Antara Sabah Dan Sarawak Ada Brunei


shalat di bangku terminal Miri Sarawak. Karena tidak ada fasilytas mushalla di situ

shalat di bangku terminal Miri Sarawak. Karena tidak ada fasilitas mushalla di situ

Ibukota Sabah adalah Kota Kinabalu, rencana tanggal 6 September 2010  akan diadakan pertemuan bilateral antara pemerintah Indonesai dengan Malaysia di Kota itu. Mudah mudahan saja persoalan nya cepat kelar.

Pertengahan Agustus 2010 rombongan kami dari Muhammadiyah Internasional sebanyak sembilan orang mengunjungi  Kota Kinabalu, di sana kami di fasilitasi oleh KJRI Kota Kinabalu, bertemu dengan lembaga keagamaan yang ada disana. Bertemu dengan pengurus Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) Cawangan Sabah. Selain dengan JAKIM yang bersifat Nasional ada juga Penubuhan di Sabah yang bernama Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah (JHEAINS), Penubuhan ini bersifat lokal.

Disamping itu ada lagi  Penubuhan Majlis Ugama Islam Sabah (MUIS). Dan NGO yang paling aktif di Sabah dalam kemajuan Agama Islam salah satu nya adalah USIA, USIA adalah singkatan dari United Sabah Islamic Association atau Pertubuhan Islam Seluruh Sabah.

Saudara Baru

Di Sabah, orang menyebut dan menamakan orang -orang yang baru masuk Islam dengan sebutan Saudara Baru. Saudara Baru ini lah yang merubah peta politik di Sabah, sejak September 1975.  Semula diawal bergabungnya Negeri Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Melayu  tahun 1957 penduduk Islam di Sabah hanya sekitar 30 persen saja.  Perkembangan yang begitu signifikan pada tahun 1971 umat Islam di Negeri Sabah telah melebihi 50 persen.

Itulah sebabnya Islam is the religion of the state, namun demikian agama-agama lain boleh diamalkan dengan aman dan harmoni di mana-mana di seluruh negeri.Hal ini tidak lepas dari peranan USIA di Sabah.

Saudara Kita

Kalalu di Sabah penyebutan untuk yang baru memeluk Islam adalah Saudara Baru sementara di Sarawak penyebutan nya adalah Saudara Kita. Luas wilayah Sabah dan Sarawak berbanding sama dengan luas wilayah yang ada di Semenanjung, Mulai dari dari Johor sampai ke Perlis,  kedua negeri ini pula sepajang wilayah nya berbatasan dengan Indonesia. Ribuan kilometer panjangnya.

Menurut Pak Ismail Setia Usaha JAKIM Cawangan Sarawak, orang baru memeluk Islam di Sarawak lebih akrab kalau di panggil Saudara Kita ketimbang Saudara Baru, pak Ismail sang mantan Diplomat yang sudah bekerja menjadi setia usaha di JAKIM ini menjelaskan ada juga NGO di Sarawak yang  serupa dengan USIA Sabah,  yaitu HIKMA Sarawak , yang juga bergerak dalam dakwah Islam.

Mungkin karena luas negeri Sabah hanya setengah luas dari Negari Sarawak begitu pun populasi penduduknya enam kali lebih banyak dari pada negeri Sabah, polulasi penduduk Sabah sekitar 300 ribu jiwa, agama Islam belum menjadi mayoritas di Sarawak.  Sehingga perlembagaan negeri Sarawak belum bisa meluluskan sebagaimana  DUN  Sabah meluluskan dan mensahkan  Islam is the religion of the state.

Selain Kuching sebagai ibukota Negeri , ada lagi beberapa kota lagi di Sarawak, seperti kota Miri, kota ini berbatasan langsung dengan Brunei, sebagai tempat ceck point pemeriksaan Imigrasi.  Di Miri banyak perhikmatan bus yang menuju ke Kuching hampir setiap jam, dan dari Miri pun ada Damri perusahaan Bus Indonesia yang menuju ke Pontianak Kalimanatan.

Boleh dikatakan Miri adalah salah satu kota tersibuk di Sarawak, namun Kota Kinabalu di Sabah adalah negeri kedua tersibuk penerbangan nya setelah Kuala Lumpur.

Fasilitas Umum yang Minim.

 

Photo bersama Katua Pengerusi JAKIM Cawangan Sarawak.

Photo bersama Katua Pengerusi JAKIM Cawangan Sarawak.

Kalau di Sabah Saudara Baru, di Sarawak Saudara Kita di Indonesia apa ya.? Ada yang menyebut orang baru masuk Islam itu adalah  Muallaf tetapi di Batam kami menyebut nya Muhtadin, kata almarhum Haji Adamri Al Husaini mantan Ketua MUI Kota Batam dulu, Muhatadin artinya adalah orang yang diberi petunjuk.

Perjalanan di dalam bulan Ramadan seperti kami memang ada ruksa, yaitu boleh tidak berpuasa, tetapi kami semua nya berpuasa. Pagi selepas Sahur dari rumah kediaman DR Gamal di Brunei, dengan mini bus kami bertolak ke Miri, perjalan sebenarnya  di tempuh sekitar 2 jam, tetapi ada pemeriksaan imigrasi di perbatasan, jadi memakan waktu tiga jam.

Di Miri kami memesan tiket yang langsung ke Kuching, harga per orang nya berkisar dari 70 sampai 90 ringgit Malaysia, wanti wanti ke kounter bus minta yang direct sama seperti bila kita hendak ke Bangkok dari Kuala Lumpur atau dari Singapura Ke Hatyai (Thailand) , ternyata hal itu tak berlaku di Sarawak. Hampir semua stasiun bus yang ada sepanjang perjalanan di singgahi, malahan penumpang di tengah jalan pun bisa menyetop dan diangkut.

Kami memesan bus dengan kursi jejer tiga,  bukan yang empat sit , agar lebih selesah kata orang Malaysia, dan tentunya harganya lebih mahal, berangkat sekitar pukul 2 setengah petang. Menunggu keberangkatan karena masih ada beberapa jam lagi  kami berkeliling dulu di Pasar Miri, suasananya tak begitu jauh dengan pasar Tanjung Pantun dan DC mall di Batam

Tak ada apa yang di beli disitu, masuk waktu Juhur kami sudah berada di terminal Bus, Hari itu Ahad (22/8) , sejak pagi hujan turun , terkadang berhenti sebentar dan lebat kembali. Tak ada fasilitas mushalla di terminal itu. Kami tanyakan kepada petugas yang berseragam dimana kalau mau shalat, dia menunjukan ada bangunan sekolah di sebelah timur terminal. Rupanya hari Ahad semua pagar sekolah itu terkunci.

Seorang ibu mungkin dari suku Kadazan mendengar perbincangan kami, dia mengatakan kalau di Petronas ada tempat shalat, Petronas adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kalau di Indonesia Pertamina. Kesana lah kami pergi di bawah hujan rintik rintik, mendekati lokasi Petronas yang berbatasan dengan Kantin dan lapangan parkir terminal, seorang ibu yang sedang menyingkap celananya menyapa kami ” Tak boleh lalu kesitu, air dalam” sembari menunjukkan betis nya bahwa untuk ke lokasi Petronas jalan pintas memotong harus melalui rawa rawa yang sekarang sedang di genangi air.

Kami pun berputar lagi hari sudah hampir pukul 2 , melalui kantin terminal yang banyak di penuhi orang menjual makanan. Karena kami membawa bekal lauk dari Batam, kami pun membeli nasi putih saja di pojok terminal ada seorang ibu yang memakai kerudung. Untuk ke tempat membeli nasi tadi kami agak menghindar jauh karena sebelum ketempat itu adalah tempat penjualan babi segar.

Kalau harus shalat di Petronas, kita mesti berputar lagi keluar terminal, rasanya sudah letih berputar putar dan bisa jadi ketinggalan bus. Untuk shalat Juhur dan shalat Ashar hari itu kami jamak dan qasar, dan tempat shalat yang kami pilih adalah di bangku terminal Miri. Kayak nya tak ada lagi tempat yang ideal untuk shalat waktu itu, karena hujan dan lapangan becek dan jorok.

Chek Ismail dari JAKIM, di KJRI Kuching Sarawak

Chek Ismail dari JAKIM, di KJRI Kuching Sarawak

Ratusan mata memandang kami berganti ganti shalat di terminal satsiun Bus Miri, hal itu lah yang kami utarakan saat berjumpa dengan Ketua Pengerusi JAKIM di Kuching saat beraudensi.

Shalat dan Sahur di Bus

Shalat Magrib dan Isya, kami jamak dan qasar kembali, dan shalat nya di dalam bus sambil duduk. Bus yang kami tompangi tidak behenti saat waktu berbuka, jadi kami berbuka di dalam bus. Rupanya supir bus sudah tahu kalau kami berpuasa, lampu di dalam bus di terangkan nya, sehingga dapatlah kami berbuka sekadarnya.

Bus kemudian berhenti sekitar pukul sembilan malam, tetapi bukan di terminal bus umum, jauh di luar kota Sibu berhenti di tempat atau kedai nasi yang memang disiapkan oleh pengusaha bus, seperti di Indonesia juga, setiap perusahaan bus masing masing punya kedai nasi langganan.

Niat mau makan sepuasnya disitu tak terlaksana, seorang tukang masak nya dengan bertelanjang  dada, agak berkeringat perut nya gendut , terlihat pusat nya membawa nampan berisi mie di dalam mangkok. Kami hanya numpang buang air kecil dan berwuduk disitu, “tak larat rasanya nak makan dengan aroma yang spesial seperi itu”. sambil tersenyum Aries Kurniawan dan kawan yang  lain sepakat kalau kita kembali ke Bus makan sebisanya di bus.

Semua perihal kami ini kami ceritakan juga dengan dengan pengerusi JAKIM, mereka meminta kami menyampaikan langsung kepada Datuk, Datuk yang dimaksud adalah Menteri Besar Sarawak yang dalam rencana akan berjumpa dengan rombongan kami esok Selasa (24/8)  petang sekitar pukul 4 . “Alangkah baik nya hal ini pak sampaikan langsung ke Datuk, terasa berbeda bila kami yang menyampaikan”  pinta Ketua Pengerusi JAKIM berulang ulang.

Sayang kami tak dapat langsung menyampaikan hal itu kepada Menteri Besar Sarawak sebagai mana yang sudah di jadwal kan oleh JAKIM dan KJRI Sarawak karena  rombongan kami  dari Batam akan bertolak ke Johor Bahru dari Kuching hari itu juga Selasa (24/8)  pada pukul 11 tengah hari.

Ya semoga perjalan berikut nya ada fasilitas mushalla di terminal-terminal Bus , dan lagi, ada perhikmatan Bus seperti Transnasional, yang akan berhenti di terminal yang banyak menjual makanan halal dan berhenti sesuai dengan waktu shalat.

2 Tanggapan

  1. salam…ok banget ya kembaranya…apa2 pun semoga kalian semua selamat dalam perjalanan tidak kira d manapun berada… jauh perjalanan,luas pengalaman.. saya doakan semoga kalian semua selamat.. amin..!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: