Masjid Bersejarah di Beberapa Negara Asean (Laos)


Laos negara terkurung tak punya akses ke laut

Laos negara terkurung tak punya akses ke laut

Masih berkaitan dengan Rencana bulan Okteber 2009 di Batam akan di adakan Festival Masjid bersejarah Nusantara ke IV, yang akan diikuti oleh 33 provinsi dan 9 negara Asean.
Ikut sebagai panitia dari sekian ratus orang yang tercantum dalam surat keputusan  Pimpinan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat, jadi terpikir dan teringat tentang masjid bersejarah di Nusantara dari 9 negara Asean.

Pekan lalu tulisan tentang  Masjid Bersejarah di Beberapa Negara Asean (Vietnam)

LAOS

Laos adalah salah satu negara di Asean, memanjang dari utara berbatasan dengan China, sebelah Timur dengan Vietnam di Barat berbatasan dengan Burma (Myanmar)  dan Kamboja, diapit dengan bagian Utara negara Gajah outih Thailand.

Laos negara terkurung daratan  di Asean yang tak punya akses  ke Laut. Beribukota Vientiane (baca viencen) , Negara berbentuk Republik Demokratik Rakyat Laos (RDRL), pemerintahan Laos adalah salah satu dari sekian negara komunis yang masih tersisa. Meski komunis, Agama Theravada sangat mempengaruhi kebudayaan di Laos Theravada salah satu dari aliran agama Budha.

Biduk Lalu Kiambang Bertaut

Masjid Jamik di Viantiane Laos jalan ke lokasi masjid itu tidak beraspal

Masjid Jamik di Viantiane Laos jalan ke lokasi masjid itu tidak beraspal

Umat Islam bisa diibaratkan seperti kiambang yang dilalui oleh biduk, kini sedang tercerai berai. Indonesia negara terbanyak kaum Muslimnya tak dapat berbuat apa-apa, dalam tulisannya Berita Harian koran Malaysia menulis tentang umat islam di Laos akan pupus, benarkah?.

Dalam bulan Februari 2008 yang lalu Yayasan Lembaga Konsumen Muslim  (YLKM) Batam mengunjungi Laos. Karena memang tak tahu dimana letak masjid kami ke kedutaan RI,  sayangnya  staff kedutaan RI di Laos tak seramah staff kedutaan RI di Vietnam, hampir semua staf kedutaan RI di Laos bukan beragama Islam apalagi staff  lokalnya, seorang petugas (orang Indonesia)  yang bekerja di kedutaan RI di Vientane saat itu  sedang menyapu halaman rumah Dubes yang berseberangan jalan dengan kantor kedutaan tak dapat menunjukkan masjid yang ada di Vientiane ketika kami menanyakan dimana letak masjid.

Ternyata di Laos di kota Vientiane  ada dua masjid, di Vientiane  tak lebih dari 400 orang populasi muslim disana.

Satunya masjid Jamik atau yang lebih populer dengan masjid Pakistan, disitulah tempat umat Islam yang kebanyakan dari kedutaan sholat jumat, Imam masjid Jamik sudah 40 tahun menjadi Imam di masjid itu, Imam yang berasal dari India ini kembali setahun sekali ke India karena keluarganya masih tinggal di India.

Di masjid Jamik  ini dilantai dasarnya ada madrasah untuk anak-anak muslim belajar agama Islam yang kebanyakan dari India, Pakistan, Kasmir, Banglades. Masjid ini terletak persis di tengah kota Vientiane, dekat air mancur City Center, Masjid ini juga menjadi pusat comunity Islam, yang ketuanya dipilih jamaah disana 3 tahun sekali.

Salah satu restoran halal di Viantiane (Laos)

Salah satu restoran halal di Vientiane (Laos)

Beberapa pengusaha restoran muslim di Vientiane menjadi pengurus jamiah, kebanyakan pengelola restoran rumah makanan halal adalah warga pendatang, banyak juga orang asing (non muslim) yang makan di restoran halal tersebut, sehingga tak heran meskipun mengklaim halal food tetapi mereka tetap juga menyediakan wine, beer dan wiskey.

Saat YLKM Batam sholat Juhur tanggal 29 Februari 2008 di masjid Jamik tersebut, ada dua orang tamu yang mengunjungi masjid, seorang warga Malaysia dan seorang pengusaha dari Arab Saudi yang akan memberikan bantuan kepada Muslim yang ada di Laos.

Sekarang Laos sedang giat-giat membangun banyak pengusaha dari timur tengah di sana, itu terlihat sepanjang jalan yang dilalui oleh YLKM Batam mulai dari Hanoi ke Vientiane. Mubarrak misalnya, pemuda asal Rangon  (Burma) yang bekerja sebagai penterjemah bagi pengusaha dari Timur Tengah telah 2 tahun bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang perminyakan. Sama seperti Mubarrak, Fakhruddin warga negara Malaysia pun bekerja bagi perusahaan dari middle east ini (saat itu bertemu di masjid Jamik).

Kalau Imam masjid Jamik sama seperti imam masjid di Vietnam dulunya yaitu dari India dan sampai sekarang pun belum ada orang tempatan yang menggantikan nya. Terhimpit dengan bangunan lain jalan menuju ke masjid pun tidak beraspal.

Selain masjid Jamik yang terletak tak jauh dari pusat kota , city center , demikian  orang disana menyebut pusat kota itu, dan satu lagi terdapat masjid Kamboja namanya, sekitar 4 kilo dari pusat kota. Namanya saja masjid Kamboja tetapi bukan orang Kamboja yang mendirikan masjid itu. Dan jamaah disitu pun bukan orang Kamboja.

Pengurus masjid Jamik hanya bisa berbahasa Arab, India dan tentu fasih berbahasa setempat. Namun di Masjid Kamboja banyak jamaah nya yang dapat berbahasa melayu dialek Laos. Malah yang lebih membanggakan hati imam masjid Kamboja itu telah beberapa kali ke Indonesia terutama ke Jogjakarta dalam rangka pertemuan Muslim serantau.

Ustaz Akhmad Dong demikian namanya, saat menerima kami di dalam masjid Kamboja terlihat  sebagian bangunan dinding yang belum selesai dipasang karena kesulitan dana, mereka sangat  mengharapkan sekali bantuan dari muslim di Indonesia, terutama dari segi pengajaran agama Islam.

Sejak 1997 Laos bergabung dengan Asean tetapi warga negara RI dikenakan visa masuk sebesar 25 US dollar sama seperti masuk ke Kamboja dan Myanmar, ketiga negara itu menerapkan peraturan yang sama. Mungkin itu salah satu penyebab tak banyak muslim dari negara serantau datang berkunjung kesana.

Kutipan dari Wikipedia :

Republik Demokratik Rakyat Laos adalah negara yang terkurung daratan di Asia Tenggara, berbatasan dengan Myanmar dan Republik Rakyat Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur, Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat. Dari abad ke-14 hingga abad ke-18, negara ini disebut Lan Xang atau “Negeri Seribu Gajah”.

Sejarah

Awal sejarah Laos didominasi oleh Kerajaan Nanzhao, yang diteruskan pada abad ke-14 oleh kerajaan lokal Lan Xang yang berlangsung hingga abad ke-18, setelah Thailand menguasai kerajaan tersebut. Kemudian Perancis menguasai wilayah ini di abad ke-19 dan menggabungkannya ke dalam Indochina Perancis pada 1893. Setelah penjajahan Jepang selama Perang Dunia II, negara ini memerdekakan diri pada 1949 dengan nama Kerajaan Laos di bawah pemerintahan Raja Sisavang Vong.

Keguncangan politik di negara tetangganya Vietnam membuat Laos menghadapi Perang Indochina Kedua yang lebih besar (disebut juga Perang Rahasia) yang menjadi faktor ketidakstabilan yang memicu lahirnya perang saudara dan beberapa kali kudeta. Pada 1975 kaum komunis Pathet Lao yang didukung Uni Soviet dan komunis Vietnam menendang pemerintahan Raja Savang Vatthana dukungan Amerika Serikat dan Perancis. Setelah mengambil alih negara ini, mereka mengganti namanya menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos yang masih berdiri hingga saat ini. Laos mempererat hubungannya dengan Vietnam dan mengendurkan larangan ekonominya pada akhir dekade 1980an dan dimasukkan ke dalam ASEAN pada 1997.

Politik

Satu-satunya partai politik yang diakui di Laos adalah Partai Revolusioner Rakyat Laos (LPRP). Kepala negara adalah seorang presiden yang ditentukan oleh parlemen untuk masa jabatan 5 tahun. Kepala pemerintahan adalah seorang perdana menteri yang ditunjuk oleh presiden dengan persetujuan dari parlemen. Kebijakan pemerintahan ditentukan oleh partai melalui 9 anggota yang sangat berkuasa Politbiro dan 49 anggota Komite Pusat. Keputusan pemerintah yang penting ditentukan Dewan Menteri.

Laos menganut konstitusi baru sejak 1991. Pada tahun berikutnya, pemilu diadakan untuk 85 kursi baru Majelis Nasional yang anggotanya dipilih secara rahasia untuk masa jabatan 5 tahun. Parlemen tunggal ini diperluas sejak pemilu 1997 menjadi 99 anggota, menyetujui semua hukum baru, meskipun presidenlah yang memegang kekuasaan untuk mengeluarkan dekrit yang sifatnya mengikat. Pemilu yang terbaru dilaksanakan pada Februari 2002 ketika Majelis Nasional diperluas menjadi 109 anggota.

Sisa-sisa dari kelompok etnis Hmong yang beraliansi dengan Amerika Serikat ketika Perang Vietnam terlibat dalam konflik bersenjata dengan rezim komunis Laos sejak 1975. Sehubungan dengan adanya beberapa laporan tentang penyerahan diri etnis Hmong di media internasional baru-baru ini, konflik ini sepertinya sudah agak mereda. Sebagian besar anggota etnis Hmong berbaur kembali dengan masyarakat secara damai, dan sebagian dari mereka bahkan dilaporkan meraih posisi strategis di dalam pemerintahan negara Laos.

Serangan-serangan masih terjadi secara kecil-kecilan di seluruh negeri, tetapi tidak mengarah kepada salah satu gerakan politik. Segala perbedaan pendapat di Laos dimusnahkan, sehingga informasi yang benar sulit didapat.

Provinsi

Provinsi di Laos

Laos dibagi menjadi 16 provinsi (khoueng), 1 kotapraja* (kampheng nakhon), dan 1 daerah khusus** (khetphiset):

  1. Attapu
  2. Bokeo
  3. Borikhamxay
  4. Champassack
  5. Houaphan
  6. Khammouane
  7. Louang Namtha
  8. Louangphabang
  9. Oudomxay
  10. Phongsaly
  11. Saravane
  12. Savannakhet
  13. Vientiane *
  14. Provinsi Vientiane
  15. Xaignabouli
  16. Saysomboun **
  17. Xekong
  18. Xiangkhoang

Geografi

Laos adalah negara yang terhimpit oleh daratan di Asia Tenggara dan diselimuti hutan lebat yang kebanyakan bergunung-gunung, di mana salah satunya yang tertinggi adalah Phou Bia dengan ketinggian 2.817 m dari permukaan laut. Laos juga memiliki beberapa dataran rendah dan dataran tinggi. Sungai Mekong membentuk sebagian besar dari perbatasannya dengan Thailand, sementara rangkaian pegunungan dari Rantai Annam membentuk sebagian besar perbatasan timurnya dengan Vietnam.

Iklim Laos adalah tropis dan dipengaruhi oleh angin musim. Musim penghujan berlangsung dari Mei hingga November, diikuti oleh musim kemarau sejak December sampai April. Ibukota dan kota terbesar di Laos adalah Vientiane, kota-kota besar lain meliputi Luang Prabang, Savannakhet, dan Pakse.

Pada 1993, pemerintah mencanangkan 21% dari wilayah negara sebagai Area Konservasi Keanekaragaman Hayati Nasional (National Biodiversity Conservation Area/NBCA), yang mungkin akan dikembangkan menjadi sebuah taman nasional. Bila telah selesai, maka ia diperkirakan akan menjadi taman nasional terbaik dan terluas di Asia Tenggara.

Sejumlah spesies binatang baru telah ditemukan atau ditemukan kembali di Laos beberapa tahun terakhir. Termasuk di dalamnya kelinci Annam, saola, dan yang terbaru adalah tikus batu Laos atau kha-nyou.

Ekonomi

Pemerintah Laos – salah satu dari sekian negara komunis yang tersisa – memulai melepas kontrol ekonomi dan mengizinkan berdirinya perusahaan swasta pada tahun 1986. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi melesat dari sangat rendah menjadi rata-rata 6% per tahun periode 19882004 kecuali pada saat krisis finansial Asia yang dimulai pada 1997. Seperti negara berkembang umumnya, kota-kota besarlah yang paling banyak menikmati pertumbuhan ekonomi. Ekonomi di Vientiane, Luang Prabang, Pakxe, dan Savannakhet, mengalami pertumbuhan signifikan beberapa tahun terakhir.

Sebagian besar dari wilayahnya kekurangan infrastruktur memadai. Laos masih belum memiliki jaringan rel kereta api, meskipun adanya rencana membangun rel yang menghubungkan Vientiane dengan Thailand yang dikenal dengan Jembatan Persahabatan Thailand-Laos. Jalan-jalan besar yang meghubungkan pusat-pusat perkotaan, disebut Rute 13, telah diperbaiki secara besar-besaran beberapa tahun terakhir, namun desa-desa yang jauh dari jalan-jalan besar hanya dapat diakses melalui jalan tanah yang mungkin tidak dapat dilalui sepanjang tahun. Ada telekomunikasi internal dan eksternal yang terbatas, terutama lewat jalur kabel, namun penggunaan telepon genggam/handphone telah menyebar luas di pusat perkotaan. Listrik tidak tersedia di banyak daerah pedesaab atau hanya selama kurun waktu tertentu. Pertanian masih mempengaruhi setengah dari PDB dan menyerap 80% dari tenaga kerja yang ada. Ekonomi Laos menerima bantuan dari IMF dan sumber internasional lain serta dari investasi asing baru dalam bidang pemrosesan makanan dan pertambangan, khususnya tembaga dan emas. Pariwisata adalah industri dengan pertumbuhan tercepat di Laos. Pertumbuhan ekonomi umumnya terhambat oleh banyaknya penduduk berpendidikan yang pindah ke luar negeri akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai. Pada 2005 penelitian oleh Bank Dunia melaporkan bahwa 37% dari penduduk Laos yang berpendidikan tinggal di luar negeri, menempatkan Laos pada tempat ke-5 di dunia untuk kasus ini.

Akhir 2004 Laos menormalisasi hubungan dagangnya dengan Amerika Serikat, yang membuat produsen Laos mendapatkan tarif ekspor yang lebih rendah sehingga merangsang pertumbuhan ekonomi mereka dari sektor ekspor.

Kebudayaan

Agama Theravada telah banyak mempengaruhi kebudayaan Laos. Pengaruhnya dapat terlihat pada bahasa, seni, sastra, Seni tari, dll. Musik Laos didominasi oleh alat musik nasionalnya, disebut khaen (sejenis pipa bambu). Sebuah kelompok musik umumnya terdiri dari penyanyi (mor lam) dan seorang pemain khaen (mor khaen) bersama pemain rebab dan pemain instrumen lain. Lam saravane adalah jenis musik terpopuler di antara musik-musik Laos, tetapi etnis Lao di Thailand telah mengembangkannya menjadi mor lam sing yang menjadi salah satu best-selling internasional.

Salah satu bukti penting dari kebudayaan Laos kuno terdapat di Dataran Guci.

Media

Seluruh surat kabar diterbitkan oleh pemerintah, termasuk 2 surat kabar berbahasa asing: Vientiane Times yang berbahasa Inggris dan Le Rénovateur yang berbahasa Prancis. Selain itu, Kho San Pathet Lao, kantor berita resmi Republik Demokratik Rakyat Laos, menerbitkan surat kabarnya dalam bahasa Inggris dan Prancis. Warung internet yang melayani para turis umum ditemukan di pusat-pusat kota. Meski begitu, pemerintah menyensor isinya dengan ketat.

Saluran televisi satelit yang menayangkan acara televisi dari Thailand banyak ditemukan di Laos. Banyak dari rakyat Laos dapat mengakses dunia luar melalui program televisi Thailand.

Satu Tanggapan

  1. Seperti apa bahasa Melayu dialek Laos? Belum pernah dengar ada dialek Melayu Laos krn memang Bangsa Lao tidak pernah menurunkan bahasa Melayu. Barangkali mereka bisa bertutur dialek Melayu krn memerima pengaruh dari Malaysia

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: