Myanmar: Soal Muslim Rohingya Bukan Masalah Agama

Kalau begitu mengapa sulit mendapatkan visa ke sana ?

Kalau begitu mengapa sulit mendapatkan visa ke sana ?

Pemerintah Myanmar menolak upaya beberapa kalangan mempolitikkan dan menduniakan keadaan di wilayah Rakhine sebagai masalah agama. Demikian pernyataan yang disampaikan Pemerintah Republik Myanmar, yang diterima ANTARA pada Senin (30/7).

Pemerintah Myanmar menyatakan telah melakukan pengendalian maksimal untuk memulihkan hukum dan ketertiban di tempat tertentu di wilayah Rakhine. Myanmar sangat menolak tuduhan beberapa kalangan bahwa kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan dilakukan pihak berwenang dalam menangani kerusuhan di wilayah tersebut, kata pernyataan itu.

“Myanmar adalah negara banyak agama, tempat Buddha, Kristen, Muslim, dan Hindu hidup bersama dalam damai dan serasi berabad-abad. Oleh karena itu, peristiwa di Rakhine bukan karena penindasan agama atau diskriminasi,” kata pernyataan pemerintah itu.

“Perdamaian dan stabilitas sangat diperlukan demi keberlangsungan demokrasi dan proses reformasi di Myanmar. Solidaritas nasional dan harmoni rasial antarsuku berbeda penting bagi kesatuan,” katanya.

Pihak berwenang telah mengambil tindakan diperlukan dengan hati-hati, katanya, pemerintah bekerja sama dengan pemimpin agama dan masyarakat, partai politik, dan organisasi sosial untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada 11 Juni, Presiden U Thein Sein menyampaikan pernyataan terkait kejadian itu, mengimbau masyarakat Myanmar bekerja sama dengan pemerintah dan minta semua mewujudkan setiap unsur keadaan dengan kemurahan hati.

Presiden juga berjanji sangat mementingkan aturan hukum. Kantor Presiden menyatakan Keadaan Darurat Negara di wilayah Rakhine untuk menghentikan kekerasan dan mengembalikan hukum dan ketertiban pada 12 Juni 2012.

Pemerintah Myanmar sedang membangun bangsa damai, modern dan maju serta menetapkan prioritas untuk memastikan perdamaian, stabilitas, dan aturan hukum, katanya.

Setelah dua kejadian itu, kerusuhan pecah di kota Sittway, Maungtaw, dan Buthidaung, tempat perusuh membakar dan menghancurkan rumah, toko, dan penginapan, serta terlibat pembunuhan. Akibat kerusuhan itu, 77 orang dari kedua pihak tewas dan 109 luka. Sejumlah 4.822 rumah, 17 masjid, 15 biara, dan tiga sekolah dibakar.

Pemerintah menyatakan mencoba segera memulihkan ketengan di tempat kerusuhan itu sejak awal kekerasan di wilayah Rakhine. “Pemerintah juga mengambil langkah untuk menghentikan sebaran kekerasan dan mengembalikan perdamaian. Warga diberi keterangan tentang keadaan tersebut secara terbuka,” katanya.

Untuk mengungkapkan kebenaran dan mengambil tindakan hukum pada pelaku pelanggaran hukum dan perbuatan onar di wilayah Rakhine, Panitia Penyelidik beranggota 16 orang dan dipimpin Wakil Menteri Dalam Negeri dibentuk pada 6 Juni 2012, kata pernyataan itu.

Dalam meninjau kejadian di wilayah itu ditemukan bahwa pelanggaran hukum tersebar akibat ketidakpercayaan dan perbedaan agama, yang menciptakan kebencian dan balas dendam terhadap satu sama lain.

Sebagai korban kekerasan, baik umat Buddha maupun Muslim, sangat jelas tampak bahwa kerusuhan tersebut tidak terkait dengan penganiayaan di wilayah itu. Myanmar adalah negara banyak ras dan banyak agama, tempat orang dengan keyakinan berbeda hidup bersama dalam damai dan serasi, kata pernyataan itu.

Anggota kabinet dan pejabat pemerintah serta perwakilan dari masyarakat telah mengunjungi wilayah terimbas kerusuhan itu dan terlibat dalam pemukiman ulang dan pemulihan serta penyaluran barang ke masyarakat di markas bantuan.

Pemerintah mengambil tindakan hukum terhadap pelaku kejahatan itu, katanya. Pada waktu sama, pemerintah mengambil langkah untuk memastikan gejala dan kejadian tersebut tidak terjadi lagi, kata pernyataan itu.

Pemerintah membangun 89 markas bantuan di kota tersebut bagi 14.328 orang Rakhine dan 30.740 orang Muslim terdampak kekerasan itu. Karena keadaan hukum dan ketertiban mulai pulih, pengungsi di tempat tersebut berangsur-angsur pulang.

Sebagai bagian dari usaha pembangunan kembali perumahan, yang dibakar di Maungtaw dan di desa sekitarnya, Kementerian urusan Perbatasan akan membangun 202 rumah, UNHCR akan membangun 222 rumah, dan CARE Myanmar, lembaga swadaya masyarakat antarbangsa, akan membangun 128 rumah. UNHCR sejauh ini mengirim 400 tenda bagi pengungsi di kota Maungtaw.

Dalam rangka memberikan penampungan di Sittway dan desa sekitarnya, pemerintah wilayah Rakhine berjanji membangun 170 tenda sementara, sedangkan UNHCR dan CARE Myanmar pimpinan UNHCR akan membangun 600 tenda, kata pernyataan itu.

UNHCR dan LSM itu telah menyediakan 6.818 perangkat berbagai macam peralatan rumah tangga dan 2.412 terpal bagi pengungsi di Rakhine. Selain itu, uang tunai dan barang berharga lain senilai tiga miliar Kyat untuk bantuan dan rehabilitasi korban diterima dari simpatisan, baik dari dalam maupun luar negeri.

ACT segera masuk ke Rohingya, Visa Melalui Bangladesh

“Alhamdulillah, akhirnya visa sudah di tangan. Pemerintah Bangladesh mengizinkan kami masuk,” jelas Andhika Purbo Swasono, Ketua Action Team for Rohingya, Jumat, setelah keluar dari Kedutaan Besar Bangladesh di Jakarta. Dari Bangladesh, tak jauh lagi untuk merapat ke pengungsi Rohingya di Myanmar. Langkah membantu Muslim Rohingya pun bukan hanya wacana dan diplomasi di dalam negeri.

Sebagai kunjungan awal menemui pengungsi Rohingya di Myanmar, tak banyak rencana yang disiapkan. “Prioritasnya, memberi bantuan medis dan pangan. Hadirnya tim ini, mewakili kepedulian masyarakat Indonesia langsung ke tengah pengungsi. Seperti standar aksi ACT, kami tak pernah melupakan koordinasi dengan pemerintah, termasuk menetapkan mitra lokal. Bagaimana pun, kami adalah tamu di negeri orang, sehingga menghargai tuan rumah,” jelas Andhika.

Isu kemanusiaan sejatinya adalah “hajatan besar” umat manusia, terutama dalam bulan Ramadhan penuh berkah ini. “Karena ini hajatan besar, ACT sangat berbesar hati ketika pekan ini makin banyak simpati dan kesadaran mempedulikan Rohingya. Etnik muslim Rohingya, merupakan komunitas paling sengsara saat ini di antara penduduk dunia. Kita selayaknya terpanggil hadist orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang, saling menyayang dan saling cinta bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sulit tidur dan demam,” ungkap Andhika.

Tanpa menunda waktu lagi, minggu 29/7 tim pertama Action Team for Rohingya akan berangkat menemui langsung para pengungsi Rohingya dipimpin Andhika. Selain Andhika, tim ini didukung relawan medis, dr. Rio Pranata. “Dokter Rio saat ini bertugas di Klaten, Jawa Tengah. Beliau akan menyusul di hari yang berbeda,” jelas Andhika.

Tim Aksi untuk Rohingya dibentuk bulan Juni lalu, dan telah melakukan serangkaian aksi galang dana dan kampanye kepedulian.

ACT, kata N. Imam Akbar, Direktur Global Humanity Response – lembaga yang diinisasi ACT merespon krisis kemanusiaan di luar Indonesia, tak hanya berikhtiar membantu Rohingya melalui Banglades. “Kami juga mengupayakan melalui Myanmar. Kalau sulit dari Jakarta, kita bermitra dengan mitra ACT di Malaysia yang insyaAllah memiliki semangat yang sama. Di Malaysia, muslim Rohingya relatif lebih tertangani. Mereka bahkan bisa membentuk paguyuban untuk memperjuangkan nasibnya melalui wadah organisasi.”

Andhika: Muda dan Selalu Siaga

Loyalitas Andhika Purbo Swasono, patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, dalam usianya yang masih muda, lahir di Jakarta 6 Juli 1980, bapak seorang putri – Aisyah Dalia Asira, tak pernah menampik tugas. Kesiagaan telah menjadi sikapnya. Hal itu secara sadar menjadikan Tri Mardiati – istri Andhika – selalu siap menerima kenyataan untuk ditinggal suaminya bertugas. Tak berlebihan kalau Tria menikahi Andhika, mirip menikahi seorang tentara. Bedanya, Andhika tak pernah bertugas dengan membawa senjata. “Senjata saya, keikhlasan dan kesiapan menyapa saudara-saudara kita yang ditimpa kemalangan,” ujar sulung dua bersaudara dari pasangan Santoso SW dan Yupika Adelina Setyawati ini.

Karir Andhika di AC dimulai sebagai relawan. Pertama kali, alumnus Departemen Matematika FMIPA Universitas Indonesia ini terlibat dalam tim kemanusiaan ACT saat gempa mengguncang Jogja (2006). Sesudahnya, sejumlah event bencana dilibatinya. Tahun 2007, mendukung emergency team ACT. Tahun 2009, saat sejumlah bencana hadir beruntun di Indonesia, Andhika terlibat dalam sejumlah aksi kemanusiaan. Longsor Cikangkareng – Cianjur Selatan (2009), gempa bumi di Sumatra Barat, targedi pecahnya tanggul Situ Gintung (Ciputat Timur, Tangerang Selatan), gempa bumi Jawa Barat.

Andhika berkali-kali didapuk sebagai Action Team Leader. Tahun 2010 saja, dua kali posisi itu diamanahkan padanya yaitu saat erupsi Merapi (memimpin Tim Kesehatan) dan banjir bandang Cihaurbeuti, Ciamis (memimpin emergency team).

Pengalaman bergaul “dengan maut” tak pernah menyurutkan langkah Andhika. Justru situasi bersama korban-korban selamat dari bencana, meneguhkan rasa syukur dan pelajaran akan kehidupan. “Saya terkesan menyaksikan warga Jogja dan Jateng begitu tegar menghadapi bencana. Meski banyak kehilangan, harta bahkan anggota keluarganya, mereka tidak berlama-lama larut dalam kesedihan. Warga Jogja, dibanding korban bencana lainnya, lebih cepat bangkit kembali,” ungkap Andhika.

Wujud kesiapan menerima tugas, juga diperlihatkannya saat diterjunkan dalam Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia (KISS). Dari tim pertama sampai tim ketiga, Andhika ikut di dalamnya dan selama itu harus di luar negeri meninggalkan istrinya. Andhika bersama tim “berkeliaran” membawa bantuan masyarakat Indonesia melalui KISS – lembaga yang diinisiasi ACT – di Mogadishu, yang disebut media internasional sebagai kota paling berbahaya di dunia saat ini. “Di sela tugas di Somalia dan Kenya, ACT sempat menugaskan saya membantu korban gempa di provinsi Van, Turki (2011), menyalurkan bantuan logistik,” kata Andhika.

Selama terlibat dalam KISS, Andhika mengelola tak hanya bantuan medis dan pangan. Ia mendampingi relawan lokal menyiapkan hewan kurban, mendistribusikan dan mendokumentasikan prosesnya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pekurban di Indonesia. “Pendistribusian kurban di perbatasan Somalia-kenya maupun di Mogadishu, dahsyat karena dilakukan di kawasan padat pengungsi dan minim kemampuan berbahasa Inggris. Mereka juga agak sulit ditertibkan. Tak mudah mendokumentasikan proses qurban di Mogadishu karena berlaku pembatasan aktivitas di alam terbuka orang asing sejak pukul 17.00,” jelas alumnus SMU Negeri 70 Jakarta ini.

Andhika dan kesiapannya terjun di situasi genting kemanusiaan, teladan bagi kaum muda Indonesia. Mengapa ia menerima tugas berat ini? “Tak harus menanti berumur, untuk melakukan sesuatu yang berarti,” ujarnya. Maka, ia mengaku banyak belajar dari Ahyudin, presiden ACT yang dikaguminya. “Seperti komandan (sebutan akrab kru ACT terhadap Ahyudin), sebelum pergi bertugas, saya menulis surat wasiat. Berjaga-jaga andai terjadi sesuatu terhadap saya, keluarga sudah siap dan melakukan hal terbaik. Doakan, ya, saya kembali pulang dengan selamat, jadi wasiat itu tak perlu dibuka,” ujarnya.

sumber http://arrahmah.com

Dendam pada Umat Islam, AS Diam Saja Pembantaian Rohingya

MOSKOW — Nasmiya Bokova, jurnalis dan wakil pimpinan redaksi majalah Muslimanka terbitan Bosnia, mengkritik sikap Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang tidak bereaksi dalam soal pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar. Bokova memperkirakan beberapa alasan mengapa negara Barat yang mengklaim pejuang hak asasi manusia itu memilih sikap diam saja.

“Mengapa Amerika Serikat langsung mereaksi atas penangkapan atau cederanya sejumlah orang di salah satu negara dunia ketiga. Namun, AS tidak menunjukkan reaksi apapun terhadap tragedi di Myanmar?” katanya. “Itu karena Barat dan Amerika Serikat, dendam terhadap umat Islam.”

Bokova menyatakan hal tersebut dalam wawancaranya dengan IRNA di Moskow, Rusia, pada Sabtu (28/7) waktu setempat. Selain karena dendam, AS dan negara Barat memilih diam dalam soal pembantaian Muslim Rohingya karena dalam rangka menggulirkan politik islamphobia.

Selain itu, mereka juga sedang merongrong sebuah negara Muslim lain yaitu Suriah. ”Mereka tidak ingin perhatian dunia teralihkan pada pembantaian warga Muslim di Myanmar,” kata Bokova.

sumber  :  republika.co.id

Taliban Siap Serang Myanmar untuk Balas Dendam Rohingya

Masjid Jamik di Ta Chi Lek Myanmar

Bersama Imam Masjid Jamik di Ta Chi Lek Myanmar. Masjid ini termasuk yang masih terawat dengan baik. Biaya perawatan konon didapat  dari bantuan  Muslim China di Chiang Rai Thailand 

ISLAMABAD – Kelompok militan Taliban Pakistan mengancam akan menyerang Myanmar untuk membalas dendam atas peristiwa pembantaian Muslim Rohingya. Taliban juga mendesak Pemerintah Pakistan agar memutuskan hubungan dengan Myanmar.

Gerakan Tehrik-e-Taliban mengklaim dirinya sebagai pembela warga Muslim di Myanmar. Taliban pun menuntut Pemerintah Pakistan agar segera menutup kantor Kedutaan Besar Myanmar di Kota Islamabad.

“Kami akan membalas darah kalian. Bila Kedutaan Besar Myanmar tidak ditutup, kami tidak hanya akan menyerang Myanmar, kami juga akan menyerang Pakistan yang merupakan Sahabat Myanmar,” ujar juru bicara Taliban Ehsanullah Ehsan, seperti dikutip PTI, Jumat (27/7/2012).

“Kami juga menyerukan kepada media yang menyebut dirinya sebagai perwakilam Islam, untuk menyiarkan siaran berisi fakta-fakta yang terjadi di Myanmar dan warga Muslim Myanmar,” tegasnya.

Meski demikian, Taliban tidak mengatakan, apakah mereka akan mengirim militan-militannya ke negeri yang sempat dipimpin junta militer itu. Pernyataan ini merupakan ancaman pertama dari Taliban Pakistan terhadap Myanmar. Sejauh ini, Taliban Pakistan hanya membahas isu-isu yang berkaitan dengan Afghanistan.

Sejauh ini, kantor Kedutaan Besar Myanmar di Islamabad tidak mengeluarkan komentar mengenai insiden ini. Sejumlah pengamat juga meragukan kemampuan Pakistan untuk melakukan serangan bom di Myanmar. Sementara itu, Pemerintah Pakistan sebelumnya mengatakan bahwa negaranya berharap Myanmar sanggup mengatasi insiden berdarah itu.

Konflik komunal terjadi di wilayah Arakan, Myanmar, antara warga Muslim Rohingya dan Budha. Peristiwa itu menewaskan banyak orang dan ribuan warga Rohingya pun melarikan diri dari wilayahnya.

Warga Muslim itu lari ke Bangladesh yang berdekatan dengan Myanmar. Meski demikian, mereka juga menghadapi deportasi dari pemerintah.

Amnesty International turut melaporkan sejumlah bukti-bukti adanya peristiwa pemerkosaan, penghancuran properti, dan pembunuhan terhadap warga Muslim yang dilakukan oleh warga Budha serta pasukan Myanmar. Arus distribusi bantuan pun diblokir oleh warga dan pasukan.

Menurut UNHCR : Bentrokan di Myanmar Utara, 800 Ribu Orang Mengungsi

Muslims hold pictures and banners as they protest in front of Myanmar's embassy in Bangkok in June. A group of Rohingyas living in Thailand and other Muslims gathered outside the embassy demanding security for Myanmar's Rohingya people and called for inter

Muslims hold pictures and banners as they protest in front of Myanmar’s embassy in Bangkok in June. A group of Rohingyas living in Thailand and other Muslims gathered outside the embassy demanding security for Myanmar’s Rohingya people and called for inter

JENEWA — Sekitar 80.000 orang diperkirakan akan mengungsi karena bentrokan antar-kelompok baru-baru ini di negara bagian Rakhine utara Myanmar, kata Badan Pengungsi PBB (UNHCR), Jumat (27/7).

Juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan kepada wartawan bahwa lebih dari 30.000 Orang-Orang Terlantar Internal (IDPs) telah menerima bantuan. Organisasi-organisasi darurat dan pemerintah telah mulai membangun tempat penampungan pengungsi di beberapa kamp-kamp.

Mahecic juga menyatakan keprihatinan atas tiga anggota staf UNHCR yang telah ditahan di negara bagian Rakhine.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Navi Pillay pada Jumat juga menyatakan keprihatinan serius atas pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung di Myanmar, dan menyerukan penyelidikan cepat dan independen.

Kekerasan dipicu antara etnis Rakhine Buddha dan etnis Rohingya Muslim di Taungup di negara bagian Rakhine setelah seorang wanita Buddhis diperkosa dan dibunuh pada 28 Mei. Menurut angka resmi, kekerasan di kawasan itu telah merenggut sedikitnya 78 jiwa sejauh ini.

Poto – Poto atau Gambar Yang Tidak Benar Yang Tersebar Tentang Muslim Rohingya Myanmar

Pembantaian yang berlaku di Myanmar adalah hal yang benar benar terjadi dan dihimbau kepada seluruh ummat Islam bangkitlah menyatakan protes dan turut menyalurkan sumbangan semampu yang ada, paling tidak untuk meringankan beban saudara saudara seagama kita disana.

Janganlah menyebarkan gambar gambar palsu tentang hal yang benar, itu adalah suatu perbuatan yang tidak bermoral dan hanya menangguk di air keruh. Apakah maksud disebalik itu?…apakah semata-mata hanya untuk menaikkan rating ? Menurut kami itu adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab diatas penderitaan orang lain

Poto : Biksu sebagian orang menyebutnya Sami Buddha Mengamuk Di Myanmar. Caption itu memang betul ada, kejadiannya pun memang di Myanmar tetapi berlakunya pada tahun 2007 yang silam. Poto ini tidak ada langsung berhubungan dengan kerusuhan etnis,  sebab ini adalah demonstrasi yang dilakukan oleh rakyat Myanmar terhadap kerajaan junta militer yang tertekan dengan kemiskinan akibat dari kenaikan harga barang barang kebutuhan pokok.

Poto : Biksu sebagian orang menyebutnya Sami Buddha Mengamuk Di Myanmar. Caption itu memang betul ada, kejadiannya pun memang di Myanmar tetapi terjadinya pada tahun 2007 yang silam. Poto ini tidak ada langsung berhubungan dengan kerusuhan etnis, sebab ini adalah demonstrasi yang dilakukan oleh rakyat Myanmar terhadap kerajaan junta militer yang tertekan dengan kemiskinan akibat dari kenaikan harga barang barang kebutuhan pokok. Sumber Ahrchk | MySinchew

Keterangan gambar : Seorang Muslim Myanmar telah dibakar dan orang - orang disekelilingnya hanya memerhatikan saja  tanpa ada seorang pun yang bersimpati atau ingin memberikan bantuan. Gambar ini banyak beredar di Facebook. Gambar ini sebenarnya adalah poto seorang aktivis Tibet yang bernama Jhampel Yesh yang menolak kunjungan Presiden China ke India. Aktivis tersebut merupakan seorang imigran yang sedang memohon suaka politik dari pihak pemerintah India. Dia membuat aksi membakar dirinya sendiri sebagai unjuk rasa kunjungan oleh Hu Jintao (Presiden China ketika itu) ke India.
Keterangan gambar : Seorang Muslim Myanmar telah dibakar dan orang – orang disekelilingnya hanya memerhatikan saja tanpa ada seorang pun yang bersimpati atau ingin memberikan bantuan. Gambar ini banyak beredar di Facebook.
Gambar ini sebenarnya adalah poto seorang aktivis Tibet yang bernama Jhampel Yesh yang menolak kunjungan Presiden China ke India. Aktivis tersebut merupakan seorang imigran yang sedang memohon suaka politik dari pihak pemerintah India. Dia membuat aksi membakar dirinya sendiri sebagai unjuk rasa kunjungan oleh Hu Jintao (Presiden China ketika itu) ke India. – International Business Times | The Guardian UK
Foto foto  ini juga banyak beredar di internet mereka mengaitkan peristiwa pembantaian ummat Islam Rohingya di Myanmar. Tetapi sebenarnya gambar - gambar ini adalah merupakan kejadian yang berlaku di Selatan Thailand - Wilayah Patani. Peristiwa ini terjadi pada bulan Oktober 2004 dimana Tentera Thailand  membunuhi ratusan warga Muslim Patani di Takbai yang mengakibatkan sekurang kurangnya 85 orang terbunuh, 60 cedera, dan 59 lainnya dipenjarakan. Peristiwa ini terjadi pada saat umat Muslim Patani sedang berpuasa Ramadhan. Dan terkenal dengan Peristiwa Takbai.
Foto foto ini juga banyak beredar di internet mereka mengaitkan peristiwa pembantaian ummat Islam Rohingya di Myanmar. Tetapi sebenarnya gambar – gambar ini adalah merupakan kejadian yang berlaku di Selatan Thailand – Wilayah Patani. Peristiwa ini terjadi pada bulan Oktober 2004 dimana Tentera Thailand membunuhi ratusan warga Muslim Patani di Takbai yang mengakibatkan sekurang kurangnya 85 orang terbunuh, 60 cedera, dan 59 lainnya dipenjarakan. Peristiwa ini terjadi pada saat umat Muslim Patani sedang berpuasa Ramadhan. Dan terkenal dengan Peristiwa Takbai.   Hminews.com | The Telegraph | SMH Portal | People’s Daily | Frontline
Foto diatas adalah merupakan kejadian yang benar tetapi bukan berlaku di Myanmar sebagaimana yang disebarluaskan dalam internet. Kejadian ini  adalah peristiwa gempa bumi yang terjadi di negara Tibet dan telah menelan banyak korban. Tibetan Community | Tibet Times
Foto diatas adalah merupakan kejadian yang benar tetapi bukan berlaku di Myanmar sebagaimana yang disebarluaskan dalam internet. Kejadian ini adalah peristiwa gempa bumi yang terjadi di negara Tibet dan telah menelan banyak korban.  Tibetan CommunityTibet Times

Indonesia Tidak Bisa Intervensi Myanmar Tentang Rohingya ??????

Dirjen Kerjasama ASEAN, I Gusti Agung Weseka Puja mengatakan anggota ASEAN tidak dapat melakukan intervensi ataupun turut campur atas suatu persoalan yang dialami oleh negara anggota lainnya.

Hal ini menjawab bagaimana peran Indonesia untuk ikut aktif menyelesaikan permasalahan Rohingya dengan pemerintah Myanmar.

Sebagai negara berdaulat, Pemerintah Myanmar mengatakan masalah tersebut adalah konflik dalam negeri, yang tidak dapat dicampuri penyelesainnya oleh negara manapun.

Tetapi, keterbukaan pemerintahan Myanmar juga diharapkan untuk menjelaskan kepada internasional tentang kondisi dan situasi di wilayah yang sekarang ditetapkan sebagai zona militer itu. “Kami mendorong atas keterbukaan pemerintahan di sana (Myanmar), dan kami masih bisa percaya,” ungkapnya.

di Border , perbatasan Myanmar Golden Trangle...masuk ke negri Junta ini secara resmi pasport kita ditahan dan di tukar dengan secarik kertas saja.

di Border , perbatasan Myanmar Golden Trangle…masuk ke negri Junta ini secara resmi pasport kita ditahan dan di tukar dengan secarik kertas saja.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Sosial Politik dan Budaya KBRI di Myanmar, Djumara Supriyadi menuturkan, telah mendesak pemerintah junta militer Myanmar untuk membuka diri atas keterlibatan komunitas internasional dalam konflik tersebut.

Salah satunya dengan memberikan akses masuk bagi relawan, maupun pemantau dan media asing, ke Negara Bagian Rakhine. Namun, kata dia, desakan itu belum ditanggapi oleh pemerintah setempat.

Border Myanmar, kenapa bisa ganas begitu ya Biksu Biksu ini.......

Border Myanmar, kenapa bisa ganas begitu ya Biksu Biksu ini…….


Djumara menyarankan, agar relawan Indonesia yang hendak memantau dan melakukan perbantuan terhadap Muslim Rohingya, agar berangkat atas nama perbantuan kemanusian, dan tidak mandiri.
Muhammadiyah Internasional telah lama bergerak ke daerah Junta Militer ini

Muhammadiyah Internasional telah lama bergerak ke daerah Junta Militer ini

Kata dia, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), UNOCHA, juga tengah melakukan upaya agar pemerintah Myanmar dapat mengizinkan para relawan dan pers asing masuk ke wilayah tersebut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.