Ziarah ke Kamboja, Kampuchea, Cambodia


dsc000291.jpg

Aku di telpon ustadz Wahab, ustadz Wahab adalah karibku dari Kulim Kedah Malaysaia, “Imbalo, 23 hari bulan Februari 2008 mendatang ikut tak ke Phnom Penh”? ajaknya. ” Tapi ini tak sama dengan perjalanan ke Chiang Rai  tempohari” tambahnya … “Kita kesuntukan masa, jadi perjalanan kesana by plane”  tambahnya lagi….

Kalau Desember 2007 yang lalu, rombongan ziarah (demikian orang Malaysia menyebutnya)  berangkat dari Pulau Pinang Malaysia ke Yala, Pattani di Thailand Utara, terus ke Bangkok dari Bangkok ke Pha Yao, Chiang Rai di Selatan Thailand sampai ke Myanmar (Provinsi Shan di Burma) sana, berangkat by minibus. Sebagian peserta memang ada yang pulang melalui udara dari Bandara Internasional Chiang Rai – ke Bangkok dan dari Svarnabumi (Bangkok)  ke  Kuala Lumpur, sementara aku seorang diri dari Bangkok ke Changi (Singapura) karena lebih dekat ke Batam tinggal nyeberang saja.

Phnom Penh adalah ibukota Demokratik Kamboja, aku belum pernah kesana…. sejak jadi orang pensiunan banyak waktu luangku sehingga ajakan ustadz Wahab, langsung aku iyakan saja. Rencana kami akan mengunjungi Kamboja dan Laos, dua negara yang hanya dipisahkan sungai Mekong ini adalah dalam rangka kegiatan Muhammadiyah Internasional yang dikomandoi oleh Ustadz Abdul Wahab.

Sudah menjadi rencana kerja dan komitmen kami untuk mengunjungi komunitas Islam di Asia Tenggara, dan aku senang sekali  diberikan waktu dan kesehatan untuk melakoni itu dihari tuaku. Karena belum pernah kesana kubuka-bukalah situs tentang Kamboja, Wikipedia kubaca, sebagaimana email dari Muhammad Faiz Othman jarak pemukiman Islam tak lah begitu jauh dari Phnom Penh 12 batu katanya…. jadi persis seperti yang ditulis di Republika Online sbb:  

“Di dekat Pnom Penh, ibukota Kamboja, terdapat komunitas muslim Cham. Mereka telah berdiam di tempat itu sejak hampir 400 tahun yang lalu. Komunitas Cham, memang bukan penduduk asli Kamboja yang mayoritas beragama Budha. Mereka adalah imigran dari Vietnam. Komunitas Cham adalah warga kerajaan Champa, suatu kerajaan besar di Asia Tenggara pada abad XVII. Kontak dagang dengan berbagai negara tetangga telah membuka jalan bagi masuknya agama Islam di kerajaan ini.

Islam masuk ke Champa diperkirakan pada tahun 1607. Banyak warga Champa yang kemudian memeluk Islam. Tak hanya warga biasa, keluarga kerajaan banyak yang memeluk Islam. Persoalan muncul, ketika pada tahun 1677 muncul aksi kekerasan terhadap kalangan muslim di Champa. Aksi itu, mendorong imigrasi besar-besaran warga Champa ke Kamboja. Lebih dari 300 tahun komunitas ini hidup damai. Ketika rejim komunis berkuasa di Kamboja, komunitas muslim juga menjadi sasaran kekejaman mereka. Pengalaman panjang menghadapi kekerasan menjadikan komunitas ini tetap bertahan hingga sekarang.

Cerita mengenai komunitas muslim Cham, merupakan salah satu sisi yang diungkap Sign of Islam, sebuah film dokumenter mengenai masuknya Islam ke berbagai penjuru dunia. Sign of Islam terdiri dari berbagai seri. Cerita mengenai masuknya Islam di Kamboja, Thailand dan Indonesia, berada dalam seria Asia Tenggara. Tak hanya Cham, film dokumenter produk Grand Brilliance SDN Bhd Malaysia ini, juga mengungkap masuknya Islam ke belahan dunia lain termasuk Indonesia. Dokumentasi mengenai masuknya Islam ke Indonesia, lebih difokuskan pada perkembangan Islam zaman Sriwijaya, perkembangan Islam di Jawa pada zaman Walisongo, atau perkembangan Islam di Riau.

Sepintas, disinggung mengenai perkembangan Islam di berbagai pelosok Indonesia yang lain, seperti Kalimantan. Sayangnya, film dokumenter ini tidak mengulas perkembangan Islam di Aceh. Bagaimanapun Aceh memiliki kedudukan penting berkenaan dengan sejarah Islam dan kebudayaan Islam di Indonesia. Satu hal lain yang agak janggal adalah ilustrasi musik. Pada episode mengenai masuknya Islam di Jawa, Anda akan disuguhi ilustrasi musik degung Sunda. Ilustrasi ini muncul saat naratorTengku Elida Bustaman, bercerita tentang Islam di zaman Sriwijaya hingga pengaruh para wali.

Pada episode yang sama, kita akan mendengar tembang ilir ilir. lagu ini merupakan salah satu media untuk menyebarkan Islam di daerah pesisir Jawa Timur. Menurut versi Sign of Islam, lagu ini ciptaan Sunan Giri. Versi lain menyebutkan bahwa ilir-ilir merupakan ciptaan Sunan Kalijogo. Sebagai suatu film dokumenter, Sign of Islam lebih banyak bercerita mengenai ikon-ikon kehadiran Islam di sebuah wilayah, pengaruh Islam terhadap perilaku dan kebiasaan masyarakat setempat, serta pengaruhnya terhadap alam pemikiran masyarakat setempat. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, dokumentasi perkembangan Islam di berbagai belahan dunia bisa menjadi referensi untuk mengenal Islam lebih jauh”. 

Republik Demokratik Kamboja atau Kampuchea mungkin berasal dari kata Kampung Cham karena ada 4 provinsi dari 20 provinsi yang berada di Kamboja memakai kata-kata Kampong yaitu provinsi Kampong Cham, Kampong Chhnan, Kampong Speu, Kampong Thom. Sementara Kota terbesar adalah Phnom Penh sebagai kota praja dan setara dengan kota praja Sihanoukville dulunya bernama Kampong Som.

Sungguh sangat menyedihkan kehidupan umat Islam disana  kata Faiz dalam emailnya kepadaku, sembari gambar-gambar yang dikirimkannya pula menunjukkan rumah, madrasah, serta surau yang masih dipakai mereka hingga kini terlihat sederhana sekali…. perlu uluran tangan kita….  Rumah ustadz Shaari, ustadz yang berasal dari Thailand, menjadi salah seorang pengajar di Madrasah, kerumah itulah kami akan datang…..

Siapa mau ikut ??????

   

2 Tanggapan

  1. apa perbedaan antara traditional cham dan ortodox cham….?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: