Jabal Arafah : Masjid Kebanggaan Warga Batam


Jabal Arafah adalah nama sebuah masjid di Batam. Masjid ini belum selesai dibangun “Ruangan yang sekarang dipakai untuk shalat itu, nantinya digunakan untuk ruang pertemuan semacam aula” ujar Fuardi Djarius. Mantan Kepala Dinas Kesehatam Kota Batam ini, menjelaskan kepada Buletin Jumat (BJ) biaya yang dikeluarkan sudah mencapai 10 miliar rupiah lebih. “Sekarang pembangunan difokuskan membuat menara dulu, agar kelihatan ikonya” tambah Fuardi lagi. Kalau dilihat sepintas dan tidak membaca tulisan, bangunan baru itu memang belum mencerminkan bentuk sebuah masjid.

Bangunannya bertingkat-tingkat, mengikuti struktur tanah, dari mulai tempat parkir, ruangan kantor masjid dan keatas tempat wuduk, setingkat lagi bangunan aula yang sekarang dibuat untuk tempat shalat. Tersedia juga mini market, menjual aneka ragam makanan ringan, tentu minuman juga tersedia. “Sementara ini hanya dihari Jumat ada jual nasi dan kari kambing” lanjut Fuardi lagi. Rencana kantin masjid itu belum selesai lagi.

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah


Disitulah Fuardi menghabiskan waktunya mulai masuk waktu shalat Juhur hingga selesai shalat asyar. Fuardi tidak sendiri, teman sejawat sesama pensiunan acap datang berjamaah dan bercengkerama. layaknya masjid ini semacam taman orang tua, dan tempat bertemu lansia . Mereka berbincang dibawah tenda yang disediakan oleh pengelola masjid.
mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga

mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga


Masjid Jabal Arafah, terletak persis di samping timur Mall Nagoya Hill, bisa jadi Mall ter-besar dan ter-ramai di Batam ini, membuat orang jadi ramai pula berkunjung ke masjid. “Yang jelas kami sekeluarga memang sengaja datang kesini” ujar Hanafi, bersama isteri dan ketiga anaknya, dihari hari libur dan senggang, meraka menyempatkan datang. Banyak keluarga muda seperti Hanafi datang mengunjungi masjid Jabal Arafah ini.

Lumayan menguras tenaga dari jalan raya naik ke bukit, dengan berjalan kaki. Tetapi tidak bagi ke-enam anak lelaki usia sekolah dasar (SD), tengah hari itu, mereka memang sudah berencana selepas sekolah hendak shalat di masjid yang ambalnya tebal, enak sujudnya kata mereka. Masih terlihat segar, apalagi selepas wuduk, mereka berlari dan bercanda, masuk ke ruang shalat.

"Maha Suci Engkau Ya Allah" jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka.."Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya....

“Maha Suci Engkau Ya Allah” jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka..”Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya….


Halaman masjid ini dilengkapi taman yang sedap dipandang mata, ada kolam ikan dengan air mancurnya. ” Kami diantar travel kemari” ujar Tati ketua rombongan studi banding dari Pemkab Bekasi, mereka menyempatkan berpoto disela-sela pohon kurma yang sengaja ditanam, dan tertata rapi.

Petang itu pula Novi pekerja dari Muka Kuning, sengaja datang bersama sang kekasih. Lepas magrib, melepaskan lelah, duduk di bangku yang memang tersedia di taman, pemandangan indah dari ketinggian bukit masjid Jabal Arafah, membuat mereka sering datang ke masjid itu.

Ustadz Amiruddin Dahad , sering menjelaskan dalam kesempatan ceramah diberbagai tempat tentang konsep pengelolaan masjid. Masjid Jabal Arafah ini acap pula sebagai contoh beliau. Imam yang fasih bacaannya, dan hafis pula. Sound System yang tidak menggangu telinga. Bukan karena tempat yang stategis saja.

Hal itu dibenarkan oleh DR Amirsyah Tambunan, wasekjen MUI Pusat, saat datang ke Batam dalam rangka Rakorda MUI I se-Sumatera, isteri wasekjen ini terkagum kagum dengan kebersihan dan design tempat wuduk dan kamar mandinya “Bak hotel berbintang saja” ujarnya.

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid


Masjid Jabal Arafah, bukan pengganti masjid Arafah yang ada di pintu Selataan Mall Nagoya Hill, masjid Arafah yang berada di lantai tiga pertokoan yang berhampiran dengan Hotel Nagoya Plaza, tetap digunakan.

Meskipun baru ruang aula saja yang selesai dan sudah digunakan utuk shalat, masjid Jabal Arafah ini ramai dikunjungi, tak kira anak-anak, remaja, keluarga. Rombongan tamu yang berkunjung ke Batam pun tak lepas datang mengunjungi masjid ini. Dari Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand misalnya, tamu yang datang selalu kami bawa ke masjid itu.

“Pemandangannya bagus, bersih” ujar ustadz Zenal Satiawan , menirukan ucapan tamunya dari Singapura yang dibawanya, saat shalat ke masjid itu. “Sebagai warga Batam kita jadi bangga dan tidak malu” ujar ustadz itu lagi.

Masjid yang punya panorama indah ini memang perlu diacungi jempol kepada penggagas dan pengelolanya. Masjid ini bisa dijadikan contoh bagaimana layaknya mengelola manajemen masjid. Semoga rezeki tetap tercurah kepada penyandang dana pembangunan masjid itu.

Peristiwa Berdarah Tak Bai Thailand Delapan Tahun Lalu

Peristiwa Berdarah Tak Bai


Tak Bai adalah nama salah satu tempat di Provinsi Narathiwat Thailand Selatan. Sama dengan Provinsi Yala, Patani dan juga Songkla, daerah ini dulu adalah kerajaan Islam Patani, sebelum di obok-obok oleh Inggris.

Patani termasuk kerajaan Islam terkemuka di Nusantara, sebagian daerah takluknya dibagi pula oleh Inggris kepada Malaysia. Hinggalah kerajaan Islam yang cukup termasyhur itu hilang dari muka bumi. Hingga sekarang rakyat Patani, tetap menuntut kemerdekaan, lebih seratus tahun mereka menuntut haknya kembali, sudah puluhan ribu nyawa terkorban untuk hal itu.

Sekatan kawat berduri seperti ini, mewarnai sepajang jalan di empat Wilayah kompli selatan Thailand

Sekatan kawat berduri seperti ini, mewarnai sepajang jalan di empat Wilayah kompli selatan Thailand

Empat daerah yang dianeksasi oleh Kerajaan Siam yang mayoritas Budha, hingga kehari ini terus bergolak. Empat daerah konflik ini pula mayoritas penduduknya beragama Islam dan berbahasa melayu. Dari segi agama, bahasa, tulisan dan adat istiadat, sungguh sangat jauh berbeda. Pemaksaan tidak secara langsung itulah yang kerap dan acap terjadi.

Tak Bai Narathiwat Thailand, daerah ini berbatasan langsung dengan Kelantan Malaysia, budaya dan bahasanya sama, karena mereka memang dulunya bersaudara, hanya sungai golok yang tak seberapa lebar itu saja yang memisahkan kedua Daerah dan Negara ini.

Delapan tahun yang lalu tepat nya 24 Oktober 2004 terjadi suatu peristiwa yang sangat menyayat hati. Umat Islam yang saat itu sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, dibantai dengan bengis dan sadis oleh tentara Siam Thailand. Tak Bai yang terletak di pinggir salah satu pantai itu dipenuhi genangan darah dan tumpukan mayat.

Tentara Siam siaga 24 jam sepanjang tahun di jalan - jalan

Tentara Siam siaga 24 jam sepanjang tahun di jalan – jalan

Mayat yang mati lemas karena ditumpuk bertindih tindih , dan dilemparkan begitu saja ke dalam truck, menurut laporan resmi pemerintah Thailand sekitar 85 orang yang mati saat itu. Tetapi orang kampong bilang jauh lebih banyak dari pada itu.

Tak Bai delapan tahun yang lalu disaat itu bulan Ramadhan, ditengah panas terik mereka dijejerkan dan dibaringkan di pinggir pantai di jalan dan pasir yang panas, diseret dan dilemparkan kedalam truck untuk dijebloskan ke tahanan. Hampir ribuan jumlahnya.

Oktober 2012 yang lalu Buletin Jumat (BJ) berkesempatan mengunjungi Tak Bai, dari Hadyai menuju Narathiwat , mampir beberapa jam di Patani. Sekatan jalan raya dari tumpukan pasir dan gulungan kawat berduri, nyaris terlihat disemua persimpangan. Disamping dipersimpangan jalan, jarak-jarak beberapa kilometer tentara Siam dengan senjata laras panjang terhunus, memeriksa semua kenderaan yang lalu llang dan memeriksa seluruh penumpangnya tanpa terkecuali.

Apalagi menjelang tanggal 24 Oktober 2012 itu, penjagaan semakin diperketat. Memasuki daerah Tak Bai, sepeda motor yang masuk keluar daerah itupun di periksa. Minibus yang ditumpangi BJ, hampir semuanya adalah penduduk Tak Bai yang sedang merayakan Idul Adha 1433 H di sana. Terlihat setiap ada pemeriksaan tentara yang berlebihan, contohnya pasangan yang duduk disamping BJ menarik nafas panjang.

Begitulah kondisi Tak Bai saat BJ kesana, setelah delapan tahun kasus berdarah yang tak pernah dapat perhatian Dunia ini, seakan terlupakan begitu saja, tetapi terlihat pemerintah Siam malah semakin takut dan meningkatkan pengamanan dengan menambah tentara dan sekatan jalan raya dimana-mana, dan tetap juga bom-bom meletup dimana-mana di daerah 4 komplik itu.

Entah sampai bila hal ini berakhir, sudah seratus tahun lamanya. Tak Bai masih seperti dulu, tak ada bangunan yang berubah, Jalan raya yang menghubungkan Patani – Narathiwat , kini dapat di tempu hamper 3 jam itu memang terlihat mulus, dua jalur. Dibangun oleh Kerajaan Siam, tetapi puluhan pos keamanan dengan bentangan kawat berduri dan tumpukan pasir dengan tentara yang terus 24 jam berjaga dengan senapang terhunus, masih juga menjadi pandangan yang dominan bagi para pendatang.

Sekatan di tengah pekan (bandar) empat wilayah komplik , biasanya tentara ini siaga di tempat-tampat fasiltas kerajaan dan toko warga non muslim

Sekatan di tengah pekan (bandar) empat wilayah komplik , biasanya tentara ini siaga di tempat-tampat fasiltas kerajaan dan toko warga non muslim

Peristiwa Tak Bai di Narathiwat Thailand, pembunuhan terhadap umat Islam oleh tentara Siam Budha yang kita tahu untuk merengut nyawa serangga saja mereka tidak lakukan, Tetapi mengapa begitu sadisnya mereka menembaki dan membunuh dan mencabut nyawa manusia.

Tak jauh beda umat Budha di Thailand dan umat Budha di Myanmar Burma sana, mengapa mereka begitu bencinya terhadap sesame manusia, yang kebetulan beragama Islam.

Ya Allah tolonglah Saudara kami yang terzolimi di sana……………

Pengalaman Qurban 1433 H di Burma, “Terjebak di Perbatasan”

Kota Kok Song Myanmar

Kota Kok Song Myanmar

Lepas saja dari kawasan hutan dan jalan bebatuan, lega sedikit perasaan. Kampung Teluk Cina kami tinggalkan, menuju Pulau Dua. Hampir 50 kilogram daging qurban yang dibawa, rencana untuk dibagi kepada saudara muslim yang ada dikampung Pulau Dua itu.

Ada perbedaan yang sangat terasa saat mengendarai kenderaan di Burma, kita berjalan di sebelah kanan. Teman dari Thailand yang membawa sepeda motor selalu lupa, kalau kami masih di Burma. Meskipun jalan tak ramai hanya sesekali ada sepeda motor dan sejenis tuk tuk yang lalu, selalu saja arah sepeda motor kami masuk kejalur kiri.

Tidak seperti sewaktu berangkat ke Teluk Cina, pagi harinya. Sepeda motor yang kami sewa , sudah diservise , karburator dan remnya pun sudah diperbaiki. Memang sewaktu keluar hutan kami tidak bersama, aku diantar dengan sepeda motor oleh seorang pemuda Abidin namanya. Tidak ada signal henpon sepanjang jalan yang kami lalui, sehingga tidak bisa mengabarkan kepada kawan yang ada di Pulau Dua, bahwa kami akan tetap pulang juga malam itu.

Seorang lelaki yang dari tadi mengikuti kami dari belakang dengan sepeda motornya , menyapa dengan salam. Tak tahu apa yang diucapkannya dalam bahasa setempat , kami mengikutinya berputar arah ke bukit yang lebih tinggi , ada dua garis signal terkadang satu terlihat di layar henponku . Satu nomor Thailand yang sudah ter-regstrasi dan satu lagi nomor Telkomsel roaming dari Indonesia.

Alhamdulillah dengan berteriak teriak melalui henpon, keberadaan kami diketahui oleh kawan yang ada di dermaga, 30 menit lagi harus sudah sampai disana. Jalanan aspal berlobang lobang , mirip di Batam , ditancap terus karena mengejar waktu. Penat rasanya pinggang menahan sepeda motor agar jangan terus arah ke kiri, kawan orang Thailand tetap saja mengarah jalan kekiri.

Akhirnya sampai juga di dermaga, kami melaju menuju Ra Nong Thailand malam itu juga. Setelah sebagian daging qurban diserahkan di Kok Song, yang kami khawatirkan tadinya bisa busuk, sebagian lagi kami bawa ke Ra Nong Thailand.

Semua perkantoran sudah tutup. Hal ini yang membuatku gelisah, meskipun pasporku sudah di chop keluar di checkpoint imigrasi Kok Song Myanmar, tetapi checkpoint imigrasi Ra Nong Thailand ternyata sudah tutup. Anehnya 3 pos pemantauan di perbatasan yang kami lalui memberikan izin memasuki batas wilayah.

Kantor imigrasi Ra Nong yang kudatangi menyarankan agar aku kembali saja keesokan harinya ke checkpoint di dermaga. Namun setelah keesokan harinya petugas imigrasi di checkpoint Ra Nong Thailand tidak mau terima alasan yang kami buat, tetap saja dia ngotot menyuruhku kembali ke Kok Song Myanmar .

Lemas rasanya, karena aku sudah keluar dari sana dan harus masuk kesana lagi tanpa ada penjelaasan . Seorang pemuda setempat ber tato menghampiriku , dia bersedia membantu menguruskannya . 400 bath untuk bot pulang pergi, dan 100 bath untuk di pos pemantauan perbatasan. Aku bertolak lagi ke Kok Song Myanmar , bersama beberapa warga Negara Asing berambut pirang. Tekong bot orang Burma yang pandai berbahas inggris ini menyarankan kepadaku agar aku mengangguk saja bila ditanya.

Benar saja, petugas imigrasi di checkpoint Kok Song itu memandangi wajahku, aku tersenyum sembari mengangguk kepadanya , dibalasnya senyumanku terlihat gigi-giginya memerah karena banyak makan sirih. Untuk merubah dan membatalkan tanggal keberangkatan , petugas imigrasi itu memintaku uang 500 bath lagi. Aku bernafas lega. Lepas satu masaalah pikirku dalam hati.

Aku kembali lagi ke Ra Nong Thailand , petugas imigrasi di checkpoint tadi masih bertugas. Kesal saja kepadanya, padahal seperti ini (bermalam di checkpoint) adalah hal yang lumrah karena tutup dan petugas sudah pulang. Seperti kalau kita dari Ha Noi Vietnam naik Bus hendak ke Vientiane Laos , kedua Negara itu menutup perbatasannya sebelum magrib. Dan kita harus menunggu sampai pagi pukul 7 keseokan harinya.

Mudah2an hal ini tidak terjadi lagi……

Merentasi Hutan Belantara Bumi Burma, Qurban 1433 H

Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H

Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H


Pagi itu Jumat (26/10), dicheck point keberangkatan Imigrasi di Ra Nong Thailand penuh sesak, antrian mengular panjang sampai ketempat penjualan ikan. Buletin Jumat salah seorang yang ikut antri dalam barisan itu.

Di Thailand pelaksanaan Idul Adha 1433 H, adalah sama dengan di Arab Saudi, yaitu hari Jumat 26 Oktober 2012, sementara di Myanmar , sebagaimana kita maklumi, pemerintahnya melarang kegiatan yang berbau pemotongan hewan sapi/lembu itu. Kita juga tahu sebagian besar pemeluk agama di negeri para biksu itu menganggap suci sapi/lembu. Tragedi pembantaian Muslim minoritas Rohingya di Arakan, berdampak juga sampai ke Rangon, bahkan hampir seluruh wilayah Myanmar (Burma).

Menurut KBRI di Rangon, mereka tetap shalat idul adha dan pemotongan hewan qurban hari Jumat. Namun di tempat lain terutama di kota-kota, umat Islam melaksanakan shalat hari Sabtu (27/10). Staff KBRI ini juga menyarankan kepadaku kalau hendak ke Myanmar, harus applay izin dulu ke Jakarta. “Kalau langsung datang (VOA), nanti bikin repot, kami harus datang ke Imigrasi” ujar staff perempuan yang kuhubungi melalu telpon selular, apakah sudah bisa masuk ke Rakhine.

Selat Andaman

Selat Andaman

Selesai saja pasport dicop, aku bekejar ke boat yang telah menunggu di dermaga.Sengaja kami charter boat seharga 200 baht. Boat melaju ke ke pos pertama 50 bath lagi harus dibayar ke petugas imigrasi dan bea cukai yang ada di satu pulau yang masih wilayah Ra Nong Thailand.

Dari pos pertama tadi ada satu pulau lagi yang harus disinggahi, pulau paling ujung, setelah itu kita akan kelaut bebas,Laut Andaman. Di pos ini hanya dari jauh kita tunjukkan buku paspor masing-masing penumpang. Di pos itu beberapa petugas yang memakai baju loreng hijau seragam lengkap dengan senjata laras panjang yang tersandang di bahu.

Hampir 30an menit melalui selat Andaman, kita akan tiba di satu pulau pula, pulau ini sudah masuk wilayah Burma, semua barang bawaan diperiksa oleh petugas. Barulah kita akan merapat ke dermaga khusus boat yang tidak jauh dari kantor imigrasi di kota Kok Song Myanmar.

Sama dengan di Ra Nong Thailand, di check pont imigrasi Kok Song Myanmar ini pun penuh sesak. Tiba giliranku bertatap dengan petugas imigrasi, petugas itu membolak balik buku paspor milikku, seakan tak percaya ada paspor hijau milik orang Indonesia , mau datang ke Kok Song. Agak tersenyum petugas itu, melihat stempel imigrasi Myanmar yang sudah beberapa kali tertera di pasporku. “Ten Dollar” ujarnya. Tak tok tak, tertera masuk tanggal 26 keluar tanggal 8 Nopember 2012.

Di Kota Kok Song atau dalam bahasa melayu berarti Pulau Dua, tidak terlihat suasana Idul Adha, kalau pun ada, banyaknya orang lalu lalang di pintu masuk tadi, dari cara berpakaian menunjukkan kalau mereka Islam. Di Kok Song ada beberapa masjid, pun tak terlihat suasana pemotongan hewan.

Nun jauh di pelosok hutan, di teluk – teluk sepanjang pantai laut Andaman, banyak bermukim komunitas muslim yang sudah ratusan tahun menetap disana. Jauh sebelum negara Myanmar terbentuk. Komunitas ini sebagian berasal dari Langkawi, seorang dari mereka bernama Tengku Yusuf.
“Sejak tok – tok kami sudah tinggal disini” ujar nya menerangkan tentang keberadaan mereka disalah satu teluk indah, daerah penghasil emas dulunya.

Tidak ada akses jalan darat ke pemukiman – pemukiman itu, semua ditempuh melalui perjalanan laut. Kalau tetap ingin memaksanakan jalan darat harus ditempuh dengan masuk hutan keluar hutan, dan berjalan diatas aliran sungai yang kering berbatu-batu kiloan meter jauhnya. Dari satu teluk ke teluk lainya bisa empat jam perjalanan dengan sepeda motor, bukan hanya hutan saja dilalui, tetapi naik bukit dan turun bukit yang berbatu-batu cadas.

Di pemukiman itu banyak penduduk usia diatas 60 tahun yang dapat dan menulis huruf jawi (arab melayu),dan tentunya berbahasa melayu.”Sejak 20 tahun terakhir ini, banyak pula orang macam Ali ini kat sini” kata Tengku Yusuf menerangkan sembari memperkenalkan Ali. Ali pemuda 30 an itu ikut membantu memotong hewan Qurban, kulit Ali rada hitam hidungnya mancung, giginya terlihat agak kemerah merahan, karena mereka disana suka makan sirih.

“Kami Shalatnya (maksudnya Idul Adha) tadi” ujar Tengku Yusuf lagi. “Karena kemarin (Kamis) wukuf di Arafah” ujarnya lagi. Tengku Yusuf terus bercerita tentang masa lalu sambil rebahan di lantai masjid kecil yang baru saja selesai dibangun mereka. Badannya terlihat lemah, senang sekali kelihatan dia dengan kedatanganku. Banyak yang diceritakannya kepadaku, yang tak mungkin kutulis satu persatu di media ini. Banyak yang diharapkannya dan penduduk kampung itu,tak terkecuali tragedi Arakan yang menyayat hati. Tengku Yusuf pun sama tak berharap terus membayar upeti dari hasil jerih payah mereka, kepada pemerintah yang tak pernah memperhatikan kehidupan sosial mereka.

Bukan kehendak mereka seperti itu, jauh sebelum perang dunia meletus mereka adalah bangsa yang berdaulat. Tidak disekat-sekat batas negara nisbi, dan ambisi segelintir manusia. Jauh sebelum pemerintah Junta memerintah mereka adalah manusia yang bertamadun. Jauh sebelum traktat London diterapkan.

Hari menjelang petang, aku masih terpikir dan teringat perjalanan masih jauh, akan 4 jam lagi melalui hutan semak belukar dan bebatuan air sungai yang mengering sebatas mata kaki, untuk pulang. Tiga kali terguling-guling dan terjerembab dari boncengan sepeda motor saat menuruni bukit bebatuan,sewaktu datang ke kampung itu tadi, bukanlah hal yang pernah kubayangkan sebelumnya. Seakan Tengku Yusuf membaca pikiranku, mengajakku untuk bermalam di kampung itu saja, kahawatir hari telah gelap.

Masih banyak yang akan di kerjakan esok harinya,ditempat lain pula, kami putuskan berangkat pulang, petang hari itu juga, nun jauh disana terlihat indah ciptaan Allah, di ujung pepohonan puncak bebukitan laut Andaman, hari ke 12 bulan Zulhijjah 1433 H, bulan purnama mulai mengambang, menerangi perjalanan kami, merentasi hutan belantara, bumi Burma.

Sampai jumpa lagi, ilal liqok. Semoga Allah membebaskan penderitaan saudara kami yang ada disana.

Sop Ikan Gabus Jantung Pisang

salah satu perbatasan Vietnam dengan Kamboja

salah satu perbatasan Vietnam dengan Kamboja

Dari Perjalanan 3 pekan ke Beberapa Negara Asean

Raja Norodom Sihanok agaknya tak sempat melihat bangunan tinggi yang kini sedang tumbuh pesat di negaranya, dua tahun yang lalu nyaris tak terlihat gedung tinggi lebih dari 6 tingkat. Bertahun menderita sakit dan dirawat di negeri orang, Raja yang sudah menyerahkan tahta kepada anak lelakinya itu wafat awal Oktober 2012 yang lalu.

Phnom Phen kini sedang berbenah, dua tahun yang lalu saat Buletin Jumat (BJ) mengunjungi negara Kamboja itu, tak berlaku bagi warga negara Indonesia bebas visa, meskipun sesama negara Asean, namun sejak awal 2012, bagi WNI perlakuan sama yaitu bebas visa sama seperti kita masuk ke Malaysia.

Berpikir dua kali kalau kita dari Phnom Phen jalan darat ke Vietnam terus kembali lagi ke Phnom Phen , akan dikenakan duakali pembayaran visa. Lumayan mencapai 30 – 50 US dollar

September 2012 yang lalu BJ, kembali mengunjungi Phnom Phen, kali ini berangkat dari Thin Yinh kota yang terletak di Barat Vietnam, kota ini berbatasan langsung dengan Provinsi Kampong Cham di Kamboja, Border (perbatasan) ini baru saja dibuka dan diresmikan, oleh kedua negara yang bertetangga itu.

Jalanan menuju imigrasi Kamboja masih berlumpur, karena musim hujan dan belum selesai diaspal lagi, BJ, bersama ustadz Abdullah asal dari Kampong Champa yang datang menjemput BJ di Thin Yinh, berjalan kaki melalui kedua border itu.

Ada sembilan Border banyaknya pintu masuk dan ke kedua negara itu, sama dengan Border Thin Yinh Vietnam – Kampong Champa Kamboja ini, ditemukan tempat perjudian. Border yang hanya dibatasi kebun ubi yang cukup subur itu, terasa kontras melihat bangunan yang ada disebelah Vietnam dengan yang ada disebelah Kamboja.

Memasuki Kamboja , kita akan melihat sebuah masjid kecil yang sudah usang, sementara tadi saat meninggalkan Vietnam kita melihat bangunan Casino yang cukup lumayan besar.

Di Thin Yinh Vietnam banyak bermukim warga Vietnam yang muslim, di kota itu terdapat tidak kurang 7 masjid besar dan kecil. Sementara di Kampong Champa, adalah penduduk muslim yang terbanyak di Kamboja , konon kemarilah sebagian besar muslim champa dari kerajaan Islam Champa dulu hijrah saat kerajaan yang salah seorang putrinya itu menikah dengan Raja Mojopahit dianeksasi oleh Vietnam yang dibantu oleh China.

Pagi itu setiba di kampung Champa, BJ disuguhin makanan khas Kamboja , berupa sop ikan. Sop ikan ini dicampur dengan irisan jantung pisang, sementara ikannya sejenis ikan rawa, ada yang menyebutnya ikan gabus atau badau. Irisan jeruk nipis menambah segar rasa sop ikan jantung pisang ini.

Dua tahun yang lalu saat BJ berkunjung ke Kampong orang-orang Champa yang masih tetap dapat berbahasa melayu ini, keadaannya masih tetap sama nyaris pula tak ada perubahan yang berarti, jalan masih tetap becek dan tak beraspal, genangan air dibawah rumah panggung berlumut dan berwarna hijau masih dominan. Tidak seperti tempat lain dan daerah lain yang pesat perkembangannya. Ustadz Abdullah hanya tersenyum menanggapinya.

Esok harinya kami dari Kampong Champa menuju Phnom Phen, Istana Raja masih seperti dulu namun kini, kenderaan tidak dibenarkan lagi melalui jalan yang ada didepan Istana. Bunga Kamboja masih dominan menghiasai batas jalan raya. Tidak jauh dari Istana Raja berbelok arah ke Timur akan di temui satu bangunan Masjid yang kini sedang di renovasi total. Itulah masjid Besar Phnom Phen, terkadang orang menyebutnya masjid Dubai, karena semua biaya pembangunannya di tanggung oleh pihak Dubai.

Imam Achmad yang biasanya tinggal di rumah samping masjid kini tinggal di ruko yang tak jauh dari masjid itu, di ruko itu pun tersedia makanan halal. Entah kebetulan menu yang ada ternyata adalah sop ikan, dan bercampur dengan jantung pisang pula.

Agak terkaget kaget sedikit keesokan harinya saat buang air besar , tinja berwarna hitam legam.
Kalau anda dalam waktu dekat ini berkunjung ke Phnom Phen, anda masih sempat melihat Jenazah Raja Norodom Sihanok yang masih disemayamkan di Istanyanya , selanjutnya dibalsem?.
Dan jangan lupa menyantap sop Ikan Gabus Jantung Pisang, pasti ketagihan dan tak usah kaget kalau yang dikeluarkan keesokan harinya berwarna hitam……

Sholat di Masjid Pengungsi Rohingya

bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar

bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar


Rak Nong adalah salah satu provinsi di Thailand yang berbatasan langsung dengan Kok Song Myanmar. Kedua wilayah ini dipisah oleh Laut Andaman. Dari Bangkok ke Rak Nong di tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan Bus. September 2012 yang lalu saya berkesempatan kembali mengunjungi Rak Nong.

Di Provinsi yang dikelilingi dengan perbukitan hijau ini banyak dijumpai warga Myanmar keturunan Rohingya. Tidak diketahui jumlah pasti. “Bisa ribuan banyaknya “ Ujar pak Sobirin sambil menyetir kenderaannya . Pak Sobirin adalah penduduk Rak Nong , pria paro baya ini, senang sekali dengan kedatanganku dan menginap pula di rumahnya. Pak Sobirin dapat berbahasa melayu dengan lancar. Bahasa Myanmar pun dikuasainya dengan fasih. “Sayapun pandai bahasa Bangladeh” ujarnya lagi.

Tengah hari itu Jumat (14/9), aku dibawa oleh pak Sobirin ke suatu masjid yang khusus jamaahnya warga Rohingya. Masjid yang terletak dipinggiran kota ini bentuknya memanjang, karena memang bekas ruko, dan benar dipenuhi jamaah, hampir semua warga Rohingya. Tetapi kalau ditanya , mereka tak menjawab betulkah mereka warga Myanmar.

Dari jamaah yang hadir nyaris kami berdua saja yang lain warna kulitnya. Pada saat masuk kedalam masjid , kulihat khatib sudah memberikan khotbahnya , aku bergegas shalat dua rakaat dan duduk dengan tertib di barisan kedua . Tetapi anehnya pak Sobirin menggamitku dan mengajakku pindah duduk, agak ke ujung barisaan.

Aku mengikutinya, karena enggak enak hati sebagai tamunya. Sama seperti saat di mobil sewaktu menuju masjid, pak Sobirin pun terus bercerita. Padahalkan khatib sedang khotbah pikirku dalam hati, mengapalah pak Sobirin ini terus bercerita. Memang terus terang sedikitpun aku tak tahu apa yang diutarakan khatib didepan mimbar itu.

Hampir 30 menit khotbah itu berlangsung. Setelah itu kulihat hampir semua jaamaah shalat dua rakat. Dan sang khatib tadi turun , kulihat juga melaksankan shalat , tak lama kemudian azan dikumandangkan , dan seorang khatib yang lain naik keatas mimbar.

Khatib yang baru ini khotbah bercampur bahasa arab sebagaimana layaknya khotbah di tempat kita (Indonesia) tetap dua khotbah berhenti sejenak dan hanya beberapa menit saja sudah selesai , dan dilanjutkan dengan shalat dua rakaat. Selesai lah sudah pelaksanaan shalat jumat hari itu.

Setelah itu barulah kutahu ternyata khotbah yang pertama dengan khatib yang lain tadi yang kukira adalah khotbah jumat bukanlah khotbah , itu hanyalah semacam ceramah sebelum khotbah. Menurut Ustadz Zenal Satiawan Lc , tuntunan shalat Jumat itu , ya seperti itu , lamanya bacaan khotbah, tidak lebih lama waktunya dari pada shalat itu sendiri.

Hem panteslah pak Sobirin tadi masih terus bercerita dengan ku . Dia tahu bahwa itu bukan khotbah , hanya ceramah biasa.
Jadi sangat beda sekali misalnya dengan di beberapa masjid di Batam. Jumat yang lalu khatib khotbah lebih 30 menit, sementara shalatnya tak sampai 5 menit. Banyak masjid di Malaysia pun berbuat hal yang sama dengan di Indonesia, khotbah berlama-lama dan shalatnya sendiri hanya sebentar.

Masjid Vietnam yang Dibangun 2 Negara

Masjid itu kini sudah dipugar, terlihat megah. Saat datang kesana dua tahun yang lalu tahun 2010, bangunan masjid yang sudah berdiri ratusan tahun itu di bongkar total. Kini, Masjidil Rahim demikian namanya dibangun kembali oleh dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia.

Masjid Rahim terletak di 45 Nam Ky Khoi Ngia Q1 Provinsi Ho Chi Min Saigon, Vietnam. Ada delapan masjid seperti masjid Rahim ini di kota Saigon. Yang menarik Imam masjid Rahim adalah orang Boyan (Bawean) , tetapi beliau tidak lahir di Indonesia. “Umur 10 tahun saya dibawa orang tua kesini dari Singapura” jelas tok Imam dengan suara agak bergetar. Usia tok Imam yang masih sehat ini sudah berkisar 70 an.

Disekitar masjid itu, ada beberapa keluarga kerabat tok Imam sesama warga Boyan yang dulu bersama orang tuanya datang ke Saigon mengadu nasib dari Singapura. Itulah mungkin, masjid ini pun disebut masjid Boyan.

Agak tersenyum kecut tok Imam saat kuajak bahasa ibundanya (Bawean), “Sudah tak faham lagi “ ujarnya kepadaku. Sambil berbincang, aku diajak tok Imam menemui isterinya, rumah tok Imam hanya berjarak pagar dengan masjid , Aku tak tahu apa yang dibicarakannya dalam bahasa Vietnam, mungkin agaknya tok Imam yakin betul kalau aku benar orang Boyan, jadi seakan mengingatkan beliau dengan leluhurnya.
Menikah dengan gadis Vietnam , sekitar 50 tahun yang lalu, tok Imam ini dikarunia 4 orang anak, tetapi tak seorang pun dari anak-anak beliau yang dapat berbahasa melayu. Tok Imam , suami isteri telah menunaikan ibadah haji .

Mana tahu ada waktu dan rezeki kalau anda berkunjung ke Ho Chi Min atau Saigon Vietnam, tanyalah masjid Boyan insyaAllah orang akan tunjuki tempatnya.

Di Vietnam Islam bukan lah agama yang asing , abad ke 11 hijrah berdiri kerajaan Islam yang termashur disana , yaitu kerajaan Melayu Champa. Champa termasuk kerjaan Islam awal di Nusantara , Champa yang terletak pertengahan Vietnam dan arah k e Selatan , ternyata banyak ditemui masjid tua , apalagi daerah yang berbatasan dengan Kamboja.

Aneksasi Vietnam terhadap kerajaan Islam Champa, dan perang saudara terus menerus , serta kuatnya pengaruh asing (Amerika dan Negara Timur sosialis lainnya) membuat umat Islam disana bertempiaran ke merata penjuru Indo china .
Jadi tak heran , seperti di Provinsi An Giang   baca : Masjid Kecil di An Giang Vietnam , kota kedua terbesar dan terbanyak penduduknya setelah Ho Chi Min ada masjid kecil yang sudah ratusan tahun usianya.

Dan diperbatasan antara Vietnam dan Kamboja , terutama di daerah Border , akan kita temui masjid – masjid tua, dan juga orang tua renta yang masih dapat bertutur bahasa melayu. Senang sekali mereka, melayani kita berkomunikasi dengan bahasa melayu , seperti halnya tok Imam Safei , yang menerima kami rombongan dari Malaysia dan Indonesia.

Kami pun senang dapat berkomunikasi dengan bahasa ibunda.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.