Shalat Magrib di Kantor Walikota Batam


Hari Sabtu tanggal 7 Maret 2009, karena ngurusin persiapan untuk manasik haji antar siswa sampai magrib kami masih dilapangan Engku Putri, karena besok pagi Ahad (8/3) akan dilaksanakan acara festival manasik haji siswa se Provinsi Kepri.

Dari masjid raya Batam center terdengar suara azan, “Dilanti IV ada mushalla pak” ujar salah seorang anggota Satpol Pamong Praja (PP) yang sedang bertugas shift petang di kantor walikota itu, mungkin dia melihat aku belum beranjak masih “terduduk” di tangga pintu yang menghadap ke lapangan Engku Putri.

“Iya , agak penat nak jalan kesana” jawab ku , meskipun jarak antara kantor walikota dengan Masjid Raya tak lah begitu jauh. Seraya mengajak Saharuddin untuk shalat bersama.

Ada tiga orang petang itu satpol PP yang berjaga seorang berasal dari Pulau Moro (bukan Filiphina) dan seorang dari Anambas, serta seorang lagi yang menberitahukan kalau di lantai IV ada mushalla tadi adalah kelahiran Sambau Nongsa.

Sampai tempat asal dan kelahiran mereka aku tahu karena ke tiga-tiga mereka ku ajak “berbual” sebelumnya, maklum barang-barang untuk keperluan manasik besok hari di titipkan di lantai I.

Bergegas sendirian ke lantai IV karena satpol PP yang mengaku orang Sambau Nongsa tadi tak mau ikut saat ku ajak karena  “berhalangan” shalat padahal dia lelaki.

Sampai di lantai IV setelah pintu lift belok ke kiri terlihat tulisan mushalla, di depan mushalla, ku pakai sendal yang memang banyak tersedia, menuju tempat wuduk di depan ruang Dharma Wanita sebelah kiri ada dua ruang yang satu tertulis untuk wanita dan satu nya lagi laki-laki. Disitu lah aku wuduk di wastafel yang ada membelakangi urinoir , disamping kanan ada dua kamar mandi/WC, terlihat bersih karena memang mungkin belum terpakai atau baru dibersihkan, atau kebetulan hari ini adalah hari sabtu.

Di dalam kamar mandi/wc ada ember plastik ukuran sedang warna merah yang berisi air penuh, dan ada gayung plastik juga berwarna merah, saat aku buang air kecil air di dalam ember itu aku ciduk untuk istinjak terlihat air di gayung berwarna coklat, mungkin pikir ku cahaya lampu agak redup atau pengaruh dari gayung yang berwarna merah sehingga air nya pun jadi terlihat berwarna kecoklat coklatan.

Ku buka kran yang ada di samping kanan, air mengalir cukup deras, kutampung di dalam gayung tadi yang air nya  terlihat kotor dan air nya telah ku buang, ternyata air yang keluar dari kran itu tak kalah keruh nya, bukan keruh lagi tetapi berwarna karat dan aroma karat yang menyengat. Cukup lama ku  biarkan air itu terbuang sampai warna air itu agak jernih, sekali lagi agak jernih,  bukan jernih itu lah yang kupakai untuk istinjak.

Meskipun ada mushalla tetapi karena bukan dipersiapkan sebelumnya untuk mushalla jadi tidak ada tempat khusus untuk berwuduk,  orang -orang berwuduk termasuk aku ya di wastafel, cuci kaki pun ya di wastafel.

wastafel ini digunakan untuk tempat ber wuduk..... kaki pun di cuci di situ, karena mushalla yang ada bukan dipersiapkan terlebih dahulu.

wastafel ini digunakan untuk tempat ber wuduk..... kaki pun di cuci di situ, karena mushalla yang ada bukan dipersiapkan terlebih dahulu.

Wastafel berwarna putih itu persis di bawah cucuran kran nya terlihat  noda berwarna karat, air yang mengalir dari kran wastafel itu pun tak kalah keruhnya dan berbau karat yang cukup tajam sama seperti kran yang ada di kamar mandi, sampai selesai akau berwuduk air yang kupakai belum lagi jernih.

Di dalam kamar mandi/wc wanita pun yang bersebelahan dengan wc lelaki  air yang mengalir dari krangan yang ada, semua berkarat.

Selesai shalat sendirian aku kembali ke lift untuk turun ke lantai I di sebelah kiri lift terdengar suara air mengalir dari kran, ternyata ada orang di kamar mandi, aku menuju kesitu mau memastikan apakah diruang itu air dari krangan juga berkarat, sebelum ruang wc,  ada dua wastafel diruang tersendiri,  yang sebuah ku buka air nya jernih, karena mungkin baru di gunakan , dan yang sebuah lagi tidak bisa di buka karena krangan nya patah gagangnya, bekas patahannya terlihat berkarat mungkin sudah cukup lama kerangan wastafel ini patah belum di ganti atau memang air karat keluar dari atas  kran yang patah.

Cepat sekali ya karatan pipa galvanized yang terpasang di kantor walikota Batam itu? apakah karena memang bukan pipa asli galvanized yang terpasang atau karena pengaruh air dari ATB ? yang membuat pipa yang terpasang di bangunan kantor walikota itu sampai karatan sedemikian rupa.

Aku turun ke lantai dasar, di situ sudah ada tiga orang satpol PP yang tadi kutemui sebelum shalat, dua orang terlihat muka nya bersih dan rambutnya masih basah tetapi yang seorang lagi yang kuajak ikut shalat ke lantai IV saat melihatku dia tersenyum memandangku, karena kupandang muka kedua temannya dan kupandang mukanya dia agaknya mengerti  makna pandanganku, “iya pak insyaallah besok aku akan shalat”, ujar nya.

Kedua temannya tersenyum, “sudah lama pak kami ngajak dia shalat tapi dia tak mau” ujar yang bernama Gazi terlihat dari nama yang tertulis di baju seragamnya. Aku tak menanggapi penjelasan Gazi malah bertanya kepada nya “sudah berapa tahun ya kantor walikota kita ini”  tanyaku, dan aku pun sebenarnya tak terlalu mengharapkan jawab dari mereka.

Aku pamit pulang setelah menitipkan barang-barang kepada mereka bertiga, sembari mengucapkan terimakasih sebelumnya.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Pak Imbalo,
    Terimakasih atas tulisan ini semoga ini jadi ibrah bagi kita semua…

    Air keran karat itu saya kira bukan dari ATB, tapi dari korosi pipa Air yg ada…

    Dan itu terjadi setiap week end karena Air tidak di[akai dan mengendap…. sy juga mengira karena Pipa tersebut tidak lelapisi atau lapisan antikaratnya luntur 🙂

    Thanks & Wassalam
    Ria

    Suka

  2. Salam
    Terima kasih sudah membaca nya……jadi ingat seorang Kaplores di Batam beberapa tahun yang lalu, membuat absen kepada anak buah yang shalat, mungkin karena banyak polisi yang tak shalat Taraweh waktu itu, padahal dia tak bertugas, karena dia seorang “Bapak” di kepolisian boleh-boleh saja mengabsen “anak” nya yang enggak shalat.

    Nama Kapolres itu diabadikan menjadi nama masjid yang sekarang berada di belakang Markas Kapoltabes Barelang Sei Baloi.

    Satpol PP yang enggak shalat pun bisa di absen koq???!!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: