Surat Terbuka Untuk Pak SBY


Yang terhormat pak SBY.

Aku gak tahu apakah Presiden ku pernah ke sana, atau paling tidak memikirkan hal itu.

Aku gak tahu apakah Presiden ku pernah ke sana, atau paling tidak memikirkan hal itu

Aku adalah rakyat biasa, bukan lah orang yang berpendidikan tinggi seperti mu, aku ingin berkeluh kesah kepadamu, karena sekarang ini Anda adalah presidenku. Orang pertama di Negeri ini, jadi menurutku tak salah kiranya kalau aku menulis surat terbuka ini untuk mu.

Agak sulit rasanya nak berjumpa dengan pembantu – pembantu  Anda. Apalagi dengan Anda sendiri. Sampai mati pun enggak bakalan kayaknya.  Jadi maafkan sebelumnya aku menulis surat terbuka ini untuk mu.  Sedikit yang hendak ku sampaikan kepadamu, menyangkut wilayah perbatasan. Menurutku agak berbeda pandangan orang -orang yang tinggal di perbatasan dengan orang – orang yang tidak diperbatasan.Apalagi seperti di perbatasan Kalimantan sana, satu puak dipisahkan oleh dua negara.

Tahukah anda pak SBY bahwa ribuan kilometer perbatasan yang membela daratan Kalimantan memisahkan puak (suku) yang satu menjadi dua kewarganegaraan?, Konon kabarnya penjajah inggris memisahkan mereka hanya berdasarkan aliran air sungai.

Cobalah sekarang sekali sekali pak SBY terbang rendah di perbatasan itu, kalau Anda terbang dari Barat ke Timur, pandanglah ke kanan ke arah Utara, lihat lah apa yang ada di daratan. Dan pandang pula arah ke Selatan, apa pula yang terlihat.

Anda enggak bakalan bisa jalan di daratan karena tak ada jalan darat yang kita buat meskipun negara ini sudah 65 tahun merdeka, kecuali Anda ingin berjalan kaki. Kayak nya itu tak mungkin bagi seorang Presiden.

Tetapi kalau ingin juga jalan darat, Anda bisa jalan dari Sabah sampai ke Sarawak , jalan itu mulus belaka, tetapi yang buat bukan Kementrian PU kita, jalan ini bisa sampai ke Pontianak. Lihat lah pula berapa banyak pabrik pengelola kayu di sepanjang jalan itu. Aku tak tahu apakah semua kayu yang di olah disitu benar berasal dari Hutan Sabah dan Sarawak saja, atau dari Hutan Borneo.  Lihat lah pula berapa banyak tongkang mengangkut kayu gelondongan di sepanjang sungai itu.

Tak lama koq perjalanan dari ujung negeri Sabah , dimana tak lama dulu dua pulau Sipadan dan Ligitan kini menjadi tujuan wisata, dan banyak ratusan ribu agak nya orang pulang pergi dari negeri itu.  Tak sulit pula menemui mereka hampir seluruhnya dapat berbahasa Jawa sebagaimana bahasa Ibunda Anda.

Kenapa bukan kita saja yang mengelola hutan itu?.  Mengapa bukan kita saja yang mengelola kebun kelapa sawit itu?. Toh hampir semua pekjerja disitu adalah rakyat kita. Tak tahu aku berapa luas kebun kelapa sawit yang membentang mulai dari Sandakan sampai ke Kuching, semua itu di “buat” oleh rakyat kita.

Wahai Presiden ku yang gagah, nyaris tak ada perlindungan terhadap mereka, tenaga kerja legal maupun ilegal yang ada disana, belum lagi masalah pendidikan bagi anak – anak mereka. Bagi mereka yang telah berumah tangga dan bertempat tinggal disana.

Enggak usah cerita tentang pendidikan bagi anak – anak yang terlanjur lahir di sana, apalagi status perkawinan ibu bapa mereka tak sah karena tak tercatat di Departemen Agama.

Sampai kapan hal ini berlangsung, sampai kapan mereka membuang pasport nya setelah tiba disana. Sampai kapan mereka menjadi tenaga kerja murah, yang selalu di kejar – kejar dan benar benar di peras tenaga dan hartanya. Apa memang tak ada yang sanggup untuk mengelola itu wahai pak Presidenku.

Kalau tak ada yang tak perduli dan tak ada yang sanggup untuk mengurusnya,  mungkinkah  biarkan sajalah Borneo bersatu kembali.

Setakat ini dulu surat ku padamu wahai bapak Presiden ku. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ku sampaikan. Maafkan aku sekali lagi kalau ada kata-kata dan susuan abjad yang tak runtut

3 Tanggapan

  1. Catatan ini membukakan mata kita.. betapa rakyat menunggu pak SBY turun ke daerah.. selama ini selain perjalanan dari Cikeas ke Istana lebih sering Pak SBY ke Luar Negari dari pada turun Ke Daerah… Jangan hanya bicara ideologi dan demokrasi kalau tidak ada partisipasi.. saya baru bertemu teman-teman kerja dari China.. mereka selalu bilang “DWen Jiabao” akan marah kalau melihat rakyatnya malas-malasan… lihatlah betapa suksesnya china sekarang… kita rakyat indonesia yang pekerja keras.. tapi sekarang pemerintahnya yang “malas-malasan”

    sorry pak SBY.. what i see, what me get

    Suka

  2. Pemimpin sekarang baik Presiden, Gubernur, Bupati, Anggota Dewan baik pusat dan daerah sebagian besar mempunyai prinsip

    KALAU RAKYAT INGIN MAJU, MAJUIN (KAYA) DULU PEMIMPINNYA BARU RAKYATNYA

    Mungkin akan ada pemimpin yang akan perduli dengan rakyat tapi entah kapan,

    Yang jelas pemerintahan sekarang lebih buruk dari jaman Soeharto

    Suka

  3. ketika anda berada diluar negeri semakin terasa ketimpangan dan kebobrokan indonesia. pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme seakan menjadi candu pemilihan presiden. bagai pohon tebu yang manis sepah dibuang.
    Mereka hanya jargon2 politik yang mementingkan kelompok dan diri mereka sendiri. semoga suatu saat Indonesiaku akan sadar yang harus dimulai dari diri kita sendiri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: