Apa Sih Tugas Kedutaan Kita?

 dscf0605.jpg

Februari 2008 yang lalu YLKM Batam berkesempatan berkunjung ke Hanoi ibukota Vietnam dan Ke Vientiane ibukota Laos. Tidak ada rencana mau ke kedua kota dan ke kedua negara itu. Rencana semula hanya dari Kuala Lumpur Malaysia ke Phnom Penh Kamboja, di Kamboja melihat dan ziarah pada komunitas muslim yang ada disana, setelah itu ke Chou Doc kota perbatasan Kamboja dengan Vietnam Selatan yang masuk Provinsi Ho Chi Minh dahulu Saigon, setelah itu kembali semula ke Phnom Penh dan pulang ke Batam via Kuala Lumpur, tiket Air Asia sudah dipesan jauh-jauh hari kebetulan sedang ada promosi Kuala Lumpur – Phnom Penh – Kuala Lumpur.

Yang jadi masaalah saat mendarat di bandara Phnom Penh, warga Indonesia dikenakan visa masuk sebesar 20 US dollar , untuk foto copy dan lain-lain 5 US dollar lagi. Jadi sama dengan ke Myanmar Burma warga negara Indonesia pun dikenakan visa masuk kesana. 

Teman di Phnom Penh mengatakan ke Vietnam pun mungkin warga negara Indonesia dikenakan biaya, lhaaa kalau nanti ke Vietnam dan harus kembali ke Kamboja juga dikenakan lagi visa, Aku memutuskan untuk ke Hanoi saja sekalian melihat kota itu.

Dari Ho Chi Minh ke Hanoi YLKM naik bus ditempuh 40 jam, teman di Ho Chi Minh sudah wanti-wanti sepanjang jalan tak ada restoran yang menjual makanan Halal, persiapan makanan dari Ho Chi Minh untuk 2 hari sudah dipersiapkan, tetapi siapa yang akan di kunjungi di Hanoi???

Sungguh tak ada teman yang dikenal di Hanoi, di ibukota negara Komunis itu tak ada tempat yang akan dituju. Muhammad Azhari,  teman YLKM  orang Vietnam di Ho Chi Minh menyarankan agar YLKM ke Embassy saja, Azhari pula yang menyiapkan makanan untuk bekal dalam perjalanan.

27 Februari 2008 petang dari Ho Chi Minh tiba di Hanoi tanggal 29 Februari pukul 06.00 tidak ada perbedaan waktu Indonesia bagian barat dengan di Vietnam, dengan bus Mailinh Express yang cukup bersih, kondektur, supirnya, memakai seragam layaknya pilot pesawat udara, ongkos dari Ho Chi Minh ke Hanoi 480.000 Dong, 1 dollar us setara 15.000 Dong. 

YLKM dari stasiun Bus langsung naik taxi ke Kedutaan, di 50 NGO QU YEN STREET, DAI SU QUAN INDONESIA atau keduataan Indonesia, supir taxi tahu alamat itu dan argo meter menunjukkan 200.000 Dong.

Karena masih pagi, staf kedutaan belum ada yang masuk kantor, dari kamera cctv di depan pintu kedutaan YLKM menunjukkan paspot, penjaga membuka pintu menyilakan masuk, pegawai lokal itu tak dapat berbahasa Indonesia, tetapi dia mengenal paspot Indonesia dengan baik agaknya, buktinya YLKM diperkenan masuk, penjaga tadi menelepon seseorang, muncul mas Warno pria 40 an asal Jawa Tengah, senyumnya mengembang ramah, dari ruang penjagaan ada bangunan untuk tamu, kesitulah YLKM dibawa oleh Mas Warno, diruang tunggu ada seperangkat kursi dari jati, ruang itu adalah ruang tunggu tamu dubes, tahu kalau YLKM dari ho CHi Minh 2 hari yang lalu, dia menyarankan agar mandi dahulu, di sebelah ruang tunggu ada kamar lagi ukuran 4 x 10 M dilengkapi dengan kamar mandi ruangan ini masih satu bangunan, dengan senyumnya yang khas Mas Warno menyerahkan handuk kepada YLKM, sembari menunjukkan kamar mandi yang dilengkapi air panas, di ruangan itu ada AC yang juga dilengkapi dengan Heater (pemanas) saat itu di Hanoi temperatur 12 derjat celcius. Tetapi di ruangan itu terasa hangat.

Selepas mandi di meja diruangan dalam tadi telah tersedia beberapa potong roti berikut teh hangat, sembari menyeruput teh YLKM melihat pajangan yang ada di dalam ruangan itu, ada gambar-gambar ukuran besar dari daerah-daerah di Indonesai terpasang di dinding, di pojok kanan ada pajangan baju pengantin dari daerah Pelembang.  

Pegawai dan Staf kedutaan ternyata sudah berdatangan, dan keberadaan YLKM sudah mereka ketahui, beberapa staf wanita berjilbab, satu persatu YLKM salami, “Ya semua staf dan pegawai disini beragama Islam” ujar Marbun pria Batak yang telah tinggal di Hanoi 6 tahun yang lalu.

Hanya Dubes yang non Muslim tapi sekarang ibu Tobing sang Dubes, lagi pulang ke Indonesia, dubes baru belum datang. YLKM menjelaskan keperluan datang ke Hanoi antara lain ingin mengunjungi Masjid yang ada di Hanoi, dan tentang makanan halal serta komunitas Islam.

“Wah kalau itu dengan Azhari saja” ujar mas Warno. Azhari Rizal AM, pria asal Kalimantan telah beristeri, menjadi staf lokal di Hanoi, banyak menceritakan tentang kegiatan dan dakwah Islam di Hanoi, Azhari juga adalah jagal sapi di Hanoi, untuk kebutuhan restoran dan kaum muslim di Hanoi akan daging sapi 3 bulan sekali Azhari Rizal merangkap menjadi tukang potong sapi.

Siang itu kami beserta staf kedutaan Hanoi sholat Jumat di Masjid Al Nour, ada Rizal, Marbun, Rayhan, Warno, Budi, Ramadhan. Masjid Al Nour dahulunya adalah Temple India, di masjid inilah semua staf kedutaan negara-negara sahabat yang beragama Islam sholat. Khatib dan Imam adalah warga setempat orang Vietnam, khotbah dalam dua bahasa yaitu Arab dan Inggris, “Baru tahun ini Imam masjidnya orang Vietnam” jelas Marbun yang mengaku pengurus masjid Al Nour juga.

Selepas shalat, makan siang telah tersedia, dipesan dari restoran Halal yang ada di Hanoi, sembari makan kami berbincang-bincang, antara lain YLKM menanyakan apa-apa saja tugas dan fungsi dari kedutaan, “Selama saya disini orang seperti pak Imbalo belum ada yang datang, biasanya yang datang kemari adalah pejabat yang berkunjung, delegasi, yang meminta stempel surat perjalanan dinas. Dan ada lagi setahun yang lalu orang Indonesia yang kehabisan ongkos pulang minta bantuan”, jelas Azhari Rizal. “Dibantu?”  tanyaku. “Mana ada anggaran untuk itu, yakh kami saja lah yang kumpul-kumpul uang, staf-staf yang ada disini” jawab Azhari.

“SMS dari Jakarta masuk ke ponselku, dari Habib Hizrin, beberapa kali aku bertemu dengannya di Batam, Mas Habib menanyakan Muhammadiyah Asean, mungkin karena aku sering bepergian dengan ustaz Abdul Wahab yang di Kedah Malaysia. “Akhir Maret 2008 saya ada seminar di Hanoi, kalau ada kontak person sejawat Muslim tolong beritahu saya” begitu bunyinya. Pesan singkat itu aku tunjukkan kepada Azhari Rizal, ternyata Tokoh Muhammadiyah ini dikenal baik oleh mereka. Terlihat mereka senang tokoh sekaliber Habib Hizrin akan datang ke Hanoi.

Hanoi Vietnam Utara perbatasan dengan Laos, YLKM pun ingin ke sana, disanapun tidak ada teman dan tempat yang akan dituju, pengalaman di Hanoi mengajarkan kenapa tidak ke Embassy saja, disanakan kita dapat informasi yang dibutuhkan seperti di Hanoi pikirku.

Perjalanan ke Vientiane Laos dari Hanoi ditempu hampir 24 jam dengan Bus, bukan lama perjalanan saja yang memakan waktu, pemeriksaan imigrasi di border Vietnam dengan Laos hampir 3 jam. Dari Hanoi ke Vientiane ibukota Laos dengan bus ongkosnya 40 us dollar termasuk visa ke Laos 20 us dollar. Di border, saat keluar dari Vientiane kita diminta biaya sebesar 1 us dollar atau 15.000 Dong, dan masuk ke Laos di border pun harus membayar lagi 20 bath disamping visa 20 us dollar. Di Laos uang Bath Thailand dapat dipergunakan untuk transaksi.

Menjelang Ashar tiba di terminal Bus luar kota Vientiane, dari situ naik tuk-tuk ke City center ongkosnya 2 us dollar perorang, di pusat kota itu banyak guest haouse maupun hotel, ingat pengalaman di Hanoi, alangkah baiknya ke Kedutaan terlebih dahulu pikirku, menanyakan informasi tentang komunitas muslim di Vientiane.

Tak jauh dari pusat kota dengan Kedutaan Indonesia naik tuk-tuk hanya 25.000 keef mata uang Laos , 1 dollar us setara dengan 9.800 keef, sampai di Kedutaan, security keluar pintu melihat ada tamu, menanyakan apa keperluannya, melalui intercom aku dihubungkan dengan orang di dalam bangunan kedutaan, aku diminta menunggu, sebentar akan ada petugas yang datang katanya, menjelaskan apa-apa yang kubutuhkan. Bangunan Kedutaan Indonesia di Vientiane negara jajahan Francis ini ada dua, masing-masing berseberangan jalan di jalan yang sama berhadap-hadapan, di bangunan seberang terlihat seorang yang sedang menyapu halaman, bernama Gatot orang Indonesia.

Gatot lah yang datang menemuiku di pinggir jalan hampir 15 menit aku menunggu Gatot menyelesaaikan pekerjaannya baru datang menemuiku, itupun setelah petugas jaga menjemputnya, saat kutanya, Gatot tak tahu dimana komunitas Islam, kalau masjid dia tahu, tapi tidak pernah pergi kesana, dalam bahasa Laos Gatot menjelaskan alamat masjid Pakistan itu kepada supir tuk-tuk yang masih menungguku, pantas gatot tak pernah ke masjid karena dia Katolik, yang tahu tentang Islam orang kedutaan bernama Wahyu tetapi karena hari sudah sore Wahyu telah pulang kerumahnya, sementara orang yang meneleponku dan menyuruh memanggilkan Gatot tak berkenan dihubungi lagi.

Aku tersenyum kecut, aku membayangkan dapat informasi dari staf kedutaan seperti di Hanoi, aku hanya melirik melalui jendela pos jaga ukuran 40 x 40 cm yang masih terbuka kedalam halaman kedutaan Indonesia di Vientinae, penjaga warga setempat yang tak dapat berbahasa melayu dan inggris itu pun menutup pintu.  

500 meter dari kedutaan aku menginap di Hotel Mina, dan setelah itu ke masjid Pakistan, masjid Jamik, masjid terbesar di Laos, dan terletak disebelah timur dari City center, disitu ada 5 restoran yang menyediakan makanan halal, 300 meter arah ke selatan adalah sungai Mekong, sungai Mekong sedang mengering karena sudah 4 bulan tak turun hujan, sungai yang berbatasan langsung antara negeri Laos dengan Provinsi Chiang Mai dan Provinsi Udon Thani di Thailand. 

Beda Hanoi beda Vientiane, meskipun sama-sama Kedutaan Besar Republik Indonesia, aku teringat dengan cerita mas Warno, warga negara asing saja yang masuk kedutaan kita perlakukan dengan baik, setahun yang lalu kata mas Warno ada orang Korea yang lompat pagar masuk kedutaan Indonesia di Hanoi, “itu pagar belakang setinggi hampir enam meter” kata mas Warno sambil menunjukkan tempat orang Korea itu melompat, warga negara Korea itu minta suaka politik. 

Begitulah, seharusnya mereka tetap mengacu kepada : 

Kepres RI No.108 Thn.2003 Tentang Organisasi Perwakilan RI Di Luar Negeri
 

BAB III

KEDUDUKAN, TUGAS POKOK,DAN FUNGSI PERWAKILAN

Pasal 3

(1) Perwakilan Diplomatik berkedudukan di Ibu Kota Negara Penerima atau di tempat kedudukan Organisasi Internasional, dipimpin oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Luar Negeri.

(2) Perwakilan Konsuler berkedudukan di wilayah Negara Penerima, dipimpin oleh seorang Konsul Jenderal atau Konsul yang bertanggung jawab secara operasional kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang membawahkannya.

(3) Konsul Jenderal atau Konsul yang tidak berada di bawah tanggung jawab Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri.

(4) Pembinaan dan pengawasan terhadap Perwakilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) secara operasional dan administratif dilaksanakan oleh dan menjadi tanggung jawab Menteri Luar Negeri.Pasal 4Perwakilan Diplomatik mempunyai tugas pokok mewakili dan memperjuangkan kepentingan Bangsa, Negara, dan Pemerintah Republik Indonesia serta MELINDUNGI WARGA NEGARA INDONESIA, Badan Hukum Indonesia di Negara Penerima dan/atau Organisasi Internasional, melalui pelaksanaan hubungan diplomatik dengan Negara Penerima dan/atau Organisasi Internasional, sesuai dengan kebijakan politik dan hubungan luar negeri Pemerintah Republik Indonesia, peraturan perundang-undangan nasional, hukum internasional, dan kebiasaan internasional. Pasal 5Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Perwakilan Diplomatik menyelenggarakan fungsi :a. peningkatan dan pengembangan kerja sama politik dan keamanan, ekonomi, sosial dan budaya dengan Negara Penerima dan/atau Organisasi Internasional;b. peningkatan persatuan dan kesatuan, serta kerukunan antara sesama Warga Negara Indonesia di luar negeri;c. pengayoman, pelayanan, perlindungan dan pemberian bantuan hukum dan fisik kepada Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia, dalam hal terjadi ancaman dan/atau masalah hukum di Negara Penerima, sesuai dengan peraturan perundang-undangan nasional, hukum internasional, dan kebiasaan internasional;d. pengamatan, penilaian, dan pelaporan mengenai situasi dan kondisi Negara Penerima;

e. konsuler dan protokol;

f. perbuatan hukum untuk dan atas nama Negara dan Pemerintah Republik Indonesia dengan Negara Penerima;

g. kegiatan manajemen kepegawaian, keuangan, perlengkapan, pengamanan internal Perwakilan, komunikasi dan persandian;

h. fungsi-fungsi lain sesuai dengan hukum dan praktek internasional.

Pasal 6

Perwakilan Konsuler mempunyai tugas pokok mewakili dan memperjuangkan kepentingan Bangsa, Negara, dan Pemerintah Republik Indonesia serta melindungi kepentingan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia melalui pelaksanaan hubungan kekonsuleran dengan Negara Penerima, termasuk peningkatan hubungan ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan kebijakan Politik dan Hubungan Luar Negeri Pemerintah Republik Indonesia, peraturan perundang-undangan nasional, hukum internasional dan kebiasaan internasional.

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Tolong hal yg smacam ini utk lbh mudah dketahui / dkonsumsi rakyat indo agr kita smua paham betul sprti pa aturan2 yg tdk bxk dketahui publik.
    trimakasih..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: