (kubis) , tomat , wortel dan palawija lain menjadi pemandangan tersendiri. Kami di wanti wanti jangan sekali sekali mengambil tomat yang ranum yang banyak dijumpai di sepanjang  jalan  yang di lalui . “Konon kabarnya bisa tumbuh tomat di perut”  itu lah hebat nya patsum yang harus di turut. Lha caranya kalau kita mau beli orang nya tidak ada,  “letakkan saja uang nya nya disekitar pohon yang kita ambil buahnya”  itu lah pesan kakak Pembina.

Guruh Kinayan dan Lau Kawar

Untuk mendaki Gunung Sinabung yang tingginya sekitar 2.400 meter diatas permukaan laut itu, kami diantar oleh bus sampai ke Desa yang bernama Guruh Kinayan, sampai situlah bus yang bisa saat itu. Disitu telah banyak sekali rombongan pendaki. Dari desa itu kita berjalan kaki ke rute pendakian.

Bagi kami yang belum pernah mendaki gunung dan ini adalah yang pertama sekali, semua petunjuk dari kakak Pembina seperti harus tetap dalam satu rombongan, tetap memegang tali. Di Ransel pun telah siap bongkahan kelapa dan gula merah. Bagi pendaki atau orang gunung tahu benar kegunaan kedua makanan ini.

Jadilah kami berangkat memulai pendakian setelah magrib, meninggalkan Desa Guruh Kinayan, rasanya ingin cepat cepat meninggalkan desa itu, maklum banyak sekali babi berkeliaran. Kalau sudah berkeliaran seperti itu, ya tentunya kotoran nya pun berserak di mana-mana.

Bagi pendaki profesional, atau masyarakat sekitar yang mengambil hasil bumi (belerang) di puncak gunung itu, mereka bisa mencapai puncak nya hanya dalam 3 atau 4 jam saja. Sementara rombongan kami (Gudep Medan 3-6) yang terdiri dari 23 orang  sampai ke puncak hari telah menjelang subuh. Malah ada sebahagian peserta lain yang mulai turun.  Tak apa lah yang penting sampai ke puncak dengan selamat, kata kakak Pembina menyemangati.

Kawah Gunung Sinabung saat itupun tetap mengeluarkan asap tak jauh beda dengan uap asap belerang yang ada di kawah Gunung Tangkuban Perahu. Jadi sebenarnya Gunung Sinabung itu adalah salah satu Gunung yang aktif . Meskipun 400 tahun terlihat diam saja.  Kini Gunung yang baru meletus itu dimasukkan Pemerintah dalam kategori A yang semula B , dan harus diawasi selama 24 jam.

Memandang sekeliling puncak-puncak yang ada disekitran Gunung itu, indah sekali, membuat kita kagum akan ciptaan Nya, dari situ terlihat kota Medan tetapi hanya lampu lampunya. Hari mulai terang selepas salat subuh, kami berangkat meninggalkan puncak Gunung Sinabung , menuruni puncak gunung melalui celah dan semak belukar, terkadang bebatuan yang terkena ujung tongkat penyanggah berguling guling kebawah membuat fenomena tersendiri.

Kalau saat naik tidak ada masaalah yang berarti, malah lebih banyak beristirahat , sebentar-sebentar rombongan kami minta berhenti menenangkan nafas yang memburu tersengal-sengal, apalagi hujan rintik terus turun, tetapi badan berkeringat karena terbungkus kantong plastik.    Kami terus diberi semangat dengan menyanyi salah satu kata kata yang masih ku ingat sampai sekarang adalah “Mari kita begabung,   Kita taklukan Gunung Sinabung ”

Sewaktu turun koq rasanya enak saja , itu yang membuat kita jadi lengah terutama aku, lepas pegangan tangan dari tali yang sudah disiapkan , tongkat penyanggah ku terdorong kebawah menekan tanah labil, bongkahan batunya mengelundung kebawah , aku kehilangan keseimbangan dan ikut berguling guling kebawah, aku masih sadar dan masih jelas mendengar orang menjerit jerit  “ada orang jatuh”.

Aku terus terguling guling lagi, kemudian bisa berdiri  sendiri, terus doyong lagi , terguling lagi, semua itu aku sadari. “Jangan berdiri, duduk saja”  satu suara terdengar di telingaku, aku pun berusaha untuk tidak berdiri saat tersangkut di batang pepohonan semak kecil seperti pohon Kerimunting, yang ada di lereng Gunung itu.   Dan hal itu lah yang membuat aku tak terguling guling lagi.

Beberapa orang yang tak ku kenal menghampiri ku, karena memang jalur sepanjang turun itu ada rombongan yang sudah mencapai Lau Kawar , tempat finis. Aku senyum kepadanya  karena memang aku sadar meskipun ratusan meter terguling guling dari atas sana. Dengkul celana ku koyak dan berdarah, tetapi tidak sakit aku masih bisa berdiri. Pinggang ku lecet agak terasa sakit, mungkin karena tersangkut batang pohon kecil yang menahan tubuh ku, lha mungkin kalau tidak ada pohon kecil itu aku masih terus terguling guling lagi.

Rupanya bukan aku saja yang bernasib seperti itu, terguling guling menggelinding kayak tringgiling. Tetapi tak semua yang bernasib seperti aku masih bisa berjalan lagi sampai ke Lau Kawar, Danau kecil yang indah di kaki Gunung bagian selatan Gunung Sinabung. Ada yang di tandu dan ada yang tinggal nama pulang ke rumah.

Istimewa nya lagi aku duluan sampai ke perkemahan yang sudah dipersiapkan oleh teman-teman  yang tak ikut mendaki .  “ya pasti duluan orang gelundung” celetuk Syahrial temanku asal Medan Glugur, aku tak tahu dimana dia sekarang. Mandi di air yang begitu segar dan sejuk di Danau Lau Kawar , menjadi kan badan segar kembali, di kelilingi pemandangan dan hutan yang masih asri .

Sejak itu aku tak pernah lagi ke Gunung Sinabung, kalau sampai  Kabanjahe apalagi Brastagi acap ku singgahi , disitu ada wisma Pertamina tempat ku bekerja. Sesekali ada Pelatihan dari Perusahaan di buat disana. Dan Disana pun banyak saudara-saudara  yang berkebun jeruk , terutama di kampung Barus.

Untuk saudara-saudara ku di Kabanjahe yang sekarang lagi tertimpah musibah, Mejua-jua krina ….. sabar ya….ingat lah mungkin Allah sedang memberi pupuk kepada kita, kepada tanah Karo…….. agar lebih subur lagi.

3 Tanggapan

  1. Nice Posting Bro, Blogwalking
    http://www.blogger-blogz.co.cc
    It have many tips for SEO and SERP

    Suka

  2. dengan berbagai kejadian bencana alam yang menimpa indonesia beberapa tahun terakhir ini, seharusnya membuat kita sadar dan mawas diri tentang arti hidup dan apa tujuan hidup kita sebenarnya…
    semoga korban bencana alam tersebut diberikan kesabaran dan ketabahan..aamiin

    Bolehngeblog

    Suka

  3. Nice post buddy, visit me back on http://www.blogger-blogs.com Full Of Tips and Trick About SEO and SERP

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: