Jalan Jaksa Jakarta


photo bersama rombongan young muslim association of thailand (YMAT) di depan wisma haji jalan jaksa menteng jakarta pusat

photo bersama rombongan young muslim association of thailand (YMAT) di depan wisma haji jalan jaksa menteng jakarta pusat

Ketika Sholat Subuh di Jalan Jaksa

Menjelang dini hari  Ahad 25 Januari 2009  jalan Jaksa masih hingar bingar, ekspatriat atau pun turis asing masih  berseliweran, jalan sempit yang tak seberapa panjang yang terletak di Kelurahan Kebun Sirih Menteng Jakarta Pusat itu menjadi bertambah sempit dengan mobil yang terparkir di kiri kanan jalan nya.

“Assalamualaikum pak Haji” sapa Sinaga yang berdiri di depan pintu dorong Wisma Haji yang terdapat di jalan Jaksa juga, persis di samping pintu di tempat Sinaga ada dua kereta dorong berjualan goreng gorengan, di depan nya ada cafe yang sedang memutar lagu-lagu Barat,  dari dalam cafe  keluar perempuan berpakaian seronok, di depan pintu cafe duduk tiga orang berbadan tegap berkulit hitam, melihat tampang nya seperti orang dari Afrika.

Subuh itu kami bergegas hendak menuju masjid yang terletak di samping wisma Haji yang terdapat di Jalan Jaksa,  rombongan Young Muslim Association of Thailand menginap di wisma Haji, pilihan menginap di situ mungkin karena murah dan dekat ke Pusat Muhammadiyah yang terletak di Menteng Raya, apalagi rencana minggu pagi  rombongan akan ke Tanah Abang dan melihat Monas juga.

Azan Subuh tengah berkumandang dari masjid, tak banyak jamaah sholat subuh, saf – saf  masjid kecil itu dipenuhi rombongan kami.

Selepas sholat kami kembali berjalan ke wisma di depan gang kecil keluar dari masjid, jamaah berpapasan dengan seorang wanita yang sedang mabuk mengangkat ke dua tangan nya meminta maaf, ” maaf pak haji, aku mabuk, aku mabuk, aduh aku jadi malu dengan pak haji” ulang nya berkali kali, dia melihat rombongan puluhan ustaz – ustaz berpakaian gamis, mungkin didalam pikiran nya ada yang mau demo memberantas maksiat.

“Mabuk koq bisa ngomong, ya sudah sana sholat dulu” ujar ustaz Wahab, si wanita itu terus saja ngeloyor pergi, terus meracau racau.

Di jalan Jaksa bukan ekspatriat dan turis saja yang berseliweran, orang kita pun terutama beberapa wanita berpakaian seronok masih terlihat hilir mudik disitu ada yang berpasangan.

Seperti Sinaga tadi yang menunjukkan lokasi masjid kepada kami misal nya, ada beberapa orang seperti dia  berdiri di pinggir – pinggir jalan apakah dia penjaga parkir atau apa, ada yang di lengan nya tertera tatto.

Di depan gang masjid ada cafe yang menjual masakan halal, tak ada bir dan alkohol di jual disitu, Cafe Malaysia namanya, disitu lah rombongan kami sarapan pagi , makan nasi lemak mirip di Malysia rasanya, ada roti canai.

Hampir semua tampang yang berada di cafe itu tampang melayu tak ada tampang bule, ada tv layar besar sedang menyiarkan pertandingan bola Liga Spanyol, saat azan tadi pun mereka tetap asyik menonton.

Tepat pukul delapan pagi kami meninggalkan wisma haji, sangat kontras keberadaan wisma itu terlihat di komunitas hotel dan wisma serta cafe-cafe  lainnya, di lokasi kawasan wisata malam  di jalan jaksa.

tulisan lainnya tentang jalan jaksa dikutip dari antara

Jalan Jaksa Jadi Tempat Transaksi Prostitusi

Jakarta-RoL– Sekitar 20 wanita penghibur setiap malam mangkal di sejumlah tempat hiburan dan hotel di Kawasan Wisata Malam Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, kata Ketua Ikatan Usaha Kepariwisataan Jalan Jaksa dan Sekitarnya (IUKS) Boy Lawalata di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, para wanita penghibur itu pada umumnya mengenakan pakaian seronok, duduk-duduk di kafe mendengarkan musik sambil merokok, mencari turis untuk dijadikan teman kencan. Apalagi restoran atau kafe di Jalan Jaksa terkenal murah.

Bahkan, katanya, selain wanita penghibur yang datang dari berbagai daerah, terdapat juga laki-laki gay yang mangkal mencari turis yang senang terhadap sesama jenis. “Tak terkecuali, wanita lesbian pun ada di Jalan Jaksa,”  ujarnya.  Meski demikian, kata sesepuh Jalan Jaksa itu, tidak diketahui pasti apakah wanita penghibur, gay dan lesbian yang telah mendapat mangsa itu menggunakan tempat penginapan di Jalan Jaksa (lima hotel dan delapan hostel/wisma) atau tidak.

Ia mengatakan, pada prinsipnya IUKS telah menyebarkan surat edaran yang melarang tempat hiburan dan penginapan di Jalan Jaksa digunakan kegiatan prostitusi.  Helmy Zain, pemilik wisma Ariny, juga membenarkan bahwa banyaknya turis di Jalan Jaksa dimanfaatkan wanita penghibur dan gay mencari uang dan kesenangan.  “Ibarat pepatah, di mana ada gula di situ ada semut, tak terkecuali wanita penghibur juga melihat peluang mendapatkan uang dari para turis,” katanya.

Sementara Kepala Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Aris Husaini,  menegaskan pihaknya selalu melakukan razia terhadap wanita penghibur agar Jalan Jaksa bebas dari prostitusi. “Kalaupun masih ada, itu bagian kecil yang segera ditertibkan kembali,” katanya.

Satu Tanggapan

  1. Jalan2 trus, pak haji ini…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: