Masjid Vietnam yang Dibangun 2 Negara

Masjid itu kini sudah dipugar, terlihat megah. Saat datang kesana dua tahun yang lalu tahun 2010, bangunan masjid yang sudah berdiri ratusan tahun itu di bongkar total. Kini, Masjidil Rahim demikian namanya dibangun kembali oleh dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia.

Masjid Rahim terletak di 45 Nam Ky Khoi Ngia Q1 Provinsi Ho Chi Min Saigon, Vietnam. Ada delapan masjid seperti masjid Rahim ini di kota Saigon. Yang menarik Imam masjid Rahim adalah orang Boyan (Bawean) , tetapi beliau tidak lahir di Indonesia. “Umur 10 tahun saya dibawa orang tua kesini dari Singapura” jelas tok Imam dengan suara agak bergetar. Usia tok Imam yang masih sehat ini sudah berkisar 70 an.

Disekitar masjid itu, ada beberapa keluarga kerabat tok Imam sesama warga Boyan yang dulu bersama orang tuanya datang ke Saigon mengadu nasib dari Singapura. Itulah mungkin, masjid ini pun disebut masjid Boyan.

Agak tersenyum kecut tok Imam saat kuajak bahasa ibundanya (Bawean), “Sudah tak faham lagi “ ujarnya kepadaku. Sambil berbincang, aku diajak tok Imam menemui isterinya, rumah tok Imam hanya berjarak pagar dengan masjid , Aku tak tahu apa yang dibicarakannya dalam bahasa Vietnam, mungkin agaknya tok Imam yakin betul kalau aku benar orang Boyan, jadi seakan mengingatkan beliau dengan leluhurnya.
Menikah dengan gadis Vietnam , sekitar 50 tahun yang lalu, tok Imam ini dikarunia 4 orang anak, tetapi tak seorang pun dari anak-anak beliau yang dapat berbahasa melayu. Tok Imam , suami isteri telah menunaikan ibadah haji .

Mana tahu ada waktu dan rezeki kalau anda berkunjung ke Ho Chi Min atau Saigon Vietnam, tanyalah masjid Boyan insyaAllah orang akan tunjuki tempatnya.

Di Vietnam Islam bukan lah agama yang asing , abad ke 11 hijrah berdiri kerajaan Islam yang termashur disana , yaitu kerajaan Melayu Champa. Champa termasuk kerjaan Islam awal di Nusantara , Champa yang terletak pertengahan Vietnam dan arah k e Selatan , ternyata banyak ditemui masjid tua , apalagi daerah yang berbatasan dengan Kamboja.

Aneksasi Vietnam terhadap kerajaan Islam Champa, dan perang saudara terus menerus , serta kuatnya pengaruh asing (Amerika dan Negara Timur sosialis lainnya) membuat umat Islam disana bertempiaran ke merata penjuru Indo china .
Jadi tak heran , seperti di Provinsi An Giang   baca : Masjid Kecil di An Giang Vietnam , kota kedua terbesar dan terbanyak penduduknya setelah Ho Chi Min ada masjid kecil yang sudah ratusan tahun usianya.

Dan diperbatasan antara Vietnam dan Kamboja , terutama di daerah Border , akan kita temui masjid – masjid tua, dan juga orang tua renta yang masih dapat bertutur bahasa melayu. Senang sekali mereka, melayani kita berkomunikasi dengan bahasa melayu , seperti halnya tok Imam Safei , yang menerima kami rombongan dari Malaysia dan Indonesia.

Kami pun senang dapat berkomunikasi dengan bahasa ibunda.

Masjid Kecil di An Giang Vietnam

Tok Imam Soles, bersama kedua putra dan dua orang cucu lelakinya, penerus generasi Champa di Vietnam

Tok Imam Soles, bersama kedua putra dan dua orang cucu lelakinya, penerus generasi Champa di Vietnam

Hari ke empat perjalan bersama Yayasan Amal Malaysia menelusuri komunitas Muslim di Vietnam terutama di Saigon (Ho Chi Min). Meskipun bukan sebagai ibukota Vietnam , Kota Ho Chi Min yang terletak di Selatan Vietnam ini adalah kota yang terbesar dan yang paling banyak penduduknya dari pada Ha Noi sebagai ibukota negara komunis itu.
Petang itu Ahad (9/9), kami keluar dari kota Chau Doc, dua jembatan penyeberangan menggunakan ferry kami lalui kemudian sebuah lagi jembatan yang cukup panjang yang membelah anak sungai Mekong itupun kami lewati. Barulah rombongan kami memasuki Thanh pho (kota) Long Xuyen. Kota Long Xuyen ini berada di provinsi An Giang.

Dua tiga kali pula kenderaan yang kami tumpangi berputar-putar mencari alamat dimana masjid Salamat yang kami cari itu berada. Ternyata, Masjid Salamat atau surau Salamat ini terletak diantara dua bangunan ruko 4 lantai yang ramai, hanya lokasi masjid itu saja yang ada tanah kosong di depannya. Tetapi persis jalan masuk di tanah kosong  ke masjid itu dipenuhi dagangan orang berjualan buah-buahan. Bangunan masjid itu tidak mencerminkan masjid pada umumnya. Masjid yang hanya berukuran 3 x 4 meter ini memang benar-benar  terletak di tengah tengah jantung kota Thin (Provinsi) An Giang Vietnam itu. Yang menjadi imam dan Hakem di masjid dan komunitas Islam yang hanya 5 keluarga itu adalah Hakem Chau Mach ( dipanggil Muhammad Soles) .

Masjid itu terlihat kumuh,  terhimpit dan terjepit ditengah gedung  megah dan riuhnya pembangunan kota.  Luas tanah tapak surau sekitar 12 x 20 meter , membuat lokasi surau itu menjadi inceran investor . Itu juga membuat pemikiran tersendiri bagi tok Imam Soles. Tetapi sejak setahun yang lalu tok Imam Soles telah mendapatkan semacam sertifikat tanah kepemilikan dari pemerintah Vietnam, sertifikat itu  ditunjukkan oleh tok Imam yang dapat juga sedikit berbahasa melayu Champa ini kepada kami.

Masjid Salamat di Nguyen Trai , Phuong (distric) My Long, Thanh pho (Town) Long Xuyen, Thinh (provinsi) An Giang Vietnam

Masjid Salamat di Nguyen Trai , Phuong (distric) My Long, Thanh pho (Town) Long Xuyen, Thinh (provinsi) An Giang Vietnam

Dinding surau Salamat tersebut terbuat dari papan dan potongan – potongan triplek yang sudah lapuk dan tidak bercat. Ada lembaran seng selebar 60 cm, tinggi 2 meter,
ujungnya berbentuk kubah di cat hijau, dibedirikan diatas bumbung bangunan itu, potongan seng (kaleng)  itulah yang menandakan bahwa bangunan itu masjid . Sebagian atap bangunan surau itu dilapisi dengan terpal dan plastik, karena atapnya sudah bocor disana sini.  Iba hati melihatnya.

Senang sekali rasanya menemukan ada masjid di Provinsi An Giang ini, An Giang salah satu provinsi terbesar setelah Ho Chi Min, dan hanya itulah masjid yang ada di kota yang berpenduduk jutaan orang ini. Bagaimana tidak senang, perut bakalan terisi dengan makanan segar dan halal. Meskipun sebelumnya rombogan kami sudah sepakat makan malam dengan roti dan apa adanya.

Menunggu hidangan selesai di masak, tok Imam atau tok Hakim yang ramah ini terus tertawa, senang sekali hatinya dengan kedatangan kami. Cerita lancar mengalir melalui dua orang penterjemah kami, Hasan dan Sani. Di kota Long Xuyen hanya keluarga tok Imam Soles itu sajalah yang muslim. Ada 3 petak rumah disekitar masjid Selamat. Semuanya masih kerabat tok Imam Soles.

Baju rompi peninggalan leluhur keluarga Champa

Baju rompi peninggalan leluhur keluarga Champa

Yang menarik, Tok Imam yang masih keturunan kesekian dari panglima Kerajaan Islam Champa ini masih menyimpan satu bukti yang diwariskan turun temurun, bahwa mereka adalah keturunan bangsawan Champa.Warisan itu berupa baju rompi yang sudah sangat lusu, ada beberapa koyakan disebelahnya menunjukkan kain itu sudah sangat tua dan mulai lapuk. Hampir semua bagian depan dan belakang baju rompi itu bertuliskan huruf arab yang berisikan sislisah (tarombo).

Tok Hakim Soles, tetap menjaga warisan itu, dan tetap menjaga keberadaan masjid kecil yang jendelanya pun hanya berjarak 30 cm dari lantai, terpaksa lantai masjid di
tinggikan,  karena kalau tidak ditimbun dan ditinggikan akan tergenang air, jalan raya sudah jauh lebih tinggi dari lantai bangunan masjid, air kotor dari saluran parit  baik dari jalanan maupun roku sekitarnya akan menggenangi masjid.

Menurut tok Imam Soles sewaktu dia kecil dulu dan ayahnya masih hidup, Surau itu berpanggung. Sebagaimana layaknya surau di kampung-kampung melayu. Pesan datuk dan bapaknya kepada tok Imam Soles untuk terus menganut Islam dan terus menjaga warisan surau kecil itu, kini diteruskannya kepada dua orang anak lelakinya. Seorang anak lelakinya sudah menikah dan telah mempunyai anak pula.

Tetapi Tok Hakim Soles yang selalu senyum dan tertawa lebar itu, agak terkesima sedikit. Fasalnya saat kutanya soal pembelajaran Islam di komunitas itu. Aku mendengar saat tok Imam melaksanakan shalat magrib. Bang Zul dari Amal Malaysia yang kuberitahu soal lafaz bacaan ayat2 maupun Fatihah tok Imam yang agak janggal sedikit dari biasanya. Aku tak tahu apa yang ada dalam fikiran bang Zul mendengar pengakuan tok Hakim , darimana tok Hakim itu belajar bacaan shalat dan lainnya. Kami pun sepakat berbagi tugas, bang Zul kusarankan masuk kedalam rumah membimbing tok Hakim meluruskan bacaan shalatnya, sementara semua anak dan menantu tok Hakim berkumpul di dalam surau ,belajar huruf hijaiyah bersamaku.

Banyak yang kami bincangkan dalam pertemuan itu, bagaimana Tok Hakim dan keluarganya belajar Islam dari kaset. Menurut tok Hakim Soles ini beberapa waktu yang lalu ada juga orang datang mengajarkan mengaji kepada keluarga tok Hakim, tetapi tak lama bertahan disitu. Kini anak tok Hakim Soles ini belajar Islam melalui internet, seorang putranya yang baru tamat dari High School, dapat menggunakan internet.

Muslim nama putra tok Imam itu, saat kuajak untuk sekolah ke Batam, belajar Islam dan bahasa Arab matanya berbinar binar. Hasan (Thap Dai Truong Tho)  yang dulu pernah belajar di Mahad di Batam , menyemangati dalam bahasa Vietnam yang tak kumengerti . Tetapi aku faham apa yang dikatakan Hasan, karena hal itu selalu diulang – ulangnya. “ Ibu dan Bapaku, serta keluargaku masih belum dapat shalat dan belum mengenal Islam sebagaimana Islam yang sebenarnya, karena mereka masih Bani” .

Islam Bani adalah Islam yang banyak pengikutnya di Selatan Vietnam terutama di provinsi dimana Hasan tinggal, mereka tidak sembahyang, tidak puasa, semua urusan tentang ibadah diserahkan kepada Tok Hakim dan tok Imam mereka . Bahkan berkahtan (sunat) pun mereka tidak laksanakan. Hasan pun selalu mengulang – ulang perkataan yang sama, bagaimana dia dulu belajar membaca quran, shalat di Batam dan Jakarta. Kini Hasan dapat lancar berbahasa Indonesia dan sedikit Arabia, berkat belajar di Mahad.

Menjelang tengah malam kami tinggalkan masjid Salamat dengan penuh keharuan dan kenangan, keluarga tok Imam Soles mengantarkan kami sampai ke bus yang telah menunggu kami , pelukan persahabatan membuat terharu , Insyaallah bertemu lagi.

Dan ada lembaran kartu nama yang menempel di tanganku yang isinya antara lain : DONGA BANK SWIT CODE : EACBVNVX BO : 0107 584 710 ATAS NAMA CHAU MACH , Tok Imam ini tidak pernah ingin menyampaikan keluhan kondisi surau peninggalan leluhurnya sejak ratusan tahun yang lalu itu. Pantang baginya, tetapi kali ini luluh juga hatinya memberikan akun bank Donga itu kepada kami.
Mudah mudahan urusan imigrasi Muslim lekas selesai , dan segera dapat berangkat belajar Islam yang benar. Mudah mudahan juga ada insan yang tergerak hatinya membantu membangun ulang masjid yang tak layak disebut masjid itu.

Amin ya Allah ya Robbal alamin…..

Rencana Khitan di Phan Rang Vietnam

masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi

masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi


Bersama Yayasan Amal Malaysia di Saigon

Rasa tak muat lagi perut hendak menyantap hidangan pagi dirumah Tok Hakim Ysa. Menu yang telah tersedia tak jauh beda dengan di rumah Hasan, ada roti, telur ceplok, sayuran berbagai macam dan yang lain adalah bubur dari gandum, dan sup.

Tak satupun kawan yang hendak makan, kami minta selepas shalat Jumat saja makan kembali. Ibu Basirun yang memasak semua masakan itu dapat memahaminya. Untuk menghilangkan rasa kecewanya berdua orang satu piring bubur itu kami makan juga.

Tok Hakim Ysa menyarankan kepada kami pakai mini bus saja, kapasitas 12 tempat duduk, hari itu Jumat (7/9) masih sekitar pukul 11 waktu setempat, disepakati harga sewa 4.5 juta Dong hingga ke hari senin (10/9) sampai pukul 8 malam berakhir dibandara Ho Chi Min, rombongan diantar pulang.

Betul saran Tok Ysa, dengan mini bus ini kami lebih mudah mengunjungi berbagai tempat, di kampong Ban Lam ada dua masjid selain masjid Islam Bani. Keluhan yang sama kami dengarkan dari penduduk sekitar masjid itu. Perlunya tenaga pendidik untuk agama Islam disana.

Tidak terasa singkat sekali rasanya waktu, waktu shalat hamper tiba. Kami segera bergegas ke Masjid yang satu lagi masjid dekat rumah Tok Hakim. Persis di depan Masjid rumah Tok Hakim Ysa berdiri sebuah masjid Islam Bani, masjid aitu cukup besar, tidak terlihat aktifitas orang melaksanakan shalat jumat disana.

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa


Selepas makan di rumah Tok Hakim Ysa, kami pamitan, Sani, telah menunggu kami untuk bertemu Tok Hakim Islam Bani. Namun sebelum ke rumah Tok Hakim Bani kami mampir dulu kesebuah masjid yang juga berdampingan dengan masjid Bani. Dua tahun lalu saya pernah ke masjid ini, sehingga ada beberapa jamaah yang masih ingat kepadaku.

Banyak cerita tentang Islam Bani meluncur lancer dari bibir Tok Hakim Bani, Hasan dan Sani yang menjadi penterjemah. Koleksi Alquran terbitan Iran ada disana, begitu juga kitab panduan tulisan tangan diperlihatkan oleh Tok Hakim.

Rumah Tok Hakim Bani tak seberapa jauh dari masjid Bani, berjalan kaki kami kesana, menurut Tok Hakim Bani ini, jamaah Bani tidak shalat dan tidak puasa diwakilkan kepada Imam, ada 20 Imam sebagai perwalian seluruh umat Islam Bani di daerah Phan Rang itu. Para Imam ini pun tak perlu shalat sebagaimana layaknya umat Islam lima kali sehari semalam. Hanya sesekali saja. Begitu juga dengan puasa ramadhan, cukup sekali saja. Tok Hakim adalah yang mengetuai seluruh Imam Bani, termasuk menikah kan pasangan umat Bani.

Tok Hakim ini sepanjang umurnya tetap bebaju putih dengan desain khusus, lengan panjang seperti jubah. Dan menurut Tok Hakim ini, diseluruh kain jubah itulah amalan dan syariat umat Bani melakat. Dan beliau yang mempertanggungjawabkannya kelak dihadapan Allah SWT.

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran


Ada selempang kain berwarna-warni melilit di leher Tok Hakim Bani yang katanya pernah Umrah ke Makkah itu, dan konon katanya lagi Tok Hakim inilah satu satunya Tok Hakim yang pernah menginjak Makkah. Selempang berwarna warni itu menandakan surga , sementara ada pula seperti 3 buah kantong bertali menjuntai dari depan ke belakang di pundak Tok Hakim. Kantong macam uncang itu berwarna warni juga, ada manik manik melekat menhiasi pinggirannya, ketiga uncang itu mengandung pengertian yang berbeda, yaitu tentang alam, alam sebelum lahir , alam dunia dan alam akhirat.

Tok Hakim yang satu ini baru diangkat menjadi Tok Hakim Baru, Tok Hakim yang lama adalah masih pakcik Sani. Kondisi ruang tamu Tak Hakim lama dengan yang baru mirip, di sudut raung ada bale bale dari kayu tanpa alas, papan bale bale ini mengkilap. Biasanya Tok Hakim duduk menerima tamu disitu terkadang menjuntai kaki. Tetapi mungkin karena rombongan kami banyak kami duduk dengan menggelar tikar di lantai.

Hari beranjak petang saat kami meninggalkan rumah Tok Hakim, ada satu lagi masjid yang hendak kami kunjungi. Masjid ini masih baru , terletak persis di pinggir jalan raya kampong Ban Lam Phan Rang. Masjid ini dibangun oleh orang Dubai. Berpagar rapi lengkap dengan sanitasi yang memadai, dua tahun yang lalu saat aku mengunjungi Phan Rang , masjid ini baru selesai diresmikan .

Masjid itu hanya kami lalui saja, karena hendak mencari makanan, untuk makan malam. Tidak ada restoran atau kedai makanan di kampong itu, di Bandar Phan Rang pun belum pasti ada yang halal. Sani lah yang mengajak kami makan malam dirumah kerabatnya.

Rumah itu cukup besar berlantai dua, halamannya cukup luas , dari jalan raya sekitar 3 kilometer, jalanan ke rumah itu kiri kanannya sawah, tidak beraspal. Pemilik rumah itu seorang perempuan tua, anak perempuannya menikah dengan orang Islam dan bekerja di Luar Negeri. Agaknya yang membangunkan rumah itu adalah anak menantunya tadi. Dan sang Ibu tua itu, baru sekitar setahun mengucapkan syahadat, mengikuti agama putrinya.

Senang sekali ibu tua itu menerima kami, kami disuguhi satu jenis makanan seperti kulit lumpia kering tetapi ditaburi dengan sejenis wijen yang di sangria dengan minyak , dengan lembaran itu dimasukkan berbagai jenis sayuran , ikan , daging ataupun telur dadar digulung dan dicelupkan ke dalam bumbu sebelum di makan.

Seorang lagi putri ibu itu menikah, dan masuk Islam, sekitar dua tahun yang lalu. Namun hingga kini belum lagi di khitan. Dan masih seorang lagi kerabat sang ibu yang bersama kami makan malam itu juga telah masuk Islam umurnya sekitar 40an tahun dan juga berlum ber khitan.

Hal seperti kedua lelaki tadi banyak terdapat di Phan Rang, belum lagi mereka yang dari Islam Bani, nyaris semua tidak di khitan, termasuk Tok Imam. Itulah salah satu misi kunjungan kami bersama Yayasan Amal Malaysia (Amal Kedah) ke sana.

Insyaallah bulan juni 2013 saat libur anak sekolah Amal Kedah akan mengadakan sunat massal disana. (bersambung)

Tok Hakim Ysa Dari Phan Rang Vietnam

sarapan pagi khas vietnam

sarapan pagi khas vietnam

Bersama Yayasan Amal Kedah Malaysia Mengunjungi Saigon. (2)

Pada hari itu juga kamis (6/9), kami putuskan berangkat ke Phan Rang, perjalanan ke daerah terakhir dari kerajaan Islam Champa yang dapat ditaklukkan oleh Vietnam pada tahun 1451 ini kami tempuh dengan perjalanan lebih 8 jam. Bus yang kami tumpangi berjalan perlahan, Spedometer hanya menunjukan angka antara 40 – 60 KM / jam saja. Dan berhenti di beberapa tempat.

Malam itu sebelum berangkat ke Phan Rang, kami shalat jamak takdim di lantai tiga Restoran Shamsudin. Selesai shalat, makanan telah terhidang di meja bulat yang dapat menampung 10 orang itu, bermacam hidangan khas Vietnam telah terhidang, salah satunya  adalah Sop Vietnam, sop ini makanan khas Restoran Shamsudin.
“Tidak pak untuk kali ini tidak usah di bayar” kata Arifin putra pemilik Restoran itu. Saat dr Mahyuddin hendak mebayar harga makanan. Enggak tahu apa yang ada dalam pikiran teman-teman dari Malaysia atas keramahan dan sambutan keluarga Arifin ini terhadap kami. Arifin pernah berkunjung ke Batam bersama keluarganya, beberap saat dulu.

Hari mulai terang, saat kami tiba di stasiun bus di Phan Rang, adalah masih kerabat Arifin juga rumah yang kami datangi dan tempati untuk shalat subuh. Rumah berlantai tiga milik pegawai kesehatan itu, tak jauh dari stasiun bus. Hanya 3 keluarga di tempat itu yang beragama Islam.

Sementara rumah Hasan terletak agak jauh dan diluar Bandar, dari stasiun, kami naik taxi, persawahan luas terbentang di sepanjang kiri dan kanan jalan raya Phang Rang dan jalan ini  juga menuju ke Ha Noi ibukota Vietnam.

Dua tahun  lalu, tak begitu banyak rumah berdiri dipinggir sepanjang jalan ini. Pesat betul pertumbuhan ekonomi Vietnam kalau itulah salah satu indikator tolok ukurnya.

Hampir semua rumah rumah penduduk disitu terbuat dari batu (permanen), itu yang membuat pak Mukhtar berkomentar. Orang Vietnam kaya-kaya belaka. Tak ada rumah terbuat dari gubuk kayu reot yang terlihat. Bahkan hal itu pun tak terlihat di perkampungan Islam suku Bani yang kami kunjungi.

Thap Dai Truong Tho artinya anak lelaki pertama Thap itu lah nama asli Hasan sambil senyum menjelaskan bahwa harga kayu lebih mahal dari pada batu bata, tiang kayu lebih mahal dari pada tiang broti. Bata disana di buat dan di cetak sendiri, sementara tiang untuk bangunan itu di buat dan dicor terlebih dahulu dengan ukuran kayu broti sesuai ukuran standar, seperti 4 x 4. “Tapi cobalah dilihat ke dalam pak, apa isinya “ jelas Hasan lagi. Dan ada sedikit kekhasan rumah rumah penduduk di Vietnam nyaris tak memakai rabung, jadi memanjang saja kebelakang dan dinding depan lebih tinggi dari belakang, dan struktur atap mengikuti pasangan bata nyaris tanpa kayu.

Tok Hakim Ysa kanan, Hasan tengah sebagai penterjemah

Tok Hakim Ysa kanan, Hasan tengah sebagai penterjemah

Selepas sarapan pagi, di rumah Hasan, kami berangkat ke rumah pak Isa. Meskipun Vietnam penghasil beras terbesar di Asia Tenggara tetapi masyarakat disana tidak sarapan pagi dengan nasi seperti kebanyakan dan umumnya masyarakat petani di Indonesia, mereka disana makan roti. Roti kering tawar ini banyak di jual-jual di pinggir jalan, dan juga dijajahkan. Roti itu dimakan dengan berjenis sayuran segar, ditaburi semacam bumbu khas Vietnam dan kecap serta telur mata sapi.

Dua tahun lalu saat berkunjung ke Saigon, pukul 9 malam waktu setempat, tuan rumah tempat yang sedang  kita kunjungi sudah wanti-wanti agar kita segera balik ke bilik Hotel. Jangan harap rombongan seperti kami yang keberadaannya sudah diketahui oleh penduduk lain, dapat menginap di rumah penduduk sabagai tamu apalagi mau tidur di Masjid sebagaimana yang acap kami lakukan di seluruh wilayah Thailand.

Di Vietnam sulit sekali kita mendapatkan keleluasaan untuk menginap di rumah kenalan, harus mendapat izin terlebih dahulu dari aparat yang berwenang dan itu harus jauh – jauh hari. Namun kini meskipun tidak semudah kalau kita berada dan bermalam dirumah kenalan di Kamboja dan Thailand, maupun di Laos. Kami dengan mudah dapat bermalam kapan  saja, agaknya itu berkat adanya Islamic Community Of Ninh Thuan Province (RIC-NT) yang menjadi Representative Board dari RIC-NT ini adalah pensiunan pegawai lumayan tinggi dan berpengaruh dari Vietnam bernama Haji Ysa Thanh Thanh Tam .

Haji Ysa ini tinggal di daerah kampong Van Lam (Bang Lam), kampong Bang Lam ini hampir seluruh penduduk nya beragama Islam, yaitu tadi Islam Baru dan Islam Bani. Ada empat masjid besar di kampong Bang Lam ini semua Imam masjid ke empat masjid itu berada dibawah koordinasi pak Ysa.
Malah bahkan bukan keempat masjid itu saja sampai ke seluruh masjid yang ada di Ho Chi Min suara pak Haji yang tak bisa berbahasa melayu ini di dengar oleh Imam-Imam masjid. Di  seluruh provinsi Thian Yinh daerah perbatasan Vietnam dengan Kamboja itu misalnya, disitu ada 7 buah masjid. di Long Khan ada 2 masjid, bahkan satu masjidnya cukup besar dibangun oleh UEA seharga 95.000 US $. Sementara di Chaou Doc daerah yang dekat perbatasan Phom Phen Kamboja, daerah Chou Doc ini tempat paling banyak masjid dan penduduk Vietnam yang muslim, belasan masjid disitu, semua Imam Masjid itu mendengarkan kata pak Haji Ysa lelaki yang berusia menjelang 60 tahun ini.

Tok Hakim demikian Haji Ysa biasa di panggil, “pak Imbalo hubungi saja beliau “ tulis Basirun dari Kajang Malaysia, Basirun candidat Phd dari Universitas Islam Malaysia jurusan Bahasa Arab ini adalah penduduk kampong Bang Lam Provinsi Phang Rang. Agaknya Basirun lah satu satunya penduduk kampong itu yang mengenyam pendidikan setinggi itu, namun ada sedikit kemasygulan bagi Basirun, hingga kini Basirun masih mengantongi passport Kamboja. Tak mudah baginya mendapatkan izin dari pemerintah Sosialis yang rada-rada komunis seperti Vietnam ketika itu untuk belajar Islam di luar Negeri. Orang-Orang seperti Basirun tidak sendiri, ada beberapa orang terpelajar asal Vietnam yang terpaksa mengantongi passport Kamboja.

Agaknya Basirun telah menghubungi pakciknya itu, dirumah pak Ysa  itu pun sudah tersedia hidangan sarapan pagi yang lebih spesipik dan khas Vietnam. (bersambung)

Bersama Yayasan Amal Kedah Malaysia mengunjungi Saigon.

Tengah, Tok Hakim Islam Bani, kanan Hasan nama Vietnamnya adalah Thap DaiTruong Tho

Tengah, Tok Hakim Islam Bani, kanan Hasan nama Vietnamnya adalah Thap DaiTruong Tho

Sebenarnya rencana kami hendak ke Saigon sudah dirancang dua bulan yang lalu yaitu awal Juli 2012 , pada saat itu harga tiket Air Asia dari Kuala Lumpur – Ho Chi Min , masih sekitar seratusan ringgit saja .
Kawan dari Malaysia sudah beli tiket “Kami sudah beli tiket untuk 5 orang” tulis Zul Lebai Baron dalam pesannya di Facebookku. “Jadi kan pak Imbalo, ikutlah dengan kami” lanjutnya lagi berharap.
“Insyaallah” jawabku ketika itu. Tetapi sampai menjelang 2 hari sebelum keberangkatan (5/9) belum juga tiket kupesan.

Rencana teman teman dari Amal Kedah Malaysia hendak ke Saigon adalah dalam rangka survey untuk ber- qurban bulan Oktober 2012 mendatang , dan juga kemungkinan untuk melaksankan khitanan masal disana.

Akhirnya kuputuskan juga untuk berangkat menemani mereka, Berangkat dari Batam (5/9) petang naik ferry terakhir, sampai di terminal bus Larkin Johor Bahru , terdengar azan Isya berkumandang .

Sengaja kuambil keberangkatan bus pukul 9 malam dengan harga tiket sebesar 31 RM, rencana semula langsung ke Kuala Lumpur, tetapi aku turun di hentian Nilai. Di hentian Nilai telah menunggu Nadzmi putra pak Yusuf dan Nadzmilah yang mengantarkan ku ke LCCT dan bergabung dengan teman2 yang dari Kedah , saat tiba di LCCT hari telah pukul 2 pagi.

Sepagi itu Kounter Air Asia belum buka , terpaksa menunggu 2 jam lagi. rencana hendak menukar jadwal penerbanganku dari AK 886 ke AK 880 , karena semua teman dari Malaysia yang akan berangkat ke Saigon dengan penerbangan AK 880 pukul 7 pagi , sementara aku sendiri berangkat dengan AK 886 pukul 12 tengah hari.

Awalnya Kami yakin bisa sama-sama berangkat dengan penerbangan AK 880 pagi , dari pengalaman beberapa maskapai penerbangan lain, bila masih ada sit kosong pada penerbangan awal. Ternyata hal ini tidak berlaku bagi Air Asia. “Macam tu boleh dilakukan sebelum 2×24 jam” ujar petugas Air Asia yang berada diterminal itu. Apa boleh buat sudah cepat2 datang ke LCCT, tak dapat nak berangkat bersama. Terpaksalah berangkat tengah hari seorang diri.

Tujuh jam lagi harus berada di LCCT , Apa yang harus kubuat. Pengalaman ber jam jam di Bandara bukanlah hal yang pertama kali kualami. Beberapakali dari Phnom Phen (Kamboja) naik Bus ke Bangkok, tiba di Bangkok hari telah pukul 11 malam , malam pada jam seperti itu sulit mendapatkan bus langsung ke Hadyai (perbatasan Malaysia – Thailand) , Nah , tempat yang aman untuk bermalam (tidur) bagi orang sepertiku ini adalah di Bandara Swarnabumi Bangkok, menunggu siang keesokan harinya.

Di Bandara negeri Gajah Putih itu banyak tersedia kursi yang dapat dipakai untuk meluruskan pinggang, kalau pun mau tiduran di lantai, tempat nya luas dan bersih . LCCT sungguh tidak sama dengan dan tidak mungkin bisa disamakan dengan Swarnabumi Bangkok misalnya, tetapi paling tidak tambahlah kursi di ruang tunggu itu. Belum lagi bau menyengit Toilet persis di depan ruang keberangkatan tidak dibersihkan. Saran untuk Air Asia jangan rajin jual makanan saja diatas pesawat.

Penumpang diLCCT dan Swarnabumi hampir sama membludaknya. Ratusan bahkan ribuan orang yang bernasib sama dengan ku, menunggu penerbangan berikutnya, bahkan ada yang sudah lebih dari 24 jam berada disitu , seperti mahasiswa dari Thailand yang hendak berangkat ke Indonesia misalnya.
Dan jangan harap ada air mineral free diruang tunggu bandara biaya murah itu, sebagaimana Bandara lain, toh bukan kah sama-sama terbang dengan Air Asia ?

“Pak kalau mau tiduran di ruang kedatangan, gak terganggu” ujar seorang lelaki paroh baya yang kukenal saat selonjoran kaki di Bandara yang baru saja di pogging dengan asap berbau melatin anti nyamuk demam berdarah. Bau asap membuat orang – orang yang berada di ruang tunggu pada bertempiaran kemana – mana. Hem beginilah nasib lapangan terbang biaya murah. Tak ada sedikitpun permintaan maaf hendak menyemprot asap yang membuat pusing kepala dipagi buta itu.

Tak sadar aku terlelap juga di bangku ruang kedatangan, terbangun saat sms masuk ke hpku, ternyata kawan- kawan sudah sampai di Ho Chi Min. “Mereka sudah makan dan sekarang sedang tiduran, papak sudah dimana?”. tulis Hasan pemuda asli Champa asal Provinsi Phan Rang Vietnam yang pernah belajar di Indonesia . “Saya sekarang tunggu papak di Lapangan Terbang” tulis nya lagi.

Sekitar Pukul 13.30 aku tiba di bandara Saigon, terlihat Hasan tersenyum menyambutku. Ada rasa haru bertemu lagi dengan Hasan , teringat ketika dia datang ke Batam belajar di Mahad Said bin Zahid beberapa tahun yang lalu, saat itu Hasan, sepatah pun tak dapat mengucapkan bahaya Indonesia, Syahadat pun dia tak bisa melapazkannya , apalagi huruf Hijaiyah.

Hasan adalah orang keturunan Champa yang mengaku beragama Islam. Di daerah Phan Rang Vietnam mereka menamakan Islam Bani, berbeda dengan Islam lainnya. Mereka, pengikut Bani tidak sembahyang dan tidak berpuasa , semua amalan itu diwakilkan kepada orang yang dipanggil tok Imam dan tok Hakim pemuka Agama Islam Bani .

Orang – orang Bani pun tidak di khitan, masjid mereka tersendiri. Jadi rencana kami adalah ke Provinsi Phan Rang , ke rumah dan ke kampong Hasan, Hasan sekarang sudah melaksanakan shalat 5 kali sehari semalam , banyak ayat2 pendek yang sudah dihafalnya , lumayan lancer bahasa Indonesianya.

Sementara kedua orang tua Hasan masih beragama Islam Bani, begitu juga seluruh keluarganya. (bersambung)

Terimakasih Turki

Terimakasih Turki……….

Buddha Myanmar Terus Bakar Masjid dan Desa Muslim Rohingya

masjid-dan-rumah-penduduk-muslim-rohingya-terus-dibakar-

masjid-dan-rumah-penduduk-muslim-rohingya-terus-dibakar-

Kaum Buddha yang didukung pemerintah Myanmar terus membakar desa dan masjid kaum Muslim di negeri itu. Kehadiran pasukan militer bersenjata berat pun tampak di ibu kota Rakhine, Sittwe. Selain itu, jam malam pun diberlakukan.

Bahkan, seperti dilansir Press TV, aksi pembakaran itu tak kunjung berhenti kendati kecaman terus berdatangan dari seluruh dunia. Wilayah selatan Rakhine telah menjadi kawasan penuh kekerasan terhadap Rohingya sejak Juni 2011 yang menyebabkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah Myanmar sendiri disebut-sebut menolak mengakui Rohingya karena dianggap bukan warga asli Myanmar dan menganggap mereka migran ilegal. Padahal warga Rohingya sendiri disebut sebagai keturunan Muslim yang berasal dari Persia, Turki, Bengali serta telah bermigrasi ke Myanmar sejak abad ke-8.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.