Suku Laut di Batam

pak jantan di tanjung gundap........ sedikit orang tua suku laut generasi yang masih tinggal di sampan..........

pak jantan di tanjung gundap........ sedikit orang tua suku laut segenerasi dengan beliau yang masih tinggal di sampan..........

Datang Mengadu ke Muhammadiyah

Suku Laut di Batam disebut orang sampan, di seputaran Pulau Rupat orang sampan ini dipanggil Suku Akik. Banyak mereka tinggal di pulau pulau sekitaran Batam.

Hari Minggu 6 April 2008 pak Din salah seorang  ketua suku laut yang bermastautin di pulau Air Mas datang berkunjung ke Pusat Dakwah Muhammadiyah di Tembesi Batu Aji Batam, bersama pak Din demikian pria sekitar 50 tahunan ini biasa dipanggil ada dua orang lagi pria masih kerabat pak Din, dan empat orang wanita paroh baya.

Apa gerangan keperluan pak Din datang ke Pusat Dakwah Muhammadiyah itu?

Wajah pak Din terlihat gunda, apa agaknya  yang merisauhkan hati pak Din.  Pak Din telah 20 tahun belakangan ini tak lagi tinggal di sampan.  Sudah ada tempat tinggal menetap di pinggir pantai.  Mereka hidup tenang tenang dengan anak beranak dan saudara mara mereka. Di Paulau  Air Mas.

Tetapi akhir-akhir  ini pak Din selalu di sindir oleh tetangga sebelah rumahnya, padahal tetangganya itu  tak lain masih kerabat dan sanak saudaranya. Dulu awal tinggal disitu,  mereka semua  satu keyakinan (agama) , tapi sekarang sudah beda.

Hingga kini Pak Din masih beragama Islam, kerabat pak Din yang suka menyindir-nyindir itu sejak tahun 2001 silam telah berganti keyakinan pindah agama (murtad) tak  lagi memeluk agama Islam.

“Mereka dibuatkan rumah oleh orang Korea dan sekalian dengan pelantar nya ” jelas Poni putri pak Din. Poni telah berkeluarga disamping nelayan dia  berjualan kecil-kecilan di rumahnya. Rumah Poni bersebelahan dengan rumah-rumah  yang dibangun oleh orang Korea.

Meskipun pak Din ketua Suku Laut diseputaran pulau  Kelurahan Ngenang, yang masih dalam kecamatan Nongsa kota Batam itu, entah kenapa warganya sudah tidak  hormat lagi kepada pak Din.

Bila pak Din lalu di pelantar  yang dibuat oleh orang Korea itu,  selalu ada saja suara-suara sumbang.  seperti : “Ini bukan untuk lalu orang Islam” celetuk mereka dari sebalik dinding. Dinding rumah disitu dengan pelantar tak berjarak, jadi terdengarlah apa yang diucapkan dibalik dinding.

Di Pulau Air Mas ditempat kediaman pak Din ada dua pelantar, pelantar satunya sudah tak layak dilalui lagi karena sudah goyang dan lapuk, pelantar yang rusak ni menuju jalan ke surau yang terdapat di Pulau Air Mas. Dan pelantar itu juga  jalan menuju kerumah pak Din dan warga yang beragama Islam.

Itulah sebabnya,  sejak pelantar umum yang menuju rumah pak Din rusak, jadilah pelantar bikinan dan sumbangan orang Korea menjadi tempat laluan pak Din dan kerabat pak Din lainnya.

Begitu pula sesiapa pun orang dari pulau lain yang hendak datang ke surau, karena hanya satu itulah surau yang ada di pulau – pulau sekitran Pulau Air Mas, harus melalui pelantar yang dibuat oleh orang Korea tadi.

Berkunjung ke Air Mas

Rabu 16 April 2008 yang baru lalu, kami berkunjung ke pulau Air Mas. Air sedang surut . Satu satunya akses ke darat harus melalui pelantar Korea. Sebenarnya pelantar Korea itupun sudah mulai bergoyang – goyang kalau di lalui. Dan kami pun mendengar suara dari balik dinding yang mengingatkan kami agar berhati-hati. Yang mengatakaan pelantar sudah lapuk.  Tidak kuat di laui banyak orang.

Siapa ya, agaknya yang tergerak hatinya untuk memperbaiki pelantar pak Din i?. Pak Din betul-betul sudah malu bila hendak lalu di pelantar yang dibina oleh orang Korea itu. Apalagi  disamping pelantar itu ada rumah ibadah agama lain.

Sewaktu kami  tanyakan apakah sudah dilaporkan ke  pemerintahan?.  “Kami tak nak sebut lagi pemko Batam, dah bebuih mulut pak Din melaporkan tentang pelantar tu” ujar pak Din dengan logat melayu.

Pak  Din hendak  menunggu janji dari  DR Hablullah Wibisono, apakah benar Hablullah jadi  merealisasikan janjinya kepada pak Din tempohari.  Sebagaimana kita tahu DR Hablullah Wibisono adalah wakil rakyat dari daerah pemilhan kecamatan Nongsa.  “Iya iya saya kebetulan dapil Nongsa, nanti akan kami bicarakan di dewan” ujar Hablullah saat di kantor pusat dakwah Muhammadiyah.

Dibawah ini kutipan tulisan dari wikipedia  tentang suku laut :

Suku Laut atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia.  Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup “berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan.”

Sebutan lain buat Orang Laut adalah Lanun (sekarang berarti perompak, bajak laut) atau Orang Selat.

Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan. Seperti suku Bajau.  Orang Laut terkadang dijuluki sebagai “kelana laut”, karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu.

Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalamKerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka danKesultanan Johor.  Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut.

Sejarah

Pada zaman kejayaan Malaka, Orang Laut merupakan pendukung penting kerajaan maritim tersebut. Sewaktu Malaka jatuh mereka meneruskan kesetiaan mereka kepada keturunan sultan Malaka yang kemudian mendirikan Kesultanan Johor. Saat Belanda bermaksud menyerang Johor yang mulai bangkit menyaingi Malaka–yang pada abad ke-17 direbut Belanda atas –Sultan Johor mengancam untuk memerintahkan Orang Laut untuk menghentikan perlindungan Orang Laut pada kapal-kapal Belanda.

Pada 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada 1718 Raja Kecil, seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis  Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil mendirikanKesultanan Siak, setelah terusir dari Johor.

Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis.

Sejarah Silam Orang Laut

Zaman Kerajaan Srivijaya

Suatu ketika dahulu, Orang Laut digelar sebagai Orang Lanun atau Orang Selat kerana sebelum mereka menumpukan kesetiaan terhadap Kerajaan Srivijaya, mereka pada asalnya adalah sekumpulan lanun yang menguasai sekitar perairan Selat Melaka.

Orang Laut memainkan peranan penting dalam pemerintahan Kerajaan Srivijaya, Kesultanan Melaka dan Kesultanan Johor-Riau. Hubungan rapat di antara Orang Laut dengan ketiga-tiga buah keluarga diraja tersebut telah pun terjalin sejak di awal zaman kerajaan Srivijaya lagi.

Orang Laut juga dikenali sebagai golongan yang sangat setia kepada keluarga diraja Srivijaya. Malah selepas kejatuhan Srivijaya pada tahun 1025, Orang Laut masih meneruskan kesetiaan mereka terhadap Parameswara iaitu putera raja Srivijaya (Palembang) yang terakhir.

Zaman Kesultanan Melaka

Selepas Kerajaan Srivijaya musnah akibat serangan Raja Rajendra Chola I dari India, Parameswara bersama para pengikutnya termasuk Orang Laut mendirikan Kesultanan Melaka di Semenanjung Tanah Melayu. Ketika Melaka mencapai zaman kegemilangannya, Orang Laut merupakan pendukung utama kepada kerajaan maritim tersebut.

Setelah kejatuhan Kesultanan Melaka akibat serangan penjajah Portugis, Orang Laut masih tetap meneruskan kesetiaan mereka terhadap Sultan Melaka yang terakhir iaitu Sultan Mahmud Shah. Mereka telah membantu sultan tersebut mendirikan Kesultanan Johor-Riau di selatan Semenanjung Tanah Melayu.

Zaman Kesultanan Johor-Riau

Setelah Kesultanan Melaka musnah akibat serangan penjajah Portugis, Sultan Melaka yang terakhir iaitu Sultan Mahmud Shah bersama para pengikutnya termasuk Orang Laut mendirikan Kesultanan Johor-Riau dengan ibu kotanya berpusat di Pulau Bentan. Tidak berapa lama kemudian, tentera Belanda telah berjaya merampas negeri Melaka dari tangan penjajah Portugis.

Setelah Melaka berjaya ditawan, pihak Belanda berniat untuk menyerang Kesultanan Johor-Riau yang mulai bangkit dan menyaingi Melaka sebagai pusat perdagangan utama di rantau ini. Maka Sultan Johor mengambil tindakan dengan mengancam pihak Belanda untuk memerintahkan Orang Laut supaya berhenti memberikan perlindungan ke atas kapal-kapal Belanda.

Pada tahun 1699, waris terakhir Wangsa Srivijaya – Melaka – Johor-Riau iaitu Sultan Mahmud Syah II telah mangkat setelah dibunuh oleh Laksamana Bentan yang bernama Megat Seri Rama. Memandangkan baginda masih belum berkahwin dan tidak memiliki sebarang zuriat, maka Bendahara Johor iaitu Tun Abdul Jalil telah melantik dirinya sendiri sebagai Sultan Johor-Riau yang baru dengan gelaran Sultan Abdul Jalil IV. Walau bagaimanapun, perlantikan Bendahara Tun Abdul Jalil sebagai Sultan Johor-Riau tidak diakui oleh Orang Laut. Mereka mengesyaki keluarga Bendahara Johor turut terlibat di dalam pembunuhan tersebut.

Pada tahun 1718, seorang petualang dari Minangkabau bernama Raja Kecil telah menuntut hak ke atas takhta kerajaan Johor-Riau dengan mengakui dirinya sebagai waris Sultan Mahmud Shah II yang sah. Orang Laut dan para pembesar Johor memberikan sokongan kepada Raja Kecil dengan membantunya merampas kuasa dari Sultan Abdul Jalil IV. Setelah berjaya merampas kuasa, Raja Kecil melantik dirinya sendiri sebagai Sultan Johor-Riau yang ke-12 dengan gelaran Sultan Abdul Jalil Rahmat Shah.

Namun begitu, dengan sokongan dan bantuan dari lima putera Bugis bersaudara – Daeng Perani, Daeng Menambun, Daeng Merewah, Daeng Chelak and Daeng Kemasi – putera kepada Sultan Abdul Jalil IV iaitu Raja Sulaiman telah berjaya merampas kembali takhta kerajaan Johor-Riau. Raja Sulaiman telah dinobatkan sebagai Sultan Johor-Riau yang ke-13 dengan gelaran Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah. Raja Kecil pula akhirnya telah diusir keluar dari wilayah Johor-Riau.

Setelah diusir, Raja Kecil telah mendirikan Kesultanan Siak Sri Inderapura di Sumatera dengan bantuan Orang Laut dari suku Bentan dan suku Bulang. Pada abad ke-18, peranan Orang Laut sebagai penjaga keamanan di Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau telah mula digantikan oleh orang-orang Bugis secara perlahan-lahan.

Tugas dan Peranan Orang Laut

Tugas umum Orang Laut ialah mengawal kawasan sempadan laut, mengusir lanun-lanun, memimpin para pedagang ke pelabuhan yang ingin mereka tujui dan mengekalkan kekuasaan pelabuhan-pelabuhan tersebut di dalam kawasannya.

Walau bagaimanapun, setiap suku dari kaum Orang Laut telah diberi peranan khas masing-masing oleh Kerajaan Srivijaya, Kesultanan Melaka dan Kesultanan Johor-Riau agar pemerintahan kerajaan berjalan dengan lebih lancar.

Antara tugas-tugas khas yang dilakukan oleh setiap suku dari kaum Orang Laut ialah menjadi tentera kerajaan, tukang-tukang kayu, tukang-tukang senjata, pengayuh kapal-kapal perang, penjaga anjing-anjing perburuan dan pembawa surat-surat raja ke negara-negara jiran.

Suku-Suku Orang Laut

Istilah Orang Laut secara umumnya merangkumi pelbagai jenis kelompok suku pribumi di selatan Semenanjung Malaysia, Singapura dan timur Pulau Sumatera, Indonesia. Jumlah sebenar suku-suku yang tergolong di dalam kaum Orang Laut tidak diketahui kerana tiada catatan sejarah lengkap mengenainya.

Kebanyakan suku-suku Orang Laut yang pernah wujud suatu ketika dahulu kini tidak lagi wujud pada zaman sekarang. Golongan ini telah memeluk agama Islam dan berasimilasi dengan masyarakat Melayu melalui perkahwinan. Situasi ini boleh dilihat di Singapura dimana masyarakat Orang Laut di pulau tersebut telah ‘lenyap’ akibat proses asimilasi dengan orang Melayu.

Walau bagaimanapun, masih terdapat segelintir suku-suku Orang Laut yang kekal wujud hingga ke hari ini. Saki-baki kumpulan Orang Laut ini boleh ditemui di Malaysia, Indonesia dan Thailand. Golongan ini berjaya mengekalkan kewujudan suku masing-masing kerana kurang berhubung dengan masyarakat luar.

2 Tanggapan

  1. saya yakin dan percaya kepada bapak imam imbaloh perjuangannnya untuk suku laut cukup tinggi, dulu saya pernah berbuat sama namun apa daya saya dibatasi dengan pekerjaan saya, sehingga saya sudah tidak sering membina mereka, saya berterima kasih setelah pada tahun 2008 mendengar dari pak din dan pak Rt santo Tlg punggur memberitau bahwa bapak imam imbaloh telah turut serta memjaga saudara-saudara kita di air mas, hingga saat ini saya tetap memonitor dari kejauhan,

  2. [...] Adi pun telah beberapa kali mengomentari tulisanku di http://imbalo.wordpress.com/2008/04/17/suku-laut-di-batam/ . Adi tertarik mengunjungi Batam setelah membaca tulisanku tentang pak Din yang tinggal di Pulau [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: