Kasus Vaksin Meninghitis : MUI Sumsel Temukan Vaksin tak Berenzim


2323786362_8dcbe2a33c_mSebagai orang yang pernah di suntik vaksin dan ternyata vaksin itu mengandung enzim babi, pilu rasanya hati ini…. mengapalah teledor nya pemerintahan ku ini. Sebelum berangkat ke Haji, semua orang mengharapkan haji yang mabrur, begitu lah doa sanak dan keluarga yang datang baik di undang maupun yg di kunjungi.

Diusahakan semaksimal mungkin jangan menggunakan yg haram, baik itu ongkos untuk haji, wanti – wanti petugas manasik mengingatkan di setiap kesempatan. Kami jaga betul itu wahai Presiden ku yang sekarang sedang berkuasa.

Ironis nya tak lama sesaat sebelum hendak berangkat kami disuntik, divaksin, karena kewajiban sebagaimana di perintahkan oleh Kerajaan Arab Saudi, kalau tidak tak boleh masuk ke Tanah Suci.  Engkau suntik kami dengan vaksin berenzim babi  kau sebut namanya “Meninghitis” , sebagai orang awam mana lah kami tahu apa itu sakit selaput otak…. dan tak tahu pula kami sudah berapa banyak orang yang terserang penyakit otak itu kalau tak di vaksin dengan vaksin yang mengandung enzim babi itu.

Tragis…………… itulah Pemerintahan ku ……..yang sekarang lagi sibuk jual kecap untuk dipilih menjadi presiden 5 tahun kedepan .

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT MUI Palembang “membongkar” masaalah itu dan menemukan pengganti vaksin yang tak mengandung enzim babi……

dibawah ini kami kutip http://www.jurnalhaji.com/vaksin-150x100

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Selatan (Sumsel) tak hanya berani mengungkap kasus kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis, yang selama ini digunakan jamaah haji dan umrah. MUI Sumsel pun berupaya mencari vaksin meningitis pengganti yang tak mengandung enzim babi.

”Upaya kami mencari vaksin meningitis yang tidak mengandung enzim babi, mulai membuahkan hasil. Kami berhasil mendapat informasi dari distributor farmasi di Singapura bahwa ada vaksin meningitis, yang tidak mengandung atau dibuat dengan enzim babi,” ungkap Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun, kepada Republika, Rabu (17/6).

Kiai Sodikun mengungkapkan, vaksin meningitis yang tak mengandung enzim babi itu adalah vaksin A, C, Y, & W135, yang diproduksi JN-International Medical Corporation dari Amerika Serikat. Kini, MUI Sumsel masih terus berusaha memperoleh sampel vaksin tersebut.

Sementara itu, Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, meralat pernyataan yang sempat diungkapkannya dalam acara Tanwir Aisiyah II di Yogyakarta, Sabtu (13/6) lalu. Siti Fadilah menyatakan, keputusan tentang haram atau halalnya suatu produk, termasuk vaksin meningitis yang digunakan calon jamaah haji, umrah, dan pekerja musiman merupakan kewenangan MUI.

Sebelumnya, Menkes sempat melontarkan pernyataan yang mengundang reaksi keras dari MUI. Siti Fadilah sempat mengatakan, untuk mengetahui apakah vaksin mengandung babi atau tidak, bukan wewenangn MUI. ”Tetapi, kalau babi itu haram, memang wewenang MUI.”
Selasa (16/6) malam, Menkes bertemu dengan pimpinan MUI di Kantor MUI. Sekretaris Umum MUI, M Ichwan Sam, menuturkan, Menkes bertemu dengan pimpinan harian, unsur komisi fatwa, dan unsur LPPOM MUI. Menurut dia, selain untuk bersilaturahim, kedatangan Menkes ke MUI juga bertujuan untuk menyamakan persepsi, khususnya masalah vaksin meningitis yang diwajibkan pemerintah Arab Saudi bagi seluruh jamaah calon haji dan umrah.

Seusai pertemuan, Menkes mengatakan, vaksin meningitis bermanfaat untuk mencegah jamaah haji dan umrah agar tak tertular virus meningitis. ”Karena penyakit meningitis itu mematikan,” ungkap Siti Fadilah.  Menkes mengaku telah mendapatkan informasi langsung dari salah seorang Direktur Lembaga Halal Malaysia, Tn Zainal Abidin Bin Jaffar, sampai kini Malaysia belum bisa memproduksi vaksin meningitis sendiri.

Menkes menegaskan, Indonesia akan berupaya untuk dapat memproduksi vaksin meningitis sendiri. Apalagi, lanjut dia, Indonesia sudah berpengalaman memproduksi vaksin-vaksin untuk imunisasi dasar, seperti BCG, DPT, dan Polio. Keputusan pemberian vaksin meningitis, kata dia,  bukan kemauan atau keputusan Depkes, melainkan ketentuan dari Pemerintah Arab Saudi.

Sekretaris Umum MUI, M Ichwan Sam, mengatakan, MUI akan menangani vaksin meningitis secara hati-hati agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. ”Karena hakikatnya, baik MUI maupun Depkes, memiliki tugas masing-masing dan sama-sama untuk melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Sementara itu, sejak 8 Juni 2009, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) kelas II Palembang telah menghentikan sementara, pelayanan penyuntikan vaksinasi meningitis bagi jamaah umrah asal daerah itu. MUI Sumsel mendukung penuh keputusan KKP kelas II Palembang tersebut.

Dari Yogyakarta dilaporkan, para calon jamaah haji di kota gudeg terus mendatangi kantor Departemen Agama setempat, terkait polemik vaksin meningitis. Sebagian calon jamaah haji di wilayah itu mengaku bingung dengan perang pernyataan antarinstansi, terkait vaksin yang diwajibkan bagi calon jamaah haji. ”Mereka mempertanyakan kepastian halal dan haramnya vaksin itu,” tutur Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji, Zakat, dan Wakaf Kanwil Depag DIY, Muhammad.

Vaksin Halal Temuan MUI Sumsel Harus Ditindaklanjuti

Pemerintah dalam hal ini Depkes diminta untuk menindaklanjuti temuan vaksin tanpa mengandung enzim babi seperti diklaim MUI Sumsel. “Sebaiknya pemerintah menindaklanjuti temuan itu. Benar atau tidak. Kalau memang ya, berarti khan ada alternatif lain untuk vaksin meningitis ini, yang tidak mengandung babi. Sehingga calon jamaah haji dan jamaah umroh saat ini tidak resah,” tegas KH Ridwan Lubis, Ketua PBNU di Jakarta, Kamis (18/6).

Dikatakan kiai Ridwan bahwa ibadah haji ini merupakan ibadah ‘puncak’ umat Islam. Sehingga tentunya pemerintah harus bisa menindaklanjuti temuan itu dan jamaah pu merasa tenang dan nyaman dalam beribadah.

Seperti diberitakan Republika kemarin (17/6), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Selatan (Sumsel) berupaya mencari vaksin meningitis pengganti yang tak mengandung enzim babi. “Upaya kami mencari vaksin meningitis yang tidak mengandung enzim babi, mulai membuahkan hasil. Kami berhasil mendapat informasi dari distributor farmasi di Singapura bahwa ada vaksin meningitis, yang tidak mengandung atau dibuat dengan enzim babi,” ungkap Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun.

Kiai Sodikun mengungkapkan, vaksin meningitis yang tak mengandung enzim babi itu adalah vaksin A, C, Y, & W135, yang diproduksi JN-International Medical Corporation dari Amerika Serikat. Kini, MUI Sumsel masih terus berusaha memperoleh sampel vaksin tersebut.

Pernyataan senada dilontarkan pihak MUI Pusat. “Dalam hal ini kan MUI berkepentingan dalam hal halal haramnya, pemerintah yang lebih berkepentingan untuk menindaklanjuti temuan itu. Sehingga sebaiknya ditindaklanjuti oleh pemerintah, kalau perlu dilihat langsung ke pabriknya,” papar Amidhan, Ketua MUI.

Namun Amidhan juga kurang yakin bahwa temuan MUI Sumsel itu benar adanya. “Itu khan baru informasi. Jadi belum fakta. Karena yang dulu mengatakan mengandung babi itu kan ternyata penyelidikan melalui literatur. Waktu itu juga setelah kita panggil MUI Sumsel, buktinya di mana. Ternyata cuma informasi dari penelitian literatur mereka itu,” papar Amidhan.

“Karena selama ini yang diklaim oleh dunia medis, vaksin yang digunakan sekarang ini adalah satu-satunya yang ada sekarang dan digunakan oleh 77 negara. Kecuali penemuan itu sama sekali baru. Jadi harus dibuktikan dulu,” imbuhnya.

Amidhan juga mengharapkan jangan kemudian ternyata kondisinya seperti vaksin yang digunakan saat ini. “Jangan seperti yang sekarang. Kalau yang sekarang, vaksin itu diperiksa ya tidak ada lagi porcene babi itu. Tapi dalam prosesnya khan menggunakan enzim babi. Karena ada kaidah, bila awalnya itu haram, maka akhirnya juga haram,” ucap Amidhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: