Jadi Askar Wataniyah, Kenapa Tidak?


Aku tinggal di Batam , mengelola sebuah mini market, rumah ku tak berapa jauh dari pelabuhan Batu Ampar, mungkin karena berdekatan dengan pelabuhan sehingga diseputaran rumahku menjadi tempat tinggal/singgah sementara bagi orang yang akan ke dan dari luar negeri, terutama Singapura dan Malaysia. kebanyakan mereka itu adalah Tenaga Kerja baik yang legal maupun ilegal

Tenaga Kerja itu banyak berasal dari Nusa Tenggara Barat, meskipun sebagian dari mereka dah lama bermukim di Malaysia dan menggunakan dialek melayu tetapi masih “medok” logat NTB nya. Disana mereka ada yang bekerja sebagai pelayan restoran atau di Pujasera dan di Hotel, biasanya mereka ini agak trendy cara berpakaiannya dan masih muda, ada yang bekerja di proyek pembangunan (kuli kontrek) jadi tukang dan banyak pula yang bekerja di perkebunan kepala sawit.

Di mini market ku, aku menjual pulsa, selalu, setelah mereka sampai di Batam mereka membeli kartu HP perdana, dan untuk isi ulang mereka agak boros, satu hari bisa 5 kali membeli pulsa di tempatku, katanya untuk menghubungi sanak saudara di kampung dan menghubungi tauke atau temannya di seberang dan untuk dikirim kepada saudaranya di kampung, mungkin karena gajinya besar di negeri Jiran itu atau nilai tukar rupiah yang rendah mereka tak terlalu mempersoalkan rupiah yang dibelanjakannya.

Saya tak pernah memeriksa isi dompet mereka, tapi saat registrsi memerlukan KTP, terlihat isi dompetnya, beberapa diantara mereka yang mempunyai KTP ganda, biasanya yang mempunyai KTP Malaysia, mereka-mereka ini bahasa melayu nya lumayan bagus dan telah lama bermukim di sana, malahan sudah ada yang beristeri disana.

Mereka bangga bisa punya IC Malaysia, terlihat dari roman mukanya saat menunjukkan kartunya itu….. katanya kalau sudah punya IC seperti ini tak susah nak cari kerja di Malaysia, kita dapat fasilitas perobatan dan boleh kerja di kerajaan dan boleh menabung.

MENJADI ASKAR WATANIYAH

Menjadi kuli kontrek saja mereka mau, dah la dikejar-kejar polis dan RELA , belum lagi tauke penipu yang tak nak membayar gaji di kebun kelapa sawit, dah dekat gajian ada “hantu” yan memberitahu ke polis atau petugas imigresen, “hantu” yang memang bekerja sama dengan tauke-tauke tu, ini pulak nak direkrut menjadi askar, siapa yang tak berkenan.

Hai dah nak jadi askar di negeri sendiri begitu susah, ini ada “tawaran” nak menjadi warga Malaysia dan dapat kerja pulak menjadi askar berebut lah orang. Kalau petinggi-petinggi di Jakarta sana tak percaya pegi sajalah awak tu ke perbatasan tanya ke mereka, nak jadi Indonesia kah atau Malaysia, Sipadan dan Ligitan contohnya. Kayak Timor Leste ada refrendum. Menteri Pertahanan Indonesia, seumur dia menjadi menteri bila nak mengunjungi daerah-daerah perbatasan?. Betambah yakin lah kita sebagaimana diprediksi tahun 2050 Indonesia akan “leyap” macam Uni Soviet.

Kalau ditanya, betul belaka, tak ada warga negara Indonesia yang menjadi askar Wataniyah tu, karena sebelumnya mereka dah pun jadi warga Malaysia… he he he kasian deh lu….

Tahun 2006 yang lalu ribuan warga Indonesia yang sudah bermukim puluhan tahun di semenanjung, diusir dari sana, Batam adalah salah satu daerah tempat transit mereka, pada saat itu Pemko Batam kewalahan menerima limpahan itu, sampai – sampai minta tambahan dana ke Pusat. Hingga kehari ini pun masih banyak anak-anak muda yang berusia 20 tahunan keatas yang terlahir dan besar di Malaysia diseputaran pulau-pulau di Batam yang berusaha tetap kembali ke semenanjung, karena orang tua mereka telah mendapat IC sana dan menetap disana tetapi anak-anak nya sebagian belum, macam-macam kes yang terjadi dengan dua kewarganegaraan ini. Pada dasarnya mereka lebih memilih tinggal di semenanjung kalau diperbolehkan.

Jadi kalau ada yang merekrut mereka menjadi Askar , kenapa tidak?….. soal perang dengan saudara sendiri itu urusan belakang, Horta dengan Reinado pun bersaudara koq.

Saya kutip pernyataan Yusron Ihza Mahendra sbb :

Politisi Fraksi Partai Bulan Bintang (FPBB) Yusron Ihza Mahendra membenarkan adanya warga Indonesia yang menjadi anggota tentara di Malaysia. WNI yang anggota militer itu biasanya yang mempunyai dua KTP atau dua kewarganegaraan.


Data tersebut didapatkkanya saat dirinya bersama anggota Komisi I melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.


Memang betul ada warga negara Indonesia menjadi anggota militer. Sejumlah informasi yang saya miliki, mereka mempunyai 2 KTP, KTP Indonesia sama Malaysia, ujar Yusron kepada okezone, Kamis (14/2/2008).


Yusron mensinyalir Malaysia berupaya memprofokasi kemarahan warga negara Indonesia. Wataniah atau Malaysian Ranger diduga sebagai cadangan militer yang disiapkan Malaysia untuk menghapi Indonesia jika terjadi peranga antar kedua negara.


Kemungkinan itu ada. Wataniah atau organisasi militer Malaysian Ranger, dimana orang Indonesia yang direkrut. Kemungkinan dipersiapkan menghapi Indonesia, biar perang melawan saudaranya sendiri, katanya.


Dirinya juga menyayangkan kelambanan BIN memperoleh informasi dalam kasus ini. Tapi informasi adanya warga yang menjadi anggota militer ditemukan anggota dewan.


BIN seharusnya lebih tahu dulu, malah Komisi I tahu duluan. Apa bedanya ada atau tidak adanya BIN. Ngapain kerjaan mereka?” pungkasnya. Itu lah isi kutipannya.

Hanya saja saya kurang sependapat dengan Yusron tentang istilah “Malaysia memprofokasi”, menurut saya yang ada masalah ekonomi di Indonesia, kesempatan serta lapangan kerja, biar diprofokasi bagaimana kalau rakyat sejahtera gak bakalan mau jadi askar, lah wong Singapura sekarang sibuk merekut pemuda Indonesia yang tinggal di sana untuk wajib militer, rata-rata pemudanya gak mau jadi askar, ngapain jadi umpan peluru. 

Korupsi teruslah kau pejabat-pejabat, di Jakarta sana, agar tambah cepat Indonesia bubar, agaknya tak sampai 2050.

Hari ini Kosovo sudah merdeka…………………….

5 Tanggapan

  1. Saya setuju Pak,…wajar jika rakyatnya ga peduli ama semangat nasionalisme,…wong pemimpinnya aja yang digaji dari pajak yang mereka bayarkan ga pernah mau peduli dengan nasib mereka,…jangankan yang diperbatasan,..yang dekat2 aja ga pernah diperhatikan,..so mengapa harus kebakaran jenggot saat rakyat membelot demi “mengepulnya” dapur mereka………

    Suka

  2. pak tulisannya bagus…” masuk top post lagi”
    patut juga diketahui oleh orang orang yang hendak bekerja di negri jiran itu…

    Suka

  3. Iya avatar…. saya punya sodara di Singapura , pemudanya gak mau jadi askar, kalau bisa wajib militerpun dihindari, antara lain kuliah di negeri orang, sekarang keluar peraturan baru dari Pemerintah Singapura mewajibkan pemuda pemuda Indonesia yang orang tuanya tinggal di sana untuk wajib militer, hayo…..pengangguran di negara kita berjibun kesempatan kerja susah , soal mati menjadi umpan peluru kan Tuhan yang nentukan.
    Tapi gak tau lah aku….. begitulah fakta, terus mau bilang apa ……………………..

    Suka

  4. Akh bisa aja kau Satya………………..kapan datang ke tempat ku aku tunggu…

    Suka

  5. bagi saya,semuanya adalah siasat yang dipakai malaysia untuk sedikit demi sedikit mengikis nasinalisme bangsa indonesia. dengan merekrut mereka maka ketika ada sedikit konfrontasi, suruh maju saja tuh orang2 “indonesia”. terlepas bahwa ini semua kesalahan para pemimpin, tidak sepadan rasanya nasionalisme ini di hargai 3 juta rupiah dibanding pengorbanan besar para pahlawan dalam merebut bangsa ini dari penjajah, lain halnya malaysia yang dapat kemerdekaan karena belas kasian. salam kenal pak imbalo, saya tunggu terus buletin YLKM di masjid raya jangan kasih solusi dong setelah mengupas sebuah produk halal/haram okey.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: