Masjid Bersejarah Di Asean (Kamboja)


Masjid Dubai Kamboja bersama Imam Masjid Toun Akhmad Hasan berbaju merah

Masjid Dubai Kamboja bersama Imam Masjid Toun Akhmad Hasan berbaju merah

Melanjutkan perjalanan dari Hanoi ibukota Vietnam dan sempat mampir shalat Jumat di Masjid Al Nour yang dulu nya adalah bekas kuil, terus ke Vientiane ibukota Laos, di Vientiane pula ada dua Masjid,  satu bernama Masjid  Kamboja dan satunya lagi Masjid Jamik Pakistan.

Yayasan Lembaga Konsumen Muslim Batam (YLKMB) sebelumnya berkesempatan ke Pnom Penh ibukota Negara Kamboja atau Cambodia ada juga yang menyebut nya Kampuchea.

Bisa jadi penyebutan Kampuchea adalah  mungkin perubahan dialek dari kata Kampung Cham, yaitu kampung-kampung atau pemukiman orang Champa. Yang mana kita tahu kerajaan Champa adalah kerajaan Islam tertua di Nusantara. Lagian pula dari puluhan Provinsi yang ada di Kamboja beberapa nama Provinsi itu di dahului dengan kata Kampong .

Tercatat dalam sejarah bahwa hampir 400 tahun yang lalu di lembah-lembah subur yang dialiri oleh aliran sungai Mekong yang hulunya dari Negeri Cina sana membentuk delta-delta di Kamboja yang subur, kesitulah orang-orang Champa muslim migrasi dari Da Nang pusat kerajaan Champa Vietnam sekarang. Da Nang terletak di tengah Vietnam di teluk yang indah.

Kita tahu pada saat Perang Vietnam tahun 1960-an, Norodom Sihanouk memutuskan untuk beraliansi dengan gerombolan Khmer Merah, yang bertujuan untuk menguasai kembali tahtanya yang direbut oleh Lon Nol. Hal inilah yang memicu perang saudara timbul di Kamboja.

Khmer Merah akhirnya menguasai daerah ini pada tahun 1975, dan mengubah format Kerajaan menjadi sebuah Republik Demokratik Kamboja yang dipimpin oleh Pol Pot. Mereka dengan segera memindahkan masyarakat perkotaan ke wilayah pedesaan untuk dipekerjakan di pertanian kolektif.

Pemerintah yang baru ini menginginkan hasil pertanian yang sama dengan yang terjadi pada abad 11. Mereka menolak pengobatan Barat yang berakibat rakyat Kamboja kelaparan dan tidak ada obat sama sekali di Kamboja.

Genosida

Pada November 1978, Vietnam menyerbu RD Kamboja untuk menghentikan genosida besar-besaran yang terjadi di Kamboja. Akhirnya, pada tahun 1989, perdamaian mulai digencarkan antara kedua pihak yang bertikai ini di Paris. PBB memeberi mandat untuk mengadakan gencatan senjata antara pihak Norodom Sihanouk dan Lon Nol.

Meskipun sekarang, Kamboja mulai berkembang berkat bantuan dari banyak pihak asing setelah perang, walaupun kestabilan negara ini kembali tergoncang setelah sebuah kudeta yang gagal terjadi pada tahun 1997.

Tetapi bekas genosida itu masih terasa hingga kini, jarang terlihat orang tua berusia diatas 60 an  di kampong kampong di pinggiran Provinsi yang ada di Kamboja, terutama umat muslim.

Genosida itu sungguh kejam, satu kampong di satu Provinsi misalnya dipindahkan ke kampung lain dan Provinsi lain, tidak ada yang tersisa. Kebijakan pemerintahan Pol Pot sangat merugikan umat Islam. Begitulah cerita mereka kepada kami saat itu. Seperti bedol desa.

Toun Akhmad Hasan

Salah seorang  dari keturunan ke 14 orang-orang Champa muslim yang bermigrasi ke Kamboja itu adalah Imam Masjid Dubai, Masjid Dubai atau Masjid  Internasional adalah Masjid terbesar yang ada di Phnom Penh Kamboja. Terletak di tengah tengah kota. Disebut Masjdi Dubai karena memang di bangun oleh Dubai, tepat nya terakhir di renovasi oleh orang Dubai.

Pada  saat kami tiba  (23/2/2008) di Bandara Pnom Penh telah menunggu Fatah pemuda berusia sekitar 24 tahun anak lelaki dari Imam Masjid Dubai Toun Akhmad Hasan, Fatah namanya,  pemuda tinggi besar ini dapat berbahasa melayu “Assalamualaikum” itulah ucapan pertama saat kami berjabat tangan.

Dari Bandara kami dibawa menuju masjid Dubai tempat kediaman Toun Imam Akhmad Hasan, di ruangan berukuran 5 x 5 meter yang terletak di sebelah kanan masjid, dinding sebelahnya masih bersatu dengan dinding masjid, disitulah kami diterima oleh Toun Imam, diruangan itu ada tempat tidur 5 kaki ada tangga ke lantai dua, dibawah tangga terletak tv yang sedang menyala menyiarkan berita dalam bahasa Kamboja, di depan tv itulah kami lesehan bercerita menanyakan kabar masing-masing.

Di kamar tidur sederhana merangkap tempat menerima tamu Imam Masjid Internasional Kamboja itu, kami merencanakan perjalanan selanjutnya, pembicaraan dalam bahasa melayu terkadang diselingi dengan bahasa Kamboja, suasana seperti di kampung-kampung di Indonesia saja.

Ustaz Akhmad Hasan kini berusia hampir 70 tahun, Ianya salah seorang yang masih bertahan hidup dan diberi umur panjang oleh Allah SWT dari ganas nya Genosida di Kamboja, bekas tentara pejuang ini, menjadi saksi sejarah, agak terlihat  susah  sewaktu duduk, karena kaki sebelah kanan nya cacat bekas terkena tembakan saat perang .

Ustaz Akhmad KM 9

Di Pnom Penh masih banyak di temui masjid dan perkampungan muslim . Malam itu kami mengunjungi madrasah yang dikelola oleh ustaz Akmad namanya, di Kamboja muslim orang yang bernama awal Akhmad dan Abdul, adalah hal yang biasa, ustaz Akhmad ini dapat berbahasa Melayu , Francis, Inggris dan fasih pula berbahasa Arab.

Tempat kediaman ustaz Akhmad ini dari Pnom Penh terletak 9 km arah ke Utara, sehingga kampung itu lebih terkenal di sebut dengan kampung KM 9, dari mulai kilometer 7 sampai ke KM 9  hampir semua penduduk disitu beragama islam, rumah- rumah disepanjang jalan yang kami lalui memakai kolong agak tinggi ada yang mencapai tiga meter, tiang-tiang penyangganya banyak terbuat dari beton bertulang, ada beberapa masjid disepanjang jalan itu yang kami temui.

Karena memang sudah dihubungi sebelumnya, saat kami tiba di ruang madrasah tempat ustaz Akhmad KM 9 telah berkumpul ustaz-ustaz lainnya dan beberapa orang aktifis dari majelis taklim tetapi khusus untuk pemuda saja.

Dari pembicaraan yang menarik dengan ustaz akmad KM 9 ini adalah, beliau menyarankan kepada yang gemar memberi bantuan baik berupa infaq sedekah atau apapun namanya ke muslim Kamboja, selama ini berupa bangunan masjid. “Ambil lah hati orang Kamboja” ujarnya , maksudnya jangan bangun masjid lagi tetapi sekolahkan orang-orang Kamboja.

Ini mengingatkan kita pada awal-awal tahun kemerdekaan Malaysia, ribuan warga negaranya dikirim dan belajar ke Indonesia sampai tahun 80 an masih banyak mahasiswa Malaysia menuntut dan belajar di Indonesia, lihat sekarang, sejak dekade awal 90 an malah sebaliknya berbondong-bondong pula orang-orang Indonesia yang menjadi mahasiswa di Malaysia, baik itu menyelesaikan S2 dan S3 nya. Yusril Ihza Mahendra adalah salah satu contohnya adalah mahasiswa S3 dari Pulau Pinang Malaysia.

Jadi sangat matang pikiran dan permintaan ustaz Akmad KM 9, tak usahlah membangun masjid lagi ujarnya berulang kali, dengan senyumnya yang khas dia berkata ambil lah hati orang Kamboja. Kalau mereka pintar ber minda pandailah mereka menjaga aqidah dan pandai mereka membangun agama, bangsa dan negaranya.

Madrasah Kamboja Pusat Islam untuk Vietnam

Begitu perlunya Sumber Daya Manusia yang Islami di Kamboja begitulah menurut pemikiran ustaz Akmad KM 9, karena mereka-mereka itulah kelak yang dapat menjadi kader-kader penggerak dakwah, dan hal ini bukan omong kosong belaka.

Ini dapat terlihat di salah satu Madrasah yang dibangun oleh Pemerintah Kuwait, komplek sekolah itu terletak 4 kilo meter dari kota, terdiri dari asrama putra dan putri , ruang belajar permanen dua lantai, ada Masjid, perpustakaan, ruang kantor malah dua lantai, komplek madrasah seluas 1 hektar ini dibangun tahun 1996 tetapi terlihat kusam tak terurus, bangunan permanen ini terlihat kokoh tetapi mungkin sejak di bangun tak pernah tersentuh oleh cat.

Mereka kesulitan dana rutin untuk pemeliharaan karena memang sumber penghasilan tak mencukupi untuk biaya operasional. Bantuan dari Negara – Negara Islam terutama dari Timur Tengah  hanya bantuan pisik saja.

Padahal dari madrasah inilah pusat  perkembangan Islam di Kamboja, dari Kamboja juga memonotir perkembangan Islam  yang ada di Vietnam.

Iklan

4 Tanggapan

  1. sejarah di bentuk.a kamboja
    asal mula menjadi anggota ASEAN

    Suka

  2. Assalamualaikum, saya bercadang ke Vientiane pada Oktober 2010 untuk melawat masyarakat Islam di sana. Saya amat berterima kasih sekiranya tuan dapat memberikan orang atau pertubuhan Islam yang bolleh saya hubungi. Terima kasih

    Suka

  3. Alhamdulillaah akhir Feb2012 kmrn sempat mengunjungi mesjid di Saigon (Jamiah) & mesjid di Hanoi (Noor), memang sngt terasa minoritas muslimnya disana (mereka memperhatikan jilbab yg sy pakai). Namun, Alhamdulillah mereka mau membantu wkt sy tanya2 alamat. Mmm…andaikan umat & negara Islam bersatu membantu saudara2 kita ditempat/dinegara minoritas….Semoga…Amin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: