Catatan Haji : Pulang Haji Dan Kesehatan


Untuk Menteri Kesehatan Republik Indonesia Gubernur dan Para Kepala Dinas Kesehatan

Sebelum berangkat Haji aku nulis tentang Pergi Haji dan setelah pulang ke tanah air pun aku mau nulis tentang pulang haji. Hari Ahad (14/12) setelah pesawat Saudi Arabia Airliner (SAA) mendarat di Bandara Hang Nadim, ada rasa haru, bahagia macam-macam rasa pokoknya, mungkin hampir setiap jamaah merasakan rasa yang berlainan di dalam hatinya, begitupun aku, apalagi seluruh jamaah kloter 1 Batam sebanyak 450 orang selamat pergi selamat pulang.

Yang menyambutku dan terlihat pertama kali oleh ku di dalam Garbarata adalah pak Dokter Mawardi Badar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dengan senyum khas nya dia merangkul dan cipika cipiki, kayak kebiasaan orang Arab saja, melihat pak Mawardi aku jadi teringat dr Hery, dr Hery adalah dokter kloter kami yaitu kloter BTH 01, dokter mudah yang bertugas di puskesmas Kecamatan Galang Batam ini selama di Madina dan Makkah apalagi di Armina tak pernah kelihatan muram, terkadang aku perhatikan dari jauh, aku berpikir apakah karena di depanku dia senyum, karena dia tahu di dalam buku hijau buku catatan kesehatanku aku adalah termasuk jamaah resiko tinggi yaitu Hypertensi begitulah tulisan di depan buku hijau itu tercantum.

Enggak di Madinah selama 9 hari di Makkah pun hampir 23 hari apalagi di Armina aku adalah langganan pemakai tensi meter sang dokter. Dr Hery bersama 2 orang perawat yang terus tersenyum meski kelelahan itu rajin mengunjungi dan melayanai para jamaah di maktab-maktab.

Ada seorang lagi dokter di dalam kloter kami dokter dari Tanjung Pinang, masih muda juga, tapi tak pernah ke rombongan kami, karena rombongan jamaah kloter satu Batam yang terdiri dari 450 orang itu terdiri dari beberapa daerah, dari Batam, Lingga, Tanjung Pinang dan Bintan.

Di Madina seluruh rombongan kloter (450 orang) jadi satu tempat di Hotel, tidak menyulitkan petugas medis untuk melaksanakan pemeriksaan routin terhadap jamaah, meskipun berlainan lantai.

Tetapi di Makkah jamaah kloter satu Batam itu tadi dipisah menjadi 3 tempat sebanyak hampir seratus orang di maktab 305 dan sisanya di maktab 310 dan 311 , maktab 310 dan 311 berdampingan tempatnya, tetapi 305 lumayan cukup jauh hampir 1 kilo meter.

‘Wah masih lumayan kloter kita pak” kata dokter Hery kepadaku, “Teman saya dokter yang dari Natuna ditempatkan di pemondokan hampir dekat Tan’im (Tan’im ke Masjidil Haram hampir 12 kilometer, dan Tan’im ada salah satu miqat untuk ihram) , yang lebih parah lagi pak satu kloter jamaah yang dilayanai oleh teman saya itu 5 pemondokan” tambah dr Hery sambil tersenyum, padahal aku sudah membayangkan betapa penat dan capek nya dokter ini berjalan di panas terik dari pemondokan 311 atau 310 ke 305 , eeee malah koleganya sesama dokter yang harus dan wajib baginya untuk pemeriksaan para jamaah mengunjungi 5 pemondokan.

“Jadi tak bisa seperti sekarang ini dan seperti kloter kita ini sering-sering ketemu dokter karena jauh tempatnya itu” ujar dr Hery lagi.

Aku jadi teringat saat bekerja di Tanjung Uban di Pertamina Unit Pemasaran I , untuk memeriksa tangki-tangki penimbun yang cukup jauh dari dermaga pembongkaran kapal tanker, para petugas discharge itu memakai speda atau kata orang di tempat kami kereta angin, dari tangki timbun ke dermaga, jadi tak terlalu capek jalan.

Senyum dokter Hery mengembang terlihat lesung pipit di pipi sebelah kirinya, “Bisa juga pak” katanya, karena di Madinnah maupun di Makkah banyak terlihat speda diikat di tiang-tiang lampu.

Aku acap dikunjungi dokter Hery terkadang yang datang ke kamarku di pemondokan adalah perawat yang memeriksa tensi, Di Madinah tensiku masih sekitar 160 an di usia 55 tahun mungkin itu agak tinggi.

Pernah aku di tensi oleh perawat kloter, tensiku mencapai 168 miligram air raksa, aku diberi pil sebanyak 6 butir, tapi obat itu tak ku makann, dua hari kemudian aku di tensi lagi, alat tensi meter menunjukkan 130, “Bapak minum obat yang kemarin ya” kata perawat yang menensiku , aku senyum saja tidak menjawab.

Di depan pemondokan 305 yang jaraknya dari Harom itu mencapai 3 kilo meter dan kayaknya pemondokan kami yang paling dekat ke Harom, terletak Sektor 1 dan disitu ada tim dokter sektor, dan disitu pula terminal bus antar jemput terminal A dari pemondokan sekitarannya ke Masjidil Harom, “hem rombongan pak Imbalo cukup beruntung dari rombongan lain karena persis di depan lokasi sektor” kata sebagian teman.

Kalau dokter Hery tak datang memeriksa tensiku, aku sering minta di tensi di sektor yang hanya berjarak beberapa meter saja dari pemondokan 305 , sektor pemondokan 306 , siang kemarin agak pening sedikit, jadi aku bergegas ke sektor menemui dokter disana, dengan membawa buku hijau kita akan dilayani oleh para medis disana, sebelumnya aku di tensi oleh perawat dokter Hery dengan alat tensi digital, tensiku mencapai 158, tetapi di sektor tensiku hanya 110.

Karena perbedaan yang mencolok itu oleh dokter yang ada di sektor aku di suruh istirahat sebentar duduk di kursi yang telah disediakan, hampir lima belas menit kemudian ditensi kembali tensiku tetap 110, alat tensi meter yang digunakan adalah manual.

Hal ketidak sesuaian pengukuran tensi yang berbeda-beda masing-masing alat dalam waktu yang sama ini bukan sekali saja berlaku, alasan yang satu memakai digital karena banyaknya para jamaah yang akan di tensi dengan yang memakai manual bukan lah menjadi alasan.

Di Armina misalnya , selagi aku berbincang-bincang dengan dr Hery masuk seorang Jamaah yang mengeluh jantungnya bergetar, tidak seperti biasanya.

Sambil seloroh aku menghibur bapak tadi kalau jantungnya tak bergetar ya gimana pak, si bapak bilang bergetarnya tak seperti biasa dan aku lemas sekali. Sang Bapak pun di tensi jarum tensi menunjukkan angka 130, kemudian ku sarankan pakai tensi satu lagi yang memang ada di depan sang dokter, dengan memakai alat yang lain tensi si bapak turun dibawah seratus.

Dokter Hery menyarankan tak usah diminum lagi obat yang dikasih kemarin. Obat yang dikasih kemarin mirip dengan obatku yang tak kuminim.

Alat tensi meter ini adalah salah satu diagnosa sang dokter untuk meberikan obat kepada pasiennya, apa jadinya pada saat yang sama dua alat dipakai tetapi menunjukkan angka yang cukup jauh berbeda.

Hal ini pernah kualamai di salah satu rumah sakit di batam, itulah sebabnya aku tak mau mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter Hery yang simpati itu.

Aku sampaikan kepada dokter Hery, alat-alat ukur seperti ini harus dikalibrasi, ini menyangkut nyawa manusia, kalau pun digital dengan manual ada perbedaannya tetapi harus ada catatan untuk koreksi toleransinya.

Dua alat tensi meter digital yang ada di kloter kami di beli di Batam seharga 450 ribu rupiah, dibeli sesaat sebelum berangkat, menurut pengakuan para medis itu tadi, dimana dikalibarasi, mereka saling pandang.

Mungkin pun tak terpikir di benak para dokter tadi tentang kewajiban kalibrasi sesuai Undang-Undang Perlindungan Konsumen no 8 tahun 1999 dan Metrologie, hal ini mereka yang sudah capek dan penat mengurusi jamaah tapi melanggar Undang-Undang malah bisa di pidana.

Alat ukur manual yang ada pada mereka pun berlainan angka yang menunjukkan meski digunakan pada saat yang sama.

Untuk selanjut untuk tahun-tahun kedepan ada keseragaman alat ukur seperti tensi meter yang digunakan, dalam hal ini Menteri Kesehatan Ibu Siti Fadillah bertangung jawab dalam hal itu, jangan dokter yang simpatik dan para perwat yang sudah penat melayani para jamaah yang terkadang cerewet itu harus berhadapan dengan hukum karena alat tensi.

Salah diagnosis , fatal akibatnya, obat dari dokter Hery untuk menurunkan tensi yang diberikan kepadaku masih ku simpan dengan baik.

Angka-angka tensi dari masing-masing dokter masih rapi tercatat di buku hijau milikku, baik itu dari tim dokter kesehatan di sektor maupun dari dokter kloter.

Aku tak tahu alat tensi meter di kloter dan di sektor yang lain apakah punya perihal yang sama? karena aku tak punya data untuk itu.

Iklan

2 Tanggapan

  1. dah pulang haji ke pak? pak bagi duitlah

    Suka

  2. bagaimana nih, saye dah rindu sama bapak?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: