Bank Tarombo Batak Untuk Jittar


  • Bank Tarombo hingga saat ini telah mengkoleksi 100 marga. Data sampai dengan anak2 sekarang juga ada boru / hela dan hula-hula / isteri. Tidak mungkin terkumpul lengkap, Karena itu kami sangat mengha- rapkan kesedian kita semua untuk mengirimkan silsilahnya. Kalau hanya cabang kecil marganya juga boleh karena nanti akan digabung dengan cabang lain dari marga itu yang sudah ada atau yang akan diperoleh kemudian. Ingat Silsilah tidak berhubungan dengan agama tetapi ras. Terimakasih

    Banyak keluhan kita tentang banyaknya dokumen / buku Batak yang ada diluar negeri. Terutama buku lama. Banyak yang ingin mencari referensi mengenai satu masalah Batak tetapi tidak mendapatkannya,
    Hingga sekarang bahkan buku-buku Batak yang terbitan terbarupun tidak tau dimana memperoleh-nya.Bahkan di Perpustakaan Nasional buku-buku Batak sangat minim. Karena itu dikandung maksud untuk membuka perpustakaan buku Batak di Jl. Pramula 17 A Jakarta 13130. Buku-buku disana nantinya diharapkan bersumber dari perorangan yang mau menitipkan buku. Buku tidak dipinjamkan hanya dapat dibaca ditempat tanpa bayar. Kami menghimbau pada saatnya nanti Anda mau menitip-kan bahkan menyumbangkan buku untuk menjadi bahan bacaan bagi yang memerlukan. Semoga Tuhan merestui.

    Dua komentar diatas dari Littar Maringan Pardede, ditulisan Ikatan Keluarga Batam Islam (IKBI) Batam yang kutulis dalam https://imbalo.wordpress.com

    Lebih dah setengah abad aku hidup di dunia, lahir di Padang Sidempuan Tapanuli Selatan, kata ibuku aku cuma numpang lahir disana, habis hari istilah di kampungku maksudnya setelah 40 hari umur bayi aku dibawa ke Medan, karena Medan kurang aman saat itu terpaksalah ibuku melahirkan di Padang Sidempuan. Hampir 36 tahun aku tinggal di Bumi Melayu Kepulauan Riau.

    Dalam buku Mangaraja Onggan Parlindungan, di Padang Sidempuan dahulu terdapat benteng kerajaan Batak yang cukup kuat sebelum Belanda datang menjajah, Raja nya marga Nasution , tak jauh dari benteng itulah aku dilahirkan. Kalau benar benteng yang dimaksud berada dekat sungai Siborang sebagaimana ditulis dalam buku Tuanku Rao.

    Raja di Bakkara adalah Sisingamangaraja XII, tak mau tunduk terhadap Belanda tetapi sebagian rakyat terutama yang terkena kolera ikut Belanda, kolera itu akibat perang Paderi. Beribu-ribu orang terbunuh begitupun ternak, sebagian menyelamatkan diri begitu antara lain dalam buku Tuanku Rao.

    Marga Nasution itu bukan orang Batak menurut versi buku Tuanku Rao, buku ini menjadi kontoversi tapi dicetak ulang. Dalam buku ini juga disinggung tentang ketidak taatan rakyatnya kepada Raja nya, karena sebagian tidak mengakui dia benar-benar sebagai keturunan raja. Tertulis dalam Sipongki nangolngolan.

    Ketidak jelasan sislisah antara keturunan raja yang kawin semarga dan ketidak taatan rakyatnya kepada rajanya saat dia berjuang melawan penjajahan, meskipun dengan adanya penjajahan membuat banyak orang batak terpelajar  bahkan beberapa menjadi jenderal dan berkiprah di bumi Indonesia setelah merdeka , mungkin itu menurutku salah satu faktor susah membuat buku yang anda maksud Jittar Maringan Pardede.

    Kalau membaca buku Tuanku Rao, rasanya tak sampai hati aku menyimpulkan sejarah Batak termasuk sejarah yang kelam, tapi mungkin aku salah Jittar menyimpulkannya !?.

  • Satu Tanggapan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: