Biduk Lalu Kiambang Bertaut


Umat Islam seperti kiambang yang dilalui oleh biduk, kini sedang tercerai berai. Indonesia negara terbanyak kaum Muslimnya tak dapat berbuat apa-apa, dalam tulisannya Berita Harian koran Malaysia menulis tentang umat islam di Laos akan pupus, benarkah?. Dalam bulan Februari 2008 yang lalu Yayasan Lembaga Konsumen Muslim  (YLKM) Batam mengunjungi Laos. 

Di Laos di kota Vientiane (baca viencen) ada dua masjid tak lebih dari 400 orang muslim disana, masjid Jamik atau yang lebih populer dengan masjid Pakistan, disitulah tempat umat Islam yang kebanyakan dari kedutaan sholat jumat, Imam masjid Jamik sudah 40 tahun menjadi Imam di masjid itu, Imam yang berasal dari India ini kembali setahun sekali ke India karena keluarganya masih tinggal di India.

Di masjid ini dilantai dasarnya ada madrasah untuk anak-anak muslim yang kebanyakan dari India, Pakistan, Kasmir, Banglades. Masjid ini terletak persis di tengah kota Vientiane, dekat air mancur City Center, Masjid ini juga menjadi pusat comunity Islam, yang ketuanya dipilih jamaah disana 3 tahun sekali.

Beberapa pengusaha restoran di Vientiane menjadi pengurus jamiah, kebanyakan pengelola restoran rumah makanan halal adalah warga pendatang, banyak juga orang asing yang makan di restoran halal tersebut, sehingga tak heran meskipun mengklaim halal food tetapi mereka tetap juga menyediakan wine, beer dan wiskey.

Saat YLKM Batam sholat Juhur tanggal 29 Februari 2008 di masjid Jamik tersebut, ada dua orang tamu yang mengunjungi masjid, seorang warga Malaysia dan seorang pengusaha dari Arab Saudi yang akan memberikan bantuan kepada Muslim yang ada di Laos.

Sekarang Laos sedang giat-giat membangun banyak pengusaha dari timur tengah di sana, itu terlihat sepanjang jalan yang dilalui oleh YLKM Batam mulai dari Hanoi ke Vientiane. Mubarrak, pemuda asal Rangon yang bekerja sebagai penterjemah bagi pengusaha dari timur Tengah telah 2 tahun bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang perminyakan. Sama seperti Fakhruddin warga negara Malaysia yang juga bekerja bagi perusahaan dari middle east ini, pernah beberapa kali ke Indonesia, Semarang, Jakarta acap mereka kunjungi karena ada cabang perusahaan mereka di Indonesia      

Ziarah ke Malaysia,Kamboja, Vietnam, Thailand dan Laos


dscf0594.jpg 

salah satu sudut kota Hanoi

Dari Pelabuhan Batam Center selepas sholat Jumat di Masjid Raya Batam tanggal 22 Februari 2008 aku naik Ferry ke Johor Bahru via Stulang Laut, perjalanan ditempuh selama lebih kurang 2 jam, karena sebelumnya aku telah membeli ticket Air Asia dari Kuala Lumpur – Phnom,  Pulang Pergi. Sehingga destinasi selanjutnya adalah Kuala Lumpur dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur aku naik Bus dari terminal Larkin di Johor Bahru, Stulang Laut ke Larkin ongkos taxi sekitar 20 ringgit Malaysia (RM)  , sementara tambang Bus Johor Bahru ke Kuala Lumpur 28 RM.

Tiba di Kuala Lumpur aku di jemput oleh Akhmad Batu Pahat demikan aku memanggilnya, Akhmad BP ini aku kenal  ketika Desember 2007 lalu di Chiang Rai Thailand dalam rangka Idul Qurban disana, petang dari JB tiba di KL sekitar pukul 23 malam waktu setempat, dengan keretanya aku diantar ke rumah Yatim Al Khaadem yang terletak di Taman Maluri tak berapa jauh dari Pudu Raya terminal Bus di Kuala Lumpur. Di Tanjung Pinang Riau akupun pernah beberapa kali nginap di panti asuhan yatim yang di kelola oleh Muhammadiyah.

Karena akupun yatim sejak usia 5 tahun , pagi selepas shalat subuh aku diminta oleh ustaz Umar memberikan tausiah kepada anak-anak Yatim di Al Khaadem, aku ceritakan bagaimana anak-anak yatim sering diexploitasir oleh pengelola panti,  di Batam pun aku masih tercatat sebagai wakil Ketua Asosiasi Pengurus Pantai Asuhan Batam.

Bagaimana rasanya menjadi anak yatim tak kan mungkin dirasakan oleh orang yang tak pernah menjadi yatim, di Al Khaadem ada anak yatim dari Indonesia, ibunya bekerja di Kuala Lumpur, tetapi kini telah pulang ke Medan, tahu kalau aku dari Indonesia dan asal Medan pula , air matanya berlinang, dia sangat rindu kepada ibunya katanya, kau mau pulang ke Medan tanyaku, ia mengangguk perlahanan, hal itu pernah aku rasakan saat aku masih kecil ketika tinggal bersama saudara dan bersekolah di Medan . Rindu yang tiba-tiba menyergap membuat air mata berlinang.

Panti Al Khaadem atau Pertubuhan Al Khaadem cukup baik pengelolaannya, terstruktur, mungkin awal April 2008 mereka akan menempati gedung baru , gedung megah dan ditempat lokasi yang luas ini adalah bantuan dari negara Timur Tengah, Pertubuhan ini diteraju oleh ustaz Hussain Yee, ustaz Hussain Yee adalah keturunan Cina, ada empat panti tempat lainnya selain di Taman Maluri.  Pusatnya di 1034 Jalan Cempaka, Sungai Kayu Ara, Petaling Jaya, Selangor Darul Ehsan. “Pak Imbalo jangan nginap di Hotel , orang Sunnah biasa nginap di masjid dan di panti.” pesan ustaz Abdul Wahab karibku dari Kulim Kedah kepadaku melalui telpon, besok tengah hari kita jumpa di KLCC tambahnya lagi. itulah sebabnya aku nginap di Panti asuhan Al Khaadem Kuala Lumpur.

Dari Kuala Lumpur tiba di bandara Phnom Penh petang hari, di counter pemeriksaan pasport, petugas imigrasi sesaat melihat paspor yang ku sodorkan dan berkata “visa” sembari menunjuk ke petugas imigrasi yang banyak berdiri tak jauh dari tempat counter itu…. dan teman dari Malaysia tidak ada masaalah…. hanya orang indonesia saja yang dikenakan visa sebesar 20 dollar amerika dan upah mengisi form yang disediakan dan foto copy pasport untuk mengambil photo dikenakan biaya sebesar 5 dollar lagi.

Jadi kalau ada yang mau ke Kamboja harus menyediakan pasphoto dan menyiapkan dollar amrekia, meskipun mata uang disana adalah reel tetapi transaksi memakai dollar amerika.

Enggak tahu apa sebabnya ada pengecualian warga negara malaysia dengan indonesia , ini bukan saja di kamboja tetapi juga di Myanmar perlakuan diskriminatif sesama warga asean ini.

Kami dijemput oleh Fatah, Fatah adalah putra ke sepuluh dari Toun Sman Muhammad (Imam Ahmad Hasan), Imam Ahmad Hasan ini adalah imam masjid Dubai, masjid Dubai adalah masjid terbesar di Phnom Penh, masjid ini dibangun oleh orang Dubai, “kemarilah semua orang kedutaan yang ada di Phnom Penh sholat” kata Fatah kepada kami dengan bahasa melayu.

Fatah, meskipun dilahirkan di Phnom Penh, di kota, tetapi ia dapat berbahasa ibu, ibunya adalah orang chmampa demikian pula imam ahmad asli dari champa, “kalau tak salah silap dah 400 tahun lebih tok tok kami di sini” jelas Imam akmad kepada kami tentang keberadaan mereka disini.

Semua anak beranak mereka dapat berbahasa melayu, Imam ahmad lelaki berusia 70an ini adalah mantan askar di jaman pol pot, merasakan bagaimana berperang ketika itu, demikian kehidupan beragama.

Tetapi dia tetap mendidik anak-anaknya dalam Iman Islam dan tetap berbahasa melayu. (bang Aries tolong tuliskan tentang penyebaran champa sampai ke kamboja dari kampung champa di vietnam), kesebelas anaknya dapat berbahasa melayu dan beberapa dari putranya kini sedang menyelesaikan master, selama kami di kamboja Fatah dan Younes (baca yunus) yang memandu dan menemani dan penterjemah kami mengunjungi komunitas muslim yang ada di kamboja.

Berdua abang adik ini dapat berbahasa kmer, champa begitupun dengan bahasa Inggris, selain berbahasa melayu, “kita seperti di kampung sendiri saja , seperti tak diluar negeri” celetuk ustad Wahab dengan kepasihan mereka berbahasa melayu.

dscf0608.jpg 

salah satu masjid di Vientiane Laos di City center

Di Kamboja ada beberapa Hotel tempat makanan restoran halal, dan itu semua dapat ditunjukkan oleh kedua pria 20 an ini. Saat ini di Kamboja sedang kemarau sudah hampir 4 bulan tak turun hujan kata pak Imam, halaman masjid berdebu, masjid Internasional itu pun terlihat kumuh, dihalaman masjid terlihat 2 batang pohon korma dan beberapa batang pohon akasia, tak layak disebut masjid internasional yang sebagian besar jamaahnya adalah muslim dari kedutaan

%d blogger menyukai ini: