Pak Suhdi dari Sidogedungbatu Sangkapura Bawean


Masih tetap sehat di usianya yang telah kepala delapan, itu lah pak Suhdi pria  yang berasal dari Sidogedungbatu Sangkapura Bawean.

Setiap hendak shalat ke masjid, pak Suhdi acap mampir ke warung Hang Tuah, yang memang berdampingan dengan masjid Nurul Hidayah di Bengkong Polisi Batam. Terkadang selepas Isya, apalagi di bulan ramadhan ini, waktu Juhur dan Asyar pun tak beliau lewatkan shalat berjamaah.

Air matanya selalu menitik saat bercerita kepadaku, “kalau aku mati, Man kau yang madiin aku ya” pinta nya kepadaku, dia memanggilku Man, singkatan dari namaku , kata-kata itu entah sudah berapa ratus kali diucapkannya. 

Kami bertetangga di Batam hampir seperampat abad, tak terasa sudah 25 tahun ngurusin orang yang meninggal dunia, waktu itu pernah sampai petang ada mayat bayi yang belum juga dikubur karena belum dimandikan, karena tak ada orang yang bisa mengurus jenazah, aku dengan pak Suhdi turun tangan. Sejak saat itu jadi langganan tetap pak Suhdi menjadi petugas Babul Khairat ngurusin fardu kifayah. 

Menurut pengakuan pak Suhdi dia tak dapat menulis latin, tetapi tulisan arab melayu dia bisa, kalau soal membaca surah Yasin dah teruji, satu jam bisa di tuntaskan nya 3 kali baca.

Siang selepas dari masjid dia mampir lagi ke warungku, aku jadi ingat tentang blog http://www.suwaritimur.blogspot.com/ bawean termenung, dan media bawean yang selalu memposting  tulisan ku yang menyangkut tentang bawean. Kenapa orang Bawean di rantau enggak mau pulang ke Bawean? ya salah satu nya pak Suhdi.

Pak Suhdi telah lebih setengah abad di rantau sejak meninggalkan kampung halamannya Sidogedungbatu Sangkapura tahun 1955, di desa kelahiran tak ada lagi siapa-siapa, itu yang membuatnya enggan pulang, tak ada lagi rumah , tanah pun sudah di jual untuk membiayai sekolah ke enam orang anaknya, Anak lelaki tertua nya seorang sarjana komputer, malah kini sudah master (S2) , menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Batam, Sarjana ekonomi,  ada yang Bidan, perawat , kesemuanya telah berkeluarga.

Pak Suhdi masih tetap tegar berjalan, meskipun agak perlahan, matanya nya pun masih awas, dulu untuk bacaan khotbah jumat di masjid kami, dia tulis sendiri, ya dengan tulisan arab melayu tadi, sekarang dia tak lagi mau menjadi imam shalat. Isteri tercintanya  Chosaima telah berpulang kerahmatullah 4 tahun yang lalu.

Setelah menikah dengan gadis dari Batusendi Pancur, Sangkapura pak sudi menjadi pemotong getah di Tanjung Pinang Riau, tetapi tahun 1980 dia ke Batam, menjadi pemangkas rambut, orang Batam yang pernah di potong rambutnya pasti ingat pak Suhdi awal pertama buka tempat pemotongan rambut di dekat pokok getah di daerah Jodoh, sekarang lokasi itu berdiri Hotel Harmoni.

“Mungkin aku orang Boyan yang tertua di Batam Man, semuanya sudah mati” katanya  sambil terisak 

Banyak cerita tentang pak Suhdi, banyak dia certia kepadaku, cerita tentang  Bawean, cerita tentang masa kanak-kanak nya ngaji di surau,  setiap cerita dia memelukku dan menangis, apalagi bila saat kami mengurusi jenazah, dia pasti menangis , “kapan lagi giliranku ya Man” katanya. 

Kalau ada petugas masjid yang marah – marah kepada anak-anak yang agak bandel dan nakal di masjid, selalu di protesnya, “aku lebih bandel lagi dulu dari pada dia” jelasnya, terkadang kata pak Suhdi orang lagi sujud “anu” nya ditariknya, karena di Bawean dulu orang jarang pakai celana dalam hanya pakai sarung saja.

Pernah anaknya yang nomor tiga datang menemuiku, menjelaskan kalau pak Suhdi tak mau tinggal dengan mereka, bukan kami tak mau ngurusin bapak katanya, maklum pak Suhdi sudah 80 tahun lebih usianya, dia masih masak sendiri dan tinggal sendiri di rumahnya,  jadi agak sensitif lebih sensitif dari biasanya.

Hem …. gimana dengan aku pikirku , punya anak 4 (empat) orang , pak Suhdi yang punya anak 6 (enam) orang aja sudah kesepian di hari tuanya, masing-masing dengan keluarganya, apalagi yang cuma punya anak 2 ya? Dua-dua nya jadi “orang” dan jauh dari kita. Benar kata pepatah “adat muda menanggung rindu adat tua menanggung ragam”    .

 Terimakasih untuk http://pulau-bawean.blogspot.com/2008/09/pak-suhdi-dari-sidogedungbatu.html yang telah mengkoreksi nama daerah pak Suhdi, karena nada dan ucapan pak Suhdi mengatakan Sangkapura itu terdengar seperti Sangkapora.

Beremma kanca tak bede pessena mulia ka Sangkapura. Katirian di Batam

 

Satu Tanggapan

  1. […] Siang itu, tak sengaja bertemu saat akan shalat Jumat dengan pak Suhdi demikian nama lelaki 80an tahun itu berjalan perlahan dari rumahnya menuju ke masjid Nurul Hidayah di Bengkong Polisi, aku pula akan berangkat shalat tetapi ke Masjid Raya Batam (MRB) Center, jadilah kami bersama ke MRB. Ternyata meski telah hampir belasan tahun MRB berdiri, pak Suhdi belum sekalipun shalat disitu, pria asal Sidogedungbatu Sangkapura Bawean itu menggumam akhirnya sebelum aku meninggal bisa juga shalat disini, “mega sekali ya Man” timpalnya saat selepas pulang menuju parkiran kenderaan. Jadi itulah pertama sekali pak Suhdi shalat di MRB. https://imbalo.wordpress.com/2008/09/14/pak-suhdi-dari-sida-gedung-batu-sangkapora-bawean/ […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: