Jin dalam Islam


Masji Jin terletak kurang lebih 1,5 Km dari Masjidil Haram di Makkah.

Masjid Jin terletak kurang lebih 1,5 Km dari Masjidil Haram di Makkah.

Bicara tentang Jin di dalam Islam banyak refrensi nya, orang awam sekalipun tahu, dalam surat An Nas misalnya tertulis minal jinnati wannas, An Nas salah satu surah dari jus ke 30 ini adalah menjadi surah hafalan wajib di sekolah kami, dari mulai Taman Kanak-Kanak hingga ke Sekolah Menengah Atas. Malah ada surah ke 72 yaitu surah A Jin.

Sewaktu pergi menunaikan ibadah haji salah satu tempat yang ingin sekali kulihat adalah masjid Jin, Alhamdulillah beberapa kali sempat shalat di masjid yang bersejarah itu. Terpikir juga saat itu, dimana ya Jin-Jin yang berada di seputaran masjid itu shalat nya?. Karena begitu penuh nya jamaah yang shalat sampai ke beranda luar masjid, nyaris tak ada tempat luang.

Hal ini menjadi pertanyaan terus di dalam hati, jadi teringat setiap akan shalat berjamaah Imam selalu melihat ke belakang dan menyerukan “rapatkan shaf” , menurut keterangan ustaz kami agar diantara makmum jangan sampai ada luang untuk syetan.

Banyak cerita cerita tentang makluk halus ciptaan Allah SWT ini, begitu pun terbitan buku-buku tentang keberadaan Jin, seperti dalam buku Dialog Dengan Jin Muslim karangan Muhammad Isa Dawud, intinya adalah hal yang sangat sulit nyaris tidak mungkin penampakan dan interaksi antara manusia dengan Jin.

Pengajian Khusus Bangsa Jin di Lamongan

Jadi menarik saat membaca ada pengajian khusus bangsa Jin di Lamongan yang mana  Sejak awal Ramadhan lalu, Pesantren Dzikrussyifa’ Berojo Musti di Jalan Raya Sekanor, Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, membuka pengajian khusus bangsa jin.

Pengasuh pesantren, KM Muzakkin, Rabu (26/8), menyatakan, mayoritas jin yang ikut pengajian itu adalah jin yang pernah merasuki santri yang sakit jiwa. Pesentren Dzikrussyifa’ sendiri khas dan beda dengan pesantren lain.

Biasanya, pesantren ini khusus menangani rehabilitasi sakit jiwa dan pecandu narkoba. “Sekarang sudah ada beberapa jin yang nyantri. Mayoritas pernah merasuki santri saya yang sakit jiwa,” kata Muzzakin.

Menurut dosen Universitas Islam Darul Ulum, Lamongan, model penggemblengan untuk bangsa jin bukan cara baru. Kanjeng Sunan Sendang Duwur (Raden Noer Rahmat) juga penah menerapkannya.

“Alkisah, pada zaman kerajaan Majapahit, tepat saat beliau itikaf di masjid, tiba-tiba mendengar suara gemuruh di luar masjid. Ternyata itu suara rombongan jin dumas yang dipimpin Kiai Taruna dan Kiai Taruni berjumlah 60 jin. Semula mereka berniat mencuri barang antik masjid. Namun, tidak satu jin pun mengangkat benda itu. Akhirnya, jin-jin itu minta maaf dan nyantri ke Mbah Sunan Sendang Duwur,” tuturnya.

Dikutip dari http://jinmuslim.blogspot.com

DUNIA JIN :
YANG TAMPAK DAN YANG TERSEMBUNYI

Jinn adalah nama jenis, bentuk tunggalnya adalah jiniy, yang artinya “yang tersembunyi”, atau “yang tertutup”, atau “yang tak terlihat”. Hal itulah yang memungkinkan kita untuk mengkaitkannya dengan sifat yang umum “alam tersembunyi”‘ sekalipun akidah Islam memaksudkannya dengan makhluk-makhluk berakal, berkehendak, sadar dan punya kewajiban, berjasad halus, dan hidup bersama-sama kita di planet bumi ini.
Makna Jin dalam Bahasa Arab

Apabila para sarjana antropologi dan kebudayaan kuno menegaskan bahwa bahasa yang tercatat paling tua adalah Bahasa Sumeria, yang sejarahnya mengakar pada kira-kira 3500 tahun sebelum Masehi, yaitu masa yang dalam nisbatnya dengan sejarah umum manusia setara dengan lima detik, maka kita berpendapat bahwa Bahasa Arab adalah bahasa pertama, dan darinya muncul-lah bahasa-bahasa kuno lainnya, yang juga disebut sebagai Bahasa Aramia, yang merupakan cabang darinya. Sebab, telah ditemukan beberapa teks dalam bahasa Aramia yang mengacu pada abad ke-14 SM – suatu bahasa yangdalam skala besar, terdiri dari bentuk-bentuk huruf Arab sekarang ini.

Saya bertanya kepada Jin Muslim sahabat saya, tentang bahasa paling tua yang pernah dikenal manusia. Dia menjawab bahwa nenek moyangnya, yang mati disambar kilatan api Tuhan karena ulahnya yang mencoba-coba mencuri dengar suara langit, memberitahukan kepada ayahnya bahwa kakek-kakeknya yang berasal dari India, memberitakan kepadanya bahwa bahasa Arablah yang merupakan bahasa paling tua, sebagaimana yang disampaikan oleh kabar-kabar mutawatir di dunia Jin.

dari segi bahasa, Al-Jinn adalah lawan kata Al-Ins (manusia). Disebut-sebut bahwa jika dikatakan, ânastu asy-syai’a berarti “saya melihat sesuatu”. Allah SWT berfirman, Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditentukan, dan ia berangkat dengan keluarganya, lalu dilihatnya api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah disini, sesungguhnya aku melihat api (ânastu nâran)” (QS. Al-Qashash:29).

Kosa kata dalam bahasa Arab yang terdiri huruf Jim dan Nun, dengan berbagai bentukkannya memiliki pengertian “benda” atau “makhluk” yang tersembunyi.

Al-janîn (janin) disebut demikian karena ketersembunyiannya dalam perut ibunya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang berbunyi, … dan ketika kamu masih tersembunyi (ajinnat) dalam perut ibumu (QS. An-Najm: 32).

Junnat Al-Layl, artinya ketersembunyian oleh kegelapan malam dan tertutup tabir hitamnya, seperti firman Allah yang berbunyi, Ketika malam menjadi gelap (janna), maka dia melihat sebuah bintang (QS. Al-An’am: 76).

Junna ar-rajulu junûnan, wa ajannahullâhu, fahuwa majnûn, artinya “jika seseorang telah kehilangan akalnya, dan ‘tertutup’-lah kesadarannya, maka dengan itu hilanglah kewajiban-kewajiban darinya akibat tidak adanya akal”. Tentang pengertian yang seperti ini Allah SWT berfirman, … atau, pada dirinya ada penyakit gila? (QS. Saba’: 8).

Termasuk katagori ini adalah ucapan Nabi SAW yang berbunyi, “Puasa itu adalah junnah (perisai),” dan penjelasan ‘Utsman Ibn Abi Al’-Ash terhadap kata junnah yang berbunyi, “Puasa itu adalah junnah (perisai) seperti junnah kalian dalam peperangan.” Junnah, dengan demikian, berarti pelindung atau penutup. Penulis kitab An-Nihayah mengatakan bahwa makna puasa sebagai junnah adalah karea ia melindungi pelakunya dari serangan syahwat. Al-Quthubi mengatakan : “junnah berarti pembatas, yakni dalam kaitan dengan ketentuan syariat. Yaitu, setiap orang yang berpuasa mesti melindungi dirinya dari segala sesuatu yang bisa merusak puasanya dan menghilangkan pahalanya. Juga benar bila junnah diartikan sebagai penutup karena pahala dan peningkatan kebaikan yang dihasilkannya. “Ibn ‘Arabi mengatakan, “Sesungguhnya puasa itu adalah junnah (pelindung) dari api neraka, karena puasa bisa mencegah syahwat, sedangkan neraka diperingan jalan ke arahnya dengan syahwat. Alhasil, jika seseorang yang berpuasa menahan diri dari memperturutkan syahwat di dunia, maka puasa tersebut bisa menjadi penutup dirinya dari siksa neraka di akhirat.

Orang Arab menyebut perisai yang dengannya seorang prajurut melindungi diri dalam peperangan dengan al-mijann. Sebab, prajurit tersebut menutup dirinya dengan perisai itu dari lemparan, tikaman dan pukulan musuh. Segala sesuatu yang anda gunakan sebagai penutup diri dari segala keburukan, adalah junnah.

Surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa disebut junnah karena banyaknya pohon yang terdapat disana, yang saling menutupi satu sama lain.

Hati kita juga disebut al-janân karena ia merupakan sesuatu yang tertutup oleh dada. Ada pula yang mengatakan bahwa ia disebut demikian, karena pikiran dan lintasan hati yang dimilikinya tertutup dan tidak terlihat. Dengan demikian, segala yang tidak tampak oleh pandangan mata, atau yang tersembunyi, disebut dengan janân. Itu pula sebabnya, maka kuburan juga disebut junan, karena ia menutupi orang yang dikubur di dalamnya.

Kata jiniy yang diucapkan orang-orang Arab dahulu dan juga dipergunakan oleh Alquran, adalah makhluk berakal yang tersembunyi (tidak terlihat mata), yang hidup bersama-sama dengan kita. Bahasa-bahasa Eropa mengadopsinya dari bahasa Arab, lalu melafalkannya dengan genie (Inggris). Sekalipun kamus-kamus mereka memaksudkannya dengan “roh setan”, namun dalam film-film modern istilah ini mereka maksudkan dengan makhluk berakal, khususnya, yang berbuat baik atau membantu manusia dalam melakukan kebaikan.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

MUKADIMAH

Tunduk kepada khayalan dan mengikatkan diri semata-mata pada kecenderungan akal, plus ketidaktahuan terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui, adalah jalan menuju kesesatan, yang kadang-kadang seluruhnya, atau salah satu diantaranya, menyatu dalam diri seseorang. Yang demikian ini, cukup sudah sebagai jaminan bagi terjadinya kekeliruan persepsi, rusaknya akidah, dan terjadinya dekadensi.Itu sebabnya, maka diturunkanlah akidah Islam yang komprehensif, memenuhi tuntutan emosi dan rasio, mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan, lalu menyinari jalan yang dilaluinya. Karena itu, barang siapa mengikuti apa yang diajarkannya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, kemudian beriman kepada segala sesuatu yang disampaikan oleh Al-Quran, berarti dia telah memperoleh petunjuk, dilindungi dan dipenuhi segala kebutuhannya. Dan barang siapa menyimpang darinya, berarti dia telah disesatkan setan : Barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidaklah dia mempunyai cahaya (petunjuk) sedikitpun (QS. An-Nur: 40).

Sepanjang jin merupakan makhluk yang bersama-sama dengan kita menghuni planet bumi ini, atau dengan ungkapan yang lebih tegas “Kami (Allah) telah menempatkan mereka di bumi,” dan dia lebih dulu ada dibanding manusia, lalu dalam banyak haldia juga bergaul dengan manusia, memiliki keinginan dan kemampuan memilih antara baik dan buruk, untuk kemudian melaksanakan salah satu diantara keduanya, dan sepanjang jin juga merupakan makhluk yang dikenai kewajiban beribadah oleh syariat, dan manusia – baik yang Mukmin maupun non Mukmin – mengetahui adanya makhluk ini, maka wahyu ternyata membatasi jalan kita untuk mengetahui alam gaib ini dari pandangan kita, sekalipun kadang-kadang kita bisa merasakan kehadirannya. Sementara itu, Sunnah Nabi pun telah menjelaskan kepada kita secara gamblang tentang hal-hal yang berkaitan dengan alam gaib tersebut, sehingga kita tidak tersesat dari jalan yang benar.

Dan jika orang-orang non-Muslim menisbatkan kepada jin berbagai kemampuan yang sebenarnya tidak mereka miliki, seperti pengetahuan tentang yang gaib, maka yang demikian itu disebabkan karena kebodohan mereka. Akan tetapi bila hal seperti ituterjadi pada sementara kaum Muslim, maka ia merupakan sejenis syirik dan bukan karena kebodohan mereka. Sebab, bertanya adalah kunci pengetahuan, dan Al-Quran yang dibaca dan didengar pun telah menjelaskan bahwa tidak ada yang dapat mengetahui tang gaib kecuali Allah : Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan), melainkan prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga (QS. Yunus: 66).

***

Sudah sejak lama, dan selama beberapa tahun dalam usia saya, alam jin sangat menarik saya, karena adanya beberapa peristiwa yang disitu beberapa jin terlibat.Karena saya seorang Muslim, maka saya pun percaya pada adanya alam jin, berikut hal-hal yang berkaitan dengan mereka sebagaimana yang difirmankan Allah dan diberitakan oleh Nabi SAW.

Hanya tinggal satu masalah yang saya percayai dalam keadaan sangat goyah, atau dengan masih adanya sesuatu yang mengganjal dalam diri saya. Yakni masalah masukknya jin ke dalam diri manusia. Hal itu sebenarnya tidak saya pungkiri. Sebab, Rasulullah yang ma’shum telah memberitakknya kepada kita, dan sesudah beliau hal itu disampaikan pula oleh para imam yang terpercaya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Taimiyyah, Ibn Al-Qayyim, dan lain-lain. Akan tetapi karena ketidakmampuan saya untuk menangkap persoalan ini dan juga karena kedangkalan akal saya, sekalipun saya tetap mengimaninya, maka yang bisa saya lakukan hanyalah memohon ampunan kepada Allah atas kekurangan dan keterbatasan saya, dan saya berlindung kepada-Nya dari godaan setan dan kehadirannya pada diri saya.

Sejalan dengan profesi saya sebagai seorang wartawan di surat kabar Al-Akhbar sebelum ini, dan dengan keterlibatan saya di bidang dakwah, suatu hari – yang ketika itu saya menjabat sebagai Pimpinan Masjid Al-Malik di Hada’iq Al-Qubbah, dan yang menjadi imam dan pengajarnya adalah Syaikh Abdul-Hamid Kisyik, yaitu salah seorang diantara guru-guru saya yang sangat saya hormati – terjadilah suatu peristiwa, dimana secara tiba-tiba datang menemui kami dua orang, yaitu gadis jin yang masuk ke dalam jasad gadis manusia. Kedua-duanya, jin dan gadis manusia yang disurupinya, sama-sama Muslimah. Penyusupan ini terjadi di depan mata saya, dalam sosok yang tidak saya ragukan sama sekali, adn hendaknya orang-orang yang beriman memperacyai apa yang saya lihat itu. Gadis jin itu tersebut dapat menjelma dalam berbagai bentuk, yakni memperlihatkan dirinya bukan dalam bentuk aslinya. Dia pandai berbahasa Arab, dan namanya Georgina Abdurrahman.

Sesudah itu, dalam waktu yang tidak lama, datang pula kepada kamiseorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun disertai kedua orang tuanya. Begitu pintu ditututp, tiba-tiba gadis itu tertawa terbahak-bahak, lalu menyambar-nyambar. Kedua orang tuanya, yang pada saat itu berada dalam keadaan yang sangat tertekan, menceritakan bagaimana gadis tersebut kesurupan jin wanita yang kafir, bahkan ateis. Begitu kami menyarankan untuk membaca ayat kursi, tiba-tiba gadis itu bergerak sangat cepat kesana kemari, dalam kekuatan yang tidak wajar. Dia memukul teralis yang terbuat dari besi dengan keras. Kami segera membaca ayat kursi. Tiba-tiba setan perempuan yang menyelusup dalam tubuh gadis itu, mengucapkan sumpah serapah adn kata-kata kotor yang tidak pantas dikemukakan disini. Kami terus membaca ayat kursi, sampai akhirnya gadis itu ambruk ke tanah seperti orang pingsan. Kami mengangkatnya dan memindahkan ke dipan. Pada mulanya hal itu sangat sulit kami lakukan, karena tubuhnya mengejang-ngejang dan sulit digerakkan. Tetapi berkat pertolongan Allah, akhirnya gadis itu sadar, kami membaringkannya di dipan, dengan tidak lupa menyelimuti keda kakinya. Sesudah dia betul-betul sadar, kami menasihatinya agar selalu melaksanakan ajaran-ajaran Islam, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Sejak saat itu, pengalaman saya tentang dunia yang ganjil-ganjil terus bertambah, sampai tingkat yang agaknya tidak mungkin bisa dibayangkan oleh pembaca yang budiman. Akan tetapi saya membatasinya pada pengetahuan semata-mata. Sebab bersahabat dengan sesuatu yang tidak sejenis dengan anda, sama sekali tidak akan memberikan kebaikan apapun, kecuali bersahabat dengan malaikat yang anda muliakan dengan amal saleh anda dan selalu berzikir kepada Allah.

Sesudah saya ber-istikharah kepada Allah SWT untuk menulis buku tentang alam jin, maka Allah memberikan kehendak-Nya sehingga terjadilah hubungan saya dengan jin Muslim. Sebelumnya dia adalah kafir, kemudian Alah memuliakannya dengan Islam – melalui pertemuannya dengan saya yang terjadi berkali-kali dan dalam waktu yang cukup lama. Saya mohon maaf. Saya mohon maaf kepada pembaca bila di sini saya tidak memaparkan rahasia dan cara pertemuan kami. Sebab, hal itu merupakan aspek yang tidak memberikan manfaat kepada pembaca. Pada sisi lain, saya maksudkan agar saya tiadk berbuat salah kepada orang yang saya cintai. Pada sisi yang ketiga, itu disebabkan karena moral seorang Muslim haruslah melindungi rahasia pihak lain, dan menganggapnya sebagai amanah, sepanjang yang bersangkutan memintanya demikian. Jin yang saya maksudkan disini, berasal dari keluarga Konjur, dan memilih nama Musthafa sesudah dia masuk Islam. Seluruh persoalannya sangat ganjil. Karena itu, bersangka baik sajalah, dan jangan bertanya mengapa begitu.

Dalam berbagai pertemuan dan dialog yang terjadi antara saya dan kawan saya yang datang dari alam gaib tersebut, saya mengajukan ratusan pertanyaan. Saya mengajaknya berbincang-bincang tentang berbagai masalah, bahkan dia menunjukkan di depan mata saya berbagai keajaiban yang di khususkan Allah bagi mereka dengan ilmunya. Sesudah dia yakin betul akan persahabatan kami, dia mengungkapkan kepada saya banyak sekali hal yang selama ini diyakini secara keliru oleh manusia; termasuk hal-hal lain yang ingin sekali saya gali darinya, namun dia tidak bersedia mengungkapkannya. Kendati demikian, saya telah terlibat dengannya dalam berbagai persoalan yang mungkin tidak terlintas dalam pikiran pembaca yang budiman, yang saya ketahui melalui hubungan kami.

Hasilnya, terbitlah buku ini. Didalamnya termuat pengakuan-pengakuan dari jin yang sudah masuk Islam, yang saya yakin merupakan buku satu-satunya dalam masalah ini. dan sama sekali tidak bercorak taklid. Ia memuat, dengan sebenar-benarnya, tambahan-tambahan yang sesekali terlihat mengejutkan dan membetulkan konsep-konsep yang selama ini keliru, dan membantah anggapan-anggapanyang tendensius. Saya memohon kepada Allah agar buku ini bermanfaat bagi setiap Muslim, dan menjadi jalan hidayah bagi mereka yang sesat dan dimurkai Allah. Akhirnya, saya berharap semoga buku ini memiliki bobot dalam timbangan amal saat ia kelak dihadapkan kepaad ‘Allah ‘Azza wa Jala’. Kepada-Nya saya bertawakal, dan kepada-Nya pula saya mengembalikan persoalan.

Muhammad ‘Isa Dawud

TENTANG PENULIS

MUHAMMAD ‘ISA DAWUD, lahir di bagian timur Ismai’iliyah, tahun 1957. Dibesarkan dan menempuh pendidikan di Kairo. Meraih gelat Lc. di bidang sastra dari Fakultas Bahasa-bahasa dan studi Timur, Cairo University. Dia memulai karir profesionalnya di surat kabar Al-Akhbar dan Akhbar Al-Yawm, sebagai redaktur dan editor, di samping terjun pula sebagai da’i.

Bekerja di surat kabar An-Nadwah Saudi Arabia, dan karirnya terus meningkat, sampai akhirnya dipercaya sebagai Direktur Umum surat kabar harian di Saudi, sekaligus sebagai Wakil Pimpinan Redaksi untuk rubrik Pemikiran dan Kebudayaan Islam, selain mengpalai bagian referensi dan koreksi. Disamping itu, dia masih pula menjabat sebagai penasihat bidang informasi khusus untuk Ketua Pusat Informasi di Makkah Al-Mukarramah.

Muhammad ‘Isa Dawud menulis ratusan makalah dan berbagai kajian dalam bidang agama, sastra, bahasa, sosial dan politik, yang dimuat dalam berbagai surat kabar dan majalah di Saudia Arabia dan Mesir.

‘Isa Dawud adalah orang yang yakin betul bahwa sesuatu yang bersumber dari kalbu pasti akan sampai di kalbu pula. Sedangkan yang hanya berasal dari mulut, pasti hanya masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.

TAMU KITA DALAM BUKU INI

Jin Muslim, berasal dari Bombay, India. Sebelumnya dia adalah jin kafir. Kemudian Allah memuliakannya dengan Islam dan memberinya petunjukkepada keimanan. Dia selalu menekankan perbedaan besar antara Mukmin dan muslim Setiap Mukmin, pasti Muslim. Tapi tiidak setiap muslim pasti Mukmin.

Jin Muslim ini berusia 180 tahun. Masuk Islam nya Jin ini merupakan suatu kemenangan. Sebab, bersama-sama dia telah masuk Islam pula sepuluh ribu jin, yang merupakan pengawal-pengawal dan pendampingnya. Jin kita ini adalah Pemimpin Besar, punya pengaruh dan berwibawa. Kita memohon kepada Allah SWT, semoga jin-jin yang lainjuga mendapat petunjuk melaui dia, dan semoga pula Allah meneguhkan keimanan dan ke-Islamnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: