Jamal Tukimin dan Imran AZ


Sedang asyik melihat tukang yang sedang memotong dan membengkokkan besi beton bangunan perpustakaan yang akan kami bangun, tiba-tiba hp ku berdering, “Assalamualaikum Imbalo” suara dari seberang, ternyata pak Jamal Tukimin, pak Jamal demikian aku menyapanya sering datang ke Batam, beliau bermastautin di Singapura. “Besok saya ke Batam, pagi, dari Sekupang, berdua saja dengan isteri” jelas pak Jamal. “Jadi pak Jamal pun nak ber Imlek juga” candaku. “Gong xi fai cai” jawabnya dengan logat cina.  “OK lah besok saya jeput di Sekupang” jawabku

Kami sering bercanda dengan pak Jamal, aku kenal beliau sudah cukup lama. Pria 60 an ini sering sekali mengunjungi Indonesia, apalagi Batam, dia dulunya aktif di Muhammadiyah Singapura dan  menjadi salah seorang pengurus Muhammadiyah Asean.

Pak Jamal Tukimin adalah salah seorang sastrawan Singapura, nama belakangnya Tukimin, itu adalah nama orang tuanya yang berasal dari Jawa, tapi jauh sebelum Singapura merdeka sudah menetap disana. Kalau datang ke Batam waktunya hanya dihabiskan di toko-toko buku. Terkadang akupun dapat hadiah buku yang dibelikan beliau. Pak Jamal, pernah mengingatkan penulisan namanya, kalau salah tulis “J” nya bisa artinya menjadi lain, bermakna Onta katanya.

Banyak obsesi yang pernah diutarakan pak Jamal kepadaku, sepertinya dia kekurangan waktu, beberapa kali aku bersamanya mengunjungi Malaysia dan Thailand. Ke Indonesia, dia pun sering di Undang menjadi pembicara, banyak sudah kota di Indonesia yang dikunjunginya dalam kapasitasnya sebagai orang sastra.

Pak Jamal tetap mengakui asalnya dari Jawa, di Singapura suku Jawa tak seperti suku Boyan, suku  jawa, ya  melayu tetapi Boyan mendapat “hak istimewa” adalah suku tersendiri yang diakui oleh pemerintah Singapura.

Di Batam pun ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) yang sekarang, Datuk Imran AZ adalah generasi kedua orang Jawa yang bermastautin di Batam ( lahir di Belakang Padang), samalah dengan pak Jamal Tukimin di Singapura, generasi kedua di Singapura yang menjadi Sastrawan yang mewakili Singapura.   Orang tua mereka keduanya berasal dari Jawa sana.  

Kedua karib ku Datuk Imran AZ dan pak Jamal Tukimin, keduanya generasi kedua di bumi melayu, keduanya asal Jawa. Yang satu menjadi ketua LAM Batam yang satunya lagi Sastrawan kesohor di Singapura.

  

Imlek di Batam


http://hsetiabudi.wordpress.com/2007/02/17/gong-xi-fa-cai-selamat-tahun-baru-imlek-2588/http://hsetiabudi.wordpress.com/2007/02/17/gong-xi-fa-cai-selamat-tahun-baru-imlek-2588/

Aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12.

Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak.  Diambil dari Sedap Sekejap, Edisi 2/II-Februari 2001

Di Batam 

“Pak, kami libur 2 minggu” kata seorang sales distributor alat-alat tulis kepada pak Aswin bagian pembelian di mini market yang aku kelola. Lebih 32 distributor pemasok barang kebutuhan sehari-hari yang hilir mudik datang ke tempat kami, hampir seluruhnya adalah warga keturunan yang merayakan Imlek.

 “Kalau anda, liburnya berapa hari?” tanyaku kepada distribustor  buah yang berlokasi di Pasar Pelita depan PT Sat Nusa Persada, “Tiga hari saja pak” jawab petugas yang lagi menurunkan kotak buah-buahan pesanan kami. Kalau tiga hari tak perlulah aku menyetok buah. 

Begitulah di Batam setiap saat Imlek hampir semua toko tutup,  ada yang tutup  sampai selesai perayaan “cap go me”. Pak Awie misalnya pedagang condola (rak tempat memajang dagangan) di Sei Panas depan patung kuda, tiga hari sebelum Imlek telah pulang ke Tanjung Balai Karimun …. “Saya sudah di Balai pak” katanya ketika kuhubungi dengan hp ku,  aku membutuhkan sebuah condola tempat stock barang selama dua minggu ini mengantisipasi persediaan selama Imlek, condola itu biasanya aku pesan melalui telpon, pak Awie, pria keturunan ini biasanya  langsung mengantarkannya.  “Ya setahun sekali berkumpul dengan keluarga” ujarnya diujung telpon. Hari ini pun  sebagian besar toko-toko di Nagoya sudah pada tutup.

Pak Awie orang Balai bekerja di Batam jadi mudiknya ke Balai, penduduk Batam yang merayakan Imlek kebanyakan pendatang, ada yang dari Tanjung Batu, Selat Panjang, Moro dan dari pulau-pulau sekitaran Batam. Banyak mereka sukses berusaha di Batam , ada yang manjadi pedagang Valuta asing, mengelola sekolah sampai keperguruan tinggi , menjadi Bankir, Industriawan, ini malah sudah go publik. Kalau pengusaha real estate cukup banyak, pengelola pelabuhan, restoran, hotel, tour & traver hampir diseluruh lini sentra ekonomi, jadi kalau selama dan setiap perayaan Imlek Batam menjadi sepi dan pemandangan seperti kota mati, adalah lumrah belaka.

Batam kota industri, alih kapal, menjadi kota seperti sekarang ini, ide dari penguasa orde baru tak lepas dari peran Alm Pak Harto, imlek menjadi libur nasional oleh Ibu Megawati, Gus Dur yang mencabut pelarangan Inpresnya. Semuanya menjadi sejarah, sejarah juga yang mencatat seorang Asmin Patros menjadi anggota Dewan yang terhormat seperti katanya dalam dialog di Batam TV tanggal 05 Februari 2008, malam.  Asmin Patros SH. Mhum yang protestan  juga turut merayakan Imlek, begitupun abang kandungnya Haji Saptono Mustakim yang muslim, merayakan Imlek, kedua mereka ini aku kenal cukup baik, keduanya aktip di organisai politik, malah kini Haji Saptono Mustakim menjabat sebagai wakil Bupati Lingga. “Saya merayakannya karena orang tua mengajarkan demikian” kata Asmin menjelaskan tentang Imlek.

Kalau dulu 30 tahun yang lalu banyak warga Cina yang menjadi petani, pekebun karet, seperti di Duriangkang, hasilnya langsung dijual ke Singapura. Spead boat atau pompong orang disini menyebutnya dapat masuk sampai ke Baloi Darat (Dam Baloi Sekarang yang katanya mau dialih fungsikan lokasinya) , Sungai di samping  Rumah Sakit Awal Bros yang sekarang,  dulu, masih dapat dilalui spead boat untuk mengangkut hasil hutan seperti arang, getah. Itulah sungai Baloi namanya, hulunya satu  di Dam Baloi dan satu lagi di depan Mapoltabes Barelang, kami dulu sering mengangkuti barang-barang ke sana dengan spead boat, baik barang-barang dari singapura maupun yang ke Singapura.         

Biasanya selama Imlek, omset penjualan di mini market kami meningkat cukup signifikan. Di Nagoya, yang terlihat buka adalah rumah makan Padang, puluhan miliar rupiah perputaran uang di Batam, bahkan mungkin ratusan miliar rupiah perhari, ketika suatu waktu kutanyakan hal ini kepada Tindomora Siregar mantan kepala BI di Batam, dia pun tak tahu angka pastinya.  

Orang Batam yang bekerja di Singapura pun banyak, mereka pada mudik, termasuk juga warga Singapuranya banyak yang ke Batam dalam liburan Imlek. Di China, ratusan ribu penumpang kereta api yang akan mudik ke kampung halaman masing-masing belum dapat terangkut karena kereta api disana  lebih memprioritaskan pengangkutan batu bara, padahal besok tanggal 7 Februari 2008 sudah Imlek.               

Gong xi facai

%d blogger menyukai ini: