Kebakaran Depot Plumpang, Premium Habis Api Padam Sendiri


pertamina-dal

Senin (19/1) Presiden SBY datang berkunjung ke Batam, beliau mengungkapkan soal kebakaran di Depot BBM  Pertamina Plumpang sabagai mana di tulis oleh news.okezon.com sbb :

Kebakaran yang terjadi di tangki nomor 24 Depo Plumpang sekira pukul 21.00 WIB tadi malam, diduga disebabkan oleh tidak berfungsinya dengan baik peralatan mesin. Namun benar atau tidaknya masih menunggu hasil investigasi.

Demikian diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat mersmikan Free Trade Zone Batam, Bintan, dan Karimun (FTZ BBK)  di Batam, Pantai Pasir Putih, Batam Center, Kepulauan Riau, Senin (19/1/2009).

“Tadi malam saat terjadi kecelakaan, sistem kita langsung bekerja untuk mengatasi kebakaran. Alhamdulilah sekitar pukul 06.30 WIB api berhasil dipadamkan. Investigas terus dilakukan di depo untuk mengetahui sebab-sebab kecelakaan,” tutur SBY.

Kerusakan ini menurutnya pekerjaan rumah yang harus diperbaiki, agar pada masa mendatang seluruh depo BBM di Indonesia aman dari kecelakaan yang menimpa Depo Plumpang.

SBY menjamin kecelakaan ini tidak mengganggu distribusi BBM di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). “Tangki yang terbakar merupakan salah satu dari lebih dari 20 tangki. Jadi tidak mengganggu,” tukasnya

http://news.okezone.com SBY: Ada Peralatan Depo Plumpang yang Rusak

“Tadi malam saat terjadi kecelakaan, sistem kita langsung bekerja untuk mengatasi kebakaran. Alhamdulillah sekitar pukul 06.30 WIB api berhasil dipadamkan. Investigas terus dilakukan di depo untuk mengetahui sebab-sebab kecelakaan,”

Jadi kebakaran itu berhasil di padam kan pukul 06.30 wibb, sementara mulai kebakaran sekitar pukul 21.00 wibb, 8 jam lebih, sebenar nya tanpa di padam kan pun kebakaran itu selama 8 jam akan padam dengan sendiri nya, karena minyak premium yang berada di tangki no 24 itu sudah habis terbakar. (Kebakaran Depot Plumpang Benarkah Akibat Human Error?)

Ratusan mobil pemadam kebakaran dan sistem hidrant yang ada di Depot Plumpang itu seperti nya bukan untuk memadamkan kebakaran tetapi hanya untuk mendinginkan areal seputar tangki yang terbakar (cooling) agar tangki yang lain tidak terbakar.

Tangki yang terbakar kalau di siram dengan air malah tambah menyala dan air nya kemana-mana, air bukan berfungsi untuk memadamkan kebakaran yang bahan terbakar nya BBM.

Panas yang di timbulkan oleh BBM dalam tangki yang terbakar seperti tangki no 24 di Depot Plumpang itu, dapat merubah struktur Air (H2O) menjadi uap , kalau air sudah berubah uap dia akan ikut terbakar.

Bukan kah plat tangki yang terbuat dari baja itu pun meleleh?.

Jadi premium yang di dalam tangki kalau betul sejumlah 5 ribu kilo liter dibiarkan saja terbakar sampai habis , karena biaya untuk memadamkan nya dengan foam lebih mahal lagi,  lagian bukan kah tangki beserta isi nya sudah di asuransi kan oleh Pertamina.  Apakah mungkin begitu pak SBY?


3 Tanggapan

  1. Berpetualang Jalan Kaki di Parapat.

    Oleh Neta S Pane
    (Dimuat oleh Kompas edidi Minggu, 18 Januari 2009)

    Berjalan kaki menyusuri Parapat banyak hal menarik didapat. Di balik jalannya yang berliku dan turun-naik, Parapat menyimpan begitu banyak bangunan tua berarsitektur menggoda.

    Parapat adalah kelurahan di tepi teluk di Danau Toba, masuk Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Lebih dari 90 persen penduduknya beretnis Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Selebihnya, etnis Jawa, Sunda, Padang, dan China. Tak heran jika di kota kecil ini terdapat gereja Protestan dan Katolik, masjid, dan wihara.

    Berjalan kaki menyusuri Parapat mengingatkan kita pada dahsyatnya letusan gunung api di sana ribuan tahun lalu. Letusan itu membentuk danau berukuran 100 km x 30 km dan berada 1.000 meter dari permukaan laut, dengan Pulau Samosir di tengahnya. Menakjubkan.

    Rasa takjub sebenarnya sudah muncul jauh sebelum memasuki Parapat. Lepas dari Pematang Siantar, dari atas ketinggian tebing curam, kita sudah disuguhi keindahan Danau Toba yang menghampar biru di kejauhan. Hingga setengah jam kendaraan menuruni bukit terjal dan berkelok-kelok di bibir kawah Danau Toba, dapat disaksikan sisa muntahan bebatuan dan abu vulkanik yang menurut peneliti Universitas Teknologi Michigan, Amerika Serikat, sebagai bekas letusan maha dahsyat pada 75.500 tahun lalu. Letusan itu memuntahkan bebatuan dan abu vulkanik hingga radius 2.000 km² serta menimbulkan kegelapan selama dua minggu.

    Petualangan jalan kaki saya mulai dari tengah kota, di perempatan jalan depan Inna Parapat. Hotel ini dibangun tahun 1911 dan menjadi hotel pertama di kota itu.

    Dari sini saya menyusuri Jalan Marihat menuju kawasan Tanjung Sipora-pora hingga ke ujung barat. Jalan kecil berliku dan turun-naik cukup menguras tenaga. Di sepanjang jalan terdapat beberapa bangunan tua dengan arsitektur bergaya kolonial Belanda, sebagian besar kurang terawat.

    Wisata arsitektur

    Di kawasan paling ujung kembali saya menemukan hal menakjubkan. Sebuah bangunan kuno berdiri kokoh di ujung tanjung bertebing sangat curam. Di kejauhan, di depannya terlihat fatamorgana Pulau Samosir bertemu dengan daratan Sumatera. Jika cuaca cerah, pada sore hari dari gedung ini terlihat jelas proses matahari terbenam di fatamorgana Samosir.

    Di tempat ini, pada 1 Januari 1949, Presiden Soekarno diasingkan Belanda. Bung Karno bersama Agus Salim dan Sutan Syahrir dipindahkan ke sana setelah sebelumnya diasingkan di Brastagi, Kabupaten Karo.

    Pesanggrahan buatan tahun 1820 itu berukuran 10 meter x 20 meter, dikelilingi halaman seluas dua hektar. Bangunannya bergaya arsitektur neoklasik atau dikenal sebagai Indische Architectuur.

    Dari pesanggrahan ini saya jalan memutar menuju timur. Di sisi kanan ada beberapa bangunan tua dan di sisi kiri Danau Toba menghampar. Sementara jauh di seberangnya terlihat mobil kecil-kecil melaju mengisi kesibukan lalu lintas Trans-Sumatera.

    Dari sini saya kembali ke tempat awal dan langsung menuju kawasan timur Parapat melalui Jalan Bukit Barisan. Jalanan menanjak curam. Di sisi kiri-kanan jalan sangat banyak terdapat bangunan bergaya arsitektur kolonial. Beberapa di antara bangunan tua itu dijadikan kantor instansi pemerintah.

    Kawasan ini tampaknya menjadi pusat kota tua Parapat. Soalnya dari seluruh tempat di Parapat hanya di kawasan ini cukup banyak terdapat bangunan bergaya arsitektur kolonial.

    Gaya arsitektur bangunan di kawasan ini merupakan perpaduan selaras antara tiga unsur: tradisional, modern, dan tropis. Karya arsitektur yang ada umumnya menunjukkan perhatian besar pada iklim tropis Parapat terlihat pada jendela dan kisi-kisi ventilasi yang menjulang tinggi dari lantai ke langit-langit.

    Meski Parapat kota sejuk, jendela dan kisi-kisi itu difungsikan juga sebagai corong pergantian udara dan juga agar penghuni dapat leluasa memanfaatkan cahaya matahari.

    Di tempat ini terdapat beberapa bangunan dengan gaya arsitektur dipengaruhi aliran Delf. Hal ini terlihat dari upaya menggabungkan bangunan kotak dengan sistem kisi (grid) rasional, yang kemudian diperkaya dengan unsur pracetak untuk dinding luar.

    Di bagian tengah kawasan timur ini terdapat bangunan gereja HKBP, mewakili arsitektur transisi klasik Eropa, terlihat modern tetapi tetap berciri tropis.

    Di Parapat, bangunan tempat peristirahatan umumnya terinspirasi arsitektur vernakular Nusantara dengan adaptasi pada iklim. Ciri khasnya, halaman rumah adalah rerumputan yang menghampar luas.

    Bagi orang Batak, rumah memang lebih dari sekadar tempat tinggal, tapi juga bangunan yang ditata secara perlambang, berkonteks dengan sosial budaya dan status kedudukan di dalam masyarakat.

    Potensi besar

    Meski Bung Karno sangat singkat bermukim di Parapat, tetapi dia menorehkan sejarah baru dengan memprakarsai berdirinya masjid di kota ini.

    Pada tahun 1949, saat hendak melaksanakan shalat Jumat, Bung Karno tidak menemukan masjid di kota ini. “Di sini belum ada masjid. Dirikanlah masjid untuk shalat orang-orang Islam yang singgah,” ujar Bung Karno.

    Mendengar ucapan sang Proklamator, Abdul Halim Pardede mewakafkan sebidang tanahnya untuk pembangunan Masjid Taqwa.

    Parapat tentunya tak hanya bersejarah bagi umat Muslim, tetapi juga sangat bersejarah bagi umat Nasrani Batak Toba. Pada tahun 1909 dilakukan proses permandian suci oleh Pendeta Theis terhadap 38 orang Batak di kota ini setelah pada 12 Februari 1900 Pendeta Samuel Panggabean dan Friederich Hutagalung diutus ke daerah sekitar Danau Toba untuk menyebarkan agama Kristen.

    Dari sini terlihat Parapat memiliki wisata alam, wisata arsitektur, dan potensi wisata rohani, wisata sejarah, bahkan wisata kuliner.

    Parapat memiliki kuliner yang menarik, seperti lomok-lomok (lemak), ikan naniura (ikan mas yang dimasak pakai asam), ikan naniarsik (ikan mas yang diarsik), lapet, dali (susu sapi), sop ikan danau toba (nila) asam pedas, ikan bakar hopar, dan ikan pora-pora goreng. Memang kuliner khas Batak ini baru bisa dinikmati di hotel-hotel berbintang dengan harga relatif mahal. Sementara sajian di kedai-kedai pinggir jalan saya agak meragukan kehalalannya.

    Sayangnya Parapat dengan segala potensinya tak kunjung mampu menarik wisatawan. Parapat terlalu sepi jika dibandingkan dengan Bali. Sepanjang hari hanya saya seorang diri yang menyusuri kota wisata ini.

    Neta S Pane Penikmat Wisata Jalan Kaki

    Suka

  2. Hik… hik… Om Imbalo nich ada-2 saja.. Tapi jangan-2 memang demikian ya Om?🙂

    Suka

  3. @eshabe
    Hik hik juga………… enggak percaya bukti in aja sendiri……………bakar tu tangki yang berisi minyak , enggak usah di padamin dia akan padam sendiri kalau minyak yang di dalam tangki sudah habis…………

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: