Bahasa Melayu Logat Thailand “Ma Cag Indonesia Khun Dio”


Qurban di Kampung Ban Sen Sai Provinsi Pha Yao Thailand Utara Di Koordinir oleh Muhammadiyah Internasional

Ustadz Hasan Pha Yao, begitu nama yang tertera dalam senarai nama di hand phone ku. Tahun ini 1430 H bertepatan dengan 27 Nopember 2009  Masehi kami melaksanakan shalat idul adha di halaman masjid yang di kelola beliau.

Dua tahun yang lalu tahun 1428 H pun kami melaksanakan idul adha di halaman yang sama, waktu itu idul adha jatuh di akhir bulan Desember. Sama dengan tahun tahun sebelum nya sejak berdiri nya masjid di kampong Ban Sen Sai itu shalat dan pemotongan hewan qurban dilaksanakan di situ.

Tahun ini tak kurang 3 ekor lembu , seekor kerbau yang cukup besar dan 5 ekor kambing, qurban dari berbagai pihak yang akan di potong. Memang tak banyak penduduk yang beragama islam yang tinggal di kampong itu. Beliau sendiri malah berasal dari selatan Thailand. Jadi hewan qurban itu pun sebagian diberikan kepada masayarakat sekitar yang belum beragama islam

Dengan bahaya melayu logat patani ustadz Hasan menjelaskan bahwa  12 tahun yang silam saat dia bekerja di Chiang Rai bertemu dengan seorang gadis dari suku Mong penganut gama budha, wanita itu lah yang hingga kini telah mengaruniakan nya anak 6 orang mendampingi Be Se demikian dia di panggil. Dari Hasan menjadi Se dan dari Abang menjadi Be, membuat kita yang kurang faham dialek melayu patani akan tersenyum senyum.

Alhamdulillah kedua mertua nya telah menjadi muslim begitu pun adik beradik nya, dikampung Ban Sen Sai, Ban sama dengan kampong, jadi Kampung Sen Sai yang terletak di kecamatan Khun Khuan distrik Pong ini banyak tinggal suku Mong, malah bahasa sehari hari yang mereka pergunakan adalah bahasa mong, agak berlainan dengan bahasa siam, sementara bahasa siam (thai) pula antara logat selatan dengan utara juga berbeda.

Ratusan keluarga suku mong yang muslim maupun belum muslim datang memenuhi undangan ustazd Hasan, malah sebagian lelaki nya turut dalam barisan shalat idul adha yang di gelar di halaman masjid itu, ada yang hanya bercelana pendek. Baba Yee seorang pendakwah dari Yala provinsi selatan thai yang memberikan khotbah dalam bahasa melayu dan di selingi dengan bahasa siam.

Pegunungan Do Pa Cang Provinsi Pha Yao Thailand Utara suku Mong banyak berdiam di sana

Acang… Acang terdengar teriakan dari belakang masjid, seseorang terdengar memanggil manggil, ternyata yang bernama acang itu adah ustadz Hasan, orang orang di sekitar kampung itu memanggil ustadz Hasan dengan Acang. ,

Hal ini bukan terhadap ustaddz Hasan saja yang dipanggil Bang Hasan menjadi Be Se, Hasan menjadi Acang, Ustadz Yusuf pun menjadi Be Su, bahkan untuk kata Islam saja mereka menyebut Isle, Petang menjadi pete, hampir semua kata-kata yang berakhir dengan ang jadi berbunyi “e”, seperti pinggan jadi pingge.

Be Se yang satu ini adalah Dai yang ditempatkan  untuk membina masjid dan para muallaf disitu, hanya itulah satu satu masjid yang ada di provinsi Pha Yao, saat idul adha terlihat seorang yang wajah nya agak asing dari yang lain, “Nama saya Abu Bakar, asal Pakistan” ujarnya saat kami berkenalan, Abu Bakar yang hadir dalam shalat idul adha di Kampung Ban Sen Sai itu datang dari 60 Km dari kediaman nya.

Masjid di Kampung Ban Sen Sai cukup terkenal masjid yang bernama Masjid Ismaili Islami ini dibangun komunitas masyarakat dari Malaysia, yang di kordinir oleh Ustadz Abdul Wahab dari Kulim Kedah.

Masjid yang hanya berukuran 8 x 8 meter persegi ini kemarin terlihat ramai di kunjungi oleh saudara-saudara dari Malaysia, meraka  setiap tahun saat idul adha memotong hewan qurban nya disana. Seperti kata Kasim dan empat orang teman nya yang baru pertama kali datang ke distik Pong itu dari Bandara Ciang Mai ke kampung Ban Sen Sai dengan taxi sejumlah 3.000 baht sejauh 120 KM supir taxi 3 kali bertanya di sepanjang jalan, “semua mereka menunjukkan arah yang benar” ujar Kasim terkagum kagum. Padahal kampung Ban Sen Sai ini terletak di kaki bukit Do Pang Chang, jauh masuk ke dalam perkampungan.

Be Se dengan senyum khas nya tak henti henti nya berjalan hilir mudik hingga larut malam melayani tetamu nya, apalagi pada hari arafah (28/11) kami akan berpuasa dan malam itu ternyata makanan untuk sahur telah tersedia, kami masih dibawah gulungan selimut dan baju  tebal, maklum udara di malam hari hampir mencapai 12 derajat Celsius.

Terimakasih Be Se, terimakasih ustadz Hasan, Acang, orang yang sama dengan tiga panggilan yang berbeda, siang itu tenge ri (tengah hari) selepas shalat jumat (29/11) kami berangkat meninggal kan kampung Ban Sen Sai di provinsi Pha Yao menuju provinsi lebih utara lagi Chiang Rai di kampung Biang Mok bermalam di situ di terima ustadz Ismail dan ustadz Harun yang berasal dari Songkla dan Krabi.

“Ma Cag Indonesia Khun Dio “ jelasku kepada ustadz yang masih muda muda itu,  yang artinya kira kira Datang dari Indonesia dan hanya saya seorang. “Khun Ce Arai ”Tanya ku lagi…”Ismail” jawab nya . “Khop Khun”  kata ku lagi karena aku memakai computer fasilitas madrasah untuk memposting tulisan ini dib log ku.  ,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: