Saat Shalat Jumat di Pasar Pramuka Jakarta


Selesai dari Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II Tahun 2006-2011 Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) di Jakarta sejak tanggal 24 s/d 26 Maret 2009 yang baru lalu di Hotel The Batavia, besok nya Jumat (27/3) kami baru pulang ke Batam.

Janjian dengan Ustaz Effendy Asmawi di Soekarno – Hatta pukul 14.00 wibb, Effendy mewakili BMPS Kepulauan Riau, sementara saya mewakili BMPS Kota Batam.

Pagi,  sebelum ke Bandara , mampir dulu di Pasar Pramuka, Pasar Jaya yang di kelola oleh Pemda DKI Jaya ini terletak di Jalan Pramuka, nama nya Pasar Pramuka tetapi bukan lah menjual alat – alat untuk keperluan Pramuka, dulu nya aku sebelum tahu terpikir di Pasar Pramuka itu menjual keperluan Pramuka, tetapi pasar 5 lantai itu menjual alat-alat kedokteran dan juga obat-obatan.

Puluhan Apotik Rakyat dan kios kios menjual alat-alat kedokteran ada disitu, tetapi hanya satu kios yang menyediakan alat alat untuk keperluan dokter gigi.   “Dulu Iwan Dental ada disini” jelas seorang pelayan kios Esa Denta yang menjual alat-alat kedokteran dan rumah sakit yang juga menjual alat – alat keperluan untuk dokter gigi.

Hari hampir menunjukkan pukul 12 tengah hari, suara alunan ayat suci Alquran terdengar dari Loadspeaker, bersahut sahutan, ditingkah suara pengumuman dari petugas Jumat.  Ternyata di lantai paling atas Pasar Pramuka itu ada Masjid, Al Furqan namanya.

Naik dengan tangga yang ber putar putar, di ruangan masjid telah banyak orang, hampir seluruh nya yang shalat di situ adalah karyawan yang bekerja dan berjualan di lantai satu dan lantai dua. Lantai tiga hanya diisi oleh kantor Pasar dan ada Klinik umum disitu termasuk klinik gigi.

Di masjid Al Furqon di Pasar Pramuka ini jamaah terutama anak muda hampir sama dengan di beberapa masjid lainnya mereka memaki celana Jeans dan berbaju kaos.  Baju Kaos yang dipakai bila rukuk dan sujud akan menyingkap ke atas sehingga punggung dan belahan pantat nya kelihatan.  (Suatu Hari Saat Shalat Jumat di Masjid Raya Batam)

Dua orang disebelah ku hanya tersenyum sembari menarik kaos yang tersingkap setelah kubisikkan bahwa punggung nya kelihatan. Dan dia pun tahu batas aurat seorang lelaki.

Suara Pengeras Suara yang bersahut -sahutan

Tak berapa lama duduk setelah shalat tahyatul masjid, muazin mengumandang kan azan, masjid – masjid diseputaran Pasar Pramuka pun juga mengumandangkan azan, khatib di masjid tempat kami shalat membaca khotbah nya , masjid-masjid di seputaran pasar itu pun sama.

Terdengar jelas apa yang di ucapkan oleh khatib dari beberapa masjid yang tak berapa jauh dari lokasi Pasar Pramuka, memang kalau kita melihat sekeliling dari atas pasar itu akan terlihat beberapa masjid yang juga melaksanakan shalat jumat,  seakan saling beradu kuat suara loadspeaker.

Baru-baru ini di Saudi Arabia Menteri Urusan Agama, Wakah dan Dakwah Arab Saudi, Saleh Al-Asheikh menginstruksikan para imam masjid untuk tidak terlalu keras memasang volume pengeras suara saat memimpin salat.

Instruksi ini disampaikan Al-Asheikh di sela-sela pertemuan jajaran pimpinan kementerian urusan agama untuk wilayah Riyadh. Menurut Al-Sheikh suara pengeras suara yang terlalu bising kadang membuat suara imam yang sedang melantunkan ayat-ayat suci al-Quran tidak terdengar jelas. “Ini membuat para jamaah di dalam dan di luar masjid tidak bisa mendengar bacaan al-Quran dengan jelas,” kata Al-Asheikh.

Di Saudi, banyak masjid yang jaraknya hanya terpisah beberapa blok saja, sehingga penggunaan pengeras suara saat ceramah atau salat menimbulkan suara bising sehingga para jamaah terkadang justeru tidak nyaman menyimak ceramah dan bacaan salat.

“Pengeras suara boleh keras saat adzan, tapi saat salat sebaiknya imam mengecilkan volumenya. Bahkan ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa pengeras suara sebaiknya dimatikan saja saat imam memimpin salat,” ujar Al-Sheikh.

Ia juga mengingatkan hadist Rasulullah Muhammad Saw yang mengatakan bahwa ketika salat, kita sedang melakukan komunikasi rahasia dengan Allah dan sebaiknya suara dipelankan saat membaca bacaan salat.

Menurut Al-Asheikh, para imam masjid harus lebih memperhatikan kedispilinan dan ketertiban di dalam masjid. Meski saat ini kondisinya sudah lebih baik dari beberapa tahun yang lalu. “Karena para imam dan khatib sudah lebih sadar akan kewajiban dan peran mereka,” ujarnya.

Untuk itu, kementerian yang dipimpinnya selalu meningkatkan performa para imam dan khatib di masjid-masjid Saudi dengan memberikan berbagai program pelatihan. Kementeriannya, kata Al-Sheikh, juga akan memperbaiki perjanjian untuk menjadi imam dan khatib sehingga mereka tahu apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan.

“Perjanjian itu menjelaskan bagaimana sikap saat memimpin salat dan saat mereka berada di masjid. Sehingga mereka tidak seenaknya melakukan aktivitas seenaknya di dalam masjid. Perjanjian itu berlaku di semua cabang kementerian dan untuk seluruh imam dan da’i. Mereka harus menandatangani perjanjian itu setelah penunjukkan,” jelas Al-Sheikh.

Di Batam pun banyak masjid-masjid saat selesai shalat sering Imam nya membaca doa cukup kuat melalui pengeras suara, padahal banyak jamaah yang saat itu masbuk dan sedang shalat lainnya. (Suatu Ketika Saat Shalat Magrib di Masjid Istiqlal Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: