Catatan Haji : Bus Sudah Tak Mengangkut Jamaaah Ke Harom Lagi


Sejak Rabu tanggal 03 Desember 2008 tidak ada lagi bus yang mengangkut jamaah dari pemondokan ke Harom (Masjidil Haram maksudnya), diperkirakana puluhan  ribu jamaah terutama dari Indonesia tidak sholat ke sana (Harom)  itulah mungkin sebabnya hampir semua masjid yang berada disekitaran pemondokan penuh sesak, sampai ke jalan-jalan dan trotoar orang melaksanakan shalat berjamaah,  “seorang jamaah nyeletuk “pak apa shalat disitu itu sah?”  tanya nya kepada ku kebetulan lagi duduk di depan pintu masjid dekta dari pemondokan maktab 52 / 305 selepas shalat Juhur, aku melirik dan tersenyum mendengar pertanyaan bapak tadi yang kutahu bapak tersebut jamaah dari Lamongan Jawa Timur setelah kutanya asalnya dari mana.

Begitulah membeludaknya orang melaksanakan shalat berjamaah, jamaah jauh terpisah dari masjid induk malah sebagian bersaf-saf diseberang jalan, tetapi suara imam masih terdengar cukup jelas karena memakai pengerasa suara.

“Kan sudah tidak satu atap pak” jelas bapak tadi menjelaskan, penasaran karena aku tak memberi jawaban, kalau di kampungnya shalat berjamaah itu harus satu atap , dan saf tidak putus dan bersambung. Aku tak dapat menjelaskan kepada bapak tersebut, karena memang bukan ahlinya, hanya saja kataku kepada bapak tersebut sekitaran Baitullah pun tak ada atap nya dan saf tak bersambung.

Masjid dan Mushalla di Makkah sesuai informasi hampir mencapai 10 ribu buah, diseputaran sektor I ada 6 masjid berdekatan satu masjid dapat menampung 1.000 jamaah, satu maktab seperti maktab 52 tempat ku tinggal dihuni lebih dari 2.000 jamaah. Mushalla (yang tidak melaksanakan shalat jumat) ada yang dapat menampung jamaah 7 saf persaf nya 45 orang, setiap shalat berjamaah saf yang tujuh tadi menjadi delapan (Tsamania) , itu di dalam tetapi di luar tak terhitung banyaknya orang -orang shalast di sela-sela mobil yang parkir, jalan Ar rasyid tempat maktab 52 jalan kecil yang bertemu dengan Jalan Masjidil Haram itu lebar nya 5 meter penuh sesak dengan jamaah wanita, belum lagi para pedagang kali lima yang selalu kucing-kucingan dengan baladiayah (seperti pamong praja) yang selalu datang razia setiap saat pun memenuhi jalan yang sempit itu, masih untung belum ada mobil tangki air yang parkir sedang mendistribusikan air ke maktab-maktab.

Nasib baik kalau dapat duduk agak ke tengan kalau di pinggir dekat dengan tembok bangunan siap-siap di beraki oleh burung merpati yang cukup banyak berterbangan.

Perlu kesabaran dan harus segera, cepat, selesai sholat tidak ada doa-doa panjang seperti di tanah air, klakson mobil telah siap memekakkan telinga, meminta jalan karena memang jalan umum yang dipergunakan untuk sholat tadi.

“Setelah selesai sholat bertebaran lah kamu ke muka bumi” hal ini benar-benar dilaksanakan di Makkah, kayaknya sudah dibuat secepat mungkin shalat sunat bakda shalat wajib terutama para pedagang pun lebih dulu menjajahkan dagangannya, ternyata mereka cukup sholat di tempatnya nya berjualan.

Sudah 4 hari ini pedagang nasi asongan yang berjualan di depan maktab jarang berjualan karena di kejar – kejar oleh baladiyah tadi, tak tanggung- tanggung kalau dapat dagangan nya di buang dan dibawa dengan mobil pick up baladiyah tadi, kebanyakan pedagang musiman tadi berasal dari madura, ada yang sudah bermukim 7 tahun di Makka, mereka memakai baju hitam layaknya wanita arab dan bercadar, fasih berbahasa arab, dagangan nya di bawa sang suami dengan mobil sedan.

Sebenarnya keberadaan pedagang dadakan tadi cukup membantu jamaah, pulang dari Harom sudah ada nasi cukup dengan satu riyal, dan ikan ada yang 4 riyal, dan sayur kangkung tumis 1 riyal, tetapi kerjaan Arab Saudi tak mengijinkan mereka berjualan di pinggir-pingir jalan seperti itu, bisa jadi dari segi kesehatan tidak terjamin, banyak makanan itu terdedah begitu saja dan dikerubungi lalat.

Melihat ibu-Ibu dari Indonesia yang tidak di musim haji katanya sebagai TKW di Saudi Arabiyah ini cukup gigih meraup riyal di kejar-kejar oleh Baladiyah, dan bagaimana trik menyembunyikaan dagangannya, menjadikan fenomena tersendiri, tak apa dagangan yang disita, kalau ketangkap ya resiko nya di deportasi, mereka Iqoma (izin tinggalnya) bukan untuk berjualan.

Katanya lagi, ada yang menyaru jualan tetapi malah menggerayangi kamar, kalau sudah demikian tanggung jawab siapa?

Mahal lho bahan makanan di Makkah, beras biasa 1 kilo 5 riyal, memang semua ada, di maktab kami jarang jamaah yang masak, mungkin karena sudah penat dari Harom, karena jauh dari maktab, kurang lebih 3 kilo, belum lagi rebutan bus mau pulang.

Kemarin baca koran Jawa Pos (24/11) tentang ibu-ibu dari embarkasi Surabaya yang membawa minyak goreng 2 kilo tumpa di dalam tas nya, minyak goreng di Makkah ukuran 500 ml seharga 14 riyal, satu riya itu rp. 3000 lho, ikan asin kecil 1 riyal satu ekor,  dalam harian yang sama yang kami beli dari Mini Market Indonesia (harga koran Jawa Pos = 5 riyal) dengan Mall Bin Dawood yang cukup terkenal di Makkah, kompor jamaah yang sama pun disita.

Kayak nya makanan perlu dipikirkan pemerintah , banyak jamaah yang tak keberatan makanan di Makkah pun diurus pemerintah sama dengan di Madinah, katakan lah 20 hari di Makkah satu hari  15 riyal untuk makan, tambahan untuk itu sekitar 300 riyal saja.

Alhamdulillah sejak tanggal 4 Desember jamaah di maktab kami di beri makanan, katanya jatah makanan itu dari maktab, lumayan , hanya saja waktu makan siang nasi yang dikirim diterima hampir pukul tiga petang dan untuk makan malam selepas sholat Isya.

Malam ini jumat (5/12) katanya Menteri Agama berada di Makkah, sebaiknya pak Menteri itu ke Maktab – Maktab, jangan di Daker saja, jadi tahu kalau bagaimana situasinya, seperti kloter 1 Batam yang terdiri dari 450 orang itu terpisah jauh dan terbagi-bagi beberapa tempat dan maktab , malah maktab kami yang 52 ada yang dari Sulawesi, Takalar, dari Aceh dan dari Kolter  Surabaya, kata dokter Hery malah ada yang satu kloter di tempat kan di 5 tempat, kasihan dokter yang membezuk pasiennya berjalan kaki.

Tadi dr Hery yang bertugas di Galang mengunjungi ku karena agak flu, melihat ketekunan beliau aku jadi teringat waktu kerja di Pertamina sewaktu mau kontrol tangki yang sedang discharge, kami menggunakan speda, kalau Daker dan Sekot ada speda kan para medis dokter dan perawat ke maktab-maktab naik speda. Iya kata pak Puji petugas Bea Cukai menimpali , saya pernah tugas di Kapal Tanker dari ujung geladak itu naik speda.

Mungkin tahun depan para dokter dan paramedis yang lain bawak speda atau beli saja di Makkah.

Besok selepas tengah hari kami akan ke Arafah, itu lah puncak Haji, wukuf di Arafah menjadi rukun tidak ada haji tanpa wukuf di Arafah, “Ya Allah beri lah kesehatan kepada kami semua, jamaah haji Indonesia Amien

2 Tanggapan

  1. barakallah bang Imbalo,

    mohon do’akan kami bisa menyusul..

    salamhangat.
    dari Semarang, Indonesia

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: