
"Ini ... disini" kata Yeyen Sofiyan, Yeyen demikian dia biasa dipanggil adalah mantan pemain sepak bola PS Batam di awal tahun 70 an, sekarang sudah pensiun dari Otorita Batam, lobang-lobang ini adalah bekas baut pengikat tapak bangku ruang tunggu kedatangan dan keberangkatan masih terlihat, alih alih bertambah, malah yang sudah ada di copot karena sebagian rusak dan afkir di gudang.
Menurut Raja Supri Kadis Pendapatan Daerah Pemko Batam, Pemko mendapatkan bagian rp. 3 ribu per penumpang yang naik dari Hang Nadim, setahun nya Pemko Batam dianggarkan menerima hibah sekitar 9 miliar rupiah. Dan itu lancar lancar saja.
Seperti diberitakan, tarif jasa pelayanan penumpang di Bandara Hang Nadim naik dari rp. 13 ribu menjadi rp. 30 ribu , tarif itu berlaku sejak pertengahan Desember 2007 silam.

Pemko Batam saja dari rp. 30 ribu air port tax yang dipungut mendapat bagian rp. 3 ribu sekitar 10 % sejumlah rp 9 miliar rupiah per tahun nya, berarti yang rp. 27 ribu, 90% x rp. 9 miliar rupiah = rp 81 miliar rupiah untuk siapa?......tetapi aku masih tetap duduk di koper ku sendiri karena bangku tak tersedia, tak ape lah karena ada si dia di samping ku

tak ada bangku ya lesehan saja , padahal Hang Nadim salah satu Bandara Internasional dan yang terbaik di Indonesia, alasan kenaikan tarif air port tax menjadi 130% itu salah satu nya untuk kenyamanan penumpang dan menambah fasilitas pelayanan terhadap konsumen.

bangku bangku model ini lah dulu rapi terpasang bukan nya bertambah malah sekarang banyak yang rusak dan sebagian di pindahkan karena space ruang tunggu di pakai untuk kios - kios orang berjualan dan pos polisi pun ada disitu.
DIarsipkan di bawah: Lain-Lain, Politik, Sosial, berita, cari duit, catatan harian, etika, hukum, indonesia, opini, otorita batam, pajak, pemerintah, pemko batam, penerbangan, prilaku, umum










