Umat Islam di Kamboja


Sangat matang pikiran dan permintaan ustaz Akmad KM 9, tak usahlah orang Malaysia membangun masjid lagi ujarnya berulang kali, dengan senyumnya yang khas dia berkata ambil lah hati orang Kamboja Sekolahkan mereka .

dscf0460.jpg 

salah satu madrasah pusat islam di Kamboja

Jadi juga aku ke Kamboja, atau Cambodia ada juga yang menyebut Kampuchea bisa jadi Kampuchea adalah  mungkin perubahan dialek dari kata Kampung Cham, yaitu kampung-kampung atau pemukiman orang Champa. 

Tercatat dalam sejarah bahwa hampir 400 tahun yang lalu di lembah-lembah yang subur oleh aliran sungai Mekong dari Negeri Cina membentuk delta-delta di Kamboja, kesitulah orang-orang Champa muslim migrasi dari Da Nang pusat kerajaan Champa Vietnam sekarang, dan salah satu keturunan ke 14 orang-orang Champa yang muslim itu adalah Imam Masjid Dubai , masjid Internasional dan masjid terbesar yang ada di tengah-tengah kota Phnom Penh.

23 hari bulan Februari 2008 aku menginjakkan kaki di bumi Norodom Sihanouk itu, di Bandara telah menunggu Fatah pemuda berusia sekitar 24 tahun anak kepada Imam Masjid Dubai Toun Akhmad Hasan, pemuda tinggi besar ini dapat berbahasa melayu “Assalamualaikum” itulah ucapan pertama saat kami berjabat tangan.

Dari Bandara kami dibawa menuju masjid Dubai tempat kediaman Imam Akhmad Hasan, di ruangan berukuran 5 x 5 meter yang terletak di sebelah kanan masjid, dan dinding sebelahnya masih bersatu dengan dinding masjid, disitulah kami diterima oleh Toun Imam, diruangan itu ada tempat tidur 5 kaki ada tangga ke lantai dua, dibawah tangga terletak tv yang sedang menyala menyiarkan berita dalam bahasa Kamboja, di depan tv itulah kami lesehan bercerita menanyakan kabar masing-masing.

Di kamar tidur merangkap tempat menerima tamu Imam masjid Internasional Kamboja itu, kami merencanakan perjalanan selanjutnya, pembicaraan dalam bahasa melayu terkadang diselingi dengan bahasa kamboja, suasana seperti di kampung-kampung di Indonesia saja.

Malam itu kami mengunjungi madrasah yang dikelola oleh ustaz Akmad namanya, banyak di Kamboja muslim yang bernama awal Akhmad dan Abdul, ustaz ini dapat berbahasa melayu , bahasa francis, inggris dan fasih berbahasa arab, dari Pnom Penh terletak 9 km arah ke Utara, sehingga kampung itu lebih terkenal di sebut kampung KM 9, dari mulai kilometer 7 hampir semua penduduk disitu beragama islam, rumah- rumah disepanjang jalan yang kami lalui memakai kolong agak tinggi ada yang menacapai tiga meter, tiang-tiang penyangganya banyak terbuat dari beton bertulang, ada beberapa masjid disepanjang jalan itu.

Karena memang sudah dihubungi sebelumnya, saat kami tiba di ruang madrasah tempat ustaz Akhmad KM9 telah berkumpul beberapa orang ustaz-ustaz lainnya dan beberapa orang aktifis seperti majelis taklim tetapi khusus untuk pemuda saja.

Dari pembicaraan yang menarik dengan ustaz akmad KM 9 ini adalah, beliau menyarankan kepada orang-orang Malaysia khususnya yang gemar memberi bantuan baik berupa infaq sedekah atau apapun namanya ke muslim Kamboja, selama ini berupa bangunan masjid. “Ambil lah hati orang Kamboja” ujarnya , maksudnya jangan bangun masjid lagi tetapi sekolahkan orang-orang Kamboja.

Ini mengingatkan kita pada awal-awal tahun kemerdekaan Malaysia, ribuan warga negaranya dikirim dan belajar di Indonesia sampai tahun 80 an masih banyak mahasiswa Malaysia menuntut dan belajar di Indonesia, lihat sekarang, sejak dekade awal 90 an malah sebaliknya berbondong-bondong pula orang-orang Indonesia yang menjadi mahasiswa di Malaysia, baik itu menyelesaikan S2 dan S3 nya. Yusril Ihza Mahendra adalah salah satu contohnya adalah mahasiswa S3 dari Pulau Pinang Malaysia.

Jadi sangat matang pikiran dan permintaan ustaz Akmad KM 9, tak usahlah orang Malaysia membangun masjid lagi ujarnya berulang kali, dengan senyumnya yang khas dia berkata ambil lah hati orang Kamboja. Kalau mereka pintar ber minda pandailah mereka menjaga aqidah dan pandai mereka membangun agama, bangsa dan negaranya.

Begitu perlunya Sumber Daya Manusia yang Islami di Kamboja begitulah menurut pemikiran ustaz Akmad KM9, karena mereka-mereka itulah kelak yang dapat menjadi kader-kader penggerak dakwah, dan hal ini bukan omong kosong belaka,  ini dapat terlihat di salah satu Madrasah yang dibangun oleh Pemerintah Kuwait, komplek sekolah itu terletak 4 kilo meter dari kota, terdiri dari asrama putra dan putri , ruang belajar permanen dua lantai, ada masjid, perpustakaan, ruang kantor dua lantai, komplek madrasah seluas 1 hektar ini dibangun tahun 1996 tetapi terlihat kusam tak terurus, bangunan permanen ini terlihat kokoh tetapi mungkin sejak di bangun tak pernah disentuh oleh cat lagi. Alasan salah satunya adalah kesulitan dana routin.

Padahal dari madrasah inilah pusat memonitor perkembangan Islam di Kamboja, begitupun monitor pembangunan sarana peribadatan seperti sumur bor (air masih menjadi kendala di Kamboja) maupun madrasah baik di Kamboja sendiri malah sampai ke Chou Doc di Vietnam Selatan sana.

2 Tanggapan

  1. […] Umat Islam di Kamboja  Maret 7, 2008 […]

    Suka

  2. ass, saya mau ke kamboja, bisa minta email atau alamat ust ahmad diatas, makasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: