Suku Laut di Kepuluan Batam (Siapa Suku Laut)


mak Rohana orang suku laut dari Teluk Paku kelurahan Pulau Buluh Batam Indonesia, "agak nya apa yang sedang dipikirkan nya ya..?"...

mak Rohana orang suku laut dari Teluk Paku kelurahan Pulau Buluh Batam Indonesia, "agak nya apa yang sedang dipikirkan nya ya..?"...

Siapa Suku Laut

Suku Laut yang berada di Kepulauan Batam sungguh erat kaitan nya dengan Kerajaan Johor sekarang Pada tahun 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Yang lebih terkenal dengan sebutan Sultan Mahmud Mangkat Di Julang. Mulai saat itulah kisah suku Laut tercerai berai hingga sekarang di mulai.

Karena Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada tahun 1718 Raja Kecil seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis  Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil mendirikan Kesultanan Siak setelah terusir dari Johor.

Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka  untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis.

Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu  dan digolongkan sebagai Bahasa Melayu Lokal. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan. Seperti suku Bajau Orang Laut terkadang dijuluki sebagai “kelana laut”, karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu. Itu dulu.

Kini pelan pelan pula sejak adanya Otorita Batam, kehidupan mereka di perairan kepulauan Batam terusik, karena memang dianggap Nomaden sebagian dari mereka “didaratkan” dibuatkan  rumah , seperti contoh di Pulau Gara, di Teluk Nipah, di Pulau Kubung.

Komunitas mereka kini

pak Panjang (tengah) orang paling tua dari suku laut di Pulau Boyan Batam Indonesia

pak Panjang (tengah) orang paling tua dari suku laut di Pulau Boyan Batam Indonesia

Di Pulau Bayan

Lelaki paling tua disitu bernama Panjang, usianya sekitar 70 tahun, “agak kuat dan dekat bicaranya pak” kata Rohana putri ketiga pak Panjang. Pulau Bayan sekitar 15 menit naik bot pancung dari Senggulung Batam. Pak Panjang yang rada pekak ini selalu tertawa dan kelihatan senang sekali saat kami naik keatas pelantar rumahnya. Isterinya telah lama meninggal dunia, jadi dia tinggal berdua dengan Rohana putri nya yang belum juga mendapatkan jodohnya meski usianya sudah mencapai kepala 4.

Semua suku laut di pulau itu beragama Islam, ada belasan keluarga disitu, “itulah yang sangat kami harapkan pak ” ujar Nur putri pertama pak Panjang yang menikah dengan orang Padang, saat kami utarakan hendak membuat mushalla disitu. “Suami saya pandai tukang, sekarang pun dia lagi kerja di Tiban, boleh lah dia bantu buat” tambah Nur lagi, sembari menjelaskan bahwa keinginan ibunya sebelum menghembuskan nafas terakhir adanya mushalla di tempat tinggal mereka.

Pulau Bayan tak jauh dari Pulau Buluh, Pulau Buluh diawal tahun 80 an masih dilalui oleh kapal ferry yang dari Tanjung Pinang hendak ke Belakang Padang atau Sekupang Batam. Pulau Bayan masih masuk wilayah kelurahan Pulau Buluh. Orang menyebut Pulau Bayan ini menjadi Boyan, tak jelas apakah ada  hubungan pulau Bayan ini dengan suku Boyan (Bawean), yang tinggal disitu yang jelas dalam situs resmi Pemko Batam tertulis jelas bahwa pulau itu bernama Bayan…(nama sejenis burung) .

Sejak pembangunan yang begitu pesat di Pulau Batam, nyaris tak menyisakan ingatan sedikitpun tentang begitu stategis dan pentingnya peranan pulau Buluh. Di Pulau Buluh dahulu mantri Hutan dan Bidan desa bertempat tinggal. Sekarang di Pulau itu begitu pun pulau – pulau sekitaran nya bila petang hari hanya tercium bau kotoran babi dari pulau Bulan. Pulau Bulan adalah tempat peternakan babi terbesar di Kepulauan Riau.

Pak Panjang terus berceloteh, sambil tertawa terlihat gusinya yang tak bergigi lagi, “kalau nak bawa saya berkeliling , nak tengok orang suku laut, mestilah belanja rokok” ujar pak Panjang lagi, sambil tertawa. Pak Jantan dari Tanjung Gundap yang membawa kami dengan pom pong nya ikut tersenyum.

Banyak sekali yang ingin ditanyakan kepada pak Panjang seputar orang Suku Laut, ya itu tadi kita harus berteriak teriak agar apa yang kita tanyakan dapat di dengar oleh beliau. Kami berjanji akan datang lagi merealisir pembangunan mushalla di Pulau Bayan.

Dengan lambaian tangan nya yang memang panjang dan tubuh nya betul betul panjang sesuai dengan namanya, pak Panjang mengantar kami pulang kembali ke Tanjung Gundap.

Pong , pong, pong , pong, pong, pong bunyi pompong pak Jantan mengharungi lautan pulau Buluh dan pulau Bulan, puluhan  kapal kapal tanker , juga tug boat dari berbagai negara berlabuh disitu, dan agaknya ratusan tongkang dan kapal yang sedang dibuat dan diperbaiki di sepanjang pantai Tanjung Uncang Dapur 12 kami lalui, nyaris menutupi seluruh pantai pulau yang berbentuk kala jengking itu.

Tak tahan rasa bau yang menyengat dari pulau Bulan tempat perternakan babi, terpaksa dengan singlet aku tutup hidung sampai menjelang jembatan satu barelang. Tetapi pom pong kami mengingsut jalan hanya 5 batu sejam…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: