Mushalla Taman Dayang di Selat Desa Ngenang Pulau Batam


Mak Dayang dan Pak Taman di depan Mushalla

Mak Dayang dan Pak Taman di depan Mushalla

Masih ingat mak Dayang dari Pulau Selat Desa Kelurahan Ngenang Kecamatan Nongsa Batam dan pak Din dari Pulau Air Mas masih dalam kelurahan dan kecamatan yang sama, mereka berdua itu adalah abang beradik, ketika datang “mengadu” ke Muhammdiyah Batam.

Satu yang diharapkan Mak Dayang,  “Kalau lah Ada Mushalla di Tempat Kami Kata Mak Dayang” saat itu , karena di tempat Pak Din sang Abang telah berdiri masjid. “Jauh bekayu kesana (Air Mas) ” keluh nya apalagi saat cuaca tak bersahabat.

Sememang nya lah kehidupan nelayan di perairan Batam tak terperhatikan, kontras sekali kehidupan di hinterland demikian orang Batam menyebut mereka yang tinggal di pulau pulau kecil itu. Tak terkecuali mak Dayang dan keluarga nya. Di Pulau itu tinggal sekitar 20 an  Kepala Keluarga (KK) sekitar 7 KK yang muslim, dari 7 KK itu hanya beberapa orang yang lancar mengucapkan syahadat, jadi jangan diharap mereka bisa membaca quran apalagi shalat.

Anak anak dari Selat Desa  belajar quran (TPA) ke Pulau Air Mas dengan sampan kecil, di Pulau itu (air mas) ada ustazd Abdullah dari Pulau Ngenang, tetapi itu tadi jarak yang jauh dan keadaan cuaca membuat mereka tak seminggu sekali pun datang kesana. Ada Masjid dan Mushalla saja belum tentu datang, apalagi tak ada sarana ibadah. Ditambah  lagi tak ada seorang mubaligh pun yang betah tinggal disana.

Shalat Ashar di Mushalla Baru

Jamaah shalat Ashar pertama di mushalla "Taman Dayang" Selat Desa Pulau Ngenang Batam

Jamaah shalat Ashar pertama di mushalla "Taman Dayang" Selat Desa Pulau Ngenang Batam

Ahad 15/8 petang waktu ashar  kami ke Selat Desa, terkadang orang menyebut nya Dapur Arang, karena dulu disitu berdiri beberapa dapur pembuat arang, dari jauh dah terlihat bangunan bercat putih ukuran 5 x 5 meter, kalau itu menandakan mushalla di puncak nya ada lambang bulan sabit . Itulah mushallah yang baru berdiri, di bangun sebulan yang lalu , bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam.

Mendekat ke bibir pantai terlihat pak Taman suami mak Dayang sedang mebersihkan halaman mushalla, kami,  dengan pompong pak Usman dari Telaga Punggur merapat langsung ke bibir pantai di depan mushallah yang belum bernama itu. “Kalau air pasang macam ni kita boleh langsung merapat ke pantai ” kata pak Usman, lelaki 50 an tahun asal Flores ini menjelaskan , kami pun melompat satu persatu dari pompong ke darat.

Mushalla itu belum ada tempat wuduk, memang ada perigi di samping mushalla, tetapi air nya masih keruh. Agak ke kanan ada sebuah perigi yang air nya jernih , ada sebuah timba terletak berisi air,  dan seekor anjing sedang minum dari timba yang berisi air itu. Sehingga jadilah kami berwuduk dengan air laut.

Mushallah ini benar benar baru di buat dinding sebelah dalam masih basah oleh “keringat” semen yang mengeluakan uap, begitu pun lantai nya hanya semen di aci masih basah berair. Disitu lah kami shalat dengan lembaran terpal plastik alas tidur pak Taman, dilapisi dengan sapu tangan , kebetulan ada 2 lembar sajadah.

Pak Taman ikut berjamaah , sementara pak Narzi masbuk. Melihat kami sudah selesai shalat , pak Narzi kebingungan hendak shalat sendiri. Dan sememang nya dia tak tahu bagaimana tata cara shalat.  Ustadz Subur dari AMCF yang kebetulan beserta kami “terpaksa” menjadi imam kembali , mengimami pak Narzi.

Mushalla Taman Dayang

Mushalla ini belum ada namanya, Pak Taman adalah suami mak Dayang, ” Ya udah untuk mengingat kegigihan mereka berdua agar terwujudnya mushalla di pulau yang di huni SUKU LAUT yang minoritas muslim itu, untuk sementara mushalla nya  kami beri nama MUSHALLA TAMAN DAYANG………

Bang Syarifuddin dari Laz Masjaid Raya Batam Center tersenyum menanggapi nama mushalla itu.   “Insyaallah dalam bulan Ramadhan 1431 H ini kita akan berbuka bersama di sana sekaligus memberikan zakat fitrah” ujar bang Syarifuddin pengurus LAZ yang baru mendapat penghargaan sebagai pengelola Zakat terbaik Nasional.

Masih banyak yang dibutuhkan untuk kelengkapan mushalla itu, seperti tikar atau sajadah, bak air untuk wuduk misalnya, karena disitu mayoritas non muslim dan mereka memelihara anjing, perlu juga kiranya pagar.

Dan jangan harap ada penerangan di pulau itu, meskipun negara kita telah merdeka 65 tahun. Pulau tak jauh dari Batam hanya sepelemparan batu…. ironis ya…. . tapi tak apa lah mak Dayang dan pak Taman tampak berseri seri, apalagi tak lama lagi akan ada seorang Da’i yang akam menjambangi mereka , mengajarkan islam . Itulah yang diharapkan mak Dayang sekeluarga………

Iklan

4 Tanggapan

  1. alhamdulillah…masa saya pergi ke sana dulu bersama Muhammadiyah International …belum ade lagi…lahmadulillah…

    Suka

  2. saya sebenarnya sedih dan terharu membaca artikel ini.muda2han saya bisa cepat pulang ke indonesia dan balik kebatam.saya juga pingin megajari mereka tentang agama .dan ini meupakan tanggun jawab kita bersama.dan kira2 siapa yang bisa di hubungin ya supaya bisa ke daerah ini ya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: